NovelToon NovelToon
Miss Truth

Miss Truth

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: HANA NH. asuna

UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.

Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.

Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.

Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. ANDA BUKAN SEORANG DOKTER!

Berada di depan ruangan itu, bagaikan di neraka. Hatinya berdegup kencang atas banyak alasan. Ia ingin sesegara mungkin pergi dari tempat itu, namun, kakinya serasa dipaku untuk tetap berada di titik itu. Ingin mendengar kelanjutan pembicaraan mereka, tetapi pikirannya sudah terlalu lelah.

Bagaikan malaikat, dr. Hadji Ibrahim, atau abang iparnya berlari ke arahnya. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan membanting setirnya ke rumah sakit itu, karena mendengar berita duka atas meninggalnya mertuanya.

Kakinya berlari bak zebra, menerjang semua keringat yang menetes di jas dokternya yang putih. Ibrahim menghampiri adik iparnya, Ziva dan Sulthan. Nafasnya terengah-engah, sembari ingin mengatakan sesuatu tetapi dihalang lelah.

“Anu, hah. Mana, umi?” nafasnya masih belum teratur, tetapi ia tetap berbicara.

“Umi, udah... pergi.” Ziva menggigiti bibirnya, menghela nafasnya, mengalihkan pandangannya ke segala arah. Ia tak mau, abang iparnya melihat matanya berkaca-kaca.

“Tidak mungkin,” gumam Ibrahim pelan, matanya melotot. Mencoba mengalihkan pandangannya ke Sulthan, tuk membuktikan kebenaran.

Ibrahim berlari, langkahnya yang tergesa-gesa dan reaksinya yang membantah telah menyatakan ada yang tidak benar.

Kedua kurcaci itu terus mengintilinya dari belakang, ingin mengetahui maksud jelas dari bantahan Ibrahim yang sedikit tidak mendasar.

“Kenapa, Bang?” dengan lari kecilnya, Ziva berusaha mengerti bantahan dari Ibrahim. Tapi tetap saja, otaknya yang lelah tak bekerja.

Ibrahim membalikkan tubuhnya, menatap 4 bola mata sayu di depannya. Ia tak yakin ingin mengatakan hal ini pada kedua bocah itu. Mereka terlalu emosional, pikirnya.

Ia tak mempermasalahkan keemosionalan dari Sulthan dan Ziva, karena hal itu cukup wajar bagi seseorang yang kehilangan. Tak mau membuang waktu, ia mendecakkan lidahnya.

“Seharusnya ini gak terjadi. Karena, umi masih stadium satu.” Ibrahim mengusap dahi hingga rambutnya. Matanya tampak menyesal menjelaskan hal rumit ini pada anak-anak dibawah 20 tahun.

Mata Ziva menyorot tajam, alisnya sedikit berkerut. Ia tahu kemana pembicaraan Ibrahim akan beralih. Sulthan juga sama, reaksi mereka tak bisa dibedakan. Sama persis. Mereka berdua tak mencoba untuk membuka mulut, hanya bungkam dan menunggu kelanjutan Ibrahim untuk bersikap.

Mata Ibrahim memelas menatap kedua bocah itu, bibirnya berdecak kembali. Ia sungguh menyesal karena telah simpati pada sikap emosional kedua bocah belantara itu.

Ia membalikkan tubuhnya, kembali melangkah dengan cepat, berlari sekencang mungkin dan meninggalkan bocah itu mematung.

Ibrahim berada di depan ruangan operasi. Menerobos masuk tanpa permisi dan tentu saja kehadirannya sungguh asing bagi para perawat yang tak mengenalnya.

“Maaf, Pak. Bapak siapa? Dilarang memasuki area ini, Pak.” Ia sungguh dilarang. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar.

“Kalian ingin dipecat? Saya, dr. Hadji Ibrahim. Anak dari pimpinan kalian.” Ucapnya dengan bangga. Ia tak lupa mengeluarkan kartu namanya yang tertulis nama dan tempatnya bekerja.

“A..apa? maaf, Pak. Tapi, bukankah bapak bekerja di luar daerah? Apa keperluan bapak kesini?” perawat itu kikuk. Tetapi kesombongannya tak kalah main.

“Saya perlu sedikit nepotisme.” Ha, Ibrahim dengan bangganya mengatakan sifat buruk itu. Nepotisme. Ternyata ia sungguh yakin dengan yang dipercayainya.

Dengan mudah, Ibrahim kini memandangan datar gambaran MRT scan dari payudara ibu. Dan benar dugaan awalnya, ibu dibunuh. Tumor ganas di dada ibu belum menyebar, seperti 2 minggu lalu ketika ia menemani ibu untuk diperiksa.

Tangannya mengepal. Telinganya sangat panas ketika melihat hasil pindaian sebelum dan sesudah ibu dioperasi. Ibu benar-benar dibunuh. Pembuluh darahnya dipotong dengan kasar. Hatinya sangat panas.

“Siapa yang mengoperasinya? Panggil dokter busuk itu sekarang juga!!!” Ibrahim sangat marah. Ia tak pernah semarah itu. Urat-uratnya menonjol akibat kemarahannya.

