"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Teror di Balik Layar
Pagi itu, bengkel Juna Modifikasi tidak hanya dipenuhi oleh aroma bensin dan pelumas, tapi juga kepulan asap rokok dari Juna yang tampak tidak tenang.
Di atas meja kerjanya yang berantakan dengan baut dan obeng, sebuah tabloid otomotif lokal dan ponselnya yang terus bergetar menjadi pusat perhatian.
Tagar #BrondongMenangBanyak dan foto mirror selfie mesra Juna dan Cantik semalam ternyata menjadi bumerang.
Sebuah akun anonim mulai menyebarkan rumor bahwa Juna menggunakan dana perusahaan Satria untuk membangun bengkelnya.
Fitnah "Asal Bunyi" yang dimulai para Tante di pesta semalam kini berubah menjadi serangan digital yang sistematis.
"Jun, muka lu udah kayak ban bocor, kusut amat," celetuk Rian, salah satu mekanik kepercayaan Juna, sambil melempar kunci pas.
Juna tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah pesan masuk dari nomor Satria.
[Satria]: Gaya lu boleh selangit di depan keluarga semalam, Jun. Tapi lu lupa, semua aset bengkel ini atas nama siapa? Jangan sok jadi pahlawan kalau pondasi lu masih minjam sama gue. Balikin Cantik, atau gue bikin bengkel lu rata sama aspal hari ini juga.
Juna mendengus, lalu tertawa hambar. Ia meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih.
"Bang Sat satu ini bener-bener nggak ada kapoknya. Udah mau jadi bapak, masih aja hobi main drama murahan," gumam Juna.
Tak lama kemudian, mobil sedan putih Cantik berhenti di depan bengkel. Cantik keluar dengan kacamata hitam, tampak elegan namun ada guratan cemas yang nyata di wajahnya. Ia langsung menghampiri Juna.
"Jun, lu udah baca berita pagi ini?" tanya Cantik langsung.
Juna berdiri, membuang puntung rokoknya, lalu merangkul pundak Cantik dengan santai.
"Berita yang mana, Kak? Yang bilang gue makin ganteng setelah pacaran sama bidadari? Udah bosen baca itu."
"Juna, gue serius!" Cantik melepas kacamatanya, menatap Juna tajam.
"Satria mulai main kotor. Dia lapor ke pihak manajemen kalau ada penggelapan dana kantor yang masuk ke rekening bengkel ini. Dia mau tutup tempat ini, Jun! Belum lagi Sintia..."
Cantik menghela napas panjang, lalu menyodorkan ponselnya. Di sana ada story Instagram terbaru Sintia. Foto sebuah hasil USG yang menunjukkan janin yang sudah mulai terbentuk jelas.
Teks di Story Sintia: "Sehat-sehat ya Sayang di dalam perut Mama. Makasih Mas Satria sudah selalu siaga, meskipun banyak 'gangguan' dari masa lalu yang gagal move on. Debay-nya seneng banget tadi dibeliin perhiasan baru sama Papanya."
"Dia makin manja, makin gila,sama gilanya kaya Abang lu" desis Cantik.
"Satria jadi makin nekat buat jatuhin kita."
Juna menyeringai, sebuah seringai yang sangat Cantik kenali.
"Biarian aja, Kak. Mau dia hamil kembar sepuluh pun, itu nggak akan bikin Bang Satria jadi orang bener. Justru makin bagus kalau dia manja, Bang Sat bakal makin pusing dan makin gampang buat bikin kesalahan."
Juna menarik Cantik ke dalam kantor kecilnya yang dipenuhi poster motor sport. Ia mendudukkan Cantik di kursi kerjanya yang empuk.
"Dengar ya, Kak Cantik kesayangan Juna. Lu nggak usah pusing soal Sintia yang lagi hobi akting jadi ratu hamil. Tugas lu cuma satu: tetep jadi 'Nyonya Juna' yang paling tenang. Urusan 'sampah' kayak Bang Sat, biar gue yang buang ke tempatnya."
"Tapi Jun, dia laporin lu ke Papa juga!"
"Gue tahu," Juna mengusap pipi Cantik lembut.
"Semalam lu udah pasang badan buat gue dengan ngelap bibir gue di depan keluarga. Sekarang, giliran gue yang pasang badan buat harga diri kita. Kita bakal kasih serangan balik yang bikin dia nggak bisa bangun lagi dari drama kehamilan Sintia."
Cantik terdiam, menatap sorot mata Juna yang penuh keyakinan. Di balik sifat ugal-ugalannya, pria 18 tahun ini memiliki ketegasan yang jauh melampaui usianya.
"Rencana lu apa?" tanya Cantik akhirnya luluh.
"Gue bakal undang media ke bengkel sore ini. Kita balas fitnah mereka sama fakta." Juna menaikkan satu alisnya.
