Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beaufort Yang Berbahaya (1 of 2)
“Pak Andra, saya boleh ikut ke Kantor Bapak di Beaufort?” tanya Asmara saat Andra keluar ruangannya untuk bersiap-siap berangkat.
“Ikut saya? untuk apa?”
“Kata Pak Seven, terlalu banyak dokumen yang tidak selayaknya di publikasi atau di kirim lewat email, jadi saya harus ambil sendiri.”
“Kalau begitu butuh surat kuasa dong?”
“Sudah saya siapkan dengan materai dan cap perusahaan, juga tanda tangan Bu Astrid sudah tertera.”
Andra menatap Asmara sambil tersenyum, “Bu Asmara bahkan lebih cekatan dari Seven ya.”
“Seven itu nama asli Pak?”
“Bukan bu, itu panggilan bagi sekretaris di Beaufort. Di sana khusus sekretaris tidak pakai nama asli tapi pakai nomor.”
“Unik ya Pak. Apa tujuannya?”
“Metode kerja di Beaufort lumayan kaku sampai manusia saja dianggap robot, Bu.” Andra terkekeh.
Lalu berikutnya sambil mengikuti langkah Andra, wanita itu pun berpikir, kalau begitu Andra ini lumayan pintar sampai bisa diterima kerja di Beaufort dengan jabatan bergengsi semacam itu.
Saat berjalan ke arah parkiran dan akan masuk ke dalam mobil Andra, Asmara sangat merasakan banyak mata yang tertuju ke arahnya. Yang pasti tatapan mata menghujam penuh kedengkian.
Seingat Asmara, ia tidak pernah mencari masalah ke orang lain. Tapi dalam satu waktu, seketika sudah tidak ada lagi yang menyapanya maupun ramah padanya di kantor pusat. Makanya ia lebih nyaman bekerja di Kantor Cabang.
Tadinya ia berharap mudah-mudahan dengan posisi barunya sekarang, keadaan bisa membaik.
Tapi tampaknya tidak juga…
Malah ia makin dihujat gara-gara kedekatannya dengan Andra.
“Bu?” Andra memanggilnya. Pria itu sudah siap berdiri di dekat pintu penumpang, pintu itu sudah ia buka-kan untuk Asmara bisa masuk.
“Bapak ini, saya bisa buka sendiri kok.” desis Asmara. Terdengar menggerutu, namun sebenarnya ia malu mengakui kalau Andra sedemikian gentlenya sebagai pria. Seumur-umur, yang membukakan pintu mobil untuknya hanya Andra. Dan tentu saja Ayahnya, saat Asmara masih kecil.
Andra mengemudi dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan Jakarta yang ramai. Mobil Andra tidak mewah, berkisar di harga 350jutaan. Bukan mobil miliaran seperti Direktur-direktur lain. Kalau diperhatikan, outfitnya juga tidak ada yang bermerk, namun selalu rapi. Jadi terkesan mahal.
“Kenapa Bapak mengangkat saya sebagai sekretaris pribadi?” tanya Asmara.
“Kenapa tidak?” Andra malah bertanya balik.
“Bisa jadi gosip,Pak.”
“Apa ruginya kalau kita digosipin?”
“Memangnya bapak tidak risih?”
“Kita kan tidak mengganggu hubungan siapa-siapa Bu.”
“Ya benar sih…”
Terdengar Andra tertawa kecil sambil meletakkan tangannya di persneling. Dekat sekali dengan lutut Asmara yang terbuka. Namun mereka membiarkan posisi itu. Sesekali, sudut kelingking Andra menyenggol lutut Asmara. Karena mobilnya matic, jadi seharusnya Andra akan jarang menggunakan persneling. Tapi nyatanya ia nyaman dalam posisi seperti itu. Pun Asmara nyatanya tidak merasa terganggu lututnya bergesek dengan jari Andra.
Keadaan itu hening, sampai akhirnya mereka tiba di kantor Andra.
**
Kantor lama Andra, bernama Beaufort.Co. Sebuah grup usaha dengan berbagai macam anak perusahaan. Andra bekerja di Beaufort Bank, satu gedung dengan beberapa anak usaha lain seperti Beaufort Tech dan Beaufort Mining. Gedung itu berada di salah satu area di kawasan segitiga emas, tempat segala pusat bisnis elit di pusat metropolitan, berlantai 45 dan merupakan gedung baru karena pembangunannya baru saja selesai setahun yang lalu. Sementara gedung lama mereka tidak jauh dari sana diubah menjadi apartemen.
Andra menyerahkan mobilnya ke petugas Valet karena jam segini pasti sulit dapat parkir. Dan Asmara yang sudah lebih dulu turun dari mobil mendongak ke atas menatap puncak gedung sambil ternganga takjub.