“Ba-baik, Pak.”

Ibrahim menunggu kedatangan dokter busuk yang telah membunuh ibu itu. Ia sangat murka. Ibu adalah wanita paling lembut di dunia setelah ibunya. Ia sungguh menyayangi ibu.

“Ada apa, Dokter Ibrahim?” seorang perempuan dengan jas putihnya berjalan dengan sedikit canggung. Tampak dari keringatnya yang mulai turun di kerah jasnya, ia sedang berusaha untuk tenang.

Ibrahim membalikkan tubuhnya, menatap fenomena wajah dari dokter busuk yang telah membunuh ibu. Itu, Kristi. Mata Ibrahim sedikit melotot. Sebelum bertanya pada kedua bocah adik iparnya tadi, ia sempat menatap Kristi dan seorang lagi, namun hanya punggung dari dokter satu lagi.

Ia tak bisa bersimpati, amarahnya sedang ditahannya di dalam kalbunya. Ibrahim mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya dan di satukannya. Matanya menatap sinis agar membuat Kristi salah tingkah dan kikuk.

“Anda pasti tahu kesalahan Anda.” Ibrahim tak ingin menuduh. Jadi ia hanya memancing.

Dan benar, Ibrahim baru saja menggertaknya, namun air matanya sudah mengalir deras bak air terjun. Ia memohon di kaki Ibrahim.

“Ma-maafkan saya, Dokter. Saya, saya terpaksa. Saya, saya harus... harus mendapatkan donor jantung itu. Kalau tidak... kalau tidak... putri saya, bisa meninggal... hiks...” Ibrahim menatapnya hina sekali. Ia benci dengan Kristi yang egois.

“Anda bukan seorang dokter. Anda tahu?” tatapan Ibrahim kini seperti ingin menyincang Kristi lalu di masukkan ke dalam koper, kemudian dibuang ke laut pasifik.

“Saya tahu. Saya... saya sangat tahu. Tapi... saya tidak ingin kehilangan putri saya.”

“Lalu, bagaimana dengan ketiga putri yang nyawa ibunya anda renggut? Tidak merasa bersalahkan anda dengan keegoisan anda?!” Ibrahim menaikkan nada bicaranya. Ia sangat membenci perempuan egois di hadapannya.

“Hiks, maafkan saya. Saya sangat terpaksa. Jika saya tidak melakukan ini, putri saya akan meninggal. Saya terpaksa, jika saya tidak melakukan ini maka orang itu akan...” perempuan egois bernama Kristi itu bungkam. Ia menutup mulutnya. Matanya membulat sempurna. Tampaknya ia telah membocorkan sesuatu.

“Lanjutkan!” titah Ibrahim padanya.

“Hah, tidak. Bukan apa-apa, Dokter.”

“Lanjutkan kataku!!!” teriakan kencang Ibrahim terus saja bergema di dalam ruangan itu.

“Hah! Orang itu... orang itu akan membunuh... putri saya.”

“Siapa orang itu?” mata Ibrahim merah menyala. Kemarahannya sudah sampai di puncak atas.

“Dr. Agi!”

...***...

Mobil bermerk sedan putih sedang melaju pelan di atas jalan tol yang sudah dipadati kendaraan mumpung di akhir tahun. Seorang perempuan berkaca mata lebar dan berambut sedada yang hitam legam dan ikal sedang mengendarai mobilnya sembari bersenandung.

Ia tersenyum dengan sinis. Perempuan itu, adalah perempuan yang berbicara pada Kristi. Inilah dr. Agi yang disebutkan oleh Kristi. Ia tersenyum seperti mempermainkan Kristi dengan bodohnya.

Handphonenya berdering, ia menganggkatnya tanpa pikir panjang. Sekalian menunggu kemacetan ini mereda, pikirnya.

“Halo? Ada apa lagi, Linda?” itu Linda.

“Mama, maaf aku gagal. Tolong, beri aku kesempatan lagi!”

Dr. Agi alias mama itu tersenyum, “Terlambat, Sayang. Mama sudah bertindak. Kamu akan dibuang sebentar lagi.”

“Ma, tolong jangan! Jangan buang aku, Ma. Tolong beri aku kesempatan sampai tanggal itu tiba,”

“Tanggal itu? Oh, tanggal itu. Hm, okelah. Tapi, bila saat itu kamu masih tidak berguna, maka siap-siaplah kembali ke dunia busuk mu!” ancaman mama alias dr. Agi sangat menggelitik kuduknya.

Mama alias dr. Agi itu meletakkan handphonenya ke kursi di sebelahnya. Mencampakkan bagai sangat benci dan hina.

“Tinggal selangkah lagi, agar bisa aku menyelesaikan balas dendam ini. Terutama pada si perusak dan anaknya, tunggu kalian. Aku akan buat kalian merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan.”

...***...

Klak...

Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Tampaklah sosok lelaki berjas dokter yang tinggi dan putih. Wajahnya sangat kecewa dan sendu. Ia tampak bingung namun tak bisa menolak untuk tak percaya.

