NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Mata Peninjau

Waktu terus berlalu. Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan semburat warna jingga di langit saat kereta melintasi wilayah perbatasan menuju Jawa Tengah. Hamparan sawah yang tadinya hijau terang kini mulai tertutup oleh bayang-bayang senja.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Saat kereta memasuki sebuah terowongan panjang di daerah yang dikelilingi perbukitan jati, lampu di dalam gerbong tiba-tiba berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total. Kegelapan pekat seketika menyelimuti gerbong. Suara riuh penumpang yang kebingungan mulai terdengar. Balita di hadapan Luna mulai menangis rewel.

"Kenapa gelap sekali?" gumam ibu di seberang Luna, mencoba menenangkan anaknya.

Bagi manusia biasa, itu hanyalah mati lampu biasa akibat gangguan kelistrikan kereta. Namun bagi Luna, ini adalah alarm bahaya tingkat tinggi.

Suhu di dalam gerbong merosot sangat tajam, jauh lebih dingin dari pendingin ruangan yang paling maksimal. Bulu kuduk Luna berdiri tegak. Ia mencium bau yang sangat spesifik dan memuakkan—bau anyir darah kering bercampur bulu unggas basah yang terbakar.

"Nando..." bisik Luna, tangannya secara refleks mencengkeram lengan Nando, yang tentu saja hanya menembus udara, tetapi memberikan sinyal panik yang jelas.

Nando sudah lebih dulu bersiaga. Pria itu berdiri di lorong gerbong sempit, pendar birunya meledak menyilaukan di mata Luna, menerangi sekitar mereka layaknya lampu neon di tengah kegelapan terowongan. Mata Nando menyapu setiap sudut gerbong.

"Mereka menemukan kita," desis Nando, suaranya berat dan bergetar karena menahan tekanan energi gelap yang tiba-tiba mengurung kereta tersebut. "Dukun itu mengirim anjing pelacaknya."

Luna memicingkan matanya, menatap ke arah luar jendela yang seharusnya hanya memperlihatkan dinding batu terowongan. Di luar kaca jendela itu, mengepak seiring dengan kecepatan laju kereta, terbang seekor burung gagak raksasa yang ukurannya tidak wajar. Burung itu sebesar anjing dewasa. Bulunya hitam pekat bagaikan malam, meresap cahaya apa pun di sekitarnya. Dan matanya... sepasang mata burung itu menyala dengan warna merah darah yang mengerikan.

Mata itu menatap langsung ke arah Luna melalui kaca gerbong.

Itu adalah Gagak Pengintai, perwujudan teluh tingkat rendah yang dikirim dukun Alas Roban untuk melacak keberadaan buhul yang dicuri. Burung itu tidak bisa melukai manusia secara fisik, tapi ia adalah pembawa pesan yang akan melaporkan lokasi mereka langsung kepada sang dukun.

"Jangan tatap matanya, Luna! Tundukkan kepalamu!" perintah Nando dengan tegas.

Burung gagak gaib itu membuka paruhnya yang bergerigi, mengeluarkan suara serak yang memekakkan telinga. Suara itu tidak terdengar oleh penumpang lain, namun bagi Luna, suara itu seperti paku yang digaruk di atas papan tulis kaca.

“Buhuuull... Kembalikaaann... Matii...” Suara itu menggema di dalam kepala Luna, membuat kepalanya berdenyut nyeri.

Gagak itu tiba-tiba menabrakkan kepalanya ke kaca jendela kereta tepat di samping Luna. DUAGH! Kaca itu tidak pecah, namun jaring-jaring energi hitam mulai merembes masuk melalui pori-pori kaca, mencoba merambat menuju ransel Luna yang diletakkan di pangkuannya. Jika energi itu menyentuh ranselnya, sang dukun akan tahu secara pasti posisi Rantai Sukma tersebut.

"Sialan kau, burung rongsokan!" raung Nando.

Ia mengangkat kedua tangannya dan menempelkannya ke arah kaca jendela. Gelombang energi berwarna biru citrus melesat keluar dari telapak tangannya, menghantam jaring-jaring energi hitam yang mencoba merambat masuk. Pertemuan dua energi yang berlawanan itu menciptakan percikan cahaya kasat mata, seperti kilat kecil di dalam gerbong.

