Sepakat untuk menikah dan sepakat akan bercerai setelah 2 tahun menikah, itulah perjanjian antara Rani dan Temy sebelum menerima perjodohan mereka. Namun, saat tiba waktunya mereka akan berpisah, keduanya baru menyadari jika keadaan sudah membuat mereka jadi terbiasa dan telah hadirnya benih cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pemandangan itu membuat hati Rani semakin memanas. Dengan sigap, wanita itu berjalan ke arah kamar, hendak menjauh dari adegan mesra tak kenal tempat yang ada di hadapannya ini. “Rani, tunggu!” Temy melepaskan pelukan Cassandra. Kemudian, pria itu berjalan cepat, menahan tangan Rani agar tak masuk ke dalam kamarnya.
“Lepaskan!” Rani menepis tangan Temy dengan kasar. “Bukankah keberadaanku hanya akan mengganggu kemesraan kalian berdua? Silakan menghabiskan seluruh malam ini dengan wanita itu, aku tak akan keluar dari kamar hingga kalian selesai dengan urusan kalian!”
“Rani, tunggu!” Lagi-lagi, langkah Rani harus terhenti akibat perlakuan yang sama. Kini, Temy memegangi kedua pundak Rani dengan tegas. “Biarkan aku menjelaskan semua ini. Tolong, dengarkan aku kali ini saja ....” Sorot mata Temy menggantungkan harapan yang tinggi.
Rani mengembuskan napas kasar. Tak urung wanita itu mengangguk pelan, menuruti perintah dari Temy. “Baiklah.” Temy ikut menganggukkan kepalanya, menuntun tangan Rani untuk kembali menuju Cassandra. Temy menggaruk kepalanya yang tak gatal, berkata dengan nada kikuk. “Umm ... San, perkenalan, ini Rani. Rani, perkenalan, ini Sandra, temanku dari London.”
Suasana menjadi hening. Temy menjadi penengah dari kedua wanita ini. Pria itu memberi tanda dari gerak-gerik tubuhnya, meminta Rani dan Cassandra berjabat tangan. Akhirnya, dengan ragu-ragu, kedua telapak tangan mereka pun menyatu.
Cassandra menatap Temy dengan bingung. “Kau tak pernah bilang jika kau mempunyai adik perempuan, Tem, mengapa kau tidak mengatakannya dari awal?” Temy bertukar pandang dengan Rani. Istrinya itu menatap dirinya dengan penuh arti, dengan kedua alis tebalnya yang bertaut.
Seluruh keringat merembes keluar dari pori-pori pria itu. Temy mengusap keningnya yang basah. Mau bagaimana pun, pria itu harus siap dengan semua ini. “Sebelum kita melanjutkan pembicaraan, alangkah baiknya beberapa meja kosong yang berada di sana kita isi terlebih dahulu. San, kau berkata jika kau tak pernah mencicipi masakanku. Jadi, biarkan aku mengizinkanmu untuk pertama kalinya, bagaimana?”
Cassandra mengangguk. Temy berhasil membawa kedua wanita itu ke meja makan, menghadapkan mereka dengan beberapa lauk pauk yang telah tersaji. Suasana sama sekali tak berubah, tampak sangat canggung.
“Jadi mengapa ....”
“Alangkah baiknya jika kau mengisi energi dalam tubuh kau terlebih dahulu. Aku yakin, perjalanan panjang ini membuat kau sangat lapar. Makanlah, nanti kita sambung pembicaraan.” Cassandra bungkam, tak sanggup membuka mulutnya kembali, seolah disihir oleh Temy untuk menuruti perintahnya.
Cassandra mengambil beberapa nasi dan lauk auk yang ada. Kemudian, memakannya dengan sesekali melihat ke arah Temy. “Kamu juga, bukankah ini juga separuh dari perjuanganmu? Kamu tak mungkin menyia-nyiakan hal ini, bukan?” Tanpa basa-basi, Rani mengikuti apa yang Cassandra lakukan.
Temy tersenyum tipis. Setelah memastikan tak ada tangan yang berdiam diri, pria itu mengikuti jejak kedua wanita itu. Kini, denting piring dan sendok yang saling beradu terdengar nyaring. Tak ada yang berani berkata-kata di tengah acara makan malam dadakan ini. Beberapa kali Cassandra mencoba membuka mulut. Namun, tatapan Temy seolah menyuruhnya agar bersabar sedikit, biar ia sendiri yang akan menjelaskan semuanya.
“Oke, kira mulai. Jadi ....” Kurang lebih sepuluh menit ke depan, Temy telah bersiap dengan semua itu. Tentu saja, kedua wanita itu juga memasang ekspresi yang sangat serius.
