NovelToon NovelToon
HOPE

HOPE

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:156.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Kecelakaan mengerikan membuat Sakalingga Ibra lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.

Sebagai terapis andal, Jenaka Tatjana yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi pria itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Lingga yang penuh amarah, perlahan-lahan pesona Jenaka mulai membuat Lingga membuka diri.

Namun, ketika Lingga menyatakan cinta, akankah Jenaka percaya itu bukan sekadar rasa terima kasih dari sang pasien kepada terapisnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam itu Jenaka benar-benar tak bisa tidur, ia merasa waktu terus bergulir. Lingga benar, ia memang takut pada kehidupan, sehingga Jenaka menepis banyak hal: teman, keluarga, bahkan kenyamanan karena ia takut mengambil risiko akan tersakiti lagi.

Ibu dan mantan suaminya bukanlah bukan contoh yang baik, mereka telah menyakiti Jenaka, tapi Jenaka tidak seharusnya menghindari semua orang hanya karena luka di masa lalu yang mereka berdua torehkan.

Mentari mengajukan tawaran ingin berteman dengannya, tapi Jenaka malah menghindarinya karena merasa Mentari punya motif lain. Keraguan-keraguan itu hanya lah dalih Jenaka menjauh setiap kali seseorang terlalu dekat dengannya.

Ya, Jenaka membutuhkan pertolongan sebesar Lingga membutuhkannya.

Namun, itu semua tidaklah mudah bagi Jenaka, karena setiap kali ada orang lain yang mencoba mendekat dengannya, itu sudah membuatnya mual. Ia bahkan tidak pernah bersenda gurau dengan teman wanita hingga larut malam, tidak pernah menghadiri pesta, juga tidak pernah belajar cara bergaul dengan orang lain layaknya manusia normal. Seumur hidup Jenaka membuat dinding pembatas yang tinggi untuk melindungi dirinya dari siapa pun yang berpotensi menyaktinya. Siapa pun!!

Kejadian mengerikan yang begitu mencekam di masa kecil mengubah jiwanya begitu drastis sehingga ia tidak pernah bisa bangkit dari liang kelam kenangannya.

Saat Jenaka membayangkan masa depannya yang ada hanya kesedihan dan sendirian. Namun, ia tidak menangis meski matanya terasa panas, baginya untuk apa membuang air mata? Toh selama ini ia sudah terbiasa sendirian, baginya yang terpenting ia memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk mencukupi hidupnya.

Ia bisa menyentuh orang lain hanya sebatas pekerjaannya, memberi mereka harapan kesembuhan atau meningkatkan kualitas hidup, serta membantu mereka. Mungkin bagi sebagian orang hidup tak sekedar untuk bekerja, tapi bagi Jenaka jelas itu jauh lebih baik dari pada harus terlibat pertemanan dan percintaan yang sama artinya membiarkan seseorang menyakitinya lagi.

Di tengah perdebatan batinnya malam itu, tiba-tiba ingatan tentang Cakra berkelebat memasuki benaknya dan Jenaka hampir saja menjerit, ia kembali mual dan ingin muntah, sehingga Lingga dengan cepat menelan ludah untuk mengendalikan desakan itu.

Ingatan demi ingatan beterbangan, seperti kelelawar keluar dari gua, melesat ke sembarang arahnya. Jenaka mengulurkan tangan yang gemetaran untuk menyalakan lampu. Cahaya terang di kamarnya mampu mengusir kengerian.

Dengan tenang Jenaka menghalau semuanya, seharusnya ia sudah tidak perlu mengingat masa lalunya. Ia harus kembali fokus pada Lingga yang sudah berusaha mengokohkan kakinya untuk berdirinya. Lingga yang penting, bukan trauma masa lalunya! Kalau sampai Lingga kehilangan mood lagi, itu membuat proses pemulihannya berantakan.

