Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Chika ft Satrio di Kamar Hotel
Rido hanya mengangguk paham ketika dia mendengar penjelasan dari sang suster itu.
Embun juga merasa legah ketika dia mendengar perkataan dari suster bahwa bu wina kondisinya baik.
“Maaf nyonya, biarkan saya cek kondisi pasien dulu” tutur sang suster dengan sopan, kemudian dia memasangkan laat medisnya ketubuh bu wina.
Embun hanya mengangguk setuju ketika sang suster bergerak memeriksa keadaan bu wina. Sedangkan Rido hanya bisa menatap dari samping.
Sementara di tempat lain, disebuah markas gelap yang hanya di penuhi dengan lampu lampu remang remang, Efan Laiya menendang dengan keras beberapa anggotanya.
“Dasar kalian semua B’doh! Tidak berguna! Hanya mengurus cecunguk kecil seperti itu kalian gagal! Hah!” gertak Efan dengan amarahnya yang sangat memuncak.
“Maaf bos! Berikan saya kesempatan satu kali lagi, saya akan berjanji akan menyelesaikannya dengan aman dan terkendali” ucap sang anggota geng yang masih bersimpuh di bawah Kaki Efan Laiya.
Mendengar perkataan dari sang bawahan, Efan Laiya mengerutkan sedikit keningnya dengan memandang sang bawahan, lalu dia menjawab “Baik! Saya berikan kau satu kali kesempatan lagi, kalau tidak! Kau sendirilah yang menjadi penggantinya” sambil mengibaskan tangannya mengusir sang bawahan.
Sang bawahan Efan Laiya langsung bergegas pergi dari tempat itu, ketika dia mendapatkan kesempatan dari sang bosnya untuk pergi.
Efan Laiya menyipitkan kedua matanya, dia menatap keluar jendela dengan perasaan yang tidak bisa dimengerti, seketika dia mengeluarkan rokok cerutunya dan langsung menyesapnya dan menghembuskan asap rokok itu diatas langit.
Tiba tiba HPnya bergetar di dalam saku celananya “Sial”n, siapa yang berani menggangguku disaat seperti ini Hah!” maki Efan dengan keras sambil dia meraih ponselnya dari saku celananya.
“Hallo” jawabnya singkat, ketika dia sudah menekan fitur jawab di HPnya.
“bagaimana Bos? Apakah Misinya sudah berjalan dengan baik?” Tanya seseorang dari ujung ponselnya.
Seketika Efan Laiya tersadar dengan siapa dia sedang berbicara, kemudian dia langsung melihat kearah layar HPnya sekarang, dia terkejut ketika dia membaca nama yang sedang menelponnya saat ini.
“Ohh,, bang bro! masalah itu, ada sedikit kelalaian anggota saya dilapangan, sehingga dia bisa lolos kali ini, tapi Jangan Khawatir, cecunguk seperti itu tidak akan lepas dari genggaman geng serigala Hitam, Hahaha” sahut Efan Laiya dengan membuat tawa yang di buat buat.
“Baiklah bos! Saya harap andan jangan mengecewakan saya, kalau tidak nama serigala Hitam di Kota ini akan tercoreng” tegas suara itu dari ujung telepon.
“Oke siap Bang Brother! Saya pastikan itu akan aman dalam kendali” sahut Efan Laiya lagi, namun sorot matanya seakan ingin membunuh ketika dia mendengar sedikit ancaman dari perkataan di ujung teleponnya itu.
“Okelah saya tunggu kabar segar darimu” ucap singkat dari seberang teleponnya, sehingg sedetik kemudian sambungan telepon itu terputus.
Efan Laiya menggenggam HPnya dengan sangat geram, dia mengeraskan rahangnya dengan sangat keras “Sial’n! baru kali ini Geng Serigala Hitam mendapatkan penghinaan yang tiada tara, sepertinya awak harus turun tangan sendiri mengurus cecunguk itu”.
Efan Laiya meremas Rokok Cerutunya dengan tangannya sendiri, kali ini dia benar benar dibuat marah oleh seorang cecunguk yang lumpuh total.
“Ayoo kita pergi kegunung sinabung!” perintah Efan Laiya kepada beberapa anak buahnya, dan langsung diangguki oleh anak buahnya, sehingga mereka langsung OTW saat itu juga.
