Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. WATACI
Pagi menyingsing. Secercah cahaya menelusup dari balik kaca menjadi penerang alami di dalam ruangan kamar. Nika perlahan mengerjapkan mata.
Rasa lelah yang semalam sempat ia rasa kini perlahan menghilang. Tangan di angkat tinggi-tinggi untuk melakukan peregangan.
Nika menarik nafas dalam menikmati kedamaian yang sunyi. Matanya terpaku saat melihat sepiring sandwich dan segelas susu hangat di atas nakas.
"Siap yang menyiapkan ini. Perasaan aku tidak pernah memintanya, dan bibik juga gak mungkin membuatkan aku sandwich kalau aku gak suruh," gumamnya bingung.
Namun, karena lapar, Nika mendekat dan menyantapnya dengan lahap. Di sela-sela ia mengunyah ia mencari sosok Adnan. Ia segera kembali fokus ke makanan berfikir Adnan tak mungkin pulang.
"Baguslah kalau dia tidak pulang. Setidaknya dia punya rasa malu," rutuknya sambil meminum susunya.
Setelah menghabiskan makanannya Nika segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit ia keluar dengan hanya mengenakan handuk.
Ia memilih pakaian terbaik untuk hari ini untuk menebus hari yang buruk kemarin. Setelah memilih dan mengenakannya, ia turun ke lantai bawah.
Siluet bi Inah yang sedang memasak di dapur membuat langkahnya terhenti. "Bi, makasih sandwichnya ya. Sandwichnya enak banget."
Bi Inah berhenti mengaduk makanan yang sedang di aduknya. Ia lalu berjalan mendekat.
"Makanan itu buka saya yang bikin, Non. Itu buatan Tuan Adnan," sahutnya sambil tersenyum.
Kalea membelalak tak percaya. "Adnan? Apa dia pulang tadi malam?"
Bi Inah mengangguk. "Iya Non. Tuan Adnan semalam pulang, dan pagi-pagi sekali beliau membuatkan Nona sandwich sebelum berangkat ke kantor."
Membuat sandwich untuknya, tentu itu hal yang mustahil. Adnan selalu membenci dirinya bagaimana mungkin menyiapkan itu semua.
Nika menggeleng seakan tak percaya. "Sejak kapan dia se perhatian itu. Aneh."
"Ya sudah Bi, aku berangkat dulu," ucapnya seraya melangkah menuju pintu luar.
Namun, sebelum melangkah keluar Bi Inah kembali memanggilnya. "Non tunggu!"
Nika menoleh. "Ada apa, Bi?"
Bi Inah lalu mengeluarkan sebuah salep kecil. "Non ... ini ada titipan dari Tuan Adnan. Katanya untuk ngobatin tangannya Non Nika."
"Untukku?" ucap Nika memastikan.
Bi Inah mengangguk. "Iya Non."
Nika mengambilnya dan berjalan menuju mobil. Senyumnya merekah saat melihat Geby berdiri sambil membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi, Bu Nika," sapanya disusul senyum lebar.
Nika yang awalnya cemberut berubah sumringah. Ia mendekat dan memeluk Geby erat.
"Syukurlah ... aku senang melihatmu. Tapi bukannya kamu cuti, aku kan sudah beri curi selama sebulan?" ungkap Nika menatapnya penasaran.
Geby tersenyum malu-malu. "Aku khawatir Bu Nika akan kerepotan tanpaku. Lagi pula saya sudah sehat, kok."
Nika mengusap lengan Geby lembut. "Benarkah? Kalau begitu hari ini aku akan membuatmu sibuk."
Geby hanya membalas dengan senyuman lalu mempersilahkan Nika masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju membelah padatnya jalanan pagi itu.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan kecelakaan kita, Bu?" Geby menatapnya dengan penasaran.
"Mereka sedang menyelidikinya. Kali ini sangat alot. Dia bermain sangat aman, Geby. Sabarlah aku pasti akan menemukannya dan membuat perhitungan dengannya," janji Nika.
Geby mengangguk patuh. "Baiklah Bu. Semoga kali ini tertangkap."
Nika mengepal kuat, seakan menekankan pada dirinya agar bisa secepatnya menangkap pelaku yang membuatnya celaka.
"Lalu apa kamu sudah cek bagaimana status Elena sekarang? Dia orang yang tidak tahu terima kasih, biarlah dia mendekam di balik jeruji besi." Nika mengambil tumbler dan meminumnya.
Geby mengambil Ipad dan memperlihatkan laporan dari pihak polisi.
"Sekarang statusnya jadi tersangka. Bahkan dia juga dituntut hukuman berlapis. Lalu bagaimana dengan anaknya yang masih kecil, Bu?"
"Antarkan saja pada keluarganya. Beri dia uang tiap bulan untuk kebutuhan sang anak. Ingat ini rahasia, aku hanya tak ingin dia tetap merasa berkecukupan," ungkap Nika. Walaupun ia sangat kesal dengan Elena, tapi, bagaimana pun ia hanya kaki tangan Barra.
"Baik, Bu. Dan juga semua masalah ini ditangani lansung oleh Pak Adnan. Ia selalu memastikan maslah ini berjalan dengan baik, bahkan selalu melaporkan pada saya tentang perkembangannya," jelas Geby.
Kedua alis Nika bertaut seakan tak percaya dengan ucapan asistennya itu. Seorang Adnan yang kemarin menentangnya di depan semua orang, kini justru mengawal kasus ini.
"Kamu yakin,Adnan melakukannya?
Geby mengangguk mantap tanpa sedikitpun keraguan.
"Ada apa dengannya? Kelakuannya kadang aneh. Tiba-tiba aja bikinin aku sarapan, bahkan memberiku salep. Apa mungkin dia merasa bersalah," gumamnya lirih. Matanya menatap lekat lengan yang kini bercak merah itu mulai memudar.
Tak beberapa lama mobil melambat dan berhenti. Nika melihat ke arah luar.
"Loh, pak. Ini kan masih jauh dari depan perusahaan, kenapa berhenti?"
Sang sopir berbalik. "Maaf Bu. Tapi di depan penuh dengan pendemo."
Seketika mata Nika membelalak lebar. Ia mengintip dari balik kaca.
"Ada apa, ini? Kenapa mereka di depan kantor?" Nika penuh tanya.
"Sepertinya mereka menuntut karena produk kita bermasalah, Bu. Ini lihatlah," seru Geby, sambil memperlihatkan layar iPadnya.
[Massa meminta pertanggung jawaban atas kerugian yang mereka alami. Karena produk yang diproduksi Arta Dirgantara membuat banyak orang mengalami kerusakan pada wajah dan tubuh mereka.]
Seketika emosi Nika meluap. Ia tahu betul ada seseorang yang sengaja memanfaatkan situasi ini. Tangan Nika menekan kuat gagang pintu hingga ujung jarinya memutih.
"Bagaimana pun aku harus menghadapi mereka, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ucapnya mantap.
Geby menahan tangannya. "Anda tidak boleh kesana. Sekarang mereka sedang menggila, bagaimana kalau mereka sampai melukai Anda."
Namun, Nika tak gentar sedikit pun. Ia meminta sang sopir untuk mendekat. Saat mobil berhenti tepat di depan mereka, Nika segera membuka pintu.