NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memperjuangkan Nasib Rakyat

Ami tersenyum hangat lalu membelai kepala anak kecil itu. “Makanya harus rajin belajar ya,” ucapnya lembut. “Kalau punya cita-cita, jangan takut bermimpi tinggi.”

Anak itu mengangguk malu-malu, sementara ibunya tampak menahan haru.

Tak jauh dari sana, beberapa pemuda desa mulai berdiskusi serius dengan staf pemerintah tentang pelatihan pengolahan hasil walet dan pemasaran. Mereka sadar kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Selama bertahun-tahun mereka hanya menjadi buruh kasar atau penonton, sedangkan keuntungan besar selalu dibawa pergi oleh orang luar. Kini, untuk pertama kalinya, mereka merasa memiliki peluang untuk membangun usaha dari daerah mereka sendiri.

Rasyid memperhatikan semua itu dengan diam. Angin siang berembus pelan dari arah perbukitan, sementara suara masyarakat bercampur dalam percakapan yang hidup dan penuh harapan.

Ami kemudian berdiri di sampingnya sambil berkata lirih, “Lihat wajah mereka.”

Rasyid menoleh pelan.

“Mereka bukan cuma sedang berharap soal uang,” lanjut Ami. “Mereka sedang berharap hidup mereka benar-benar berubah.”

Kalimat itu membuat Rasyid menarik napas panjang. Beban yang beberapa hari terakhir menekan pikirannya tiba-tiba terasa lebih ringan. Ancaman para pemodal masih ada, tekanan politik juga belum berhenti, tetapi melihat harapan di mata masyarakat membuatnya kembali yakin bahwa jalan yang ia pilih memang pantas diperjuangkan.

“Kalau begini,” kata Rasyid pelan sambil tersenyum tipis, “aku jadi makin nggak boleh kalah.”

Ami ikut tersenyum kecil. “Makanya jangan menyerah, Pak Bupati.”

Rasyid tertawa pelan mendengar ucapan itu, karena kalimat yang sama pernah diucapkan Ami saat dirinya hampir kehilangan segalanya dulu. Dan sekarang, berdiri di tengah masyarakat yang mulai percaya pada masa depan mereka sendiri, Rasyid sadar bahwa perjuangan mereka baru saja dimulai, bukan hanya untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi untuk memastikan harapan kecil masyarakat seperti ini tidak kembali dirampas oleh orang-orang yang lebih kuat.

***

Selama sepekan terakhir, Rasyid hampir setiap hari bolak-balik mengunjungi kampung-kampung sekitar goa sarang burung walet. Jadwalnya sebagai Bupati sebenarnya sudah sangat padat, tetapi ia tetap memilih turun langsung memastikan program pengelolaan masyarakat itu benar-benar berjalan sesuai tujuan. Ia tidak ingin kebijakan yang sudah diperjuangkan dengan susah payah justru gagal hanya karena pemerintah melepas masyarakat tanpa pendampingan yang jelas.

Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat menembus jalan berbukit menuju lokasi, lalu malam harinya kembali ke rumah dinas dengan tubuh lelah dan pakaian yang kadang masih dipenuhi debu perjalanan. Namun anehnya, kelelahan itu justru terasa berbeda bagi Rasyid. Untuk pertama kalinya sejak menjabat, ia merasa benar-benar bekerja untuk sesuatu yang nyata dan bisa langsung dirasakan masyarakat kecil.

Ami sendiri setia menemaninya hampir di setiap kunjungan. Warga mulai terbiasa melihat keduanya datang bersama, Pak Bupati yang sibuk memeriksa pelaksanaan program dan Bu Bupati yang lebih banyak berbincang dengan ibu-ibu, anak-anak, dan para pemuda desa.

Ami bahkan hafal keluarga mana yang paling membutuhkan bantuan pendidikan, ibu mana yang kesulitan mengatur keuangan hasil panen walet, hingga anak-anak yang mulai ingin melanjutkan sekolah setelah mendengar arahannya beberapa hari lalu.

Kehadiran mereka perlahan mengubah suasana kampung. Warga yang sebelumnya takut mengambil alih pengelolaan walet mulai lebih percaya diri. Para pemuda terlihat lebih bersemangat mengikuti pelatihan, sementara ibu-ibu mulai benar-benar membentuk kelompok tabungan kecil seperti yang disarankan Ami.