Napas Nando memburu. Wajahnya mengeras menahan rasa sakit. Ia menguras energinya secara masif untuk menahan laju teluh tersebut. Bau wangi sandalwood meledak memenuhi gerbong, bertarung mengusir bau amis unggas bangkai. Penumpang di sekitar mereka mulai menggigil hebat, beberapa bahkan berdoa karena merasa ada hawa yang 'tidak beres'.

"Energinya... jauh lebih kuat dari bayangan di kosanmu," Nando menggertakkan giginya. Cahaya birunya sedikit meredup. "Dukun itu tahu kita sedang menuju ke sarangnya. Dia tidak menahan diri lagi."

Luna tidak bisa hanya diam. Ia meraih ranselnya, merogoh bagian bawah, dan menyentuh gagang Keris Pangruwat. Segera setelah kulitnya bersentuhan dengan besi berkarat itu, sebuah kehangatan aneh mengalir di tangannya. Energi perlawanan yang kuno dan suci merayap naik ke bahunya.

"Nando, minggir!" teriak Luna tertahan.

Nando menoleh sedikit, memberikan celah sepersekian detik. Luna mengarahkan ujung tasnya yang berisi keris itu tepat ke arah kaca jendela tempat gagak gaib itu menempel. Energi dari Keris Pangruwat beresonansi dengan mantra segel garam yang ada di dalam tas. Sebuah tolakan energi metafisik yang sangat kuat tercipta.

Gagak bermata merah itu memekik keras kesakitan, terlempar menjauh dari kaca kereta seakan baru saja tersambar petir putih. Tubuh hitamnya terbakar, meninggalkan kepulan asap pekat sebelum akhirnya tertinggal jauh di belakang, tergulung oleh kegelapan terowongan.

Tak lama kemudian, kereta keluar dari terowongan panjang tersebut. Cahaya matahari senja kembali menerangi gerbong. Lampu-lampu kereta menyala kembali secara otomatis. Tangisan balita perlahan mereda.

Gerbong kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Nando merosot, duduk di kursi sebelahnya dengan napas tersengal. Pendar birunya sangat tipis, nyaris memperlihatkan wujud transparan yang pudar. Pria itu tampak sangat kelelahan, layaknya manusia yang baru saja berlari maraton sepuluh kilometer.

Luna segera membuka tasnya dan menyeka keringat dingin di dahinya. Jantungnya masih berdegup gila. Ia melirik ibu di depannya yang sedang mengusap dada sambil beristighfar.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Luna cemas, menatap Nando yang masih memejamkan mata mencoba mengatur napas astralnya.

"Aku masih hidup. Secara teknis," jawab Nando lemah, membuka matanya dan tersenyum miring. "Tapi, Luna... burung gagak tadi. Itu bukan hanya pelacak."

"Maksudmu?"

"Sebelum kau memukul mundur burung itu dengan energi kerismu, ia sempat menembus sedikit lapisan pertahananku. Ia membaca tujuanku." Nando menatap Luna dengan sorot mata yang serius. "Dukun di Desa Karang Mayit itu sekarang tahu bahwa kita sedang menuju ke sana untuk menghancurkan altarnya. Kita kehilangan elemen kejutan kita."

Luna menelan ludah. "Artinya..."

"Artinya, ketika kita turun di Pekalongan dan menuju hutan Alas Roban besok, kita tidak akan sekadar mencari tempat itu," Nando mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kita akan berjalan lurus ke dalam perangkap yang sudah dipersiapkan secara khusus untuk membunuh kita."

Pengumuman dari pengeras suara kereta terdengar menggema. "Sesaat lagi, kereta api Matarmaja akan tiba di Stasiun Pekalongan..."

Langit di luar telah berubah menjadi ungu gelap, menandakan malam telah tiba di jalur Pantai Utara Jawa. Pekalongan menanti mereka dengan udara yang gerah dan lembap. Namun, suhu di tubuh Luna terasa membeku. Di sebelah timur kota ini, terbentang hutan legendaris Alas Roban, tempat di mana pohon-pohon jati menjadi saksi bisu dari ribuan nyawa yang melayang. Tempat di mana rahasia kematian orang tuanya terkubur, dan tempat di mana nyawa Nando dipertaruhkan.

Ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah sebuah deklarasi perang. Keduanya bersiap turun dari kereta, menyambut malam Pantura yang siap menelan mereka hidup-hidup.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Menarik, syng nya baru nemu, dan baru bacanya, penasaran sm judulnya. 😁😁

Semangat Thor. 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!