no diskripsi langsung baca lebih bagus 😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka manga toon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 ....
Sementara di sisi lain....
Kini Rina tengah menatap sendu ke arah ponselnya yang sejak tadi terus berdering. Pikirannya pun terus bertanya-tanya ada apa dengan Arga saat ini ?
Santa yang sejak tadi fokus ke arah jalan pun sedikit menongakkan kepalanya ke arah ponsel Rina yang saat itu tengah di pegang oleh wanita itu .
Santa pun melihat nama Arga yang ada di layar ponsel Rina saat ponsel itu berdering dan lagi-lagi di tolak oleh sang empu.
" Kenapa tidak di angkat ? " ucap Santa mencoba untuk bertanya, karena ia tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya
" Males ! " Sahut Rina dengan singkat padat dan jelas.
Santa bisa melihat perubahan Rina yang terlihat dingin, bahkan kedua matanya terlihat kosong. Entah apa yang terjadi selama satu Minggu ini , hingga bisa membuat Rina berubah seperti ini.
" Kali aja penting ! " ucap Santa namun Rina terkekeh saat mendengar kata-kata pria itu
Bagaimana itu bisa di bilang penting, jika sekarang saja Arga sedang bersama dengan Jenie. Rina tau betul apa yang akan mereka lakukan kalau bukan untuk melakukan hubungan kotornya.
Seketika kepala Rina terasa sakit saat mengingat kelakuan mereka, terutama kelakuan Arga yang begitu bereng***k pada nya.
" Ada apa ? " tanya Santa seraya menghentikan mobilnya di pinggir jalan saat melihat Rina memegang kepalanya.
" Sakit ? " tanya Santa kembali bertanya dengan penuh kekhawatiran , sementara Rina hanya menjawab dengan anggukan kepala.
" Apa kau membawa obat mu ? " tanya Santa dan Rina pun kembali menganggukkan kepalanya
Santa pun langsung mengambil alih tas yang di pegang Rina untuk mengambil obat milik wanita itu , Santa pun membantu Rina untuk bersandar setelah ia menemukan obatnya, dengan penuh perhatian Santa membantu Rina untuk meminum obatnya.
" Terimakasih , Anta ! , Maaf karna aku sudah merepotkan mu " Ucap Rina merasa merasa bersalah
Seharusnya yang ada di posisi Santa saat ini adalah Arga, harusnya dialah yang memperhatikan dirinya bukan orang lain.
Rina menginginkan Arga yang merawatnya dan menemaninya menjalani kemoterapi, dirinya ingin sekali di perhatikan oleh Arga namun ia sadar diri jika sekarang Arga lebih fokus pada Jenie wanita barunya itu .
Santa pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum hangat , ia sama sekali tidak merasa direpotkan oleh wanita itu , ia lebih merasa senang karna dalam kondisi seperti ini dialah yang di butuhkan oleh Rina.
" Kamu kenapa ? " tanya Santa mencoba bertanya dengan perubahan Rina saat ini .
" Apanya ? " Tanya Rina yang tak mengerti maksud dari pertanyaan pria itu
" Kamu ada masalah ? " tanya Santa namun Rina hanya menggeleng ragu.
" Kalaupun ada , kamu bisa cerita sama aku , Rin . aku akan membantu apapun masalah kamu " Sambung Santa merasa ragu dengan jawaban wanita itu .
" Kamu tau ? , Saat ini kamu terlihat sangat rapuh , Apa ini ada hubungannya dengan kamu yang menghilang tanpa kabar selama satu minggu lalu ? " Tebak Santa dengan wajah cemasnya
Rina hanya terdiam tanpa menjawab apapun , saat ini ia tidak bisa mengatakan apa-apa pada pria itu karena semakin ia memberi alasan , semakin besar ia ketahuan jika dirinya tengah berbohong saat ini .
Rina sangat tau kalau Santa tidak mudah untuk di bohongi, ia juga tidak mau berkata jujur bahwa hubungannya dengan Arga lah yang membuat dirinya berubah seperti sekarang ini.
" Baiklah ! , jika kamu belum siap untuk cerita tidak masalah . Tapi ingat ! , Aku selalu ada di saat kamu butuh bantuanku , Rin " ucap Santa yang tidak ingin memaksakan Rina untuk menceritakan apa masalah yang tengah ia hadapi
mungkin saja Rina masih bisa mengatasinya sendiri dan Santa juga sadar diri jika dirinya bukan lah siapa-siapa untuk wanita itu
Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke arah rumah sakit tanpa membicarakan hal lain lagi .
.
.
.
.
.
...Skip Rumah Sakit...
" Permisi dokter " Ucap Rina dengan sopan dan masuk ke dalam ruangan Bima bersama dengan Santa yang ada di sampingnya.
Bima pun tersenyum saat melihat kedua orang yang ia kenali itu , Bima pun langsung mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi yang sudah tersedia.
