NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan dalam Kebohongan

Raditya terdiam seperti seseorang yang baru saja kehilangan napas. Aku bisa melihat matanya membelalak, seakan kalimatku barusan nggak bisa dicerna otaknya. Wajahnya kaku. Bibirnya sedikit terbuka, tapi nggak ada satu kata pun keluar.

Kerumunan di sekitar kami ikut terdiam, bahkan suara bisik-bisik yang sedari tadi seperti nyamuk di telingaku mendadak lenyap. Aku bisa merasakan tatapan semua orang yang masih menatap, seperti sedang menunggu babak berikut dari drama murahan yang tiba-tiba dimainkan di depan kantor Hantex.

Leo berdiri di sampingku dengan rahang yang masih tegang, tapi matanya melirikku sekilas. Entah apa yang dia pikirkan saat aku dengan spontan mengatakan kalimat itu. Aku nggak berani menatapnya terlalu lama.

Tanganku sendiri masih menggenggam tangannya. Di detik berikutnya, Leo justru mempererat tautan jari-jari kami. Panasnya telapak tangan Leo terasa sampai ke dadaku.

Raditya mengerjap pelan, lalu napasnya terdengar kasar. “Bu Prita .…” Suaranya serak. Ada nada nggak percaya yang jelas sekali. “Bu Prita … calon suami Bu Prita?” Dia menatap Leo dengan pandangan seperti mau menerkam.

“Pak Raditya, saya harus pulang dengan calon suami saya,” ucapku lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih tegas dan sengaja menekankan status baru Leo. Sayangnya, kata-kata itu seperti batu besar yang kutelan sendiri.

Raditya ingin bicara. Bibirnya sudah bergerak, tapi lagi-lagi nggak ada kata keluar. Dia seperti kehilangan semua argumen untuk melawan pernyataanku.

Pak Rio dan rekan satpamnya yang tadi menahan tubuh Raditya ikut terdiam. Mereka berdua seakan ikut bingung harus bereaksi seperti apa.

Aku menarik napas panjang dan menatap Leo. “Kita pulang,” bisikku pelan.

Leo hanya mengangguk. Dia nggak bicara apa pun. Pasti dia juga masih terkejut dengan pengakuanku barusan.

Kali ini, Raditya nggak menghalangi langkahku dan Leo lagi. Kami melewatinya, seakan dia cuma orang asing yang berpapasan di pasar malam.

Aku melangkah cepat menuju mobil Leo, berusaha mengabaikan tatapan penasaran orang-orang. Tapi, dari sudut telinga, aku masih mendengar suara-suara sinis yang membuatku ingin menutup telinga dengan kedua tangan.

“Eh, beneran, tuh? Cowok ganteng itu calon suami Bu Prita?”

“Bisa aja Bu Prita, ternyata seleranya brondong.”

“Ah, paling cuma pura-pura biar nggak dikejar Pak Radit. Drama banget, sumpah.”

"Dia bayar cowok ganteng buat pura-pura jadi calon suaminya itu berapa puluh juta, ya?"

Aku menggigit bibir, menahan diri agar nggak menoleh. Setiap kata mereka terasa seperti hujan jarum di punggungku.

Leo hanya membuka pintu mobil dan mempersilakanku masuk tanpa berkata sepatah kata pun. Nggak ada senyum hangat yang selalu muncul saat tatapan kami bertemu. Tapi, Leo tetap menjagaku dan memastikan aku duduk aman di mobilnya, lalu menutup pintu mobil.

Begitu pintu tertutup, dunia di luar seakan mereda. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam detak jantungku yang masih berantakan.

Leo masuk ke kursi kemudi, lalu menyalakan mesin tanpa bicara. Nggak ada musik, hanya suara halus mesin mobil yang terdengar.

Mobil mulai melaju meninggalkan halaman kantor. Jalanan sore itu dipenuhi motor karyawan dan kendaraan umum yang saling klakson. Aku menatap keluar jendela, melihat bayangan diriku sendiri di kaca. Wajahku terlihat pucat, mata merah, dan bibir gemetar.

Keheningan di dalam mobil terasa seperti tembok. Aku ingin bicara, tapi lidahku kelu. Kata-kata sinis dari karyawan tadi masih terus berputar di kepalaku.

