Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Bayangan Misterius
Dua Iblis Berwajah Dewa adalah dua pendekar kakak beradik yang berasal dari kawasan pesisir utara Kota Kembang Jenar. Keduanya merupakan buronan pemerintah Kembang Jenar setelah memperkosa dan membunuh si kembar Widuri dan Windari putri Werdhamantri Mpu Sulaksana, penasehat Adipati Aji Kertabuana.
Paras rupa kedua manusia jahat ini memang tampan tetapi sayangnya kelakuan mereka benar-benar diatas ambang batas kewajaran. Berbekal Ajian Gugur Bunga dan Ilmu Langkah Guntur, kedua orang kakak beradik ini, Wasesa dan Respati, menebar ketakutan dengan pemerkosaan juga membantai setiap lawan yang mereka berani menantang.
Setelah berhasil melarikan diri dari kepungan para prajurit Kembang Jenar, Wasesa dan Respati, tinggal di kawasan Alas Penawangan yang tentu saja merupakan salah satu wilayah Lwaram. Dari tempat itu mereka menjelma menjadi pembunuh bayaran yang sering digunakan oleh keluarga Istana Lwaram untuk melakukan tugas kotor politik demi melanggengkan kekuasaan mereka.
"Cari mati?!
Heh pemuda tua berwajah keriput, kau ini buta ya? Aku ini putra Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya, Pangeran Mapanji Wijaya. Kau berani mengancam ku?! Kau ini yang bosan hidup!!! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya tetap gaya songongnya.
Wasesa segera menoleh ke arah Respati adiknya yang sedang mencengkeram Rara Kuning. Respati paham dengan maksud kakak nya, ia segera melepaskan Rara Kuning dan berjalan mendekati saudaranya itu.
"Apa rencana mu Kakang Wasesa? ", bisik Respati segera.
" Aku akan menghadapi para pengawalnya, kau habisi dulu Pangeran semprul itu ", balas Wasesa yang membuat Respati mengangguk.
" Hei kenapa bisik-bisik saja hah?!
Takut ya? Sudah kalau takut pergi yang jauh sana. Jangan mengganggu perjalanan ku. Cepat minggir! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya yang langsung membuat Dua Iblis Berwajah Dewa ini langsung menatap ke arah putra kedua Ratu Sri Isyana Tunggawijaya itu sambil mendengus.
" Takut katamu?
Phhuuuuuuiiiiihhhhh....!!!!
Kalau bapak mu sendiri yang datang kesini, kami berdua mungkin berpikir dua kali. Tapi kalau cuma sekelas pangeran manja seperti mu, membunuhmu bukan perkara sulit!!!! ", teriak Wasesa sembari menerjang maju ke arah rombongan pengawal Pangeran Mapanji Wijaya.
Empat prajurit berusaha menghalangi pergerakan Wasesa dengan mengayunkan pedang mereka ke arah Wasesa.
Shhrreeeeeeeeeetttttttttt...!!!
Tetapi Wasesa yang menggunakan Ajian Langkah Guntur dengan gerakan yang sukar dilihat dengan mata telanjang, melawan mereka berempat dengan pedang pendeknya.
Chhrraaaaassss chhrraaaaassss chhrraaaaassss chhrraaaaassss...
Aaaauuuuugggghhhhh!!!!
Empat prajurit pengawal Pangeran Mapanji Wijaya yang naas itu langsung terkapar bersimbah darah. Hal ini membuat para prajurit lainnya langsung ketakutan dan mundur selangkah ke belakang.
Tumenggung Rengga langsung menggeram murka melihat anak buahnya di bantai dengan mudah lalu ia pun melesat maju ke arah Wasesa. Melihat kedatangan pimpinan pasukan pengawal ini, Wasesa dengan cepat memutar tubuhnya dan menyambut serangan tapak tangan Tumenggung Rengga dengan tapak tangan kirinya.
BLLAAAAAAAARRRRR!!
Tubuh kedua orang yang mengadu serangan tenaga dalam ini langsung terdorong mundur dengan cara berbeda. Wasesa tersurut mundur beberapa langkah ke belakang sebelum terhenti setelah menggesek posisi kaki nya sedangkan Tumenggung Rengga terpental tetapi bisa mendarat dengan satu dengkul menyangga tubuh.
