NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELEPASAN

Ana menatap jam tangan itu cukup lama, saat ia mendongak dan menemukan sepasang mata Adi yang biasanya tajam kini melunak dengan pendar kasih yang begitu nyata, pertahanannya runtuh, tanpa sepatah kata, Ana bangkit dari kursinya dan menghambur ke pelukan pria itu.

Adi menyambutnya seketika. Lengan kokohnya melingkar di pinggang Ana, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Aroma maskulin yang bercampur dengan sisa aroma kopi hitam yang pekat dari tubuh Adi menyerbu indra penciuman Ana, memberikan rasa aman yang memabukkan.

Tangan Adi bergerak pelan, menyelipkan anak rambut Ana ke belakang telinga, lalu jemarinya berhenti di pipi gadis itu. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Ana dengan gerakan yang membuat napas Ana tertahan. Atmosfer di ruang tengah yang sunyi itu tiba-tiba berubah; udara terasa lebih berat dan panas.

Perlahan, Adi menundukkan kepala. Ana memejamkan mata, merasakan deru napas Adi yang hangat di kulitnya sebelum akhirnya bibir mereka bertemu.

Ciuman itu awalnya lembut, sebuah ungkapan syukur dan kasih sayang yang terpendam selama berbulan-bulan di balik formalitas bimbingan. Namun, seiring dengan debar jantung yang kian berpacu, intensitasnya berubah. Ana mengalungkan lengannya ke leher Adi, jemarinya meremas rambut di tengkuk pria itu, menariknya lebih dekat.

Adi mengerang rendah, sebuah suara yang menggetarkan dada Ana. Ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan gairah yang selama ini mereka kunci rapat-rapat demi etika. Tangan Adi yang tadinya berada di pinggang, kini mulai bergerak naik, meremas sisi tubuh Ana, sementara tangan yang lain menekan tengkuk Ana agar pagutan mereka semakin tak bercelah.

Dunia di luar sana—skripsi, nilai A, teman-teman di kafe—seolah lenyap. Yang ada hanyalah rasa manis dari bibir satu sama lain dan panas yang menjalar ke seluruh aliran darah mereka. Adi mendorong Ana perlahan hingga punggung gadis itu menyentuh rak buku besar di belakang mereka. Bunyi buku-buku yang sedikit bergeser karena tekanan tubuh mereka menambah kesan intim yang mencekam.

Ana merasa lututnya lemas. Ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri, hanya ingin tenggelam lebih dalam dalam dekapan pria yang selama ini menjadi kutub utaranya. Ciuman itu berpindah ke rahang, lalu turun ke leher, membuat Ana mendongak dan mengeluarkan desahan halus yang tak sengaja.

Tangan Adi mulai bergerak lebih berani, namun tepat saat jemarinya menyentuh kancing paling atas kemeja Ana. Saat akhirnya semua kancing bagian atas terbuka, ia menyibakan kemeja Ana dan membiarkannya menggantung di lengan, pemandangan itu seolah menghentikan detak jantungnya sejenak. Dada Ana yang membusung di balik bra berenda nampak begitu menantang, naik turun mengikuti napasnya yang menderu.

"Mas..." desah Ana, suaranya parau, pecah oleh keinginan.

Adi tak menjawab dengan kata. Ia menurunkan cup bra itu dengan gerakan yang tidak lagi sabar. Begitu kedua puncak indah itu menyembul, Adi menggeram rendah. Ibu jarinya mengusap pucuk yang mengeras itu dengan tekanan yang pas, menciptakan sengatan listrik yang langsung menghujam ke bagian inti bawah Ana. Cairan bening mulai membasahi area sensitif itu, sebuah reaksi jujur dari tubuh Ana yang sudah menyerah total.

Tanpa peringatan, Adi menunduk.

Mulutnya mengangkup ujung dada Ana, menghisapnya dengan rakus dengan tekanan yang pas dan menggoda. Lidahnya menari-nari di sana, menyesap setiap inci sensitivitas yang membuat Ana menggelinjang hebat. Tangan Ana menjambak rambut Adi, mencari pegangan di tengah badai kenikmatan yang melenyapkan kesadarannya sejenak.

Adi menggiring tangannya ke bawah, merayap di balik rok Ana yang masih terpasang. Adi meraba kain tipis penghalang bagian inti Ana, menyampingkan kain tipis itu dengan ujung jarinya. Jari Adi mulai menelusuri lipatan sensitif itu, mencari titik kecil yang menjadi pusat segala saraf kenikmatan Ana. Begitu kulit bertemu kulit, panas yang menjalar membuat Ana memejamkan mata rapat-rapat.

"Mas... ahh..." desah Ana tertahan, kedua tangannya mencengkeram bahu kokoh Adi.

Adi bermain dengan ritme yang sangat menyiksa; kadang perlahan dan lembut seolah sedang menggoda, lalu tiba-tiba memberikan tekanan yang dalam dan menuntut. Ibu jarinya memutar di pucuk sensitif Ana, sementara jari tengahnya mulai melakukan penetrasi dangkal, merasakan betapa basah dan siapnya Ana di bawah sana.

Ana membusungkan pinggulnya, memohon lebih.

Jari-jari Adi bergerak semakin lincah, keluar masuk dengan ritme yang dipercepat. Suara gesekan basah yang tercipta di antara paha mereka menjadi musik pengiring yang erotis. Ana mulai kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri; pinggulnya bergerak liar, seolah-olah mengejar jari-jari Adi yang terus memberikan stimulasi tanpa ampun.