Jenaka menatap langit-langit begitu serius memikirkan masalah Lingga yang tengah mencari tahu apakah ia masih bisa berhubungan dengan wanita, masih bisa bercinta lagi atau tidak. Jenaka sendiri tidak tahu mengapa sekarang Lingga tidak mampu melakukannya, kecuali karena beberapa alasan masuk akal yang ia paparkan kepada Lingga saat di kamarnya tadi.

Kalau analisisnya benar itu artinya, seiring kesehatan Lingga berangsur pulih dan mendapatkan kembali kekuatannya, gairahnya akan kembali secara alami, jika dia bertemu wanita yang bisa membuatnya tertarik.

Pemikiran itu membuat Jenaka menggigit bibir bawah. Sekarang Lingga jelas tak mungkin berpacaran. Lingga pasti malu pada kekasihnya jika di bantu naik-turun mobil dan keluar-masuk restoran. Lagi pula Lingga tak punya waktu untuk berpacaran, pria itu harus meneruskan terapi, apalagi mereka baru masuk ke tahap paling berat. tahapan yang membutuhkan lebih banyak waktu dan usaha, juga rasa sakit.

Jenaka berpikir bagaimana jika dirinya saja yang mencoba menggoda Lingga? Tapi bagaimana ia bisa menggoda Lingga, kalau di dekat pria, ia bereaksi seperti kucing tersiram air panas?

Jenaka mengernyit hingga alisnya bertaut. Tapi, reaksi itu hanya terjadi jika bersama pria lain… tidak denggan Lingga. Lingga menyentuhnya, beradu panco dengannya, bercengkerama di lantai dengannya… menciumnya, ia sama sekali tidak ketakutan dan tidak mual.

Ya aku akan menggodanya hanya untuk menolongnya.

Hanya menolongnya tidak berlanjut menjadi nyata, karena Jenaka bukan hanya tidak siap menjalin hubungan asmara dengan pasien, hal itu melanggar integritas profesionalnya, dan lagi dirinya jelas bukan tipe wanita idaman Lingga, Lingga menginginkan gadis berambut pirang dan yang pasti Lingga menginginkan seorang gadis yang masih peraw*n jadi kecil kemungkinan terjadi sesuatu yang serius.

Lama ia memikirkan Lingga, tanpa sadar Jenaka tertidur.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, setelah mandi, Jenaka berdiri ragu-ragu di depan cermin. Ia bahkan belum berpakaian, ia menatap pantulan dirinya di cermin sambil menggigiti bibir bawah dan mengernyit.

Ia memperhatikan rambutnya yang tidak pirang dan lurus seperti tipe wanita kesukaan Lingga. Rambut Jenaka hitam, lebat, menggelombang di bahu layaknya sapu ijuk.

Untuk merapihkan rambutnya yang seperti sapu ijuk, seperti bisanya Jenaka mengepang rambutnya, baru setengah ia mengepang Jenaka berhenti, menatap lekat-lekat pantulan dirinya yang masih memegang rambut.

Ia mengamati sosok wanita dewasa di cermin dengan saksama. Dadanya penuh dan kencang, dihiasi puncak semerah ceri, tapi mungkin terlalu montok untuk selera Lingga. Tubuhnya terlalu atletis, terlalu kuat, sementara Lingga menyukai tipe wanita feminin.

Jenaka kemudian berbalik untuk mengamati tubuhnya dari belakang. Ia mengamati kakinya yang bagus, panjang, indah, dan mulus, serta bok*ngnya, yang montok yang hanya ditutupi sutra merah muda tipis.

Mungkin jika aku mengenakan pakaian sedikit seksi, Lingga akan tertarik. Pasalnya selama ini ia hanya memakai pakaian biasa, yang terlihat kurang menarik.

Jenaka begitu larut dalam pikirannya hingga ia tidak mendengar suara-suara yang dibuat Lingga di kamarnya. Ketika suara serak khas bangun pagi Lingga bergemuruh membuyarkan pikiran Jenaka. “Hei, pemalas, kau terlambat bangun pagi ini!” ucap Lingga.