Pelihara kucing, perawan tua, bayar brondong puluhan juta, semua itu menusuk lebih dalam daripada tatapan Raditya. Sekarang … Leo pun membuatku bingung. Apa yang dia pikirkan tentang semua ucapan itu?

Aku merasa bersalah. Bukan hanya karena menjadikan Leo tameng untuk menyelamatkan harga diriku di depan Raditya, tapi juga karena ucapanku mungkin membuat Leo ikut dihakimi. Leo terlalu baik untuk dijadikan alasan seperti ini. Aku yang jahat.

Aku meliriknya sekilas. Rahangnya masih tegang, sedangkan matanya lurus menatap jalan. Tangan kirinya menggenggam setir, sementara tangan kanannya sempat membuka kancing kemeja paling atas. Wajahnya terlihat dewasa di balik keheningan ini, berbeda dari kesan “anak kecil” yang sering kulihat.

Aku menunduk dan jemariku saling meremas. “Leo,” panggilku pelan.

Leo nggak langsung menoleh. Tapi, aku bisa merasakan perhatiannya tertuju padaku.

“Maaf.” Suaraku nyaris nggak terdengar. “Gue tadi … keterlaluan bilang lo calon suami di depan semua orang. Itu cuma spontan supaya Raditya berhenti .…” Susah banget menemukan kata-kata yang nggak membuat Leo semakin terluka.

Leo nggak menjawab, menoleh pun nggak. Dia hanya membiarkan kata-kataku menggantung di udara.

Aku memberanikan diri menatapnya. “Lo nggak marah, kan? Gue bener-bener minta maaf.” Diamnya justru membuatku semakin tersiksa.

Leo menghela napas. Senyum samar muncul di bibirnya, tapi bukan senyum mengejek. “Aku nggak marah, Mbak Prita,” katanya pelan, tapi mantap. “Aku malah seneng denger Mbak Prita bilang gitu. Jujur aja, aku harap ucapan Mbak Prita tadi bisa jadi kenyataan.”

Aku tertegun. “Leo .…” Suaraku tercekat. Aku nggak tahu harus bicara apa. Aku menatapnya, mencoba mencari tanda bercanda di matanya. Tapi, sorot mata itu serius, terlalu serius. Nggak ada tawa. Nggak ada ejekan.

“Aku serius, Mbak,” lanjutnya. “Dari dulu aku nggak pernah bercanda soal apa pun yang berhubungan sama Mbak Prita. Enam tahun lebih muda bukan berarti aku nggak tahu apa yang aku mau. Dan aku tahu … aku mau kamu, Mbak”

Jantungku seperti berhenti berdetak. Kata-katanya menancap di dadaku seperti panah. Aku menoleh lagi ke kaca jendela, mencoba mengalihkan pandangan. “Lo masih muda, Leo. Lo nggak ngerti apa yang lo omongin.”

“Aku ngerti,” potongnya cepat, tapi suaranya tetap tenang. “Aku udah nggak jadi anak kecil lagi, Mbak Prita. Mbak tahu sendiri gimana aku harus jadi orang yang kuat setelah Papi meninggal. Aku nggak main-main sama perasaan. Aku nggak mungkin bohong dan bikin perempuan yang aku suka terluka."

Aku menelan ludah, merasakan sesuatu bergetar di dadaku. Kata-katanya membuatku goyah. Tapi, bayangan Raditya yang menertawakan curhatanku dulu kembali menghantui.

Gimana kalau Leo juga cuma akan menertawakanku setelah ini, suatu hari nanti?

Aku menggenggam rokku erat-erat. “Leo, jangan ngomong gitu. Gue .…” Aku berhenti sejenak, menelan kalimat yang rasanya pahit. “Gue nggak bisa mikirin itu sekarang. Ayah sakit. Semua orang di kantor lihat gue kayak orang aneh. Lo nggak perlu ikut-ikutan jadi bahan gosip cuma karena gue spontan ngomong sesuatu.”

Leo melirikku sejenak. “Aku nggak peduli gosip, Mbak.”