"Ma-mas.... akhhh, di situ... iya..." Ana meracau, suaranya pecah menjadi desahan-desahan pendek yang tak beraturan.

Adi tahu ia hampir sampai. Ia menambah tekanan pada titik paling sensitif Ana sambil mempercepat gerakan jarinya. Sentuhan itu terasa sangat presisi, sangat dalam, hingga membuat seluruh tubuh Ana bergetar hebat.

Pandangan Ana mengabur, dunianya seolah hanya berpusat pada titik di mana jari Adi sedang bekerja. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat hingga akhirnya—

"MAAASSSS!!"

Tubuh Ana mengejang hebat. Otot-otot di bagian bawahnya menjepit jari Adi dengan sangat kuat saat gelombang kenikmatan pertamanya menghantam.

Ana ambruk, napasnya tersengal-sengal dengan sisa-sisa getaran yang masih menjalar di sekujur tubuhnya. Matanya yang sayu menatap Adi yang masih nampak tenang namun dengan tatapan yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

"Itu baru permulaan, sayang," gumam Adi sambil mengecup kening Ana, sebelum ia mulai membuka sisa pakaiannya sendiri.

Adi melepaskan rok itu dengan sekali sentakan kasar, lalu membaringkan Ana di atas sprei yang terasa dingin di kulitnya yang membara.

Adi merangkak di atasnya, memposisikan miliknya tepat di gerbang kehangatan Ana. Ia menekan ujungnya perlahan, membiarkan Ana merasakan betapa panas dan kerasnya miliknya itu.

"Boleh aku mulai, sayang?" bisik Adi, suaranya begitu seksi hingga membuat bulu kuduk Ana meremang.

Tanpa menunggu, Adi membuka lebar kaki Ana hingga lututnya terangkat tinggi.

Bless!

Penyatuan itu terjadi dengan mantap. Milik Adi yang besar membelah keintiman Ana yang licin.

"Mas... ini pertama kali buat aku..." bisik Ana dengan mata berkaca-kaca, merasakan tekanan yang luar biasa memenuhi dirinya.

Adi tertegun sejenak, namun gairah yang sudah di ubun-ubun membuatnya tak bisa mundur. "Aku bakal pelan-pelan, sayang... tapi aku nggak bisa berhenti."

Alih-alih melambat, Adi justru menancap lebih dalam. Ia mulai memacu ritme. Sret... maju... sret... mundur... Suara gesekan kulit dan cairan yang beradu memenuhi keheningan kamar. Adi bergerak seperti mesin yang kehilangan kendali, menghujam dengan kekuatan yang membuat ranjang berderit.

Ana mengikuti setiap hentakan itu. Pinggulnya bergerak liar, menyambut setiap tusukan dalam yang diberikan Adi. Rasa perih di awal telah berganti menjadi gelombang kenikmatan yang bergulung-gulung.

"Aaah mas... geli... akhhh!" Ana mulai kehilangan kontrol. Otot-otot di bagian bawahnya menjepit milik Adi dengan sangat kuat, menciptakan sensasi yang hampir membuat Adi gila.

Melihat Ana yang sudah di ambang puncak, Adi mempercepat gerakannya secara brutal. Ia menghujam tanpa ampun, mencari titik terdalam. Ana mendesah keras, punggungnya melengkung, dan matanya terpejam rapat saat seluruh tubuhnya mengejang hebat dalam pelepasan yang dahsyat.

"Aaaah mas......aaahahhhhh!!"

Cengkeraman otot Ana membuat Adi tak mampu lagi bertahan. Ia mengerang keras, sebuah suara yang lahir dari insting purba paling dasar.

"AAkhhhhh enghh.... Ana....!!"

Tepat sebelum benihnya menyembur, Adi mencabut miliknya. Dengan napas yang putus-putus, ia mengarahkan senjatanya ke atas perut Ana yang rata. Cairan putih hangat itu memancar deras, membanjiri kulit perut Ana, menjadi tanda kemenangan sekaligus penyerahan diri yang total.

Setelah nafas keduanya mulai kembali normal. Ana memecah keheningan.

"Mas..." panggil Ana lirih.

Adi menoleh, tatapannya yang biasanya tajam dan menghakimi kini melembut, penuh dengan sapaan sayang yang tak terucapkan. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Ana dengan ibu jarinya. "Ya?"

Ana tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan kecil yang nakal. "Ternyata dosen paling killer se-fakultas bisa se-berantakan ini juga ya di hadapan mahasiswi-nya?"

Adi terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada. Ia menarik napas panjang, lalu menarik tubuh Ana agar masuk ke dalam dekapannya. "Kamu yang buat saya berantakan, Ana. Kamu meruntuhkan semua tembok yang saya bangun selama bertahun-tahun."

Ana tertawa kecil, namun tawa itu segera hilang saat Adi kembali membalikkan tubuhnya. Tanpa kata-kata, Adi kembali menunjukkan dominasinya. Ciumannya kali ini lebih lambat, lebih dalam, dan penuh dengan rasa syukur.

Malam masih panjang. Adi ingin menghabiskan malam ini dengan kenangan yang tidak akan pernah bisa terlupakan oleh keduanya.

"Sekali lagi ya, sayang?" bisik Adi di ceruk leher Ana.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!