Ia selama ini hanya melewati gedung ini dari jauh saja, itu pun hanya 2 kali seumur hidupnya dia berada di kawasan ini. Karena memang segala yang ada di sini tak bisa dibeli olehnya. Terlalu mahal dan terlalu tidak berguna. Semua mengandung prestise tapi tidak untuk bertahan hidup.
Sementara Asmara sepeninggal orang tuanya, dan lagi sekarang dia single parent, harus berhemat dan menggunakan uang dengan bijak.
“Mewah sekali… hebat!” desisnya terpukau.
“Percaya deh bu, saat berada di dalamnya, kemewahan ini seakan tidak terasa artinya. Yang ada di dalam sini semuanya gila kerja.”
“Oh Ya?”
“Makanya saya beli rumah di Padmasari Asri biar healing setiap hari. Sesuai namanya, komplek kita terbilang Asri dan banyak pohon, tetangganya juga ramah dan selalu senyum. Sesuatu yang tidak akan ada di dalam sana.” Arah pandangan Andra tertuju ke dalam Gedung Beaufort.
“Kalau begitu, kenapa Pak Andra malah kerja di sana?”
“Sepupu saya Direktur di sana, dia bantu saya dapat kerja saat saya dibuang ibu saya, hehe.”
“Jadi lebih ke balas budi ya Pak. Balas Budi malah sampai keterusan jadi Direktur Bisnis… Kok rasanya epic.”
“Kayaknya saya juga obsesif ya.”
“Bisa jadi.”
“Mari masuk…” Andra membungkuk sekilas untuk mempersilakan Asmara memasuki pintu kaca Raksasa.
Di depan Lobby sudah ada seorang pria muda dengan rambut ditata sangat rapi dan seragam hitam-hitam.
Wajahnya datar tanpa ekspresi, tanpa senyum, dan gestur tubuh yang tegap berdiri antara santai tapi terstruktur. Jadi terkesan tidak alami. “Pak Andra, dan pasti ini Bu Asmara ya?”
Asmara menatap name tag di dada pria dingin ini.
Seven.
Hanya itu namanya.
“Ah! Pak Seven rupanya. Selamat Sore Pak maaf mengganggu.” Asmara agak membungkuk untuk memberi hormat. Seven hanya mengangguk namun tetap santun.
“Saya yang harusnya bilang begitu, Maaf ya Bu sampai harus kesini, karena datanya lumayan private and confidential.” kata Seven.
Tapi berikutnya pria itu menyapukan pandangannya ke tubuh Asmara. Dari atas ke bawah.
dan memberi perhatian khusus ke paha Asmara yang memang terbuka. Asmara hanya mengenakan rok pensil lima senti diatas lutut. Namun Andra berdehem, Jadi Seven teralihkan dan gantian menatap Andra. Mulut pria itu membentuk senyum tipis.
Yang dianggap Andra seakan berbicara banyak hal yang agak kurang ajar.
Sekretaris di Beaufort dilarang tersenyum dan gerakan mereka diatur sekaku mungkin. Untuk menjaga profesionalisme dan etiket, kebijakan ini berkaitan dengan menjaga nama baik perusahaan. Tapi di kehidupan nyatanya, Seven ini lumayan Fakboi. Jadi menurutnya, Asmara adalah santapan lezat.
Pun saat di lift, Seven sengaja berdiri miring agar ia bisa memandang Asmara dengan lebih seksama. Kali ini fokus pandangannya ke bagian pinggul dan dada.
Lagi-lagi dia bertatapan dengan Andra yang memergokinya dan kini memandangnya sambil mengerutkan dahi.
“Sudah resmi milik Bapak?” tanya Seven.
“Ya tidak. Belum.”
“Lalu salah saya dimana?”
“Ya jangan terang-terangan dong,”
“Saya normal Pak.”
“Seven, jangan bikin saya emosi.”
“Bapak sebentar lagi bebas dari Beaufort. Bagian mana yang membuat emosi?”
Sementara Asmara hanya bisa menoleh ke kanan dan kiri menyimak perbincangan dua pria muda ini, tanpa ia tahu artinya.
Ditambah saat Seven berjalan menuju Ruang Data dengan Andra berjalan di sebelahnya, pemuda itu kembali berbisik. “Cantiknya beda. Pantas Pak Andra rela pindah ke sana. Spek langka.”
Kalimat itu memang ditujukan untuk memanas-manasi Andra. Seven sebenarnya satu dari beberapa orang yang berharap Andra dapat segera menikah lagi. Karena saat Andra single, ia workholic akut. Sampai sering Seven menyeretnya pulang saat tengah malam pria itu masih berkutat dengan komputernya.
“Kenapa? Mau ikut? Posisi di sana sudah available.”
“Kalau yang ini jadi istri, kan saya bisa pindah menggantikan posisinya.”
“Seven, saya belum-”
“Segera ya Pak, Saya sudah kelaparan. Nanti saya yang ambil kalau kelamaan dianggurin.” bisik Seven.
“Sialan…” desis Andra.
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer