NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Gadis Bergaun Biru

Rangga Nata melangkah tenang meninggalkan batas Desa Bambu Kuning. Jalan setapak yang tadi masih jelas terlihat perlahan menyempit, lalu hilang ditelan rimbunnya hutan. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, batangnya kokoh dengan akar-akar yang mencuat di permukaan tanah, seolah menjadi penjaga sunyi bagi siapa pun yang melintas.

Sinar matahari menembus sela dedaunan, jatuh berpendar di atas tanah yang lembap. Udara terasa segar, bercampur aroma daun basah dan tanah hutan.

Langkah Rangga ringan dan mantap. Kakinya hampir tidak menimbulkan suara, meski ia berjalan di atas ranting dan dedaunan kering. Tubuhnya bergerak seolah menyatu dengan alam, mengikuti irama hutan tanpa mengganggu keseimbangannya.

Sesekali ia menghentikan langkah, menajamkan pendengaran. Namun selain suara burung dan desiran angin, tidak ada hal mencurigakan.

Perjalanan itu terasa tenang.

Namun justru ketenangan seperti itu sering menyimpan sesuatu di baliknya.

Tak lama kemudian, telinganya menangkap suara gemericik air.

Rangga menghentikan langkahnya.

Ia memiringkan kepala sedikit, memastikan arah suara.

“Di sana…” gumamnya pelan.

Tanpa ragu, ia mengubah arah langkahnya. Tidak lama, pepohonan mulai merenggang dan di hadapannya terbentang sebuah sungai kecil yang mengalir jernih di antara bebatuan.

Airnya bening, mengalir tenang dengan suara yang menenangkan. Ikan-ikan kecil terlihat berenang di antara bayangan batu.

Rangga menarik napas panjang.

Tempat itu terasa damai.

Ia meletakkan bungkusan kecilnya di bawah pohon besar yang tumbuh di tepi sungai, lalu berjalan mendekat. Tanpa banyak gerakan, ia menggulung sedikit lengan bajunya.

Matanya memperhatikan gerakan ikan di dalam air.

Dalam sekejap—

Tangannya menyambar.

Plak!

Seekor ikan terangkat.

Gerakannya cepat, tepat, tanpa membuang tenaga.

Ia mengulanginya beberapa kali, hingga mendapatkan tiga ekor ikan yang cukup besar.

Tak lama kemudian, Rangga mengumpulkan ranting kering. Ia menyalakan api kecil dengan gesekan sederhana. Api itu tidak besar, namun cukup untuk memanggang ikan.

Bau harum mulai menyebar.

Rangga duduk bersila di dekat api, membolak-balik ikan dengan tenang. Wajahnya tetap datar, namun matanya tampak sedikit lebih lembut menikmati ketenangan itu.

Setelah matang, ia makan perlahan.

Tidak tergesa, tidak pula berlebihan.

Selesai makan, Rangga membasuh tangan di sungai, lalu kembali ke bawah pohon. Ia menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang besar dan kokoh.

Angin berembus pelan.

Daun-daun bergesekan, menghasilkan suara yang menenangkan.

Kelopak mata Rangga mulai terasa berat.

Perjalanan panjang sejak meninggalkan padepokan, ditambah ketenangan tempat itu, membuat tubuhnya perlahan diliputi rasa kantuk.

“Sebentar saja…” gumamnya lirih.

Matanya hampir terpejam sepenuhnya.

Namun—

Tiba-tiba telinganya menangkap sesuatu.

Suara benturan.

Samar, namun jelas.

Rangga membuka mata seketika.

Seluruh kesadarannya kembali.

Ia menahan napas, memusatkan pendengaran.

Trang… wut… bruk!

Suara itu datang dari kejauhan.

“Pertarungan…” desisnya pelan.

Dalam sekejap, rasa kantuk lenyap tanpa sisa.

Rangga tidak langsung bergerak. Ia berdiri perlahan, memastikan arah suara itu berasal.

Lalu tubuhnya melesat ringan ke atas.

Swish!

Ia melompat ke dahan pohon yang tinggi tanpa menimbulkan suara. Dari sana, ia melompat lagi ke pohon lain, mendekati sumber suara dengan hati-hati.

Gerakannya cepat namun ringan, seolah ia hanyalah bayangan yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tak lama kemudian, ia berhenti di sebuah pohon besar yang cukup tinggi.

Dari sana, pandangannya menembus sela-sela pepohonan.

