Ketika dosa, ego & cinta saling ingin unjuk diri di waktu yg sama, maka takdirlah yg akan menjadi hakimnya!!
Elleanor berkisah seorang gadis muda yang sudah mulai memasuki usia matang untuk sebuah pernikahan. Ayahnya mulai mencarikan jodoh untuk dirinya.
Namun, begitulah darah muda. Tak mau di atur, tak mau di kekang. Elleanor menolak & memilih seorang pria yg dia kenal di lapangan golf.
Tetapi, pilihannya salah, dia malah terjebak menjadi orang ketiga saat dia mengetahui jodoh pilihan ayahnya sudah kembali dari luar negeri.
Entah siapa yg akan Elleanor pilih kali ini. Terus terjebak dalam hubungan toxic yg menjanjikan kenikmatan tetapi di todong rasa bersalah atau memulai hubungan baru dengan si pria misterius yg nampak tak kenal kata ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkarnya Rahasia Kelam
Hari ini, tepat seminggu sudah dari kejadian hari itu. Tidak ada hubungan badan dan pembicaraan panjang dengan Damian. Meski pria itu selalu mengantar jemput dirinya ke kantor bahkan sempat ikut meeting. Ellea heran mengapa Damian tidak terlihat sibuk seperti dirinya yang harus mengurus ini dan itu. Pergi kesana dan kesini. Telpon ini dan itu.
D-Corp seakan sudah benar-benar auto pilot yang tak perlu di control setiap saat. Ellea jadi penasaran bagaimana management berjalan di perusahaan pria itu.
Selama seminggu ini pula, Ellea selalu menurut dengan semua perkataan Damian agar tidak memprovokasi amarahnya. Maria yang juga menjadi buntutnya itu lama-lama bisa di terima juga kehadirannya.
Walaupun beberapa hari Ellea masih merasa sakit, dia tetap bersih tegas untuk pergi ke kantor. Baginya keluar dari mansion adalah menjadi wisata utamanya sekarang. Hal ini di lakukan tidak lain untuk menghindari bertemu dengan Alan. Karena Alan sempat beberapa kali ingin mencuri waktu untuk bicara dengannya.
Ellea tak mau, bahkan dia tak mau memberi satu sedik pun waktunya untuk Alan. Itulah sebabnya dia tak menolak jika Damian selalu mengantar jemput dirinya. Harus ada Damian di sisinya agar Alan tak mendekat.
Tapi lama-lama Ellea juga merasa lelah karena seharian penuh berada si kantor. Hari ini dia ingat, bahwa Alan akan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Hal itu membuat Ellea lega sekali, seakan dia punya waktu istirahat sekarang.
Dia memutuskan tidak pergi ke kantor hari ini. Sedangkan Diana dan Damian sudah pergi sejak pagi tadi.
Ellea sendiri, meski tak benar-benar sendiri karena banyak para pelayan dan pengawal disini. Maria juga setia menemaninya.
Ellea juga penasaran dengan isi mansion ini. Dia tak pernah di ajak berkeliling sebelumnya. Tak tau ada fasilitas apa saja di mansion suaminya itu.
Sudah sekitar sepuluh menit Ellea jalan-jalan memutari mansion. Ke dapur bersih lalu ke dapur kotor tempat para pelayan dan chef memasak. Dia juga pergi ke halaman belakang yang ternyata begitu luas. Ada lapangan golf disini, bahkan ada danau buatannya juga.
Ellea terkesima melihatnya. Dia tak perlu keluar dari mansion untuk berlatih golf lagi. Pantas saja Alan jago bermain golf, ternyata di mansion ini lah tempatnya latihan setiap hari.
Lalu Ellea berjalan-jalan ke sisi kiri, ada sebuah bangunan kaca disana. Yang ternyata itu adalah tempat gym yang super lengkap. Ini sudah seperti tempat gym langganannya. Ellea jadi penasaran, apa semua fasilitas ini di pakai oleh Damian dan keluarganya?
Ellea mulai lelah memutari mansion. Dia memutuskan untuk kembali ke dalam mansion dan mencari Bibi Lung. Dia ingin bertanya saja pada kepala pelayan itu apa saja fasilitas yang ada di mansion ini.
Setelah bertanya pada Maria, ternyata Bibi Lung berada di kamar anak-anak Alan. Dia sedang menggendong Noah yang sedang menangis.
"Hy.. Kenapa menangis?" Sapa Ellea pada Noah.
Sontak anak lelaki berusia lima bulan itu mengulurkan kedua tangannya pada Ellea. Meminta di gendong.
"Eh, tidak usah, nyonya." Ucap Bibi Lung.
"Tidak papa, sini!" Ellea mengambil alih Noah. Yang ajaibnya anak itu langsung terdiam dan menyandarkan kepalanya ke bahu Ellea.
Bibi Lung dan Maria tersenyum melihat itu. Sekaan memberitahu kan jika Ellea sudah pantas menggendong seorang anak.
