NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Perpisahan di Bambu Kuning

Pagi itu udara di lembah Bambu Kuning terasa sejuk dan jernih. Kabut tipis masih menggantung di antara rumpun bambu, sementara sinar matahari yang baru muncul menyelinap di sela-sela daun, memantulkan cahaya keemasan yang menenangkan.

Sudah tiga hari Rangga Nata berada di padepokan itu.

Selama tiga hari itu pula suasana perguruan terasa berbeda. Para murid berlatih dengan semangat, namun di sela-sela latihan, tak jarang pandangan mereka diam-diam tertuju pada pemuda berbalut sederhana yang lebih sering duduk tenang di sudut halaman.

Terutama para murid wanita.

Mereka tidak berani mendekat terlalu jauh, tetapi kehadiran Rangga seolah membawa warna tersendiri.

Namun pagi itu, Rangga sudah berdiri di pelataran utama dengan ikatan sederhana di bahunya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan tekad.

Ki Ranca berdiri di depannya.

“Jadi kau tetap ingin melanjutkan perjalananmu?” tanya Ki Ranca perlahan.

Rangga menangkupkan tangan memberi hormat. “Benar, Ki. Terlalu lama aku berhenti, maka langkahku akan kehilangan arah.”

Ki Ranca mengangguk pelan. “Dunia di luar sana tidak sedang baik-baik saja.”

“Aku tahu,” sahut Rangga singkat.

“Dan tujuanmu… masih sama?” tanya Ki Ranca lagi, suaranya sedikit lebih dalam.

Rangga terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Masih, Ki.”

Ki Ranca tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menghela napas panjang.

“Kalau begitu, berhati-hatilah. Tidak semua lawan datang dengan wajah yang jelas.”

“Aku akan mengingatnya,” ujar Rangga.

Beberapa murid wanita tampak berdiri tidak jauh dari situ. Rindu menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca.

“Kakang… kau benar-benar akan pergi?” tanya Rindu lirih.

Rangga tersenyum tipis. “Setiap pertemuan memang harus berakhir, bukan?”

“Kalau begitu… kapan kau kembali?” sambung Kemboja, berusaha terdengar tenang meski suaranya sedikit bergetar.

Rangga menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Jalan seorang pengembara tidak pernah pasti.”

Rindu menunduk, tidak mampu berkata lagi.

Ki Ranca menoleh pada kedua putranya. “Sanca, Sona. Antarkan dia sampai batas desa.”

“Baik, Ayah,” jawab Sanca mantap.

Sona hanya mengangguk singkat.

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan tanah yang membelah hutan bambu. Angin pagi berembus pelan, menggerakkan daun-daun bambu hingga menimbulkan suara berdesir panjang.

Beberapa saat tak ada yang berbicara.

Hingga akhirnya Sona membuka suara.

“Kau ini aneh,” katanya ringan. “Banyak orang ingin tinggal di tempat aman, tapi kau malah memilih pergi.”

Rangga tersenyum tipis. “Setiap orang punya jalan masing-masing.”

“Hm,” Sona mendengus pelan. “Jawaban yang tidak jelas.”

Sanca melirik adiknya, lalu menoleh pada Rangga. “Tapi aku mengerti maksudmu,” ujarnya. “Ada hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.”

Rangga tidak menjawab.

Langkah mereka akhirnya berhenti di batas desa. Di depan sana, jalan mulai terbuka menuju hutan yang lebih lebat.

Sanca menatap Rangga sejenak, lalu berkata, “Sebelum kau pergi, bolehkah aku meminta satu hal?”

Rangga mengangkat alis sedikit. “Apa itu?”

“Perlihatkan pedangmu,” jawab Sanca mantap. “Pedang pusaka Naga Emas Seribu Langit.”

Sona menyeringai. “Ya, sejak tadi aku penasaran. Senjata yang mampu menyimpan tenaga seperti milikmu… pasti bukan sembarang pusaka.”

Rangga terdiam sejenak. Tangannya perlahan menyentuh pembalut kain yang membungkus pedang di punggungnya.

“Baiklah,” ujarnya pelan. “Sebagai salam perpisahan.”

Ia menurunkan pedang itu dengan hati-hati, lalu mulai membuka lilitan kainnya satu per satu.

Angin tiba-tiba berhenti.

Suasana mendadak sunyi.

Saat lapisan terakhir kain terlepas—

Cahaya keemasan samar memancar dari bilah pedang itu.

Pamor naga tampak hidup, berkelok halus di sepanjang bilah, seolah bergerak mengikuti aliran tenaga yang tak terlihat.

Sanca menarik napas dalam.

“Ini…” ujarnya pelan. “Pamor seperti ini… aku belum pernah melihatnya.”

Sona yang biasanya santai kini menatap tanpa berkedip. “Seolah-olah… pedang itu bernapas…”

Rangga mengangkat pedang itu sedikit. Cahaya keemasan berdenyut halus, memantul di wajah mereka.

“Pedang ini tidak hanya ditempa dengan besi,” ujar Rangga tenang. “Ada sesuatu di dalamnya… yang belum sepenuhnya kupahami.”

Sanca mengangguk perlahan. “Pusaka seperti ini… hanya akan memilih pemiliknya.”

“Dan tampaknya ia sudah memilihmu,” sambung Sona pelan, kali ini tanpa nada bercanda.

Rangga kembali membungkus pedangnya dengan tenang.

Sanca melangkah maju satu langkah. “Jika suatu saat kau kembali ke daerah ini,” katanya tegas, “jangan ragu untuk singgah. Padepokan Bambu Kuning selalu terbuka untukmu.”

“Benar,” imbuh Sona. “Dan lain kali… kita harus bertarung lagi. Tanpa ditahan.”

Rangga tersenyum tipis. “Aku akan mengingatnya.”

Ia menangkupkan tangan memberi hormat. “Terima kasih atas semuanya.”

Sanca dan Sona membalas hormat itu.

Tanpa berkata lagi, Rangga berbalik dan melangkah pergi. Sosoknya perlahan menjauh, menyusuri jalan tanah yang membelah hutan.

Angin kembali berembus.

Daun-daun bambu bergesekan, mengiringi langkahnya.

Sanca memandang ke arah kepergian itu cukup lama. “Orang seperti dia… tidak akan lama menjadi orang biasa,” ujarnya pelan.

Sona menyeringai tipis, namun sorot matanya serius. “Ya… dunia persilatan akan segera mengenalnya.”

Mereka berdua tetap berdiri di tempat, hingga sosok Rangga benar-benar menghilang di balik rimbunnya hutan.

Dan tanpa mereka sadari—

Langkah itu bukan sekadar perjalanan biasa.

Melainkan awal dari gelombang besar yang akan mengguncang dunia persilatan.

Bersambung… ⚔️🔥

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!