Hooooooooeeeeeeggggg...!
Seteguk darah segar muncrat dari mulut Tumenggung Rengga menandakan ia menderita cedera dalam yang cukup parah.
Ludaka, Nararya Candrawulan, Ratri, Subadra dan Warak hendak bergerak tapi tangan kanan Pangeran Mapanji Wijaya yang terangkat ke atas membuat mereka langsung berhenti dan menoleh ke arah sang pangeran.
"Apa maksud nya Gusti Pangeran? Kami ini ingin menghajar bajingan itu.. ", Warak memprotes lebih dulu.
" Iya, kekuatan kami tidak kalah dengan Tumenggung Rengga, pasti bisa mengalahkan nya", timpal Ratri.
"Ratri benar, Gusti Pangeran.. Ijinkan kami untuk maju... "
"Bajingan itu tidak boleh dibiarkan semena-mena.. "
"Aku harus menghajar nya.. "
Protes dari semua orang yang ada di samping Pangeran Mapanji Wijaya bersama-sama membuat suara mereka persis dengan suara ribut ibu-ibu di pasar pada pagi hari. Pangeran Mapanji Wijaya yang tidak tahan lagi dengan ocehan mereka, langsung berteriak lantang.
"DIAM SEMUANYA....!!! "
Suara keras Pangeran Mapanji Wijaya sontak membuat Nararya Candrawulan, Ratri, Subadra, Ludaka dan Warak terdiam seketika.
"Kalian cukup diam disitu, lihat baik-baik.. ", Pangeran Mapanji Wijaya tersenyum dipaksakan ke arah mereka.
" Tapi Gusti Pangeran... "
Ssssssttttttttttt!!!!
"Yang kebanyakan protes, akan dapat hukuman! "
Mendengar omongan Pangeran Mapanji Wijaya ini, semua orang yang ada di sekitarnya langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Beres meredam emosi para pengikutnya, Pangeran Mapanji Wijaya meloncat maju ke depan.
Gerakannya begitu ringan seringan gerakan burung layang-layang. Dia menginjak ujung jambul kuda penarik kereta sebelum mendarat dengan anggun di depan Wasesa.
Tentu saja hal ini membuat semua orang terkejut. Bahkan Warak sampai melongo melihat tingkah majikannya itu.
'Sejak kapan Gusti Pangeran menguasai ilmu meringankan tubuh setinggi itu? Kok aku tidak pernah melihatnya berlatih? ', batin Warak.
"Nah pemuda tua berwajah keriput...!
Aku tahu kau diutus seseorang untuk membunuh ku. Ayo sini coba saja kalau bisa.. ", tantang Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Wasesa langsung marah besar.
" Jangan memberiku julukan yang aneh-aneh bangsaaatttt...!!! ", teriak Wasesa sembari melesat maju sambil mengayunkan pedang pendeknya.
Shhrreeeeeeeeeetttttttttt..!!
Menggunakan Ajian Sepi Angin, Pangeran Mapanji Wijaya dengan mudah menghindari sabetan pedang pendek Wasesa. Dia bergerak cepat ke samping kanan dan melayangkan tendangan keras ke arah pinggang anggota Dua Iblis Berwajah Dewa itu.
Wasesa, meskipun melihat serangan itu dan sudah menggunakan Ilmu Langkah Guntur nya, tetap saja terlambat menghindar hingga tendangan keras Pangeran Mapanji Wijaya menghajar pinggangnya.
Dhhiiiieeeesssss...
Aaaaaaauuuuugggghhhhh!!
Tak berhenti sampai disitu, Pangeran Mapanji Wijaya bergerak ke sekeliling Wasesa dengan kecepatan yang sukar dilihat dengan mata telanjang, terus menghajar lawannya tanpa ampun membuatnya menjadi bulan-bulanan tanpa bisa melawan.
Semua orang terperangah melihat kehebatan Pangeran Mapanji Wijaya termasuk dua putri pimpinan Padepokan Gunung Kemukus yang menyaksikan langsung pertarungan itu.