Ya, memang. Usianya sudah 25 tahun dan Damian sudah 35 tahun. Jarak usia mereka memang jauh, tetapi mental Damian seakan belum stabil jika harus menjadi seorang ayah. Ellea takut jika anak mereka akan menjadi bahan pelampiasan baru bagi amarah Damian.
"Sudah cocok!" Ucap Bibi Lung tersenyum lebar.
Ellea hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Siapa tau, Tuan Damian jadi lebih luluh jika sudah punya anak, nyonya." Tambahnya.
Ellea tersenyum malu. Entahlah, dia tak mau memikirkannya sekarang. Rumit sekali jika di pikirkan. Karena hubungannya dengan Damian baru saja tenang. Jadi dia tak mau membahas hal yang terlalu berat dulu dengan pria itu.
Bibi Lung berpamitan untuk pergi ke dapur, sepertinya masih ada beberapa hal yang harus dia kerjakan. Perlahan Ellea meletakkan Noah yang tertidur di atas ranjang, namun anak lelaki itu terbangun saat tubuhnya menyentuh kasur. Sehingga Ellea kembali menggendongnya lagi.
"Biar saya bantu, nyonya." Ucap Maria menawarkan bantuan.
"Tidak papa, tolong kau ambilkan laptop dan map merah di kamar ku!" Titah Ellea pada Maria.
Maria mengangguk, lalu keluar dari sana. Kini tinggal Ellea seorang diri disana, menggendong Noah seperti anaknya sendiri.
Langkah kaki terdengar, Ellea mengira itu adalah Maria. "Maria tolong sekalian bawakan ponsel ku!" Ucap Ellea.
Namun tak ada jawaban disana. Membuat Ellea membalikkan badan. Betapa terkejutnya dia saat melihat Alan sudah beridri di ambang pintu. Pria yang selama ini dia hindari. Bukankah pria ini harusnya berada di luar kota?
Ellea segera menidurkan Noah di atas kasur lalu bergegas pergi keluar, dia tak mau bicara dengan Alan. Namun, pria itu langsung menahan lengan Ellea. Menatapnya lekat-lekat seakan ini lah momen yang paling dia tunggu selama ini.
"Ellea, tunggu!" Ucap Alan menahan Ellea.
"Maaf, aku tidak bisa!" Ellea berusaha melepaskan genggaman tangan Alan.
"Ellea, sampai kapan kau akan menghindar dari ku begini?" Suara Alan mulai naik satu oktaf.
"Alan stop! Ini tidak benar!"
"Apa yang tidak benar? Aku sudah memberitahu mu, kalau kau adalah milik ku!" Ucap Alan.
"Kau yang sudah membohongi ku, Alan. Kau tidak memberitahu ku jika kau sudah memiliki keluarga! Cinta mu itu palsu!" Ellea tak mau kalah.
Pertengkaran itu semakin intens, tak ada yang mau mengalah di antara keduanya.
"Lalu begini cara mu membalas ku? Menikah dengan Damian? Menjadi kakak ipar ku begitu?" Alan mendorong tubuh Ellea.
Ellea menarik nafas dengan kesal. Pria ini nampaknya harus di beri pelajaran. "Aku tidak tau soal ini! Ayahku yang menjodohkan aku dengan Damian!"
"Kalau begitu kita sama! Kita sama sama menikah tanpa cinta! Aku tidak mencintai Diana dan kau tidak mencintai Damian! Aku tau kau masih mencintai ku, Ellea!" Alan semakin menggila.
"Tidak! Aku mencintai Damian, aku adalah istrinya! Dan kau jangan pernah menyentuh ku lagi!" Ellea menunjuk-nunjuk Alan.
"Tidak, kau milik ku! Aku akan meninggalkan Diana asal kau mau bersama ku!" Alan mendekati Ellea. Hingga tubuh wanita itu menabrak sebuah meja di dekat pintu.
Tepat sebelum Alan menyentuh Ellea, mereka berdua mendengar isak tangis seorang wanita di depan pintu kamar. Sontak, keduanya berhenti dan menoleh. Diana. Diana berada disana. Mendengarkan semua pertengkaran mereka berdua. Seakan tak butuh lagi penjelasan dari siapapun. Semua sudah jelas.
Diana menangis hingga badannya gemetar di tempat. Air matanya mengalir begitu deras. Lalu, perlahan dia mundur dan melangkah pergi. Ellea dan Alan yang melihat itu sangat panik. Jika Diana memberitahu Damian soal masa lalu mereka, maka tamat lah sudah riwayat mereka.
Alan spontan mengejar Diana, Ellea juga berlari kecil mengejar keduanya. Dua orang ini tau, jika mereka akan segera berhadapan dengan malaikat maut setelah ini.
Diana masuk ke dalam mobilnya dan segera mengemudi keluar dari mansion. Alan juga segera berlari menuju garasi untuk mengambil mobil. Meninggalkan Ellea yang kebingungan dan panik seorang diri.
Dia hanya berharap Diana tidak memberitahu perihal ini pada Damian.
Bersambung..
.
good luck authorrr