Rebbeca Alisia, atau yang akrab disapa Becca, adalah gadis berbadan besar yang sering menjadi sasaran ejekan teman-temannya di sekolah. Dia adalah kekasih tersembunyi dari Leonardo, siswa populer di sekolahnya yang biasa dipanggil Leon. Pria playboy dengan banyak pesona ini, harus berpacaran dengan Becca selama sisa masa sekolah mereka, satu setengah tahun, hanya karena kalah dalam taruhan yang dia dan tiga sahabatnya lakukan.
Apakah Becca bisa bertahan dalam hubungan dengan Leon, yang hanya menganggapnya sebagai gadis simpanan, Ataukah dia akan memilih untuk pergi, meninggalkan Leon dan semua kesedihan yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aufaerni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JUSTIN DAN LEON BERTENGKAR
Salma dan Rebecca sedang duduk bersama di kantin, menikmati makanan yang mereka pesan sebelumnya. Mereka asyik mencicipi hidangan-hidangan tersebut dan saling berbagi pendapat tentang rasanya.
"Menurut lo, bakso punya Mang Agus enak, gak?" tanya Salma sambil menyuap makanan di mulutnya.
"Sejauh ini, enak, Salma. Aku baru mencicipi bakso Mang Agus dan belum mencoba bakso dari tempat lain," jawab Rebecca dengan jujurnya.
"Serius?" tanya Salma sedikit terkejut.
Rebecca mengangguk pelan, tidak berbohong. Selama tinggal dengan Ayahnya, dia belum pernah merasakan makanan enak seperti ini.
"Tenang aja, nanti gue bakal ajak lo wisata kuliner!" ucap Salma sambil mengusap pundak sahabatnya.
Rebecca merasa terenyuh mendengarnya. Hampir saja dia kehilangan masa-masa remajanya, tetapi Salma hadir untuk membawanya pergi dan memulai mengeksplor kehidupan luar yang sepertinya menyenangkan.
"Wisata kuliner itu semacam tempat orang jualan makanankan Salma?" tanya Rebecca dengan polosnya.
"Iya, pasti lo bakal suka! gue bakal mengajak lo mencicipi makan-makanan yang enak, supaya lo bisa mengetahui berbagai cita rasa makanan," jawab Salma penuh antusias.
Salma sungguh menyayangi Rebecca, sahabat pertamanya di sekolah. Sejak insiden satu tahun yang lalu, Salma tidak pernah dekat dengan siapapun di sekolah, tapi Rebecca telah mengubah semuanya.
"Terimakasih Salma, kamu mau menjadi sahabat aku." ucap Rebecca dengan mata yang berkaca-kaca.
Salma menatap sahabatnya itu, lalu tanpa rasa canggung Salma memeluk tubuh Rebecca dengan penuh kasih sayang. Dia berharap Rebecca akan terus menjadi sahabatnya sampai kapanpun itu.
Leon dan ketiga sahabatnya sedang bersenda gurau di pinggir lapangan. Mereka sedang menggoda Nathan yang sepertinya sedang ditaksir oleh seorang adik kelas.
"Ya elah, Nath, sikat aja lah. Jangan terlalu mikir," celetuk Daniel sambil tertawa mengejek.
Nathan merasa kesal dan menjawab, "Enggak, ogah gue pacaran sama yang modelan kaya si Becca!"
Fano mengingatkan dengan bijak, "Kita gak boleh ngejek ciptaan Tuhan, Nath. Kita semua diciptakan dengan keunikan masing-masing."
"Tuh dengerin Stefano Teguh ngomong," sahut Leon mengejek Nathan.
Leon lalu tertawa melihat Nathan yang terlihat begitu kesal karena telah diingatkan oleh Fano, dan Nathan pun menyadari bahwa Leon tengah mengejeknya.
"Apaan sih, kenapa lo ketawa? Gue enggak mau jadi kayak lo!" ucap Nathan semakin kesal.
