THE LAW FIRM FIRM Series adalah series yang mengupas kehidupan para pengacara di sebuah firma hukum, kasus-kasus hukum dan tentu saja romansa diantara mereka.
Kayla Riyani, membenci Ayahnya yang tak pernah hadir dalam kehidupannya. Sama seperti profesinya sebagai pengacara perceraian dia tak mempercayai lembaga perkawinan. Baginya cinta hanya kegilaan sesaat, dan perkawinan adalah perjudian yang kadang berakhir tak baik.
Ironis, seseorang dari masa lalu menawan hatinya begitu lama dengan kisah cinta tanpa status, saat orang itu muncul kembali didepannya apa yang akan dia lakukan, hatinya masih tergerak dan raut wajah pria itu masih menimbulkan rasa yang tak bisa dia tepikan.
Disisi lain seorang teman dekat, telah lama begitu memperhatikannya. Tapi Kayla telah terlanjur memasang tembok begitu tinggi dihatinya.Kepada siapa Kayla menyerahkan hatinya
Season 1. Love Intrigue
Season 2. The Soulmate Secre
Season 3. The Day We Meet Again
Season 4. My Heart Belongs To You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love Intrigue- Part 21. Apa sesuatu terjadi?
Dia tidak mengatakan apapun soal pembicaraan kami sampai kami mencapai kantorku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkannya soal perkataanku.
“Terima kasih sudah mengantarku.” Aku bersiap turun saat kami mencapai lobby.
“Kapan kau kembali ke Surabaya?”
“Natal sampai tahun baru.”
“Ohh oke.”
“Kita temenan aja mulai sekarang oke.” Dia cuma tersenyum.
“Bukankah dulu kita memang teman.” Dulu? Entahlah, mungkin, aku juga tak yakin. Tapi aku akan mempermudah semuanya.
“Ya, teman tentu saja. Oke, aku turun dulu, thanks.” Dan itu berakhir begitu saja kemudian. Kuharap dia tidak mencoba apapun lagi setelah ini. Walaupun aku juga tak yakin apa dia akan menyerah secepat itu. Tapi aku sudah menegaskan padanya, kuharap dia bisa memikirkan apa yang kukatakan.
\=\=\=\=\=
Ken pulang Senin malam, aku tak tahu kapan tepatnya, dia bilang mungkin jam 7 baru sampai Jakarta. Tapi Selasa pagi aku mengharapkan bisa melihatnya lagi. Kangen bisa ngomong sama dia lagi setelah empat hari gak denger suaranya secara langsung. Ciuman pipi yang kemarin ternyata bikin aku langsung mikirin dia. Mungkin dia emang sengaja atau emang dia tahu triknya biar orang mikirin dia?!
Tapi dia tak terlihat diruangannya. Biasanya dia banyak membawa oleh-oleh kalau dari luar kota. Jadi aku mendatangi sekertarisnya yang mejanya tepat didepan ruangannya.
“Jenna, Pak Ken belum datang?”
“Datang pagi sih Bu katanya, tapi gak tahu kok belum muncul. Mungkin sebentar lagi, soalnya jam 10 juga sudah ada jadwal konsultasi associate.”
“Ohh begitu.”
“Ibu ada pesan ke Bapak, telepon aja Bu...”
“Ohh engga. Cuma heran aja belum muncul.”
“Ehh, tuh Bapak Bu. Baru diomongin panjang umur.” Tiba-tiba dia muncul dari pintu masuk kantor clusternya. Aku menoleh dan melihatnya datang dengan banyak tentengan. Seperti biasa ternyata.
“Bu Kay nyari Bapak.” Dia melihatku dan langsung tersenyum.
“Ohh, napa Yang. Kangen ya...” Perkataannya membuat Jenna yang heran melihat kami, tampaknya dia belum tahu kami pacaran.
“Sapa yang kangen ama lu.”Aku mendelik padanya belum hilang juga ayang-ayangannya plus ngomong gak tahu tempat.
“Jen,bagi ke anak-anak.” Dia Cuma ketawa dan memberikan satu plastik bawaannya kepada Jenna.
“Nih punya kamu. Aku bawa sarapan sekalian, ayo makan didalam...” Dia ngajak aku masuk ke ruangannya pake tarik tarik tangan tanpa canggung sedikitpun.
“Kamu nyari aku kenapa?” Sekarang nanya serius sambil naro bawaannya di meja kantor.
“Engga, ... nanya doang kenapa belum datang. Biasanya udah datang jam segini sama oleh-oleh. Nyari oleh-oleh doang.” Aku memberikan alasan sebisaku. Dia melihatku dengan senyum dikulum.
“Bilang aja kalau aku ngangenin.”
“Kepedean banget. Makan!” Aku menutupinya dengan bersikap tak perduli. Aku duduk di kursi depannya, mulai membuka bungkusan makanan yang dia bawa. Dia hanya melihatku sambil tersenyum, tapi kemudian tak melanjutkan ledekannya.
“Gimana kerjaan, beres?” Aku mengalihkan pembicaraan agar dia tak meledekku lagi.
“Baik-baik saja. Kita ada invest buka partner lagi di Manado, kamu inget Reinald Tumewu dulu juga gabung di Senat, dia partner kita disana. Kita bantu dia pake nama kita disana.”
“Ohh iya-iya.”
“Gimana Herman?”
