NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: tamat
Genre:Era Kolonial / Dokter / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:64.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni Baskara, seorang dokter bedah modern dari tahun 2026, terbangun dalam tubuh Doni Wira, anak yatim piatu di Hindia Belanda tahun 1908.

Dengan pengetahuan medis yang melampaui zamannya lebih dari satu abad, ia berusaha menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut: tanpa alat, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengundang kecurigaan. Setiap kegagalan berisiko menelan nyawanya sendiri. Di antara takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan batas moral manusia, Doni harus memilih: menjadi penyelamat… atau bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. HUTANG DARAH YANG TAK TERBAYAR

..."Ada hutang yang tidak bisa dibayar dengan emas, hanya dengan kesetiaan seumur hidup."...

...---•---...

Nyonya Kasim langsung berlari, kakinya tersandung kursi tapi ia tidak peduli. Ia berlutut di samping ranjang, tangannya gemetar saat menyentuh wajah anaknya.

"Arif! Anakku! Kau sadar!"

Air matanya jatuh, membasahi pipi, tapi kali ini bukan air mata ketakutan. Ini lega. Syukur. Kebahagiaan yang hampir menyakitkan.

Arif menatap ibunya dengan mata yang masih sayu, masih bingung, tapi sadar. Bibirnya bergerak, mencoba bicara tapi suaranya terlalu lemah.

"Ibu... haus..."

Kata-kata sederhana itu membuat Nyonya Kasim menangis lebih keras. Ia peluk kepala anaknya dengan lembut, takut-takut, seolah anak itu akan pecah jika dipeluk terlalu erat.

Doni berdiri perlahan, kakinya hampir mati rasa setelah duduk berjam-jam. Ia pegang bahu Nyonya Kasim dengan lembut.

"Ia butuh istirahat," katanya dengan suara serak karena jarang digunakan seharian. "Dan terus minum ramuan. Tiga kali sehari selama seminggu penuh. Pagi setelah bangun, siang setelah makan, malam sebelum tidur. Jangan lewatkan satu kali pun."

Nyonya Kasim mengangguk, matanya fokus, tidak ingin melewatkan satu kata pun.

"Makanan harus lembut dan mudah dicerna. Bubur dengan kaldu ayam. Telur rebus. Sayur yang direbus lama sampai empuk. Tidak ada yang keras atau pedas."

Anggukan lagi, lebih mantap.

"Tidak boleh terkena hujan. Tidak boleh kelelahan. Jika demam naik lagi, kompres segera dan panggil aku."

"Aku mengerti." Suaranya pelan tapi mantap. "Terima kasih. Terima kasih..."

Kata-kata itu terus diulang, seperti doa.

Tuan Kasim melangkah maju. Ia berdiri di depan Doni, tubuhnya tegak tapi tangannya gemetar. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap, tidak bersuara. Mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, ia berlutut.

Seorang pedagang kaya, yang biasa dilayani dan dihormati, berlutut di hadapan pemuda kampung. Lututnya menyentuh lantai kayu dengan bunyi tumpul.

"Dari hari ini, nyawaku dan nyawa keluargaku ada di tanganmu."

Matanya menatap langsung ke mata Doni, tidak berkedip. Sorot matanya intens, penuh dengan sesuatu yang lebih berat dari hutang biasa.

"Apa pun yang kau butuhkan, aku akan berikan. Kau meminta bulan, aku akan cari cara meraihnya untukmu."

Doni merasa tidak nyaman dengan sikap itu. Ia tidak menyelamatkan Arif untuk mendapat kekuasaan atau pengaruh. Tapi ia paham, di dunia ini, hutang nyawa bukan sekadar ucapan. Ini ikatan serius, yang bisa bertahan seumur hidup dan diwariskan turun-temurun.

"Bangun, Tuan Kasim," katanya pelan tapi tegas. "Aku tidak menyelamatkan anakmu agar kau berhutang padaku. Aku melakukannya karena ia membutuhkan bantuan. Hanya itu."

Tapi Tuan Kasim tidak bergerak. Kepalanya tertunduk, pundaknya naik turun.

