Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Kebenaran
“Kamu, tumben banget ngajak aku kesini,” Bima mulai mengangkat suaranya.
Jia tersenyum, “Aku cuma bosen aja di kelas. Emangnya, kamu gak mau nemenin aku?”
“Bukan gitu, aku mau kok. Cuma aku heran aja, gak biasanya kan kamu ngajak aku.” Bima terlihat salah tingkah.
Mereka pun terdiam dengan pikirannya masing-masing. Dan tentu, Jia memikirkan bagaimana ia bisa mengajak Bima untuk bertemu dengan Vina. Ia pun berusaha membuat rencana agar mereka bisa saling bertemu dan berbicara baik-baik.
“Bim, aku boleh tanya sesuatu?” Jia akhirnya membuka mulutnya.
“Boleh, tanya apa?”
“Kalau aku punya salah sama kamu, kamu mau maafin aku gak?”
“Ya mau dong, kenapa enggak?” jawab Bima ringan.
“Meski aku berbuat kesalahan sangat besar?” Jia memastikan.
“Ya tergantung, kalau kamu punya alasan yang kuat, aku pasti maafin kamu.”
“Kalau gak ada, kamu gak akan maafin aku?” sambar Jia. Bima pun sekeka terdiam seperti membenarkan pertanyaan Jia.
“Kalau aku jadi kamu sih, meskipun gak ada alasan yang kuat, aku akan berusaha mencari kebenarannya. Menanyakan keadaan yang sebenarnya, dan menyelesaikan dengan kepala dingin,” sambung Jia.
“Aku tahu, kamu orang yang baik, sehingga mau memaafkan aku. Aku berharap, kamu juga mau memaafkan orang-orang yang mempunyai salah sama kamu.” Jia menatap lekat Bima.
Bima pun menatapnya kembali dan sedikit mengerutkan keningnya. ‘Kenapa tiba-tiba Jia ngomong gitu ya,?’ batin Bima, ia sangat heran dengan apa yang dikatakan Jia.
“Dan aku juga yakin, kamu pasti bisa menyelesaikan masalah kamu dengan baik." Jia memberikan senyuman tulusnya, berharap Bima tersadarkan dengan ucapannya.
Jia melirik jam di tangannya, “Eh, sebentar lagi mau masuk nih, kita ke kelas yuk!” ajak Jia, dan Bima hanya mengangguk.
Mereka pun kembali ke kelas untuk melanjutkan kelas hari ini. Saat menuju kelas, Bima terus terdiam dan tak mengatakan apapun. Ia terus menerus memikirkan perkataan Jia tadi.
***
Saat sedang di kantin, Jia melihat Al sedang duduk sendirian. Jia pun menghampirinya dan mencoba untuk berbicara pada Al.
“Boleh aku duduk?" izin Jia untuk duduk di depan Al. Lalu, Al hanya mengangguk.
“Hmm, aku kesini cuma mau bilang. Semuanya akan baik-baik aja."
“Maksud lo apa?” tanya Al penasaran.
“Kemarin, aku ketemu sama Vina. Aku mau bantuin dia."
“Gak, lo jangan ngawur Ji!"
“Aku kasihan sama Vina, dan juga sama kamu."
“Jangan Ji, please lo jangan lakuin itu!" Al mencoba membujuk Jia untuk tidak membantu Vina.
“Lho kenapa Al?”
“Karena gue gak mau lo terbawa dalam masalah ini, dan vue gak mau lo terluka,” sambar Al sedikit meninggikan suaranya.
Jia tercengang mendengar perkataan Al. Ia semakin yakin bahwa Al masih mempunyai perasaan padanya. Karena, nyatanya Al sangat mengkhawatirkan Jia. Al bersikeras agar Jia tak boleh membantu permasalahan mereka.
Jia sangat senang saat Al mengatakan bahwa ia tak mau Jia terluka. 'Aku tahu Al, kamu masih punya perasaan sama aku,' batin Jia, ia pun menatap lekat Al.
“Em.. ma ... maksud gue, lo gak perlu bantuin masalah ini, gue sama Vina bisa ngurus semuanya sendiri.” ucapan Al memelan dan ia terlihat salah tingkah.
“Aku ngerti Al. Kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik aja kok,” ucap Jia mencoba memahami Al.
“Kalau gitu, aku pergi dulu ya,” sambung Jia.
