Menceritakan seorang remaja muslim yang baru saja lulus dari sekolah pesantrennya. Dia bernama Muhammad Al-Fatih. Sebagai remaja yang baru lulus dari pesantren, ia mencoba menjalani kehidupan sehari-harinya di lingkungan yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Berbeda Keyakinan.
Gina menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan ayahnya yang tak begitu kuat. Terlihat Ria terlihat tenang saja sambil melipat kedua tangannya, dan kedua matanya menatap dingin ke arah kembarannya. Begitu juga dengan Gina, ia memandang permusuhan ke arah Ria.
Sang ayah menghela nafasnya, ia frustasi dengan kedua anak kembarnya yang jarang sekali akur sedari kecil. Saat dia akan berbicara, tiba-tiba tertengar suara langkah kaki mendekat. Pria dewasa itu menolehkan kepalanya dan memandang seorang remaja berpakaian sangat sederhana, dan tersenyum ke arahnya.
"Selamat pagi." ucap remaja itu, yang tak lain Fatih sendiri. Dia tak mengucapkan salam, karena ia melihat pria dewasa itu mengenakan kalung salib.
Karena sebagai kaum muslim, tidak diperbolehkan mengucapkan salam ke seseorang yang berbeda keyakinan, tetapi bukan berarti tidak boleh menyapa. Menyapa kepada seseorang yang berbeda keyakinan, itu sangat diperbolehkan.
Pria dewasa itu menghela nafasnya. Ia pun juga tersenyum. "Selamat pagi juga." jawabnya dengan ramah.
Sedangkan Ria dan Gina terdiam melihat Fatih. Mereka tak bersuara, mereka berdua melihat sosok Fatih dengan penuh arti, tetapi bukan tatapan aneh. Ria dan Gina menoleh dan saling memandang dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Kedua gadis kembar itu pun kembali menoleh dan memandang ayahnya dan Fatih secara bergantian.
"Maaf sebelumnya, bukan maksud saya mengganggu, pak. Tapi tidak baik kalau ribut-ribut di tempat terbuka." ucap Fatih dengan lemah lembut. Namun ia merasa risih karena dirinya dilihat kedua gadis kembar itu.
"Maaf, saya juga tau itu. Tapi anak saya yang satu ini sulit dikasih tau. Apalagi dia anak perempuan." jawab pria itu sambil memijit keningnya.
Fatih tersenyum mendengarnya, lalu pandangannya beralih ke arah perempuan kembar itu. "Seorang ayah pasti sangat khawatir dengan anaknya. Terlebih lagi anaknya 2 perempuan kembar yang berbeda sifatnya."
Gina tak membalas perkataan Fatih. Ia terdiam, akan tetapi ia merasakan keramahan dari sosok remaja ini. Fatih bersuara lagi. "Orang tuanya melarang anaknya, bukan berarti mereka tidak memiliki alasan, pasti mereka memiliki alasan tertentu. Melarang bukan berarti mereka tak sayang, orang tua yang baik pasti melakukan apapun untuk anaknya."
"Rasa sayang dan cinta orang tua kepada anaknya, bukan hanya diucapan, tetapi dari juga dari perbuatan mereka. Mereka tak ingin anak-anaknya melewati batas dan hingga jatuh ke lingkungan yang salah, karena mereka lebih tau bahaya dunia luar." lanjutnya panjang lebar.
Tidak ada reaksi atau membalas penjelasan sosok remaja seperti Fatih yang ada dihapannya, Gina malah masuk mobil dan duduk di kersi belakang, ia tak bersuara apapun, dia tetap diam dan memainkan samrtphone. Sedangkan Ria, ia mengela nafasnya, lalu pandangannya beralih ke arah ayahnya dan Fatih.
"Terimakasih sudah membuat anak saya diam." ucap sang ayah dari kedua gadis kembar itu.
Fatih langsung menoleh ke arah pria dewasa ini, lalu menjawab. "Sama-sama, pak. Saya cuma sedikit masukkan saja. Lagi pula saya juga memiliki kakak perempuan yang selalu saya jaga bersama bapak dan kakak laki-laki saya. "
Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu ia bertanya. "Kamu habis dari mana ?"
"Saya sedang jalan-jalan pagi pak." jawab Fatih.
"Apa kamu sudah berpamitan dengan orang rumah ?" sahutnya bertanya.
Adrian Fernando, itulah nama pria itu. Adrian adalah sosok seorang ayah yang taat dengan aturan. Jadi, bila ada anggota keluarga yang ingin keluar rumah, harus berpamitan terlebih dahulu. Akan tetapi, ia harus tau kemana mereka akan pergi, karena Adrian memiliki prinsip untuk melindungi anggota keluarganya dari lingkungan yang salah.
Apalagi dengan salah satu anak gadisnya yang bernama Gina, yang ia sudah sangat paham kelakuan dan sikapnya masih kekanakan. Berbeda dengan Ria, yang cukup dingin terhadap orang-orang di sekitarnya, dan dia juga jarang pergi keluar rumah, kecuali kalau keperluan penting saja.
Dan Ria, ia mulai merasa tak enak, karena cara berpakaiannya yang sedikit terbuka dibagian bawahnya. Apalagi sosok remaja asing ini yang terlihat baik mengenakan pakaian yang unik tapi tapi sopan.
Sedangkan dirinya mengenakan jaket putih dan memakai celana jean pendek, sehingga sebagian kedua paha putihnya terlihat. Ria pun memilih masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi penumpang depan sambil menunggu ayahnya dan Fatih yang masih berbicara.