Leon tidak terlalu memperdulikan ucapan sahabatnya. Dia diam saja, tanpa mengelak atau mengatakan apapun.
BRAK!
Secara tiba-tiba, Justin datang dan menyerang Leon yang sedang bercengkrama. Justin memukul Leon dengan penuh kemarahan, tapi Leon tidak tinggal diam dan membalas serangan dengan emosi yang sama.
"Woy! Lepaskan Leon, Justin!" teriak Nathan sambil mencoba memisahkan mereka.
"Justin, lo lagi kerasukan setan apa sih?!" umpat Daniel dengan rasa kesal.
Fano juga ikut mencoba memisahkan kedua orang tersebut. Dia berusaha menjauhkan Leon dari Justin yang sedang tidak terkendali.
"Panggil Pak Steve!" teriak Fano kepada seorang siswa yang sedang menyaksikan kejadian tersebut.
Dua orang siswa segera berlari pergi mendatangi Pak Steve yang merupakan guru ke siswaan mereka.
"Apa yang lo mau, huh?!" teriak Leon dengan rasa kesal yang memuncak.
"Lepasin Rebecca, gue gak sudi dia sama lo bajingan?!"
"Bukan urusan lo, sialan ngatur-ngatur gue!! Jangan pernah mencampuri apa pun yang sedang gue lakukan!" jawab Leon dengan marah.
"Lo laki-laki bajingan Leon! lo telah menyakiti dia?!" umpat Justin dengan amarah yang memuncak.
Leon berusaha melepaskan diri, ingin memberontak, tetapi Fano dan Daniel menghadangnya. Sementara itu, Nathan dibantu oleh salah satu siswa pun menahan Justin yang juga berusaha melepaskan diri.
"LEOOOONNNN!!! JUSSSSTTTIIINNN!!" teriak Pak Steve dari kejauhan.
Dengan wajah yang penuh kemarahan, Pak Steve mendekati kedua lelaki yang baru saja terlibat dalam perkelahian.
"Kalian berdua, ikut saya ke ruang Bimbingan Konseling!" ucap Pak Steve dengan tegas sambil menatap tajam kedua orang tersebut.
Leon melepaskan diri dari kedua sahabatnya dan berjalan lebih dulu, diikuti oleh Justin di belakangnya.
Justin menatap punggung Leon dengan rasa marah yang memuncak. Meskipun dia bisa bertemu dengan Rebecca, tapi tidak akan semudah itu karena Leon selalu mengawasi gadis malang tersebut. Bahkan jika Leon tidak bisa menjemput, Justin akan mengutus salah satu sahabatnya untuk menjemput Rebecca, sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk berbicara dengan gadis itu.
Tiba di ruang BK, Justin dan Leon duduk dengan jarak yang jauh, sambil sesekali saling menatap dengan sinis.
"Ceritakan kronologinya bagaimana!" ucap Pak Steve yang duduk di hadapan mereka.
"Tanyakan saja kepadanya, Pak. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, langsung diserang oleh dia!" jawab Leon menunjuk Justin yang duduk disampingnya.
"Dia membawa Rebecca pergi, dia membawa Rebecca dan tidak pulang-pulang Pak!" ucap Justin dengan nada marah.
Pak Steve merasa bingung dengan kedua siswa di hadapannya, "Kalian bertengkar karena anak D.O itu?" tanya Pak Steve tanpa menyangka.
"Dia yang membuat keributan, bukan saya!" sahut Leon.
"Lo udah membuatnya menderita, sialan!" umpat Justin yang mulai terpancing emosi.
Brak!!
Pak Steve memukul meja, karena sedari tadi Justin maupun Leon sama-sama tidak bisa menenangkan diri.
"Justin, jangan mengumpat!" peringat Pak Steve.
Leon melirik Justin sambil tersenyum mengejek, merasa senang melihat Pak Steve memarahi Justin.