Cantik melongo. Strategi Juna sangat berisiko, tapi jenius. Juna memojokkan Satria di depan awak media.
Namun, di tengah rencana itu, ponsel Cantik berdenting lagi. Sebuah pesan dari Sintia yang sengaja mengirimkan foto Satria sedang memijat kakinya.
[Sintia]: Mbak Cantik, kasihan ya... pacar brondongnya mau bangkrut. Mas Satria sekarang cuma fokus sama aku dan debay. Mending Mbak cari om-om aja yang lebih kaya, kasihan brondongnya kalau harus nanggung hidup Mbak yang boros itu. Hehehe.
Cantik mengepalkan tangannya. "Sintia... bener-bener minta dijambak pake kunci inggris," desisnya.
Juna yang melihat pesan itu dari balik bahu Cantik, hanya tertawa kecil.
"Sabar, Sayang. Orang yang suka pamer manja-manjaan pas hamil begini biasanya bakal kaget kalau dapet 'hadiah' kejutan. Kita biarkan dia menikmati masa-masa 'ratu' nya sebentar lagi."
Cantik menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Juna yang beraroma oli dan parfum maskulin.
"Gue percaya sama lu, Jun. Tapi satu hal... kalau sampai lu celaka gara-gara ini, gue yang bakal seret lu ke pelaminan sekarang juga."
Juna tertawa lepas, suaranya memenuhi ruangan kecil itu.
"Wah, ancamannya ngeri ya. Jadi pengen cepet-cepet diseret ke pelaminan sama Kak Cantik sekarang juga."
Sore itu, rencana Juna dimulai. Puluhan wartawan otomotif berkumpul di halaman bengkel. Di sudut ruangan, Satria tampak berdiri dengan wajah kaku bersama Sintia yang terus menggelayut di lengannya sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit sedikit.
Satria menyangka ia akan melihat Juna berlutut minta ampun karena laporan penggelapan dananya.
"Jun, media sudah mulai kumpul di depan. Lu beneran mau biarin mereka masuk?" tanya Rian, asistennya, dengan wajah cemas.
"Biarkan saja, Rian. Tamu kehormatan kita sebentar lagi sampai," jawab Juna dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Tak lama kemudian, suara decitan ban mobil mewah terdengar. Satria turun dengan gaya perlente, jasnya klimis, seolah dia adalah pahlawan yang siap mengungkap kebenaran.
Di sampingnya, Sintia menggelayut manja. Perutnya yang mulai membuncit sengaja ditonjolkan dengan dress ketat, tangannya tak henti mengelus perut seolah itu adalah tameng pelindung dari segala dosa.
Begitu mereka masuk ke area bengkel, kilatan flash kamera wartawan langsung menyambar. Sintia langsung memasang wajah "korban yang teraniaya".
"Mas Satria, aku takut... banyak orang," bisik Sintia, tapi suaranya sengaja dikeraskan agar masuk ke microphone wartawan yang mendekat.
"Tenang Sayang, Mas di sini buat beresin semuanya. Biar orang-orang tahu siapa yang sebenarnya pencuri di keluarga Bani Sudirjo," ujar Satria lantang sambil menatap Juna dengan kebencian.
Satria berjalan lurus ke arah meja Juna.
"Juna! Mau sampai kapan lu sembunyi di balik para wartawan? Lu pikir kerja sama luar negeri sama ngundang para wartawan gini, bisa nutupi fakta kalau lu ambil uang operasional kantor gue buat beli mesin-mesin dekil ini?"
Juna berdiri pelan, merapikan kemeja polonya tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Tuduhan yang berat, Bang Sat. Ada buktinya?"
"Bukti?" Satria tertawa meremehkan. Dia melempar sebuah map ke meja.
"Ini laporan audit internal kantor gue. Ada aliran dana misterius tiap bulan yang masuk ke rekening vendor mesin lu. Lu pikir gue nggak bakal tahu?"
Sintia ikut menimpali dengan nada sinis. "Iya, kasihan Mbak Cantik... mau saja dibohongi sama brondong yang modalnya hasil nilep uang abangnya sendiri. Mbak Cantik pasti diajak hidup mewah pake uang haram ya?"
Cantik yang baru saja keluar dari ruang berkas, menatap Sintia dengan pandangan muak.
"Sintia, jaga mulutmu kalau nggak mau bayimu lahir di tempat yang salah."
"Mbak Cantik kok galak banget? Aku kan cuma kasih tahu fakta," Sintia bersembunyi di balik bahu Satria, pura-pura gemetar.
"Mas, debay-nya kaget denger Mbak Cantik teriak."
"Cantik, jangan intimidasi Sintia! Dia lagi hamil!" bentak Satria. Dia kembali menoleh ke arah wartawan.
