ADULT STORY!
Allferd Xander Maverick, seorang direktur perusahaan IT sekaligus chef ternama, siapa sangka jika sebenarnya Allferd adalah sosok yang berbahaya. Allferd adalah seorang psikopat.
Kemudian jiwa obsesi muncul dari psikopat tampan itu ketika melihat sosok aktris yang mirip dengan mendiang kekasihnya 8 tahun lalu.
"Presetan dengan cinta! Aku hanya ingin memilikimu saja. Apakah itu harus mengatas namakan cinta?"
"Keparat. Kau memang tak punya hati,"
Bagaimanapun caranya, Allferd harus membuat Stella menjadi miliknya karena Allferd tidak akan membiarkan dirinya sendiri untuk merasakan kahilangan lagi.
Apapun yang sudah berada di genggaman Allferd, tak akan semudah itu untuk Allferd lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Psychopath Obsession - 21
"Kalian. Kau dan Allferd, tenyata tak ada bedanya."
"Apa maksudmu Stella?" Caryn tidak mengerti dengan apa yang Stella katakan barusan.
Stella meneguk salivanya dalam, bau anyir darah masih tercium jelas dari tubuh Samuel.
"Kalian berdua sama. Seorang pembunuh. Bukankah aku benar Sam?"
Menyadari ekspresi Stella sangat serius, Samuel berusaha tetap bersikap tenang sedangkan Caryn melempar tatapan bingung kepada Stella.
"Allferd seorang pembunuh?! Astaga, aku bahkan tidak tahu apa saja yang kakak-kakakku lakukan selama kami bertiga berpisah," ucap Caryn tak percaya, bila suatu saat mereka bertemu Caryn harus mengintrogasi Allferd dan Caryn baru sadar jika sudah bertahun-tahun dirinya dan Allferd tak pernah bertatap muka.
Caryn tidak marah sama sekali saat mengetahui jika Allferd menjadi seorang pembunuh. Rasanya ia semakin merindukan sang kakak, ingin memeluk dan bertanya apakah keadaannya baik-baik saja selama ini?
Lupakan fakta jika Allferd selalu berbicara ketus, lupakan fakta jika Allferd selalu memerintah, lupakan fakta jika Allferd selalu mengejek, lupakan fakta jika Allferd selalu misterius dan terakhir lupakan fakta jika Allferd adalah seorang pembunuh. Karena Caryn merindukan sosok kakak, merindukan dua malaikat berwajah monster yang selalu melindunginya sejak kecil.
Tanpa sadar Caryn sudah terisak kecil, menahan tangisannya sebisa mungkin. Stella membelakakan matanya melihat Caryn menangis, segera Stella memeluk Caryn seakan Caryn adalah adiknya yang harus ia lindungi.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menangis," ucap Stella tak enak hati.
Caryn menggelengkan kepala lalu menghapus air matanya. "Tidak apa, aku tidak marah mengetahui jika Allferd seorang pembunuh. Aku hanya merindukan kakakku,"
Sedangkan Samuel menatap Stella datar, "dari mana kau tahu jika aku seorang pembunuh?"
Stella melepaskan pelukannya, membalas tatapan Samuel tak kalah datarnya. "Bau anyir darah mulai tercium ketika kau datang kemari. Awalnya aku hanya menebak ternyata tebakanku memang benar, tenang saja aku hanya penasaran," jelas Stella tanpa beban.
Caryn mengendus setelah mendengar penjelasan Stella, wanita itu ternyata benar. Kenapa Caryn tak menyadarinya?
"Stella benar, kenapa aku tak sadar? Pergilah ganti baju lalu kembali lagi kemari sebelum yang lain mencium bau anyir darah selain aku dan Stella,"
Samuel memutar bola matanya malas, "baiklah aku pergi," pamitnya dengan malas kemudian pergi meninggalkan lokasi syuting Stella.
***
Stella tetap bekerja seperti biasa, dan hari ini terhitung hari ketiga ia menginjakkan kakinya di negeri Matador yang indah. Stella tetap bekerja keras seperti biasa, baik pemain maupun anggota crew sama-sama bekerja keras.
Sekarang Stella dengan melakukan beberapa adegan di jam dua pagi, apa lagi kini sedang musim gugur dan Stella hanya menggunakan celana pendek serta atasan tak berlengan—pakaian ini lebih cocok untuk di gunakan saat musim panas. Stella merasa tubuhnya akan beku saat itu juga.