"Kau orang baik, Doni. Terlalu baik untuk dunia yang keras ini." Ia angkat kepala, menatap dengan pandangan yang berat. "Tapi percayalah, dunia tidak akan membiarkanmu terus berbuat baik tanpa perlindungan. Aku tahu itu. Aku sudah lama hidup di dunia pedagang, di mana orang saling makan demi keuntungan. Kau butuh seseorang yang bisa melindungimu dari orang-orang seperti itu."

Kata-kata itu mengendap di pikiran Doni seperti batu yang jatuh ke dasar sumur.

Tuan Kasim tidak salah. Kebaikan saja tidak cukup di dunia yang penuh dengan kepentingan bersilangan.

"Aku terima niat baikmu," kata Doni akhirnya, suaranya lebih lembut. "Tapi untuk sekarang, yang aku butuhkan hanya kau jaga anakmu baik-baik. Beri dia makanan bergizi. Jangan biarkan ia kelelahan. Itu sudah lebih dari cukup."

Tuan Kasim akhirnya berdiri. Ia usap matanya yang berair dengan punggung tangan, lalu mengangguk mantap. "Baik. Tapi ingat perkataanku tadi. Apa pun yang kau butuhkan suatu hari nanti, datang padaku."

Doni hanya tersenyum lelah. Senyum tipis yang lebih merupakan respons sopan daripada persetujuan.

...---•---...

Pagi hari tiba dengan cahaya lembut yang merembes lewat celah jendela.

Burung-burung mulai berkicau. Ayam berkokok di kejauhan. Dunia bangun dari tidurnya, tidak tahu bahwa semalam seseorang baru saja merebut nyawa dari tangan kematian.

Arif sudah bisa minum ramuan sendiri tanpa disuapi. Tangannya masih gemetar saat memegang mangkuk, tapi ia bisa. Wajahnya masih pucat, mata cekung, tapi matanya sudah jernih. Ada cahaya di sana, cahaya yang semalam hampir padam sepenuhnya.

Ia bahkan sempat tersenyum lemah saat ibunya membelai rambutnya, jari-jarinya menyisir dengan lembut seperti takut anaknya akan pecah.

Doni berdiri, melempar tas ke bahu. Karyo sudah menunggu di pintu, mata masih setengah terpejam tapi tubuhnya siap bergerak.

Ketika Doni dan Karyo akan naik gerobak pulang, Tuan Kasim datang membawa kantong kain berat. Kain itu berkualitas bagus, warnanya merah tua dengan benang emas di tepinya.

"Ini bayarannya," katanya, menaruh kantong itu di tangan Doni. "Tidak usah ditolak. Ini bukan soal uang. Ini soal menghargai nyawa anakku."

Doni membuka kantong itu. Di dalamnya ada uang perak dan tembaga, ditumpuk rapi. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pernah ia terima. Cukup untuk hidup setahun tanpa bekerja, mungkin lebih.

Tapi yang membuat matanya berbinar bukan uang itu.

Di bagian bawah, terbungkus kain putih bersih, ada sesuatu yang lain.

Sebungkus kulit pohon kering berwarna coklat kemerahan. Aromanya khas, sedikit pahit dengan sentuhan tanah basah.

"Kulit kina," kata Tuan Kasim sebelum Doni bertanya. "Aku suruh orangku cari ke kota pelabuhan sejak kemarin sore. Tadi pagi baru sampai. Terlambat untuk Arif, tapi mungkin berguna untuk pasien lain."

Doni menatap kulit kina itu seperti menatap harta karun. Ini lebih berharga daripada emas di dunia ini. Dengan ini, ia bisa menyelamatkan lebih banyak pasien malaria. Ia bisa membuat persediaan obat yang tidak bisa dibeli dengan uang di kampung mana pun.

Kina. Akhirnya.

"Terima kasih," katanya, suaranya tulus dan dalam. "Terima kasih banyak."

Tuan Kasim menepuk bahu Doni, tangannya berat dan hangat. "Kita berhutang nyawa padamu. Jangan lupakan itu."

...---•---...

Gerobak bergerak meninggalkan rumah Tuan Kasim, roda-rodanya berderit pelan di jalan tanah. Karyo duduk di samping Doni, menatap kantong uang dengan mata lebar seperti piring.

"Kau kaya sekarang," katanya setengah bercanda, senyum kecil di sudut bibirnya.