Temy menatap ke arah Cassandra. “Pertama-tama, mari kita betulkan kesalahan kecil ini. San ....” Cassandra menatap mata Temy lekat-lekat. “Kau tahu, mungkin ini akan sedikit mengejutkanmu, tapi ... harus aku akui, wanita yang ada di dekatmu itu adalah ... umm ... istriku.”
Bagaikan disambar petir, Cassandra hampir saja tersedak oleh lidahnya sendiri ketika Temy menjelaskan hal itu kepadanya. “Tak mungkin! Bagaimana bisa kau ....” Cassandra memandangi kedua pasangan itu, memerhatikan jari-jemari mereka berdua. Benar saja, sebuah benda ring berwarna emas mengkilap dimiliki oleh keduanya. “Kenapa kau tak pernah memberitahuku?!”
Ekspresi Temy masih terlihat tenang, meski tak urung pria itu merasa sangat gugup, terlihat dari keringat yang telah membasahi bajunya. Di sisi lain, Rani juga tak kalah terkejut.S sangka, Temy sama sekali tak pernah memberitahu statusnya kepada Cassandra.
“Aku ... aku minta maaf karena aku bingung harus mengatakan apa kepadamu,” jelas Temy singkat. Namun, jawaban itu sama sekali tak membuat Cassandra puas.
“Lalu ... lalu bagaimana denganku? Apa kau mau meninggalkanku begitu saja?! Bagaimana dengan semua perlakuan baikku kepadamu!” Mata Cassandra menatap Temy dengan penuh amarah.
“Maaf, aku harus mengatakan hal ini. San ....” Temy menggantung kalimatnya, bersiap dengan respons dari Cassandra nantinya. “Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ... aku ....” Kedua wanita itu menunggu Temy dengan rasa penasaran yang telah membludak. “Aku sangat mencintai Rani! Entah sejak kapan perasaan ini timbul, tapi aku benar-benar mencintainya sekarang!!!” Temy berkata dengan lantang, bahkan kalimat terdengar hingga ke atap-atap rumah.
Jantung Rani berdegup dengan kencang, tak percaya dengan apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu. Temy menatap Rani dengan penuh arti. Kemudian, pria itu mengangguk perlahan, dibalas oleh Rani. Tak lama kemudian, Temy kembali memandangi Cassandra. “Maaf, sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya! Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini, aku ... aku harus ...!”
“Jadi, kau mengorbankanku hanya untuk semua ini! Kau tahu, Tem, aku benar-benar mencintaimu lebih dari apa pun!” Nada Cassandra mendadak parau. “Saat kau menghubungiku untuk datang ke Indonesia, menemuimu, hatiku sangat gembira, Tem ....” Tanpa sadar, kedua mata Cassandra menggenang.
“Selama perjalanan berlangsung, aku selalu membayangkan hari-hari yang kujalani di Indonesia bersama kau. Makan malam mesra, mengobrol banyak hal tentang masa depan, harapan-harapan yang kita lontarkan bersama, hingga pada akhirnya kau memberikan sebuah cincin untuk melamarku!!!” Dalam sekejap, intonasi nada Cassandra menjadi lirih.
“Pada kenyataannya, semua tak semanis ekspektasi. Alih-alih mendapatkan lamaran dari kau, dengan teganya kau mengorbankanku yang sudah jauh-jauh datang hanya untuk membahas masalah ini! You are the most ******* man i know!!!”
Setelah mengucapkan hal itu, Cassandra bangkit berdiri. Kemudian, wanita itu meraih segelas sirop, menyiramkannya ke arah Temy dengan brutal. Namun, Temy sama sekali tak bergeming. Menurut dirinya, ia pantas mendapatkan semua ini.
“Sandra!” Rani hendak mengejar wanita itu yang melenggang pergi. Namun, tangannya ditahan oleh Temy. Pria itu menggeleng pelan, seolah mengutarakan pikirannya lewat telepati bahwa Rani tak usah ikut terlibat untuk mengatasi wanita itu. Biar ini semua menjadi tanggung jawab penuhnya.
Rani terperanjat, setelah sebuah pelukan hangat ia dapatkan dari Temy. Kini, tubuhnya tak bisa menolak seperti yang sebelumnya. Rani merasa bahwa pelukan kali ini adalah pelukan yang berbeda. Karena dengan pelukan ini, seluruh kemarahan yang ada di dalam hatinya luluh, mencari bak gunung es yang disorot dekat oleh sinar matahari. Semua itu memuncak ketika sebuah bisikan lembut nan halus terdengar di telinganya.
“Kamu lihat, aku benar-benar mencintaimu. Tak ada yang perlu diragukan lagi. Mulai saat ini, kita ... akan membangun rumah tangga ini dengan kekuatan cinta yang ada di dalam diri kita masing-masing.”