"ACTION!" Teriakan sang crew menandakan jika mereka akan mengambil adegan ulang karena adegan sebelumnya yang mereka ambil belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Mendengar teriakan crew, Stella mulai memandang Axel yang berperan sebagai suaminya dengan tatapan penuh kelegaan karena Axel berhasil melalui semua rintangan untuk melepaskan Stella yang menjadi sandra musuh Axel. Melihat Axel mulai melangkahkan kakinya mendekati Stella, wanita itu segera berlari kecil dan menubruk di pelukan Axel.
Adegan semakin mengharukan, pemain begitu berakting dengan sungguh-sungguh, tinggal beberapa dialog lagi maka adegan ini akan berakhir. Tepat saat hidung Stella dan Axel bersentuhan, bersiap untuk adegan ciuman sebagai mengakhiri syuting pagi ini sayangnya sebuah teriakan berhasil menghancurkan adegan terakhir mereka pagi ini. Bukan anggota crew yang berteriak, melainkan seseorang yang baru saja datang.
"SIALAN KAU!"
Mendengar suara bariton yang sangat ia kenali, sontak Stella mundur satu langkah menjaga jarak dengan Alex. Stella menepuk dahinya, keributan apa selanjutnya yang hendak Allferd lakukan? Sungguh Stella jadi tak enak hati kepada seluruh anggota crew dan pemain karena telah bekerja keras dan Allferd menghancurkan satu adegan hanya dengan satu detik begitu mudah.
"CUT!"
"Maaf, aku segera kembali," Stella menunduk sopan kepada Alex lalu berlari kecil menghampiri Allferd.
"Tuan Maverick? Ada apa kau tiba-tiba datang kemari?" Tanya sang sutradara terkejut melihat kehadiran Allferd secara tiba-tiba.
"Aku tidak ingin dia menciummu," mengabaikan pertanyaan sang sutradara, itulah kalimat pertama yang Allferd ucapkan ketika Stella sudah berdiri di hadapannya.
Stella mengusap rambut Allferd selayaknya bocah kecil yang sedang marah akibat tak di belikan mainan. "Oh gosh! Kau menghancurkan adegan terakhir pagi ini. Biarkan aku melakukan adegan terakhir pagi ini, apa kau tak kasihan melihatku berpakaian seperti ini di saat musim gugur jam dua pagi?" Stella memberikan tatapan memelas kepada Allferd.
"Tapi, bisakah adegan itu di ganti?" Pinta Allferd manja, Stella tersenyum manis.
"Tentu saja tidak bisa, biarkan aku sebentar ya? Setelah ini kita akan menghabiskan waktu bersama karena aku memiliki waktu luang selepas ini hingga malam nanti, aku sudah menggigil sejak tadi." bujuk Stella lagi menggunakan nada selembut mungkin, ia harus menjadi air di kala Allferd menjadi api.
"Jangan lama-lama," ucap Allferd sambil memperhatikan pakaian yang Stella gunakan di kala musim gugur dengan angin sedingin ini dengan tatapan tak tega.
Stella semakin mengembangkan senyuman saat Allferd mengatakan itu, merasa senang karena Stella berhasil mendapatkan izin dari Allferd setelah sekian lama mereka bertengkar hebat hanya karena mempersalahkan adegan ciuman Stella saat syuting.
"Aku akan kembali," bisik Stella lalu berlari menghampiri Axel yang sedang menunggunya sejak tadi.
Dengan berat hati Allferd merelakan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika wanitanya tengah berciuman dengan pria lain walaupun hanya sebatas tuntutan pekerjaan mereka. Tapi tetap saja Allferd terbakar oleh api cemburu menyaksikan hal itu, jika saja Allferd tidak ingat dengan keadaan Stella yang sudah menggigil sudah dapat Allferd pastikan jika peluru akan meluncur begitu indah ke tubuh Axel.
Padahal mereka mengambil adegan ulang itu tak sampai satu jam, namun Allferd merutuki waktu yang berjalan sangat lambat baginya. Setelah Stella menyelesaikan adegannya, Jade langsung memberikan Stella sebuah selimut dan segelas cokelat panas.
Sebenarnya syuting belum selesai sampai di sini saja, masih ada beberapa adegan terakhir yang harus mereka ambil namun bukan pagi ini.
