Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Sammy Membaik
Setelah memeriksa Sammy, dokter menyuruh perawat membawa Sammy ke ruangan khusus, untuk memeriksa Sammy lebih lanjut. Ana mengikuti brankar tempat Sammy berbaring di dorong oleh beberapa perawat, hingga mereka masuk kesebuah ruangan, tapi Ana di minta menunggu di luar. Dia duduk di salah satu bangku yang berjejer.
Pemeriksaan di dalam sana terus berlanjut, Ana merapatkan jemari kedua tangannya, berharap kondisi Sammy baik-baik saja. Entah berapa jam waktu yang berlalu. Sammy masih di dalam sana.
"Selamat pagi bu Ana." sapa seorang Dokter.
Ana terkejut mendengar sapaan itu, dia segera berdiri dari posisi duduknya. "Pagi dok," sapa Ana kembali.
"Mari berbicara ke ruangan saya, nanti para perawat akan mengantar pak Sammy kembali keruangannya," ucap dokter.
Ana mengikuti langkah dokter itu, dia masuk keruangan kerja sang dokter.
"Silahakan duduk," ucap Dokter sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Tanpa basa-basi Ana segera duduk. "Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Ana langsung.
"Untuk saat ini kondisi pak Sammy membaik," dokter menerangkan keadaan Sammy dengan bahasa medis. Ana hanya mengangguk dan sesekali bertanya ungkapan Medis yang dokter katakan.
"Bagaimana bu?" Tanya dokter.
"Saya faham dok, saya akan berusaha menjaga suami saya, agar tidak mendapat tekanan berlebih lagi, suami saya seperti ini karena anak pertama kami kabur dengan wanitanya, padahal pernikahan dia dengan anak sahabat kami akan segera di langsungkan," terang Ana.
"Saya mengerti, tentu pak Sammy sangat tertekan, kehilangan sahabat pastinya, juga memikirkan wanita calon menantunya itu,"
"Itu benar dok," jawab Ana.
"Sudah selesai bu Ana, jika seminggu kedepan kondisi pak Sammy stabil, maka bapak boleh dibawa pulang," seru dokter.
"Terimakasih dok," ucap Ana, dia sangat bahagia karena Sammy dinyatakan Stabil. Ana segera pamit dari ruangan dokter, langkahnya begitu semangat menuju ruangan Sammy.
"Bagaimana keadaan papa? Apa yang sekarang papa rasakan?" Tanya Ana langsung ketika dia melihat suaminya nampak santai.
"Papa baik mah, oh ya mah, jangan biarkan Shita datang kemari, kita beri dia kejutan," seru Sammy.
"Maksud papa?"
"Papa pasti di izinkan pulang kan? Nah sementara ini buat alasan apa saja, agar Shita tidak kemari, kita kejutkan Shita dengan kepulangan papa," seru Sammy lagi.
"Papa bahagia banget kalau rencana itu berhasil, baiklah, mama akan telepon Shita." Ucap Ana.
Ana meraih ponselnya dan langsung menelpon Shita.
Di pojok lain Shita masih sibuk menata beberapa bok, dia baru selesai menata dan membereskan bagian dapur. Kini dia ber alih kekamar untuknya nanti. Kesibukannya terhenti mendengar nada dering khusus dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Iya Mah," jawab Shita langsung.
"Sayang, kamu kan kerja, kamu nanti gak usah kerumah sakit dulu ya sayang, kamu istirahat aja di rumah baru kita," seru Ana.
"Iya mah, sepertinya aku gak akan kerumah sakit, ini aku lagi beres-beres rumah baru kita mah," seru Shita.
"Maafin kami ya sayang,"
"Ih, mama apa-apaan sih, aku senang kok,"
"Maafin kami sayang, padahal Gildan yang buat masalah, tapi sekarang kita yang menanggungnya," ucap Ana.
"Aduh mama, udahlah, ayo kita semangat melangkah kedepan," seru Shita.
"Cuma itu tadi yang mama ingin katakan, jadi sepulang kerja, kamu langsung pulang dan istirahat, gak perlu kerumah sakit dulu."
"Iya mama, aku baik aku patuh," ucap Shita dengan nada manja.
"Makasih sayang, karena kamu semangat mama berkibar."
"Berkibar, bendera kali ah!"
"Sampai jumpa sayang, jaga diri dan hati-hati," seru Ana.
"Mama juga, papa gimana mah?"
"Papa, yah seperti itulah, sudah dulu mama mau sarapan, belum sarapan ini mama," seru Ana.
"Iya mah, selamat makan, bye mama,"
Panggilan telepon ber akhir. Shita melanjutkan tugas beres-beres, sedang Ana melanjutkan bicara dengan suaminya sambil memakan makanan yang dia beli tadi, sesekali dia menawari Sammy, namun Sammy menolak.