Doni menggeleng sambil menatap langit yang mulai cerah. "Uang ini bukan untuk aku. Ini untuk klinik. Untuk obat-obatan. Untuk orang yang tidak punya apa-apa."

Karyo tersenyum lebih lebar. "Aku tahu kau akan bilang begitu."

Mereka kembali ke kampung saat matahari sudah naik cukup tinggi, cahayanya hangat tapi belum menyengat. Embun di rerumputan mulai menguap, menciptakan kabut tipis di permukaan tanah.

Warga yang melihat menyapa dengan hormat. Beberapa membungkuk. Beberapa tersenyum lebar. Berita penyelamatan anak Tuan Kasim sudah tersebar seperti api di musim kemarau.

"Doni si Tabib Ajaib berhasil lagi!"

"Bahkan penyakit yang biasa membunuh bisa ia kalahkan!"

"Dewa penyembuh turun ke kampung kita!"

Tapi Doni tidak merasa seperti pahlawan. Tidak merasa seperti dewa atau keajaiban.

Mereka berdua tahu apa artinya hari ini.

Ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu anak.

Ini tentang membangun sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan bertahan lebih lama dari mereka berdua.

Dan itu baru saja dimulai.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
Three Flowers
Ini adalah sebuah cerita yang sangat bagus dan bermutu, dimana di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan dan nilai - nilai sosial yang pastinya tidak mudah dalam pembuatannya. Semangat dan sukses selalu, Thor 💪
Three Flowers
inikah yang membawanya hidup kembali di dunia kuno?
Three Flowers
akhirnya ada yang mengakui keahlian Doni
Three Flowers
syukurlah... sudah tahan nafas aq😅
Three Flowers
untung Kartini belum sampai melepaskannya, padahal sudah lumayan kaget dia
Three Flowers
semangat, Doni! Kamu pasti bisa melewati ujian ini
❤️⃟Wᵃf🅰ყ🅤⁴꧂🍊⃟𝐒𝐓𝐉
Finished...
Terima Kasih Ya Author...Semangat 👍💪🤗
carat28
Hai kak boleh bantu follback? Saya mau kirim inbox ke kakak terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
Evy
Bisa dilanjutkan besok...kalo dokternya sakit..
kan ..bahaya...gak bisa obati pasien..
Nusa thotz
ini...??? biarpun jajan pasar kan mahal...masak jualannya kayak gini...kirain "godog an"...kayak kacang, singkong, ubi, pisang,..KL klepon kan ketan e leren ndeplok belum gula merahnya, lupis ya sama, apalagi lemper..waduh daging ni daging...buat ke dukun aja GK punya duit...apalagi buat jajanan begini...riset Thor..
Nusa thotz
welehhhh...baru tahu jaman dulu ada nama Doni buat org Jawa..tak pikir jadi Dono...yg paling Deket dgn Dono...🤔
Santai Dyah
Doni berbakat untuk menjadi tabib.
mungkin karena dia dokter masa depan
Santai Dyah
Aku baru tau luka di dalam bisa di obati dengan daun sirih
Santai Dyah
ngeri ngebayangin yang kejang kejang sambil gigit lidah aduh tak terbayangkan itu sakitnya
Santai Dyah
ini masuk ke masa penjajahan dulu ya waduh bisa knal banyak tokoh nih
Anne
ini bener bner masterpiece buat aku... dr awal smp tmat sy selalu terbawa kdlm suasanan alur ddlmny.. trimakasih ya. n semangat utk trus berkarya🙏
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ🏡⃟ªʸѕ⍣⃝
Buku yang bagus, baca saja berurutan jangan lompat bab, banyak ilmu soal pengobatan tradisional atau modern di buku ini dan kisah kisah lainnya.
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ🏡⃟ªʸѕ⍣⃝
Tamat sudah, selamat om buat karya luar biasanya. ditunggu karya selanjutnya.
ada banyak hal yang bisa dipelajari dari cerita Doni Baskara, Doni Wirya ini. bukan melulu soal cinta tapi banyak hal. good job om👍
wiwik
Yaahh tamat 😭😭
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ🏡⃟ªʸѕ⍣⃝
congratulation Doni, dari masa depan kamu menciptakan orang' hebat di Donomulyo
MARDONI: sabar kk belum tamatt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!