Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Tamu khusus
Selepas pulang bekerja, Adrian menuju ke rumah orang tuanya, jarak rumah Adrian dan kantornya kurang lebih memakan waktu satu jam perjalanan.
Mendadak hatinya menjadi gundah gulana saat dia membelokkan mobilnya ke halaman rumah masa kecilnya yang cukup mewah dan megah tersebut.
Ada kejutan apa sebenarnya yang orang tuanya siapkan untuk dia? Jarang-Jarang Mama seperti ini, untuk meminta Adrian ke rumah utama.
Dia turun dari dalam mobil dan menyeret langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Orang yang pertama kali dia cari tentunya adalah Sang Mama.
"Ma, bagaimana kabar Mama?" tanya Adrian sambil memeluk Ibu kandungnya yang sedang sibuk berhias diri di depan cermin dari belakang.
"Mama baik-baik saja, Nak," jawab Mamanya.
"Lebih baik kamu mandi dulu dan berganti baju. Setengah jam lagi kejutan untukmu akan datang," lanjut Mamanya lagi.
Adrian mengernyitkan dahinya, dia meletakkan satu tangannya di pinggang.
"Memang kejutan apa sich, Ma?" tanya Adrian penasaran. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak sejak Mama memintanya untuk datang.
"Kalau Mama kasih tahu, namanya bukan kejutan dong, Nak." Jawaban Mama tidak menjawab rasa penasaran Adrian.
Tapi percuma kalau dia terus mendesak. Mama pasti tidak akan mau memberi tahu. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah bersabar sampai waktunya tiba.
"Kalau begitu baiklah pergi mandi dulu, aku tinggal ke kamar dulu ya mama sayang," pamit Adrian sambil mengecup kening mamanya.
Adrian memang tidak tinggal menetap di satu tempat, terkadang dia tidur di rumah orang tuanya, tapi ia lebih suka menghabiskan waktu sendiri di apartemen yang saat ini di tinggalinya bersama Ivanka.
Adrian masuk ke dalam kamar, dia rebahkan tubuhnya sejenak di atas spring bed dengan bed cover berwarna biru yang ada di kamarnya.
Adrian menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangan, dia menatap langit-langit kamar, sesaat bayangan wajah cantik Ivanka muncul dalam benaknya.
Betapa anggun dan menawannya wanita itu saat tersenyum, namun Adrian menjadi galau saat dia ingat tentang perasaan Ivanka pada Leon.
Padahal sejujurnya dia berharap bisa kembali pada mantan kekasihnya tersebut.
"Harapanku belum pupus, aku masih bisa merebut kembali hati Ivanka dari Leon Maleva. Dia dulu pernah mencintaiku, jadi aku pun bisa membuatnya kembali mencintaiku," gumam Adrian.
Setelah lama bermanja-manja dengan kasur empuk yang sudah entah berapa lama ia tinggalkan, Adrian beranjak untuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dia mengguyur tubuhnya di bawah shower yang sedang menyala untuk menghilangkan keringat yang melekat di kulit putihnya karena seharian bekerja.
Air hangat yang mengucur dari shower seakan bisa menghilangkan rasa lelahnya sejenak dan mampu memberi rasa rileks, kini tubuh tegapnya Adrian menjadi lebih fresh dari pada sebelumnya.
Adrian memakai kaos sport biasa dan celana jeans panjang, melihat penampilan anaknya ini mama Arsyila alias Mama Kandung Adrian menjadi tidak suka. Menurutnya gaya busana anaknya ini tidak cocok untuk menyambut tamu spesial yang akan menjadi suprise untuk Adrian.
"Ganti bajumu dengan yang lebih rapi, Sayang!" perintah Mama Syila.
"Ini juga sudah rapi, Ma," bantah Adrian.
"Pakai setelan yang lebih formal, Sayang! Mama sudah menyiapkan satu stell baju untuk kamu pakai di lemari kamu," kata Mama Syila.