"Rekan-rekan media, lihat sendiri kan? Mereka panik karena rahasianya terbongkar hari ini!"
Juna hanya diam, membiarkan Satria dan Sintia menikmati momen "kemenangan" palsu mereka di depan kamera selama beberapa menit. Setelah keributan itu mencapai puncaknya, Juna baru berdehem pelan.
"Sudah dramanya? Sudah cukup puas pamer kehamilannya?" tanya Juna tenang.
Juna kemudian mengeluarkan sebuah tablet dan menghubungkannya ke layar televisi besar yang ada di ruang tunggu bengkel.
"Rekan-rekan media, karena Saudara Satria membawa audit 'internal', izinkan saya menunjukkan audit 'independen' yang diverifikasi langsung oleh bank pusat."
Layar televisi menyala, menampilkan grafik aliran dana yang sangat detail.
"Betul, ada aliran dana dari perusahaan Satria ke vendor mesin saya. Tapi kalau kalian lihat lebih teliti di kolom keterangan..." Juna memperbesar satu bagian.
"Ini bukan penggelapan. Ini adalah pembayaran royalti atas hak paten desain mesin modifikasi Juna yang selama ini digunakan oleh perusahaan Satria secara cuma-cuma selama dua tahun."
Wajah Satria mendadak kaku. "Apa?! Hak paten apa?!"
Cantik maju, menyerahkan sebuah sertifikat HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) asli yang berkilauan.
"Juna sudah mendaftarkan paten desainnya sejak tiga tahun lalu, Mas Satria. Selama ini, kamu menggunakan karya Juna tanpa bayar. Jadi, uang yang masuk ke vendor itu sebenarnya adalah utang perusahaan kamu ke Juna yang baru kamu bayar setengahnya."
Juna melirik Satria yang mulai berkeringat dingin.
"Jadi, Bang... yang sebenernya nilep itu siapa? Gue yang ambil hak gue, atau lu yang selama ini diam-diam dapet untung dari otak 'bocah' yang lu hina ini?"
Tiba-tiba, layar televisi berubah lagi. Menampilkan daftar transaksi lain.
"Dan soal hidup mewah..." Juna menatap Sintia dengan tajam. "Uang yang lu tuduh gue nilep itu, jumlahnya nggak sebanding sama uang perusahaan yang lu pake buat beli tas branded dan bayar biaya rumah sakit mewah lu bulan lalu, Sintia. Mas Satria lu ini ternyata lebih rajin nilep uang operasional kantor buat manjain lu daripada buat bayar royalti ke adiknya sendiri."
Sintia melongo, wajah cantiknya pucat pasi.
"Mas... itu... itu nggak bener kan?"
Satria tidak bisa menjawab. Wartawan mulai berbisik-bisik riuh, kamera kini fokus pada wajah Satria yang tampak sangat pecundang.
"Gila... ternyata kakaknya yang maling teriak maling," celetuk salah satu wartawan.
Di saat itulah, Papa Sudirjo masuk. Beliau sudah berdiri di sana sejak tadi, mendengarkan semuanya dari balik kerumunan.
Beliau berjalan mendekati Satria, lalu tanpa kata, mengambil map audit internal milik Satria dan merobeknya di depan semua orang.
"Papa kecewa, Satria. Kamu bukan cuma pengkhianat bisnis, tapi kamu juga pembohong yang menggunakan anak di dalam kandungan istrimu untuk menutupi kesalahanmu," suara Papa begitu dingin hingga Sintia gemetar hebat.
"Papa... aku bisa jelasin..."
"Jelaskan nanti di kantor polisi. Papa sudah minta Juna menyerahkan data audit independen ini untuk diproses," ujar Papa tegas.
"Satria, mulai detik ini, kamu bukan lagi bagian dari direksi. Pulang, dan urus istrimu yang terlalu manja ini. Jangan pernah injakkan kakimu di bengkel adikmu lagi."
Sintia langsung menangis meraung-raung, mencoba memegangi tangan Papa, tapi Papa menepisnya dengan kasar. Satria hanya bisa menunduk, diseret pergi oleh petugas keamanan di tengah sorakan malu dari para wartawan.
Juna menghela napas panjang, ia menoleh ke arah Cantik yang kini tersenyum lega. Juna merangkul pinggang Cantik, menatap kamera wartawan dengan percaya diri.
"Integritas itu nggak bisa dibeli pake akting manja saat hamil," ujar Juna sebagai penutup.
"Dan untuk Kak Cantik... terima kasih sudah percaya sama brondong ugal-ugalan ini."
Cantik tertawa merdu, ia menyandarkan kepalanya di bahu Juna.
Di tengah aroma oli dan keributan sisa media, ia tahu bahwa Juna Raksa memang bukan sekadar bocah—dia adalah ksatria yang sebenarnya.