“Lo nggak peduli sekarang. Tapi, nanti?” Suaraku meninggi tanpa sadar. “Lo masih muda, Leo! Umur lo baru 29 tahun. Lo punya masa depan panjang. Lo bisa dapetin cewek yang lebih cantik, lebih pinter, lebih segalanya dari gue. Lo nggak ngerti hidup gue .…”

Leo tersenyum tipis. “Mbak Prita, aku ngerti lebih banyak daripada yang Mbak kira. Aku lihat Mbak Prita tiap kali jagain Ayah. Aku tahu sebanyak apa pengorbanan yang udah Mbak lakukan buat keluarga. Aku juga lihat gimana Mbak tahan semua omongan orang yang jahat tentang Mbak. Mbak itu kuat, tapi selalu berjuang sendirian. Kalau aku boleh jadi orang yang ada di samping Mbak, aku mau.”

Dadaku terasa sesak. Aku ingin menangis, tapi aku tahan. Rasanya semua kata Leo membuatku semakin bingung.

Bagaimana mungkin ada orang yang bilang hal seperti itu dengan wajah setenang dia?

Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah sakit. Leo turun lebih dulu, lalu membuka pintu untukku seperti biasa. “Aku antar sampai ke ICU,” katanya singkat.

Aku mengangguk pelan. Jalan menuju ICU terasa lebih panjang malam ini. Cahaya putih dari lampu lorong terlalu terang, membuat kepalaku pusing. Aku bisa mendengar suara langkah kami berdua menggema.

Di depan pintu ICU, aku berhenti. “Leo ….” Aku menatapnya dengan mata yang penuh rasa campur aduk. “Gue beneran minta maaf soal tadi. Jangan anggap serius, ya!”

Leo menatapku lama, matanya dalam. Senyumnya akhirnya muncul, seperti biasa terasa hangat dan menyenangkan. “Sayangnya, aku memang anggap serius, Mbak. Ucapan Mbak Prita tadi nggak bikin aku malu, malah bikin aku yakin kalau aku nggak salah pilih orang." Dia mengangkat kedua alisnya. "Aku boleh anggap Mbak Prita juga punya perasaan yang sama kayak aku, kan?"

Aku tercekat. “Leo ….”

“Aku nggak maksa Mbak jawab apa-apa sekarang. Tapi, aku nggak akan pura-pura nggak punya perasaan. Mbak bisa marah, bisa nolak, tapi aku nggak bohongin diriku sendiri.”

Aku mundur satu langkah. Dadaku berdebar nggak karuan. Rasanya aku ingin lari. Aku harus segera menjauh dari Leo. “Gue … masuk dulu, ya,” ucapku cepat, lalu berjalan menuju ruang tunggu tanpa menoleh lagi.

Aku duduk di kursi tunggu ICU dengan kepala menunduk. Napasku masih tersengal, seolah baru saja habis lari marathon, padahal cuma berjalan cepat nggak lebih dari satu kilometer saja.

Kata-kata Leo terus berputar di kepalaku, seperti kupu-kupu yang tersesat di taman bunga. Kata-kata itu terasa asing dan menakutkan. Tapi, di sisi lain … ada bagian kecil di dalam hatiku yang hangat setiap kali mengingatnya.

Tiba-tiba saja, aku mengingat semua pembicaraan dengan Ibu beberapa hari lalu. Saat itu, Ibu terus menanyakan pendapatku tentang Leo. Aku bukan orang bodoh yang nggak tahu maksud Ibu. Tapi, aku juga orang yang jago dalam meremehkan diri sendiri.

Mana mungkin Leo jatuh cinta pada wanita tua seperti aku? Pasti dia cuma bercanda, seperti yang Raditya lakukan. Besok, dia akan bersikap menyebalkan atau paling nggak, akan berpura-pura lupa dengan semua kejadian hari ini.

Aku menggeleng cepat. Nggak! Aku nggak boleh membiarkan semua ini terjadi sesuai rencananya. Aku nggak boleh jatuh pada kata-kata manis Leo. Ini semua cuma karena aku sedang rapuh.

Tapi, semakin aku menepis pikiran itu, semakin jelas wajah Leo muncul di kepalaku. Aku terus mengingat sorot mata serius yang nggak pernah kulihat sebelumnya.

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!