Dhhaaaaaaaaassss dhhaaaaaaaaassss!!
Aaaaaarrrrrrrggggghhhh!!!
Tubuh Wasesa mencelat ke belakang setelah dua tendangan beruntun menghajar nya. Untungnya Respati cepat tanggap menyambar tubuh kakaknya.
"Kau baik-baik saja Kakang?!! ", tanya Respati sembari menatap wajah Wasesa yang bonyok dipukuli oleh Pangeran Mapanji Wijaya.
" Baik kepala mu hah..!!
Wajah tampan ku aduh jadi bonyok begini. Aku pasti bakal membuatnya mampus... ", koar Wasesa sambil menatap tajam ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.
"Respati, kita gabungkan Ajian Gugur Bunga kita..! "
Respati mengangguk mengerti dan berdiri berjajar di samping Wasesa. Keduanya mengangkat kedua tangannya tinggi ke atas kepala, menangkup di depan dada sebelah direntangkan hingga tapak kanan Wasesa bersatu dengan tapak tangan kiri Respati.
"Ajian Gugur Bunga....
Chhiiiiiyyyyaaaaaattttt.....! "
Shhiiiiiiiuuuuuuutttttt....
Gumpalan cahaya berwarna merah muda berhawa sejuk yang aneh menerabas cepat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya. Dengan gerakan gesit, Pangeran Mapanji Wijaya menghentakkan kakinya hingga tubuh nya melenting tinggi ke udara. Ini membuat gumpalan cahaya besar itu menghantam batu besar yang ada dibelakangnya.
BLLAAAAAAAAMMMMM!!!
Batu besar itu seketika hancur lebur menjadi butiran abu. Ini membuktikan bahwa Ajian Gugur Bunga memiliki daya hancur yang menakutkan.
Melihat Pangeran Mapanji Wijaya lolos begitu saja, Dua Iblis Berwajah Dewa kembali melancarkan serangan maut mereka.
BLLAAAAAAAAMMMMM..!!
BLLAAAAAAAAMMMMM..!!
BLLAAAAAAAAMMMMM..!!
Ledakan dahsyat berulang kali terdengar saat Ajian Gugur Bunga menghantam. Ketika serangan terakhir Dua Iblis Berwajah Dewa hampir mengenai rombongan nya, Pangeran Mapanji Wijaya yang baru saja mendarat menggeram murka dan langsung merapal mantra Ajian Segara Geni nya.
Usai menghindari serangan terakhir musuh nya, sang pangeran Medang ini langsung melesat cepat bagaikan kilat ke arah Dua Iblis Iblis Berwajah Dewa sembari menghantamkan tapak tangan kanannya yang diselimuti cahaya merah berhawa panas menyengat ke arah Dua Iblis Berwajah Dewa yang segera menyambutnya dengan Ajian andalan mereka.
DHHUUUUUUAAAARRRRRR!!!!
Ledakan dahsyat yang menciptakan gelombang kejut besar ke segala arah tercipta. Dua Iblis Berwajah Dewa dan Pangeran Mapanji Wijaya sama-sama terpental ke arah yang berlawanan.
Tubuh Dua Iblis Berwajah Dewa menyusruk tanah dengan separuh badan gosong seperti baru dibakar api. Keduanya tidak bergerak sama sekali dan bisa dipastikan bahwa keduanya sudah menemui ajalnya.
Saat tubuh Pangeran Mapanji Wijaya terpental, muncul sesosok bayangan berkelebihan cepat menyambar tubuh Pangeran Mapanji Wijaya dan membawa nya mendarat di dekat para pengikutnya. Melihat keadaan Pangeran Mapanji Wijaya yang mengenaskan, sosok bayangan misterius itu segera menotok beberapa jalan darah sang pangeran untuk menghentikan pendarahan.
Dia segera menoleh ke arah Ludaka, Nararya Candrawulan, Ratri, Subadra dan Warak sambil berkata,
"Aku butuh tempat yang tenang untuk menyelamatkan nyawanya.
Cepat, jangan sampai terlambat..! "