“Hah?” Pertanyaannya membuatku terhenti menyuapkan sarapan nasi kuningku sendiri.
“Engga gimana-gimana, kan ketemu klien doang. Kliennya yang tadinya setuju cerai, sekarang gak jadi cerai. Ngasih bukti keputusan perceraian istrinya karena orang ketiga. Malah minta saran gimana biar gak jadi sampai ke sidang cerai.” Engga aku gak akan cerita apa yang terjadi ke Ken. Cukup aku yang tahu. Karena dia tahupun gak akan ada pengaruhnya.
“Eh, kamu kasih saran?”
“Kasihlah. Kan dia mau baikan.”
“Kenapa, bukannya itu mungkin berarti kasus kamu bakal dibatalkan.”
“Ya, kan kasian kalau suaminya benar-benar mau baikan, kasian anaknya juga, ya gak tega lah. Tapi ya tergantung usaha dari suaminya lah, kalo kliennya tetep mau lanjut yah aku lanjut.”
“Kamu ternyata baik juga ya.” Aku ngeliat balik ke Ken.
“Kenapa jadi pengacara gak boleh baik-baik ya? Hidup itu gak semuanya tentang uang kan, emang sterotype pengacara harus licik-licik gitu ya... Licik boleh, tapi tahu siapa yang harus dilicikkin....” Dia angguk-angguk dan senyum doang sambil ngeliat aku. “Kok senyum-senyum, aku ngomomg salah.”
“Ohh engga, tambah sayang malah. Kamu ternyata orang yang menhargai orang yang berusaha menyelematkan perkawinannya. Ntar kalo udah merried, kalo aku salah jangan langsung nulis surat gugatan perceraian ya sayang. Kita ke konselor dulu buat surat perdamaian.”
“Lu tuh mikir kejauhan banget.” Aku langsung protes.
“Jauh ya? Enggalah kita udah di umur berapa, gak jauh-jauh amat mungkin...”
“Lu gak mikir kita perlu perjanjian pranikah, pembagian harta gono-gini sekalian?” Dia senyum kecil, tapi kemudian ngomong tanpa senyum tanda dia serius dengan ucapannya.
“Engga, itu gak perlu, karena di kamus gue gak ada kata perceraian.” Gue jadi ngeliat dia.
Benarkah? Jika itu benar mungkin aku dulu percaya happily ever after. Jika saja Papa begitu, Papa gak mungkin ninggalin Mama buat wanita lain, kenapa dia begitu tega dan tak mencoba memperbaiki hubungan mereka.
Aku gak bisa menimpali. Menurutku itu perkataan yang berani. Tapi terlalu jauh, kami baru pacaran enam hari? Masih perlu menunggu enam bulan untuk berpikir apa kami akan berlanjut atau tidak.
“Itu benar-benar masih terlalu jauh.”
“Ya sudahlah, aku nurut apa katamu saja. Tapi aku serius soal itu...” Akhirnya dia menyerah mendebatku. Aku hanya bisa tersenyum kecil padanya.
Sebuah ketukan dipintu terdengar kemudian. Ternyata sekertarisku Sarah, ada apa, bukannya aku tidak ada meeting mendesak lagi berapa hari ini, besok sudah hari terakhirku masuk, karena Kamis aku akan ambil cuti.
Dia membawa selembar kertas.
“Maaf Bu, ini kata pengatarnya pengirimnya mau tanda terima atas nama Ibu. Ada yang mengantarkan vas bunga besar di kantor Ibu.”
“Vas bunga besar?” Siapa yang mengirimiku bunga?
“Iya Bu, isinya rose pink Bu, banyak banget Bu.” Banyak bangetnya pakai ekspresi heboh.
“Hah?!” Siapa yang ngirim mawar pink? Apa mungkin...
“Wah, Ayang baru ditinggal empat hari udah selingkuh ya.” Kenneth langsung nyeletuk sadis.
“Ehh, beneran! Aku gak tahu siapa yang ngirim.”
“Ini kartu sama tanda terimanya Bu.” Aku menerima kartu dan menandatangani nota pengirimannya.
“Bu bunganya taro di ruangan Ibu.”
“Engga, di bagian tengah aja. Kalo banyak kalian mau bawa pulang ambilin aja.” Aku melakukan itu untuk menjaga perasaan Ken.
“Ohh baik Bu.” Sementara Sarah pergi, aku membuka kartu ditanganku dengan penasaran.
“Jeng...jeng...jeng.... Dan pengirimnya adalah.” Ken dengan konyol membuat musiknya.
‘Aku minta maaf Kay...
Tolong beri aku kesempatan sekali lagi dan aku tak akan mengecewakanmu.
Herman.’
Aku menghela napas panjang, dan ternyata memang omonganku padanya tak menghasilkan pemahaman apapun, dia tetap mencoba.
“Kenapa kau menghela napas seperti itu. Dari siapa? Jika aku boleh tahu tentu saja...”
“Herman...”
“Herman? Katamu kalian cuma bertemu klien saja... Kenapa berakhir dia mengirimkan bunga untukmu?” Itu pertanyaan yang normal tentu saja, kami hanya mantan yang tiba-tiba bertemu karena punya kasus sebelumnya. Dan jika tak ada kejadian apapun tak mungkin dia mengirimkan bunga untukku.
“Kay?” Ken mengejar penjelasanku.
Tampaknya dia memang harus tahu apa yang terjadi.