Al pun hanya terpaku dan membiarkan Jia pergi dengan begitu saja. Ia sangat menyesali perkataannya, dan ia juga tak bisa mencegah Jia untuk membantu Vina. Al benar-benar tak bisa menolak Jia.
Walau sebenarnya, ia sangat takut akan terjadi sesuatu pada Jia. Ya, karena sejujurnya, ia masih sangat sayang pada Jia.
Ia benar-benar tidak mau melihatnya terluka, Al bisa saja merelakan Jia dengan Bima. Tapi, ia tak rela kalua Jia sampai terluka.
Hari itu juga, Al selalu mengawasi Jia dan menjaganya dari kejauhan. Tak lupa juga, Al pun selalu mengawasi Bima dan Vina.
Terutama, ia akan selalu mengawasi Vina. Karena ia tak tahu seperti apa sikapnya Vina, bisa saja semua ini hanya rencananya saja.
Al pun selalu memata-matai Jia saat sedang bersama Vina. Ia masih belum percaya sepenuhnya bahwa Vina sudah berubah. Al pun selalu berhati-hati dengan Vina.
Saat di kelas.
“Na, kemarin aku ketemu sama Vina, mantan pacarnya Bima. Kasihan banget deh Na, kayaknya dia sangat menyesali semuanya."
“Oh ya, terus gimana?”
“Aku udah mutusin buat bantuin dia Na.”
“Hmm, kalau itu keputusan kamu, aku support kamu Jia."
“Makasih ya, kamu selalu support aku.”
“Tapi inget kamu harus hati-hati ya! aku juga siap kok bantuin kamu.”
“Oke, makasih banyak ya kamu emang sahabat aku paling baik."
“Iya sama-sama,” mereka pun saling melempar senyum.
Saat pulang kuliah, seperti biasa Jia di antar Bima ke tempat kerjanya. Sebelum ke tempat kerja, Jia meminta Bima untuk mengantarnya ke rumah terlebih dahulu. Karena ia akan mengambil beberapa pakaian.
“Memangnya kamu mau kamana Ji, kok bawa baju gitu?” tanya Bima penasaran.
“Aku mau nginep di rumah sakit Bim, Ayah aku lagi di rawat.”
“Ayah kamu lagi sakit Ji? “ Bima terkejut, dan Jia pun hanya mengangguk.
“Semoga Ayah kamu cepat sembuh ya."
“Aamiin, makasih Bim."
Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke tempat kerja Jia. Semua orang yang dekat dengan Jia sudah mengetahui keadaan Ayahnya, kecuali Al. Jia ingin sekali memberitahu pada Al, namun ia ragu untuk memberitahukannya.
Mungkin, setelah semuanya selesai Jia akan segera memberitahukan pada Al keadaan Ayahnya. Karena bagaimanapun Al adalah orang yang Jia sayang, dan Al berhak tahu keadaan keluarganya.
Setelah beberapa menit di jalan, mereka pun sampai juga di kafe tempat kerja Jia. Bima langung pamit pulang, dan memberikan salam pada keluarga Jia.
“Jia." Suara Surya memanggil nama Jia dan menghampirinya.
“Iya Pak?” jawab Jia sigap.
“Nanti malam, kamu pulang ke rumah sakit kan?”
“Iya Pak, malam ini saya tidur di rumah sakit."
“Kalau gitu saya antar ya?!"
“Gak usah pak, takut ngerepotin."
“Enggak kok, gak ngerepotin sama sekali. Sekalian saya juga mau jenguk Ayah kamu."
“Ya udah kalo gitu Pak."
“Oke. Nanti, saya tunggu di parkiran ya!”
“Baik Pak.” Jia pun kembali mengerjakan pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, ponsel Jia berbunyi menandakan pesan masuk. Dan pesan itu dari Bima, Jia pun langung membacanya dan membalasnya.
[Kamu pulang jam berapa? Aku antar ke rumah sakit ya?]
[Pulang jam 10 malam. Gak usah Bim, aku pulang bareng teman.]
[Baiklah.]
Jia tak membalasnya lagi, Pesan itu pun berakhir dari Bima.
Pekerjaan pun sudah terselesaikan, tidak ada lagi pembeli datang ke kafe itu. Semua karyawan pun menutup kafe dan bergegas untuk pulang, termasuk Jia dan Surya.