Dan ia melihatnya.

Seorang gadis bergaun biru.

Gadis itu berdiri di tengah sebuah tanah lapang kecil. Gaunnya yang panjang berkibar mengikuti gerak tubuhnya. Rambut hitamnya terurai, sesekali berayun saat ia bergerak.

Di tangannya tergenggam sebilah pedang tipis yang memancarkan kilau dingin.

Ia sedang bertarung.

Melawan tiga orang laki-laki berpakaian hitam.

Ketiganya mengurung dari tiga arah. Gerakan mereka cepat, langkah mereka mantap, jelas bukan orang sembarangan.

Namun gadis itu tidak tampak panik.

Langkahnya ringan, tubuhnya berputar luwes menghindari setiap serangan.

“Hmm…” gumam Rangga dalam hati. “Lincah juga. Tiga lawan satu, tapi tidak kewalahan.”

Salah satu pria menyerang dari arah kiri dengan sabetan rendah.

Gadis itu melompat ringan, tubuhnya berputar di udara.

Pedangnya berkilat.

Trang!

Senjata lawan terpental.

Belum sempat lawan itu mengatur napas, gadis itu meluncur ke depan.

Kakinya menyapu.

Duk!

Laki-laki itu terhuyung, lalu jatuh berguling di tanah.

Dua lainnya tidak memberi kesempatan.

Mereka menyerang bersamaan dari dua sisi.

Namun gadis itu bergerak lebih cepat.

Ia mundur setengah langkah, lalu memutar tubuhnya.

Pedangnya melesat lurus.

Wut!

Salah satu lawan menjerit tertahan, lengannya terluka.

Rangga memperhatikan dengan seksama.

“Gerakannya halus… tidak banyak tenaga terbuang,” gumamnya dalam hati. “Tapi…”

Matanya menyipit.

“Tenaga dalamnya belum terlalu dalam.”

Di bawah sana, pertarungan semakin sengit.

Gadis itu berhasil menjatuhkan satu lawan lagi. Kini dua orang telah terkapar, meski masih berusaha bangkit.

Tinggal satu orang yang masih berdiri tegap di hadapannya.

Namun perhatian Rangga tiba-tiba teralih.

Tidak jauh dari arena pertarungan, berdiri seorang laki-laki bertubuh besar.

Kepalanya botak, tubuhnya kekar seperti batu.

Matanya tajam memandang ke arah pertarungan dengan penuh kemarahan.

Ia tidak bergerak. Namun auranya… berat.

“Bodoh!” sergahnya keras. “Tiga orang saja tidak mampu menjatuhkan seorang gadis?!”

Suaranya menggelegar, membuat daun-daun di sekitar bergetar.

Dua orang yang jatuh segera berusaha bangkit.

Gadis bergaun biru itu tetap berdiri tegak. Napasnya sedikit lebih berat, namun sorot matanya masih tajam.

Ia mengangkat pedangnya perlahan.

“Aku tidak punya urusan dengan kalian,” katanya dingin. “Pergilah sebelum kalian menyesal.”

Laki-laki botak itu tertawa kasar.

“Berani juga kau bicara seperti itu!” sergahnya. “Kau pikir bisa lolos dari kami begitu saja?!”

Ia melangkah maju.

Setiap langkahnya membuat tanah sedikit bergetar.

Rangga yang berada di atas pohon kini menajamkan perhatian.

“Orang ini…” gumamnya dalam hati. “Tenaganya jauh lebih besar.”

Gadis itu tidak mundur.

Ia justru memasang kuda-kuda.

Pedangnya sedikit terangkat, siap menyambut serangan.

Laki-laki botak itu menyeringai.

“Biarkan aku sendiri yang menghadapimu,” katanya dingin.

Ia memberi isyarat pada anak buahnya.

Dua orang yang terluka segera mundur, meski dengan langkah tertatih.

Kini hanya tersisa dua orang di arena.

Angin berhenti berembus.

Suasana mendadak sunyi.

Rangga memandang tanpa berkedip.

Ia tidak turun. Ia tidak ikut campur.

Namun seluruh perhatiannya kini tertuju pada pertarungan yang akan terjadi.

Karena ia tahu—

Pertarungan yang sebenarnya…

Baru saja akan dimulai.

Bersambung… ⚔️🔥

1
Dewa Naga 🐲🐉
mahu menumpaskan kejahatan tapi kejahatan dibiarkan pergi ..huhu ..
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!