Jenaka berputar menghadap pintu bersamaan dengan pintu yang terbuka dan Lingga mendorong kursi rodanya melewati pintu.

Mereka sama-sama terpaku. Jenaka tak sanggup mengangkat tangan untuk menutupi payudar*nya yang terbuka. Ia begitu tertegun karena kedatangan Lingga, begitu terhanyut arus pikirannya sehingga tidak mampu menyentakkan kesadarannya kembali ke dunia nyata dan mengambil tindakan.

Lingga juga sepertinya tidak mampu bergerak, ia tidak pergi dan tetap duduk di kursi roda menatap tubuh Jenaka yang hampir tanpa pakaian, kemudian Lingga menaikkan tatapan ke payud*ra Jenaka dan berlama-lama di sana.

“Astaga indah sekali,” bisik Lingga.

Bibir Jenaka kering, lidahnya tak bisa bergerak. Tatapan lekat Lingga sehangat sentuhan fisiknya, dan puncak payudar*nya mencuat ke arah pria itu. Tatapan Lingga semakin ke bawah, turun ke lekukan rusuk Jenaka dan perutnya yang sehalus sutra.

Tatapan Lingga seperti menusuk cekungan mungil pusar Jenaka, dan akhirnya berhenti di pahanya. Jenaka mulai ketakutan, dan akhirnya ia bisa bergerak. Ia berputar cepat membelakangi Lingga sambil memekik rendah, mengangkat tangan untuk menutupi tubuh. Jenaka berdiri kaku memunggungi Lingga dan berkata “Oh, tidak! Kumohon keluarlah Lingga!”

Lingga tak menggerakkan kursi rodanya, ia masih duduk di sana memandangi Jenaka.

“Aku belum pernah melihat orang tersipu malu," ucap Lingga dengan suaranya yang dalam, sarat akan ekspresi geli khas pria. “Bahkan lututmu berubah menjadi merah jambu.”

“Keluar!” teriak Jenaka.

“Mengapa kau begitu malu?” gerutu Lingga. “Kau cantik. Tubuh sebagus itu, aku yakin semua pria bersedia memohon untuk tubuhmu.”

“Bisakah kau pergi?” Jenaka memohon.

“Tubuhmu seindah karya seni, kakimu yang panjang menyangga bok*ngmu dengan sempurna," sahut Lingga dengan nada puas yang mengesalkan

Rasa malu akhirnya berubah menjadi marah. “Sakalingga Ibra, aku akan membalas perbuatanmu!” ancamnya dengan suara gemetaran karena marah.

Lingga tertawa, "Kau pernah melihatku hanya memakai ****** *****, mengapa kau harus malu jika aku melihatmu hanya memakai ****** ***** juga? Tubuhmu sangat sempurna jadi tidak perlu malu."

Tampaknya Lingga tidak berniat pergi, ia justru tampak bersenang-senang. 'Dasar brengsek! ' gumam Jenaka, ia berjalan menyamping agar Lingga tak bisa melihat payuda*anya sampai Jenaka bisa meraih baju tidurnya, yang ia lemparkan di ranjang.

Jenaka berhati-hati supaya punggungnya tetap menghadap ke arah Lingga, tepat ketika Jenaka menyentuh pakaiannya, satu tangan yang lebih panjang dan besar terulur dari belakang dan menahan pakaian itu tetap di ranjang.

“Kau cantik saat marah,” ujar Lingga, ia mengembalikan pujian yang selalu Jenaka katakan saat latihan angkat beban.

“Aku tak butuh pujianmu, ayo cepat kembalikan pakaianku” pinta Jenaka dengan kemarahan mendidih.

“Sudahlah jangan buang-buang energimu untuk marah-marah,” ucap Lingga.