****
Hotel mewah Emanuel Group.
"Beib …." ucap Mark sambil menepuk halus bahu Ara.
"Iyaaa!" Jawab Ara sambil menggeliat.
"Aku mau kerja," seru Mark.
"Aku boleh pulang?" Tanya Ara.
"Pulang hanya sebentar, nanti sore aku akan kirim utusan untuk jemput kamu," seru Mark.
Mendengar dia boleh pulang, Ara langsung bengun dan berlari ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Mark mengikuti Ara ke kamar Mandi.
"Kenapa? Kamu tidak cukup membantai ku? Semalaman aku tidak bisa tidur karena ulahmu!" Rengek Ara.
Mark tersenyum kecil. "Aku hanya ingin melihat bagaimana wanitaku ini mandi, lagian aku tidak akan menggaulimu sekarang, karena aku harus kekantor dan sebelum itu, kita sarapan dulu," seru Mark sambil duduk di westafel memandangi Ara mandi.
Ara meneruskan mandinya. Benar saja Mark tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Sampai Ara selesai mandi Mark masih betah didalam kamar mandi memnadangi Ara.
***
"Ayo kita sarapan," seru Mark ketika melihat Ara sudah selesai momoles wajahnya dengan make up.
Ara segera memasukkan pouch make up kedalam tasnya dan mengikuti Mark, namun dia di tarik Mark kedalam pelukannya, Mark berjalan sambil menggandeng Ara. Mereka sarapan di ruangan khusus milik Mark.
Selesai sarapan Ara di antar pulang oleh orang yang bekerja pada Mark. Sesampai di rumahnya Ara segera turun dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata jua pun pada sopir yang mengantarnya. Dia melangkah cepat memasuki rumahnya.
"Non Ara," sapa pembantu yang melihat kedatangan Ara.
"Mama sama papa mana bi?"
"Tuan sama nyonya dinas keluar negri katanya non, tadi malam mereka datang cuma ambil koper."
"Kebiasaan lama!" Gerutu Ara, dia langsung berjalan ke arah tangga dan menaikinya dan langsung menuju kamarnya.
Pembantu menatap sayu ke arah Ara, dia sangat kasihan dengan nonanya itu. Sedari kecil sering di tinggal kedua orang tuanya bekerja.
Ara langsung duduk di tempat tidurnya. "Mama, papa, kenapa bisnis bagi kalian sangat penting? Hatiku masih terluka mamaaa" rengek Ara sambil memeluk boneka Bear kesayangannya.
"Aku butuh kalian mama, papa, bukan uang kalian," rengeknya semakin erat memeluk bonekanya.
"Kemana aku harus berbagi? Dulu Shita yang selalu memberiku semangat dan menghiburku, sekarang?"
Ara meraih ponselnya dan langsung menelpon Abi.
"Ada apa?" Sapa Abi langsung.
"Aku minta nomer Mark!" Ucap Ara ketus.
"Nanti tuan muda akan menelpon anda," ucap Abi dan dia langsung menutup panggilan teleponnya.
"Hiih! Dasar!" Gerutu Ara sambil melempar ponselnya ketempat tidur.
Tidak berselang lama, panggilan masuk ke ponsel Ara dari nomer asing, tertera hanya nomer di layar ponselnya. Ara segera mengangkat panggilan itu.
"Kenapa beib? Sudah rindu aku?"
"Mark, aku kesepian, aku tidak punya teman," rengek Ara.
"Gampang, bersiaplah, nanti orangku akan menjemputmu, kamu akan punya banyak teman dan kamu akan punya teman sebanyak apapun yang kamu mau," seru Mark.
"Baiklah, terimakasih," ucap Ara.
Mark hanya tersenyum, karena Ara langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Baru selesai mengganti bajunya, ponsel Ara kembali berdering. Ara langsung mengangkatnya
"Halo?"
"Nona, saya sudah di depan rumah anda, saya utusan tuan muda,"
Tanpa menjawab, Ara langsung menutup panggilan telepon, meraih tasnya lalu berjalan cepat meninggalkan kamarnya.
"Non," sapa pembantu.
"Saya akan tinggal di apartemen bi, mama sama papa sudah tau kok, aku pergi bi," seru Ara.
"Tapi non, non tidak bawa apa-apa?"
"Semua sudah dipersiapkan oleh perusahaan yang menaungi saya," jawab Ara yang terus berjalan.
"Rumah ini, megah, besar, mewah, tapi tidak ada cinta di dalamnya. Kasian non Ara, sedari kecil hanya seperti ini." Gerutu pembantu melihat kepergian Ara.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark