NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tunas Harapan dan Penjaga yang Tak Terlihat

Sambil menikmati roti hangat yang lezat, Lin Cheng tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia menunjuk ke arah tumpukan perkamen di meja.

"Kamu... kamu membuat catatan ini semua, Xiao An?"

Xiao An mengangguk santai, mengunyah rotinya.

"Iya, untuk mengusir waktu jenuh saja. Hobi," jawabnya ringan, seolah itu bukan sebuah riset mendalam yang bisa mengubah dunia kultivasi.

Lin Cheng tersenyum tipis.

"Aku... aku sangat tertarik," katanya, mencoba terdengar sesantai mungkin.

"Bolehkah aku meminjam selembar kertas terkait tentang Skin Tempering itu? Aku ingin membacanya lebih detail."

Xiao An tertawa renyah, seolah Lin Cheng baru saja meminta sehelai daun kering.

"Apalah apalah, itu hanya coretan biasa," katanya, mengibaskan tangannya.

"Ambil saja semuanya..."

"Tidak, tidak! Aku hanya meminjam," Lin Cheng cepat-cepat meralat, sedikit panik karena takut Xiao An akan menganggapnya mengambil keuntungan.

Xiao An nampaknya abai saja, tidak terlalu peduli dengan catatan-catatan yang baginya hanya sekadar pengisi waktu luang. Namun, Lin Cheng bersikeras, matanya memohon.

"Sungguh, aku hanya ingin meminjamnya, Xiao An. Nanti akan kukembalikan."

Melihat kesungguhan Lin Cheng, akhirnya Xiao An mengalah.

"Iya, iya. Ambil saja kalau begitu," katanya sambil tersenyum geli.

"Tapi jangan sampai hilang ya, itu satu-satunya salinanku."

Lin Cheng akhirnya berpamitan pada Xiao An, jantungnya berdegup kencang oleh kegembiraan. Saat matahari mulai merangkak turun, mewarnai langit senja dengan semburat jingga, ia pun bergegas pulang.

Dia tidak hanya membawa bekal sisa panggangan roti untuk kakeknya, tapi juga seluruh perkamen catatan kultivasi Xiao An. Langkahnya terburu-buru, tak sabar ingin meneliti setiap detail di bawah cahaya lentera Kuil Mukui nanti malam.

Malam memang cepat datang di pegunungan. Sementara Lin Cheng dalam perjalanan pulang, Xiao An, dengan perut kenyang dan persediaan yang melimpah, mengambil waktu lebih awal untuk tidur. Dia tidak lagi menghawatirkan beberapa hal terkait penghidupannya ke depan. Rasa aman dan nyaman menyelimuti dirinya, sesuatu yang langka ia rasakan selama ini.

Malam itu, angin sepoi-sepoi berdesir pelan di perkebunan bukit, membawa dinginnya udara malam. Dua ekor domba yang sedang beristirahat tiba-tiba menegakkan kepala mereka, mata mereka bergerak-gerak memeriksa ke arah tertentu, seolah merasakan sesuatu yang tak kasat mata.

Tak jauh dari mereka, seekor sapi besar yang juga sedang mengunyah rumput, tiba-tiba berhenti. Dengan pipi gembul yang dipenuhi rumput dan beberapa helai rumput masih mencuat dari mulutnya, dia memutar kepalanya, memeriksa sekeliling dengan tatapan waspada. Ada sesuatu yang menarik perhatian mereka di kegelapan malam.

Di pagi buta, saat embun masih membasahi dedaunan, sebuah keajaiban sunyi mulai terhampar di kebun benih Xiao An. Seluruh benih yang ia tanam beberapa waktu lalu, yang ia rawat dengan sepenuh hati, kini tidak lagi tersembunyi di bawah tanah. Mereka telah bertunas!

Dengan kecepatan yang mengejutkan, tunas-tunas hijau mungil itu segera tumbuh dengan cepat. Dalam hitungan hari, mereka sudah memasuki fase vegetatif awal. Tanah yang tadinya hanya gumpalan cokelat kusam, kini dipenuhi oleh dedaunan yang segar dan subur.

Setiap tanaman menunjukkan vitalitas luar biasa. Batang-batang kecilnya tampak kokoh, berani menembus permukaan tanah, seolah-olah ditarik oleh kekuatan tak terlihat dari dalam bumi. Daun-daunnya, yang mulanya hanya sepasang kepingan kecil, kini telah melebar, menunjukkan warna hijau zamrud yang pekat, bersinar di bawah pantulan cahaya pagi.

Permukaan daunnya halus, dengan urat-urat tipis yang terlihat jelas, mengalirkan kehidupan ke setiap helainya. Tak ada tanda-tanda layu atau kekurangan nutrisi; sebaliknya, mereka tampak begitu sehat, seolah menyerap setiap tetes embun dan setiap partikel Qi di udara.

Kebun benih Xiao An kini telah berubah menjadi permadani hijau yang menjanjikan, bukti nyata dari sentuhan tangan sang seniman dan mungkin, sedikit bantuan magis dari keberadaan spiritual di bukit itu.

Melihat pemandangan kebun hijau yang begitu menggoda, sapi besar itu—dengan pipi gembul dan seketika tergoda selera makannya. Matanya berbinar melihat dedaunan segar dan subur yang kini memenuhi kebun Xiao An. Dengan langkah riang, dia berbelok, menuju kebun itu, siap untuk mencicipi sayuran dan berbagai tumbuhan yang tampak begitu lezat dan penuh vitalitas.

Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Hanya beberapa meter dari batas kebun, dia berhenti mendadak. Kepala besarnya mendongak, matanya yang bulat menatap lurus ke depan, menghadap sebuah tongkat kayu gembala yang digunakan Xiao An untuk menjemur pakaiannya.

Entah sudah berapa lama sapi besar itu diam mematung, hidungnya bergerak-gerak di udara, matanya terpaku pada tongkat gembala yang tak bergerak itu. Lalu, seolah tersadar dari sebuah mantra, ia bergidik pelan. Sesuatu yang tak terlihat, namun dirasakan oleh insting hewannya, telah memberinya peringatan.

Dengan gerakan canggung, ia membalikkan tubuhnya, membuang jauh-jauh ide untuk mencicipi dedaunan hijau nan subur itu. Ia mengambil arah lain, kembali ke hamparan rumput biasa. Dalam hatinya, sapi besar itu mungkin mendengus,

"Ya sudahlah, whatever, rumput di sini juga tak kalah kok." Dan dengan itu, ia kembali merumput dengan tenang, seolah kebun Xiao An tak pernah memikatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!