"Saya tidak akan membela siapa pun di sini, saya menganggap kalian berdua bersalah. Justin, kamu anak baru, sudah dua kali membuat kesalahan. Jika Ibu Dian mengetahuinya, kamu akan menghadapi konsekuensi yang sama dengan gadis yang melakukan tindakan tidak senonoh denganmu. Dan Leon, saya tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan. Tapi jika yang dikatakan Justin benar, tolong antarkan gadis itu pulang dan bertemu dengan keluarganya. Siapa tahu orangtuanya sedang merasa cemas tentang gadis itu," ucap Pak Steve memberikan nasihat kepada kedua siswa di hadapannya.
"Walaupun dia kembali, tidak ada yang peduli padanya, Pak," sahut Leon dengan nada datar.
Lelaki itu berdiri dan meninggalkan Justin dan Pak Steve. Justin ingin menyusul, tetapi Pak Steve melarangnya.
"Tetaplah di sini! jangan menyusulnya nanti kalian bertengkar kembali."
Leon pergi ke kelas dengan perasaan kesal. Lelaki itu sangat ingin menghajar Justin hingga membuatnya tak bisa berbicara.
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Fano saat melihat Leon duduk di sampingnya.
"Dia memukul gue begitu saja, apa lo pikir gue baik-baik aja?" ucap Leon kesal.
"Mungkin sebaiknya lo pergi ke UKS, pipi lo memar tuh," saran Daniel menujuk pipi Leon yang lebam.
"Gak perlu!" tolak Leon.
Gisel datang dengan terburu-buru, dia sangat khawatir tentang keadaan kekasihnya yang baru saja terlibat dalam perkelahian. Gadis itu ingin menyusulnya, tapi dia baru saja keluar untuk istirahat.
"Leon, apa yang terjadi padamu?" tanya Gisel dengan cemas.
"Biasalah, Gisel. Anak laki-laki harus berkelahi," ucap Nathan sembari tertawa dan memperagakan gaya bertinju.
Gisel melirik Nathan dengan kesal. Dia sangat khawatir tentang kekasihnya, tetapi Nathan malah bercanda.
"Gue gak tanya sama lo!" sahut Gisel dengan ketusnya.
Fano dan Daniel tertawa sambil mengejek, sedangkan Nathan kesal karena Gisel menjawabnya dengan ketus.
"Mampus lo!" ejek Fano.
"Sialan!" gerutu Nathan.
"Tidak apa-apa, sayang. Ini hanya perkelahian kecil," jawab Leon sambil tersenyum manis pada kekasihnya.
"Apa benar tentang gosip itu?" tanya Gisel dengan ekspresi ragu.
Leon menggelengkan kepalanya dan membantah, "Itu hanya omong kosong dari Justin. Aku tidak mungkin melarikan gadis itu." elak Leon menyakinkan kekasihnya.
"Apakah benar?" tanya Gisel mencoba memastikan.
"Tentu, jika tidak percaya, tanyakan saja pada teman-temanku," ucap Leon menunjuk sahabatnya.
"Iya, benar. Gisel, tidak mungkin Leon menyukai apa lagi sampai membawa Rebecca kabur," sahut Daniel dengan penuh keyakinan.
"Syukurlah, aku sangat khawatir bahwa kamu akan membohongiku, Leon," ucap Gisel yang sebelumnya merasa kesal dengan gosip yang baru saja didengarnya.
"Gak akan, sayang. Percayalah padaku," jawab Leon sambil memeluk Gisel tanpa rasa malu, meskipun dilihat oleh teman-temannya di kelas.
"Heemm, ngontrak deh semuanya." cibir Nathan.
mampus... itu baru peringatan loh buat loe nathan.
tunggu pembalasan berikut karmanya ya.
oh si leon juga tunggu jatah loe.😈😈😈
iblis banget ya so nathan itu.
lagi nunggu karma untuk orang2 yg udah jahatin rebecca thor