Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Diantara Dua Pilihan
Setelah kejadian kemarin, Zidan benar-benar menjadi tidak tenang. Pikirannya dan dadanya terasa penuh rasa bersalah. Setiap kali ia mencoba duduk diam, bayangan Alya selalu muncul didalam kepalanya.
Wajah yang selalu tenang
Sikap diamnya, dan cara Alya menatapnya… seolah sudah kehilangan kepercayaan kepada dirinya.
Zidan mengusap wajahnya pelan.
“ Gue harus mulai dari mana ya kalau minta maaf sama Alya..... Mana gue belum pernah minta maaf sama cewek lagi, karena kan biasanya cewek yang ngejar ngejar gue , bahkan untuk minta maaf pun mereka mau ikutin gue kemana aja. Tapi sekarang kan kosepnya beda, Alya ini beda sama mereka.....” gumamnya pelan dalam hati.
Dan untuk pertama kalinya juga, ia merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Dan nama kontak yang muncul adalah....
Yup......
tentu saja itu Raka ( salah satu teman nongkrongnya ).
Zidan menghela napas sebelum mengangkat telpon dari Raka.
“ Zid ! Lo di mana sih? Gue chat gak dibales-bales ! ” suara Raka terdengar dari seberang telpon.
Zidan diam sebentar.
Raka lanjut lagi,
“ Gimana? Lo masih ingat kan soal taruhan kita itu ? Kapan rencananya mau lo ambil uangnya nih ? ”
Zidan terdiam.
Tangannya yang memegang ponsel sedikit mengencang.
Di satu sisi…
itu hal yang mudah ,tinggal datang, ambil uang, selesai.
Tapi di sisi lain…
bagaimana dengan “Alya…”
Nama wanita yang selalu muncul lagi dan lagi di pikirannya.
Setelah beberapa detik keheningan yang terjadi, Zidan akhirnya berkata,
“ Gue ketemu lo sore ini di kafe tempat kita biasa nongkrong. ”
“ Gue bakal jawab semuanya di situ.”
Raka terdengar senang.
“ Oke bro, gue tunggu smaa teman teman yang lain juga.”
Telepon pun terputus.
Zidan duduk kembali di sofa.
Namun kali ini… pikirannya semakin kacau.
Ia menatap tangannya sendiri.
“ Kenapa jadi serumit ini sih...…”
Padahal dulu semuanya terasa sederhana. Karena hanya taruhan.
Hanya permainan.
Tapi sekarang…
semuanya terasa salah.
Waktu terus berjalan.
Jam demi jam terus berlalu tanpa terasa.
Namun Zidan masih belum bisa memutuskan apa pun.
Ambil uangnya ? Atau berhenti?
Dan kenapa… ia justru lebih memikirkan bagaimana cara meminta maaf pada Alya dibandingkan uang itu?
“ Harusnya gue biasa aja… ” gumamnya pelan.
“ Ini cuma perjodohan… ”
Tapi hatinya tidak setuju.
Sementara itu, di rumah…
Alya baru pulang bersama Umi dari pasar.
Ia berjalan pelan masuk ke rumah. Seperti biasa, pandangannya tidak langsung mencari Zidan. Seolah ada jarak yang tidak terlihat diantara mereka berdua.
“Alhamdulillah ya Nak. Kita sudah sampai rumah ,” ucap Umi lembut.
Alya hanya tersenyum kecil.
“ Iya, Umi. Alhamdulillah juga. ”
Di ruang tengah, Zidan berdiri.
Ia melihat Alya masuk. Namun seperti biasa…
Alya tidak menatapnya.
Tidak sekali pun.
Hati Zidan kemudian terasa berat.
Biasanya Alya tidak seperti ini.
Dulu masih ada sapaan kecil.
Sekarang… tidak ada sama sekali
Biasanya Alya tidak seperti ini.
Dulu masih ada sapaan kecil.
Sekarang… tidak ada sama sekali.
“ Ya Allah…” bisiknya dalam hati.
“ Gue harus gimana…”
Umi lalu menoleh ke Zidan.
“ Nak Zidan sudah makan? ”
Zidan langsung menoleh.
“ Oh… sudah, Umi. Maaf Ummi, tadi pagi Zidan ketiduran.” , Ucap Zidan.
Umi tersenyum.
“ Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah makan. Nak. ”
Sedangkan Alya masih tetap diam, tidak ikut berbicara satu patah kata pun. Dan itu…. justru terasa paling menyakitkan bagi Zidan.
Beberapa saat kemudian, Zidan kembali ke kamarnya.
Pesan dari Raka masih teringat jelas di kepalanya.
“ Taruhan itu dan Uang 50 juta.”
Zidan menatap layar ponselnya lama.
Lalu perlahan… ia membuka kontak dari Raka tadi. Jarinya berhenti di atas tombol chat.
Namun tiba-tiba…..ia menghapus semuanya.
Ia membuang napas panjang.
“ Gue gak bisa… ”
Dan untuk pertama kalinya…...keputusan itu keluar tanpa ragu.