NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~21 Sinar bahagia dan bayang luka

Cahaya matahari pagi masuk lewat celah jendela-jendela tinggi istana Candra, menerangi lorong-lorong yang dihiasi lukisan sejarah dan ukiran naga khas kerajaan itu. Udara pagi terasa segar, membawa wangi bunga melati dan cempaka yang tumbuh subur di taman dalam.

Setelah selesai bersiap dan berpakaian, Layla berjalan santai menyusuri koridor panjang istana. Hatinya penuh kebahagiaan. Semalam menjadi malam yang penuh kenangan, mulai dari makan malam akrab hingga gangguan manis dari Citra, keponakannya. Di sepanjang jalan, siapa saja yang berpapasan dengannya—baik pelayan, pengawal, maupun kerabat jauh—akan menyapanya dengan senyum lebar dan ucapan selamat.

Berita tentang perubahan sikap Raja Gustaf dan niat damai itu ternyata sudah menyebar ke seluruh penjuru istana. Semua orang kini memandang aliansi pernikahan ini bukan lagi sebagai paksaan atau takdir buruk, melainkan sebagai berkah yang mengakhiri derita dua belas tahun peperangan.

"Selamat pagi, Ratu Layla! Baginda Raja Gustaf sungguh pemimpin yang bijaksana," sapa seorang bibi jauh sambil tersenyum hormat. "Siapa sangka, raja yang dulu ditakuti, kini datang membawa permintaan maaf dan kekayaan untuk negeri kita. Kau memang pembawa berkah, Nak."

Layla hanya tersenyum ramah dan mengangguk. "Semoga kedamaian ini abadi, Bibi. Itu saja yang kita harapkan."

Ia berjalan terus menuju ke sayap timur istana, tempat kediaman anggota keluarga yang lebih tenang dan sepi. Di sanalah letak kamar-kamar pribadi kakak-beradiknya. Langkah kakinya melambat saat mendekati sebuah paviliun kecil yang dikelilingi taman bunga teratai. Tempat ini dulu sering ia kunjungi bersama kakak-kakaknya.

Namun, saat ia mengintip sedikit lewat pintu yang terbuka setengah, langkahnya terhenti.

Di bawah naungan pohon kamboja yang rindang, duduklah seorang wanita berpakaian kebaya sederhana berwarna kelabu pudar. Rambutnya disanggul rapi namun tanpa hiasan sama sekali. Wajahnya cantik, namun ada garis-garis kepedihan yang terukur jelas di sana, matanya tampak kosong dan dingin menatap kolam di depannya. Itu adalah Laras, kakak ipar tertua Layla—istri dari kakak laki-laki Layla yang sulung, Pangeran Laksamana.

Laras adalah wanita yang dulu paling ceria dan paling dicintai seisi istana. Namun semua berubah saat, di pertempuran terakhir di perbatasan selatan. Saat itu, pasukan Candra terpojok, dan dalam pertarungan habis-habisan, Raja Gustaf sendiri yang memimpin serangan. Di tengah medan perang, Gustaf berduel langsung dengan Pangeran Laksamana. Akhirnya, pedang Gustaf menang, dan Laksamana tewas seketika. Kabar yang sampai ke telinga Laras sangat mengerikan: suaminya tidak hanya tewas, tapi kepalanya dipenggal dan diarak sebagai tanda kemenangan Jaya Wijaya.

Sejak hari itu, tawa Laras hilang. Ia menjadi wanita yang dingin, pendiam, dan hidupnya seolah hanya menunggu waktu berlalu.

Layla menarik napas panjang, lalu memberanikan diri melangkah masuk ke halaman itu.

"Kak Laras..." panggil Layla lembut.

Wanita itu menoleh perlahan. Saat melihat Layla, tidak ada senyum yang mengembang di bibirnya. Hanya tatapan datar yang perlahan berubah menjadi tajam saat matanya menangkap selendang berwarna keemasan yang dipakai Layla—hadiah dari Gustaf.

"Jadi kau sudah datang," ucap Laras. Suaranya rendah, berat, dan tanpa nada hangat sedikitpun. Ia kembali membuang muka, menatap air kolam. "Dan sepertinya... kau sudah sangat nyaman, sangat bahagia. Sampai-sampai lupa dari mana asalmu, dan siapa yang kau bawa pulang ke sini."

Layla mendekat, lalu duduk di bangku kayu di sebelah kakak iparnya itu. Ia tahu betul luka apa yang ada di hati Laras. "Kak, aku tidak pernah lupa. Tidak pernah sedetik pun aku lupa pada Kakang Laksamana, atau pada rasa sakit yang Kakak rasakan."

"Benarkah?" Laras berbalik cepat, matanya yang dulu teduh kini berapi-api menahan amarah yang terpendam lama. "Kalau kau tidak lupa, kenapa kau membiarkan pria itu masuk ke gerbang istana kita dengan kepala tegak? Kenapa kau membiarkan dia duduk di meja makan ayah dan ibu, makan makanan dari tanah ini, tidur di bawah atap ini... padahal tangan itu, tangan yang kau gandeng tadi, tangan yang kau sebut suami... tangan itulah yang memenggal kepala suamiku!"

Suara Laras meninggi di kalimat terakhir, penuh kepedihan. Ia menunjuk ke arah istana utama, tempat Gustaf sedang berdiskusi dengan Raja Batara dan para penasihat.