Adrian tidak mau banyak membantah. Dia tahu benar jika Ibunya ini tidak bisa ditolak. Tanpa banyak berdebat, dia langsung mengganti bajunya dengan setelan yang disiapkan Mama Syila. Satu stelan jas, kemeja, celana panjang serta dasi dengan warna yang senada. Penampilannya ini membuat Adrian terlihat sangat tampan.
"Nah, begini kan ganteng anak Mama," puji mama Syila.
Tidak lama berselang, suara bel pintu membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Bersamaan dengan itu, datang pula Tuan Fadli, Papa kandung Adrian yang terlihat menuruni tangga rumah mereka dengan pakaian yang sudah rapi juga.
Asissten membukakan pintu tanpa diperintah terlebih dulu dan Mama Syila mengajak kedua lelaki yang paling beliau cintai tersebut untuk duduk di ruang keluarga.
"Sebenarnya siapa yang datang sich? Apa ini yang Mama maksud dengan surprise?" Pikir Adrian dalam hati.
Sampai di ruang keluarga, Adrian duduk di tengah di antara Mama dan Papanya. Lelaki itu menyibukkan diri dengan gadget yang ada di tangannya. Dia mengirim pesan pada Ivanka dan memastikan bahwa wanita itu dalam keadaan aman baik-baik saja.
Lalu terdengar suara heels sepatu berbenturan di lantai. Dan bisa di pastikan itu lebih dari satu orang. Adrian mendengar pula ada suara seorang wanita sedang berbincang dengan seorang lelaki. Namun dia tidak bergeming, dia masih asyik bertukar pesan dengan Ivanka. Sampai akhirnya, tiga orang yang sudah tidak asing untuk keluarga Adrian masuk ke dalam ruang keluarga. Mama dan Papa langsung berdiri untuk menyambut mereka. Namun Adrian masih tetap pada posisinya. Dia seolah tidak tertarik dengan apapun selain Ivanka.
"Selamat malam, Mas, Mbak," sapa Mama Syila kemudian memeluk dan mencium seorang wanita paruh baya yang tadi disapanya dengan sebutan 'Mbak'.
Sedangkan Papa Fadli, beliau menyapa dan memeluk seorang lelaki yang usianya terpaut lima tahun lebih tua yang datang bersama istrinya itu dengan akrab.
"Adrian, berdiri dulu!" tegur Mama Syila dengan suara yang pelan.
Beliau menarik lengan Adrian dengan kedua tangan memaksa anak lelakinya itu untuk beranjak.
"Malam, Om, Tante," sapa Adrian dengan seulas senyum yang terkembang dari kedua sudut bibirnya.
Tamu yang datang adalah Tuan Aries dan Nyonya Chiara istrinya, mereka tidak hanya berdua namun ada juga anak wanita mereka yang bernama Shakila. Tuan Aries adalah rekan bisnis Papa Fadli. Sedangkan Shakila adalah teman masa kecil Adrian.
Shakila melempar senyum pada Adrian dan menatap wajah tampan Adrian dengan penuh kagum. Adrian membalas senyum Shakila dengan simpul kemudian kembali sibuk dengan gadgednya.
Mereka kini duduk di sofa empuk yang tersedia di ruangan itu. Kedua orang tua Shakila dan Adrian terlihat sangat akrab. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Sedangkan Shakila hanya diam menatap Adrian yang cuek-cuek saja dengan kehadirannya di sini. Padahal wanita itu sudah berpenampilan semenarik mungkin.
Dia memakai dress panjang bewarna merah maroon dengan belahan gaun yang tinggi hingga ke paha. Sungguh seksi dipadu padankan dengan polesan make up yang diaplikasikan pada wajah cantik Shakila.
"Kenapa Adrian seperti sangat dingin kepadaku? Apakah dia tidak tahu kalau kedatangan kami malam ini karena undangan orang tuanya ... huh sangat menyebalkan," gumam Shakila dalam hati.
Sedangkan Adrian hanya cuek karena sejujurnya ia belum mengerti untuk apa Shakila dan keluarganya datang ke rumah sekarang ini.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa buat like, komen, dan vote setelah membaca ya.
Happy reading ya guys.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