Sementara di dalam sebuah kamar Hotel, sepasang insan sedang bermesraan dengan sangat bahagia, mereka bagaikan sedang melepaskan dahaga yang selama ini sepertinya sudah terpendam, bagaikan endapan lumpur siduarjo yang kedalamannya mencapai beberapa meter.
“Kenapa sayang? Kenapa sepertinya kamu sangat marah?” Tanya wanita cantik itu dengan gerakan tangannya yang tidak tenang.
“Heemm,, ada sedikit rencana yang tidak sesuai dengan rencana awal” ketus prianya dengan meraih gelasnya yang berisi air putih.
“Sabar dulu sayang, kau harus tenangkan dirimu, jangan sampai terpancing dengan suasana yang masih belum tentu” ujar sang gadis itu dengan sangat lembut, sambil dia meliuk liukan badannya didepan sang prianya.
Wanita itu adalah Chika Siregar dan Prianya adalah Satrio, mereka adalah pasangan yang sedang memiliki tujuan masing masing tanpa diberitahukan antara satu dengan yang lan.
Satrio menatap Chika yang sedang menatapnya dengan perasaan syahdu, satrio tersenyum dengan sangat bahagia sambil mengelus pipi chika siregar yang terlihat tirus.
“Bagaimana kalau lupakan masalah dunia luar, kita tuntaskan masalah Ranj’ng sekarang ini?” seru Satrio yang langsung di iakan oleh Chika Siregar, dan langsung mereka berjalan menuju puncak gunung tertinggi di dunia.
Satu Jam kemudian, langit langit sudah tertutup dengan langit gelap, lampu jalanan sudah terang menerangi jalanan di kota itu, yang membuat suasana menjadi semakin romantic bagi para penggemar cinta.
“Ternyata kau memang hebat sayang! Kau lebih berani dari Rido Prasetio yang lumpuh itu” ujar Chika dengan masih berada didalam pelukan Satrio.
“Iya sayang, jelas berbedalah, aku kan masih strong, sementara dia penghuni kursi roda” jawab satrio dengan masih ngos-ngosan, dia masih mengatur napasnya yang sudah terlihat sangat berantakan entah kemana.
“benar sekali sayang,,, Hahahaa” sambut Chika Siregar dengan tawanya yang terbahak bahak. Menit berikutnya Satrio langsung terbang menerjang Chika Siregar dan mereka menuju perjalanan malam bahagia.
Sementara di Mansion Prasetio, Rido bersama Embun sedang berada di dalam kamar, setelah mereka pulang dari rumah sakit untuk menjenguk bu wina. Bu Wina menyuruh mereka berdua untuk pulang saja kerumah, karena bu wina merasa sudah jauh lebih baik sekarang, bu wina sadar ketika embun sedang memegang tangannya dengan erat, dia duduk disebelah bu wina dengan deraian air mata, dan dia terus mengelus tangan ibu angkatnya itu.
“Terimakasih Tuan Muda” ucap embun tiba tiba memecahkan kesunyian kamar.
Rido mengalihkan pandangannya dari hadapan Laptop miliknya, dia menatap embun dengan seksama kemudian dia berkata “Terimakasih untuk apa?”.
“Untuk hari ini, karena tuan muda sudah memberikan saya ijin untuk menemui bi wina, dan sekaligus telah menemani saya menjenguk bi wina” jawab embun dengan menunduk sopan.
Rido mengerutkan keningnya, melihat sikap embun yang terlihat sangat penakut ataukah pemalu, sehingga dia berucap “bisakah kamu menatap saya”.
Embun langsung melakukan apa yang diminta oleh Rido padanya, kemudian Rido kembali berkata padanya “kita sekarang adalah suami istri yang sudah sah, jadi sudah kewajiban saya, kalau saya menemani kamu pergi kemanapun, kalau sempat orang lain mengetahui kalau saya tidak bersamamu setiap waktu, kan orang orang itu bisa curiga kan!”.
“Iya iya benar Tuan Muda, kita harus menjaga kerahasiaan ini, karena kita harus menjalankan tugas kita masing masing sesuai dengan isi kontrak pernikahan” sahut embun dengan santainya, sambil dia mengangguk anggukan kepalanya dengan mata menatap keatas langit langit kamar, disertai dengan bibirnya yang dimanyunkan.
Rido hanya bisa memicingkan bibirnya ketika dia mendengar jawaban dari sang gadis, Rido sedikit tidak tenang ketika dia mendengar embun mengungkit tentang kontrak pernikahannya.