Suatu sore, ketika matahari mulai turun di balik perbukitan, Rasyid duduk beristirahat di depan rumah warga sambil memandang aktivitas masyarakat yang mulai sibuk menata hasil panen walet mereka sendiri. Ami duduk di sampingnya sambil membawa catatan kecil berisi daftar kebutuhan warga yang harus segera ditindaklanjuti.

“Kamu capek?” tanya Ami pelan sambil melirik wajah suaminya yang terlihat jauh lebih kurus dibanding beberapa minggu sebelumnya.

Rasyid tersenyum kecil lalu menggeleng. “Capek sih,” jawabnya jujur. “Tapi rasanya berbeda.”

Ami memahami maksud itu tanpa perlu penjelasan panjang.

Rasyid kemudian memandang warga-warga yang sedang tertawa kecil sambil bekerja bersama. “Dulu aku pikir jadi pemimpin itu soal membuat keputusan besar,” katanya lirih. “Ternyata yang paling penting justru memastikan orang-orang kecil seperti mereka benar-benar merasakan perubahan.”

Ami tersenyum hangat mendengar itu. Dan sore itu, di kampung sederhana yang dulu hanya menjadi sumber keuntungan bagi orang luar, perlahan mulai tumbuh sesuatu yang lebih berharga: rasa percaya diri masyarakat bahwa mereka juga mampu menentukan masa depan mereka sendiri.

***

Hari-hari berikutnya, nama Rasyid mulai semakin sering dibicarakan masyarakat, bukan karena pidato politik atau pencitraan media, melainkan karena keberadaannya yang benar-benar terlihat di tengah warga. Banyak orang mulai terbiasa melihat mobil dinas Bupati berhenti di jalan-jalan kecil kampung, sementara Rasyid berjalan kaki menyusuri lorong desa untuk memastikan program berjalan sebagaimana mestinya.

Namun di balik semua itu, tekanan dari para pemodal juga semakin terasa. Beberapa pihak mulai menyebarkan isu bahwa program pengelolaan walet oleh masyarakat hanyalah proyek sesaat yang nantinya akan gagal total. Ada juga yang mencoba memecah warga dengan janji uang cepat agar mereka kembali menyerahkan pengelolaan kepada perusahaan besar.

Rasyid tahu permainan itu mulai bergerak lebih halus. Karena itu ia semakin sering datang langsung ke lapangan, bukan hanya untuk mengawasi program, tetapi juga menjaga semangat masyarakat agar tidak mudah dipecah belah.

Suatu malam, setelah pertemuan panjang dengan kelompok pengelola walet, listrik di balai desa tiba-tiba padam. Suasana langsung gelap, hanya diterangi beberapa lampu minyak dan cahaya ponsel warga. Di tengah keadaan itu, seorang pemuda mendekati Rasyid dengan wajah cemas.

“Pak,” katanya pelan, “kami dengar ada orang-orang yang mulai mengancam warga supaya berhenti ikut koperasi.”

Ami yang mendengar itu langsung menoleh khawatir, sementara beberapa warga lain mulai saling berbisik gelisah.

Namun Rasyid tetap tenang. Ia berdiri lalu berkata dengan suara cukup keras agar semua orang mendengar, “Kalau mereka mulai mengancam, itu berarti mereka takut.”

Warga langsung terdiam memperhatikannya.

“Mereka takut karena selama ini masyarakat selalu bergantung,” lanjut Rasyid tegas. “Sekarang kalian mulai berdiri sendiri. Dan orang-orang yang selama ini menikmati keuntungan besar tentu tidak suka melihat itu.”

Seorang bapak tua kemudian bersuara dari sudut ruangan, “Kalau nanti mereka makin keras menyerang kita bagaimana, Pak?”

Rasyid menarik napas pelan sebelum menjawab, “Maka kita harus lebih kuat dan lebih kompak.” Ia memandang satu per satu warga di depannya. “Saya tidak bisa menjaga kalian sendirian. Tapi kalau masyarakat tetap bersatu, tidak akan mudah bagi siapa pun menghancurkan ini.”

Suasana yang tadi tegang perlahan berubah menjadi lebih tenang. Warga mulai saling mengangguk, sementara Ami memandang suaminya dengan rasa bangga yang sulit disembunyikan. Ia tahu Rasyid sebenarnya juga sedang tertekan, tetapi lelaki itu memilih tetap berdiri tegak di depan masyarakat agar harapan mereka tidak runtuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!