Jenaka terlompat ketika tangan keras Lingga tiba-tiba menepuk bok*ngnya dengan mesra dan mengakhiri kekurangajarannya dengan melepaskan tangannya dari baju tidur Jenaka.

“Aku akan menunggumu untuk sarapan,” ucap Lingga lembut, dan Jenaka mendengar pria itu terkekeh pelan saat meninggalkan kamarnya.

Jenaka membuntal baju tidur dan melemparkannya ke pintu yang tertutup. Wajahnya seperti terbakar, ia menekankan tangannya yang ke pipi. Dengan gusar ia memikirkan beberapa cara untuk membalas perbuatan Lingga, tapi ia harus menghindari pembalasan yang bisa mencederai fisik.

Sudahlah tak perlu larut dalam rasa malu, toh selama ini Lingga tidak pernah memikirkan se*s, lagi pula burungnya tidak bisa bangun, anggap saja yang tadi dia hanya iseng. Jenaka bergegas memakain baju dan bergabung bersama Lingga di ruang makan.

Selama sesi latihan Jenaka terlihat tenang dan santai seperti biasa, sementara Lingga ingin terus menghabiskan waktu lebih lama di palang dari pada kemarin, menyeimbangkan tubuh dengan tangan sementara kakinya menopang bobotnya.

Pria itu terus menghamburkan sumpah serapah karena menahan sakit, tapi ia tak ingin berhenti bahkan ketika Jenaka memutuskan untuk melanjutkan ke latihan lain, Lingga menolak.

"Aku masih mau berdiri," ucap Lingga.

"Baiklah," Jenaka membantunya menggerakkan kaki, saat Lingga mengambil langkah pertama dalam dua tahun, keringat membanjiri sekujur tubuh Lingga ketika merasakan kesakitan yang menyiksa otot-ototnya, dia tidak terbiasa dengan aktivitas seberat itu.

Sesi latihan hari itu berakhir pukul 17.00 WIB, lebih lama dari biasanya, sehingga pada malam hari Lingga merasakan kram di kaki yang membuatnya terjaga berjam-jam, dan Jenaka memijatnya hingga kelelahan.

Tidak ada diskusi mesra dalam kegelapan malam itu. Lingga kesakitan, nyaris tidak sempat relaks saat satu kram tersembuhkan karena kram lain langsung membuat kakinya kaku. Akhirnya Jenaka membawa Lingga turun dan memasukkannya ke kolam renang, dan tindakan itu berhasil meredakan kram di kaki Lingga.

1
RithaMartinE
luar biasa
Ersa
yakin aka selesai malam ini??
Ersa
jgn terus bermonolog dg pikiran & asumsi mu sendiri Jee, bicarakan saja dg lingga
Ersa
melting aku Bang
Ersa
jian ngeyel mrengkel tenan Jenaka ki🤲🏻
Ersa
jantung & hatiku berasa gak aman🤭
Ersa
cinta at first sight 🥰
Ersa
ya Allah aku sempet feeling klo mrk menikah krn kasus rudap*ksa Aya Selama menikah cakra merudap*ksa Jenaka
Ersa
lingga jadi ahli Terapi meraba🤣
Ersa
typo ya 🤭
Ersa
Jee...Sayang... aahh meleleh..
Ersa
simbiolisme mutualisme sama2 saling menguntungkan... jenaka perlahan sembuh dari trauma dekat dg lelaki ,lingga sembuh dari kelumpuhan
Ersa
Modus🤣
Ersa
usil apa medium tuh😁
Ersa
🤣
Ersa
jenaja butuh Terapi mental & sentuhan ketulusan hati
Ersa
atokah mrk menikah krn kejadian rudap*aksa
Ersa
🥰🥰
Ersa
cakra mantan Suami Jenaka ?? rudap*ksa??..🤔
Ersa
lalu bgmn saat menikah dg cakra, apakah tdk pernah disentuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!