Ia melangkahkan kakinya dan langsung disambut oleh dua bocah emosional itu atau Sulthan dan Ziva, istrinya Kania Azzahra, kakak iparnya Alya Humairoh dan Mehmed Ikhsan. Wajahnya terlihat sangat lelah. Seribu satu yang sudah ada di benak Ziva dan yang lain langsung buyar seketika melihat wajah lelah Ibrahim.

Ibrahim menatap mata istrinya, Kania Azzahra yang berkaca-kaca. Seperti ia sudah tahu apa yang dipermasalahkan oleh Ibrahim di dalam ruangan itu.

“Ayo kita lapor polisi!” seru Ibrahim.

“Hah?” mereka semua kompak. Mulut yang ternganga dan wajah linglung mereka sama persis.

“Ya, ayo kita lapor polis...” kata-katanya belum selesai, namun dipotong oleh suara laki-laki bersuara sangar dan tegas.

Ibrahim menoleh ke samping kanannya, dan ia melihat seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahun-an dan juga ada seorang perempuan berhijab. Mereka berdua menggunakan jas dokter mereka.

“Ibrahim! Ada apa ini?” teriak lelaki itu sembari berjalan cepat, hampir seperti berlari.

“Ayah!” Ibrahim tak menyangka, keributan kecil yang disebabkannya bisa sampai di telinga direktur rumah sakit itu, ayahnya.

“Ibrahim, apa kabar, Nak?” tanya perempuan berhijab di sebelah ayah Ibrahim.

“Ibrahim baik, Ibu. Bu, tolong beri keadilan untuk umi, Bu. Ia dibunuh!” semua orang terkejut. Mata mereka sontak menajam.

“Apa!” ibu dan ayah Ibrahim pun tak bisa berkutik lagi. Mereka selalu mengenal Ibrahim sebagai seseorang yang rasional. Ia tak pernah berkata bohong.

“Siapa yang melakukannya?” ayah mulai membela anak bungsunya, Ibrahim.

“Dr. Kristiany. Namun, ia melakukannya dalam ancaman dokter bernama Agi. Bisakah ayah memanggil dokter itu?”

Ayah sedikit berfikir, karena tidak ada yang namanya Agi di dalam rumah sakit itu.

“Tidak ada dokter yang bernama Agi di rumah sakit ini.” Ayah mulai ragu.

“Tidak mungkin!”

“Panggil dokter Kristi kesini!” ucap ayah pada salah satu perawat.

“Baik, Direktur!” ucap perawat itu.

Baru selangkah perawat itu melangkah, hendak membuka pintu, dr. Kristi sudah menunjukkan batang hidungnya. Ia tak ingin HAM-nya terabaikan.

“Saya tidak ingin menyela, namun memang itulah kebenarannya, Direktur. Orang yang mengancam saya tadi malam adalah dokter Agi. Saya juga tidak pernah melihatnya disini. Tapi, setelah saya menatap matanya, saya langsung percaya padanya. Saya seperti tersihir oleh sesuatu.” Tentu saja, tidak ada seorang pun yang akan percaya kata-katanya.

...***...

1
HANA.NH
up lagi setelah sekian lamanya
Yoanita_Situmorang
ditunggu kelanjutannya thor🔥
HANA.NH: iya, kak. makasih, sudah terus menunggu.
total 1 replies
Bang Regar
👍
R.F
2 like hadir. cemungut. like balik yw
MayaTika Channel
Terima Kasih Thor sudah menghibur . Adem bacanya kalo suami istri sama" saling ngerti gtu 🥺
HANA.NH: Ulu-ulu, maacih banyak komennya, kak. Seger bener kek abis minum extra jos👍👍
total 1 replies
Komah Xyamat
semoga ziva sama sultan bisa dipersatukan kembali dan bahagia. 😁😀 lanjut kaka aku tungguin nih jangan lama2 kaka semangaka (semangat kaka)
HANA.NH: aamin kk
total 1 replies
Ipah Cakep
penyelidikan di mulai
HANA.NH: eheee....😁
total 1 replies
Ipah Cakep
wajan siapa sih Thor? pa pernah suka ama ziva?
Ipah Cakep: kok bisa baek bgt?
total 3 replies
R.F
semangat kaka.like. like balik ya
HANA.NH: makasih kkk, Hana comeback ya
total 1 replies
Heni Lestari
hai salam kenal aku Heni lestari mapir juga ya kak ke novel ku kisah cintaku dengan adik kelas ku aku juga dah like kak sampai 6 back y author 😂
Ipah Cakep
auto mewek 🤧😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
wajan?
Ipah Cakep
astaghfirulloh.. kaget
Ipah Cakep
Kaya itu hati yg tulus
Navizaa
lanjutt kak
HANA.NH: iya kk, makasih❤❤❤
total 1 replies
Susi Ana
like, mampir ya
HANA.NH: iya kk, Hana mampir ya
total 1 replies
R.F
semangat up.like like balik ya
HANA.NH: iya kkk, Hana mampir Ya... makasih karena udah mampir
total 1 replies
Ipah Cakep
Alhamdulillah
Ipah Cakep
Sahabat selamanya 🥰🥰🥰
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim 🥵🥶🤧🤒🤕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!