"Semua orang di sini sudah gila, Layla!" lanjut Laras dengan nada gemetar, campuran marah dan sedih. "Ayahanda yang hari itu berteriak akan menumpas habis Jaya Wijaya, sekarang tersenyum menepuk bahu pembunuh anaknya. Ibunda yang dulu menangis setiap malam mengingat Laksamana, sekarang sibuk memuji kebaikan Raja Gustaf. Para paman, para prajurit, rakyat... semuanya lupa! Mereka semua terbuai oleh janji damai, oleh emas, oleh kata-kata manis! Mereka lupa darah yang tumpah! Mereka lupa mayat yang tergeletak di ladang perang!"

Laras menggenggam pinggiran bangku kayu itu kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Air mata yang sudah lama ia tahan akhirnya jatuh juga.

"Tapi aku tidak akan lupa. Aku tidak bisa. Bagaimana aku bisa tersenyum pada orang yang membuatku menjadi janda muda di usia 20 tahun? Bagaimana aku bisa menerima orang yang membuat suamiku mati!!!"

Layla menunduk dalam, air matanya ikut menetes mendengar kata-kata itu. Ia mengulurkan tangan ingin menyentuh lengan Laras, tapi wanita itu menepisnya kasar dan bangkit berdiri.

"Dengar, Layla," ucap Laras dingin, menyeka air matanya dengan kasar. "Aku tidak akan menghalangimu. Aku tidak akan menentang keputusan Ayahanda atau perjanjian kerajaan. Aku tahu damai ini penting bagi Candra. Aku tahu rakyat butuh ini. Dan aku tahu... kau sendiri juga menjadi taruhannya."

Ia menatap tajam ke arah Layla, matanya berkilat penuh kebencian yang tak bisa diredam.

"Tapi ingat satu hal. Bagi mereka, dia adalah Raja Bijaksana, Penjaga Damai, Suami yang Baik. Tapi bagiku... Raja Gustaf tetaplah pembunuh. Musuh seumur hidupku. Selama darahku masih mengalir, aku tidak akan pernah menerima dia. Dan jika dia sampai berpikir bahwa datang ke sini berarti semua dosanya sudah dihapus... dia salah besar. Luka ini tidak akan sembuh hanya dengan permintaan maaf atau tumpukan emas."

"Kak Laras, dia sudah berubah... dia sadar akan kesalahannya..." Layla berusaha menjelaskan lemah, meski ia sendiri tahu kata-katanya terasa kecil di depan luka sedalam ini.

"Berubah?" Laras tertawa getir, suara itu terdengar menyedihkan dan mengerikan sekaligus. "Perubahan apa yang bisa mengembalikan suamiku? Perubahan apa yang bisa menempelkan kembali kepala Laksamana ke tubuhnya? Jangan memintaku memaafkan, Layla. Karena yang hilang dariku bukan hanya barang atau harta, tapi seluruh masa depanku."

Laras membalikkan badan, bersiap masuk kembali ke dalam kamarnya, tapi ia sempat berhenti sejenak dan berbisik dingin.

"Kau boleh bahagia dengan suamimu itu, Layla. Kau boleh membangun masa depan baru. Tapi ingat... di istana ini, tidak semua orang menyambutnya dengan hati terbuka. Aku ada di sini, mengawasi setiap langkahnya. Dan kalau dia sampai membuatmu menangis, atau berani menyakiti siapapun lagi di keluarga ini... aku akan pastikan dia menyesal pernah menginjakkan kaki di tanah Candra."

Pintu kayu ditutup dengan pelan namun terdengar berat, seolah menutup pintu hati Laras untuk selamanya.

Layla berdiri sendiri di taman itu, perasaannya campur aduk. Di satu sisi ia bahagia karena damai tercapai dan keluarganya menerima Gustaf. Tapi di sisi lain, ia sadar benar: perdamaian antar kerajaan mungkin sudah terjadi, tapi perdamaian antar hati manusia belum selesai. Luka akibat perang itu masih ada, hidup dalam diamnya Laras.

Dan ia sadar, kehadiran Gustaf di sini, meski penuh kehormatan, juga berarti ia terus-menerus mengingatkan Laras pada kehilangan terbesarnya.

Sementara itu, dari kejauhan di balik semak-semak taman, Pangeran Serasa yang sedang berjalan mencari Layla, mendengar sebagian percakapan itu. Wajahnya yang semula sedih dan cemburu, kini berubah serius. Ia mengerti sekarang. Ada musuh lain di sini, musuh yang jauh lebih berbahaya karena didorong oleh dendam pribadi yang murni, bukan ambisi kekuasaan seperti Ratu Yasmin.

"Kakakku," batin Serasa dalam hati. "Kau pikir kau sudah memenangkan hati Candra? Kau salah. Masih ada satu hati yang takkan pernah bisa kau miliki. Dan wanita yang terluka itu... bisa menjadi pisau tajam yang menghancurkan segalanya."

Layla menghela napas panjang, menyeka sisa air matanya, lalu berbalik arah kembali ke halaman utama. Ia harus kuat. Ia harus menjadi jembatan bukan hanya antar kerajaan, tapi juga antar hati kakak iparnya dan suaminya. Meski ia tahu, jalan itu akan sangat panjang dan berdarah-darah.

 

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!