"Ikut aku," Allferd menarik tangan Stella untuk pergi dari lokasi syuting saat ini juga, Stella berteriak pamit sambil berlari kecil untuk menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Allferd yang lebar.
"Aku duluan semuanya!"
"Allferd, pelankan langkah kakimu!" Stella menarik tangan Allferd agar pria itu menghentikan langkah kakinya.
"Berhenti Allferd, aku lelah!" Stella menyentakkan tangan Allferd karena Allferd tak kunjung menghentikan langkah kakinya yang terburu-buru.
Stella melayangkan tatapan kesal kepada Allferd, tangannya sibuk membenarkan letak selimut yang membungkus tubuhnya. Allferd berdecak lalu tanpa Stella duga, Allferd melingkarkan kedua tangannya di kaki Stella lalu menggendong wanita itu.
"Astaga Allferd!" Pekik Stella karena semakin tak bisa bergerak leluasa mengingat selimut yang masih membungkus dirinya.
Sang sutradara tertawa melihat interaksi Allferd dan Stella meski jaraknya cukup jauh. "Mereka romantis, jika aku membuat film baru lalu Allferd dan Stella menjadi peran utama, aku yakin penggemar di luar sana semakin membeludak apa lagi wajah tampan itu di gunakan untuk berakting di layar kaca," ucapnya santai, anggota crew yang mendengar perkataan sang sutradarapun membenarkan hal itu, namun melihat sifat Allferd membuat anggota crew harus berpikir dua kali untuk mengajak Allferd bekerja sama.
***
Allferd menelusuri tubuh Stella dari ujung rambut hingga ujung kaki selama mereka berada di mobil yang sedang di kemudikan oleh Damian bahkan Stella sendiri tak tahu kemana mereka akan membawanya pergi.
Terus di tatap secara intens seperti itu membuat Stella salah tingkah akibat perlakuan Allferd. "Berentilah menatapku seperti itu, keadaanku baik-baik saja dan aku tidak terluka sedikitpun." Tanpa Allferd menanyakan kabar, hanya melihat gelagat Allferd dengan mudahnya Stella sudah bisa menebak apa yang sedang pria itu khawatirkan meski sebenarnya Stella tak ingin besar kepala.
"Samuel dan Caryn selalu melindungiku, kau tahu? Tadi siang aku hampir tergelincir jatuh lalu Caryn dan Samuel sigap menahanku, mereka tak membiarkan aku terjatuh sedikitpun." Stella mulai bercerita, bermaksud untuk membuat Allferd tidak terus khawatir karena Stella kini sudah berada di hadapan Allferd dengan keadaan baik-baik saja.
Mendengar nama adiknya, Allferd mengerjapkan matanya berulang kali. Ia baru tersadar jika sejak kepergian Caryn ke Spanyol ia tak pernah bertatap muka sekalipun dengan Caryn. Perginya Caryn ke negara Matador hanya berjarak satu bulan sejak kejadian pembantaian keluarga Allferd 8 tahun lalu, mereka hanya bertukar kabar melalui panggilan singkat itupun tak sering.
Allferd berdeham, mengalihkan pikirannya karena ia hanya perlu bersabar menunggu fajar tiba untuk menemui adik cantiknya. "Baiklah jika tubuhmu tak ada yang terluka, tapi harus aku ingatkan jika ada bagian tubuhmu yang kotor." Sahut Allferd.
Stella mengernyit tak mengerti, "kotor? Aku pikir tubuhku dalam keadaan bersih,"
"Bukan itu," Allferd menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" Stella masih tidak mengerti dengan perkataan pria di hadapannya ini.
Allferd mengikis jarak di antara mereka, hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Bibirmu ini kotor, harus aku bersihkan."
Detik selanjutnya, Allferd menyapu bibir manis Stella dengan lembut. Menyampaikan rasa rindu, khawatir, cemas melalui cara yang paling di sukai oleh Allferd.
Tanpa sadar Stella tersenyum di sela-sela ciuman mereka, bahkan dengan senang hati Stella mengikuti ritme Allferd.
"Aku senang kau tidak terluka sedikitpun nyonya Maverick."
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
"si*l*n banget tu orang" jgn di sensor semua "****** banget tu orang" jdnya kan pra readers kurfah srn aja,maaf klo mslnya nyakitin hati😭🙏