"Sudah, pak. Lagian ini saya juga mau pulang." Fatih menjawab pertanyaan Adrian barusan.
"Pulang kemana ? Mau saya antarkan ?" tanya Adrian, dan ia menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, pak. Ini juga sudah dekat." Fatih tak ingin merepotkan Adrian, lalu ia mengarahkan tangannya dengan telapak terbuka ke arah jalan pertigaan. "Itu sudah dekat, tinggal masuk ke jalannya saja."
Adrian menoleh ke arah yang ditunjukan Fatih. Ia melihat jalan pertigaan yang jaraknya beberapa meter di belakang mobilnya terparkir.
"Kalau boleh tau, Bapak dari daerah mana ?" tanya Fatih.
Karena Semarang itu cukup luas, jadi ia ingin tau mereka dari mana, sehingga pria itu mencari keberadaan anaknya. Kalau anaknya pergi berjalan kaki, maka tempat tinggal mereka tak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
"Saya tinggal di Jakarta. Saya dan sekeluarga datang ke Semarang untuk menjenguk ibu mertua saya yang sedang sakit." jawab Adrian.
"Semoga beliau sehat kembali." balas Fatih dengan mendoakan mertua Adrian. Meski berbeda keyakinan, sebagai kaum muslim, hukum mendoakan kebaikan kepada orang-orang yang berbeda agama dan masih hidup di dunia, hukumnya diperbolehkan.
Adrian tersenyum mendengarnya. "Ya, mertuaku serkarang sudah sehat. Dia hanya rindu dengan anaknya dan cucu-cucunya saja."
Fatih mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mungkin namanya juga orang tua yang terlahir sebelum kita dilahirkan, pasti di masa tuanya banyak pikiran karena menginginkan semua anak dan cucunya berkumpul, sehingga dia sakit."
Adrian sedikit terkejut dengan pemikiran remaja yang ada dihadapannya ini. "Usiamu berapa, nak ?" tanyanya.
"17 tahun, pak." jawab Fatih singkat.
"Saya tak menyangka, jarang sekali saya bertemu dengan anak-anak muda yang bisa berfikir sejauh itu." Adrian berkometar.
Fatih terkekeh mendengarnya. "Bukan jarang, pak. Karena semua orang memiliki cara berfikir dan pandangan mereka berbeda-beda." balasannya dengan bermaksud merendahkan dirinya.
Adrian tertawa kecil, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun tersadar, ia terlalu asik berbicara dengan Fatih, hingga dirinya tidak sadar kalau kedua anak gadis kembarnya sudah menunggunya di dalam mobil. Adrian menghela nafasnya, rasa ingin sekali mengobrol banyak dengan sosok anak muda asing ini yang baru ia temui.
"Maaf, saya malah mengajakmu mengobrol." ucap Adrian.
"Tidak apa-apa, pak. Justru saya merasa senang bisa mengobrol dengan Bapak." balas Fatih dengan sopan.
Andrian pun berkata "Sudah hampir seminggu saya di sini. Ya, sudah kalau begitu, saya dan mewakili kedua anak saya pamit undur diri. Semoga kamu dan keluargamu selalu sehat, agar kita bisa bertemu kembali di lain waktu." ucapnya dengan disertai mendoakan remaja ini dengan tulus.
Fatih yang mendengarnya tersenyum, ia tau kalau Adrian dan kedua anaknya berbeda keyakinan dengannya, karena dari kalung yang dipakai pria dewasa itu menandakan dirinya beragama Nasrani. Fatih menganggukkan kepalanya dan mengaminkan doanya Adrian.
Karena Fatih pernah belajar sewaktu di pesantrennya, dan ia masih ingat. Jika doa yang diucapkan seorang Non-Muslim adalah doa kebaikan untuk mendoakan kaum muslim, maka boleh mengaminkannya.
Al-Adzru’i yang dinukil dalam Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj,
ثم رأيت الأذرعي قال : إطلاقه بعيد ، والوجه جواز التأمين بل ندبه إذا دعا لنفسه بالهداية ولنا بالنصر مثلا ومنعه إذا جهل ما يدعو به ؛ لأنه قد يدعو بإثم أي بل هو الظاهر من حاله.
”Kemudian saya pernah melihat Al-Adzru’i mengatakan, ’Menilai semua doa orang (Non-Muslim) tidak boleh diaminkan, terlalu jauh. Terdapat pendapat bahwa boleh mengaminkan doa orang (Non-Muslim), bahwa dianjurkan, jika doa yang mereka panjatkan adalah permohonan hidayah untuk dirinya, atau doa permohonan pertolongan untuk kita (kaum mukminin). Dan dilarang apabila kita tidak mengetahui apa yang mereka doakan, karena bisa jadi dia memanjatkan doa yang isinya dosa. Bahkan itu yang paling mungkin terjadi, melihat latar belakang agamanya. (Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj, 7/473).
setahu saya pengabdian itu semacam bekerja di sana tanpa dibayar, atau dengan bayaran seadanya tanpa dipatok.
salut untuk penulis, semoga ALLAH SWT selalu
memayungi penulis dengan banyak keberkahan serta kesehatan terus.
luar biasa Author satu ini, ada selipan syiar di dalam karya novel ini...😊
saluuutt saluuuutt...terus syiar dalam tulisan ya Thor...👍👍👍
semangaaattt 💪💪💪
sehat terus & terus sehat Thor 💪