" Bagaimana keadaan Nona Rina sekarang ? Apa ada gejala baru yang timbul akhir-akhir ini ? " Tanya Dokter Bima
Rina pun melihat ke arah Santa yang di balas dengan senyuman oleh pria itu . Seolah dirinya mengerti maksud dari tatapan Rina saat itu .
" Sudah dua hari ini rambut saya mulai rontok dok !! " Jelas Rina pelan dan
Bima pun mengangguk kecil sebagai jawabannya
" Oke, nanti saya cek lagi, lalu soal pilihan saya apa sudah anda putuskan Nona ? " tanya Dokter Bima dan Rina pun mengangguk
" Sudah dok. Saya mau menjalani kemoterapi " ucap Rina hingga membuat
Bima tersenyum saat mendengar keputusannya begitu pula dengan Santa yang ikut tersenyum bahagia saat mendengarnya
" Baiklah. Mari ikut saya " ajak dokter Bima ke salah satu ruangan yang biasa untuk melakukan proses kemoterapi
Mereka pun berjalan ke ruangan yang biasa di lakukan untuk kemoterapi.
Seketika Santa menghentikan langkahnya saat berada di depan ruangan itu dan menunggu Rina di luar ruangan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah hampir tiga puluh menit Santa menunggu Rina namun sampai detik ini belum ada tanda-tanda Rina akan keluar.
Dan tidak berapa lama kemudian keluarlah dokter Bima tanpa seseorang yang sejak tadi ia tunggu. Santa pun berdiri dan mendekat kearah Bima mencoba untuk bertanya soal Rina .
" Bagaimana keadaan Rina , dok ? " tanya Santa dengan wajah khawatirnya
" Dia baik-baik saja , masuklah . Saya tunggu kalian di ruangan saya " ucap Dokter Bima sambil tersenyum
Santa pun segera masuk ke dalam ruang itu setelah Bima kembali ke ruangannya. Ia pun melihat Rina yang kini tengah terbaring di atas banker dengan wajah pucat nya.
" Sakit ? " Tanya Santa dengan wajah khawatir dan Rina pun hanya mengangguk kecil saat mendengar pertanyaan Santa.
Rina masih ingat rasa sakit yang ia alami saat melakukan Kemoterapi itu , rasanya ia benar-benar tidak ingin melakukannya lagi , pikirnya.
" Badan ku lemas , Anta. Kepala ku juga pusing rasanya pengen mual terus " ucap Rina dengan suara pelan dan lirih , Santa pun membantu Rina untuk mengubah posisinya tubuhnya
Rina terduduk di atas banker nya seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Santa. Sementara Santa mengusap lembut punggung Rina penuh dengan kasih sayang.
Sudah hampir lima menit posisi mereka seperti itu dan Santa pun mulai menyadari jika Rina merasa lebih tenang saat ini di banding tadi.
" Apa masih sakit ? " tanya Santa lembut tanpa merubah posisinya
Rina pun menggelengkan pelan kepalanya dan perlahan kepalanya mulai menjauh dari dada bidang Santa. Ia pun melihat kearah Santa yang saat ini tengah memandangi dirinya.
Seketika pandangan Rina terkunci di dalam pandangan Santa yang terlihat ada sebuah cinta untuknya di sana .
Tanpa sadar wajah Santa pun mulai mendekati Rina , mungkin lebih tepatnya wajah Rina hingga semakin dekat.
Semakin dekat...
Semakin dekat...
Semakin dekat...
Dan..
Cup
Santa pun mencium Rina tepat di bibirnya , tak ada tanda-tanda Rina akan mendorong tubuhnya hingga membuat Santa semakin berani untuk melahap bibir wanita manis itu .
Ciuman itu begitu lembut tanpa ada tuntutan di sana , seolah ia tengah menyalurkan cintanya lewat cjuman tersebut.
Tak berapa lama kemudian Santa pun melepaskan ciumannya tersebut , ia pun menempelkan keningnya ke kening Rina seraya mengucapkan kata " Maaf " dan mengusap bibir Rina yang basah dengan ibu jarinya.
" Tak apa , Anta ! " ucap Rina pelan
dan terdengar sangat merdu di telinga Santa
Ingin rasanya ia melahap kembali bibir itu lagi , karna bibir itu yang membuatnya candu akan rasa manisnya.
Seketika ada rasa bersalah yang bersarang di benak Rina saat ia berciuman dengan Santa saat ini , ia merasa jika dirinya sudah mengkhianati Arga.
namun saat melihat reaksi Santa yang begitu bahagia, ia tetap tersenyum menutupi rasa bersalahnya. Setidaknya ia bisa membuat Santa bahagia dengan cara itu, mengingat kebaikan Santa untuknya selama ini , pikir Rina .
.
secepatnya kalau update, gk sabar buat baca terusannya