Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kartika langsung meraih tasnya dan berlari menuju mobil, membawa mobil menuju ke sekolah dengan terburu-buru, saat mendapatkan kabar jika ternyata Molki sedang terlibat perkelahian di sekolah.
"Nyonya. Mau kemana?" Teriak Ratih dengan dengan jantung yang terpompa dengan cepat karena takut dengan laju mobil yang di bawa oleh Kartika.
"Anak ku sedang dalam masalah." Kata Kartika dengan fokus menyetir mobil.
Kata 'anakku' yang keluar dari bibir Kartika membuat Ratih tersenyum dan seketika ketakuan Ratih pudar, hilang entah kemana. Ratih senang, karena setidaknya ada wanita yang benar-benar tulus terhadap tuan muda nya dan juga nona mudanya. Tanpa ada basa basi atau embel-embel lainnya.
Beberapa saat kemudian. Mobil telah sampai dan terparkir dengan sempurnah di parkiran mobil sekolah. Dengan buru-buru Kartika turun dari mobil, dan melangkah menuju ruang kepala sekolah.
"Permisi." Kata Kartika, saat masuk ke dalam ruangan.
Kartika langsung memeluk Mora dengan hangat, lalu setelah itu mengusap wajah Mora.
"Tidak perlu takut sayang." Kata Kartika, lalu Kartika melihat ke arah Molki.
"Jangan takut, ada tante." Kata Kartika sambil memegang kedua tangan Molki.
"Apa yang terjadi. Kenapa anak-anakku bisa terlibat perkelahian." Tanya Kartika lalu duduk di sofa.
"Anak mu memukul anakku. Kau harus bertanggung jawab." Ucap salah satu ibu siswa dengan nada yang tinggi.
"Dimana peranmu jadi orang tua? Kau tidak mendidik anakmu dengan baik?" tanya salah satu ibu yang juga anaknya menjadi bahan amukan dari Molki.
"Kalau tidak becus mengurus anak, lebih baik jangan sok sok menyekolahkannya."
"Ibu-ibu harap diam." Kata ibu kepala sekolah.
Kartika mengepalkan kedua tangannya. Andai tidak ada Molki dan juga Mora, mungkin semua ibu-ibu yang kini ada di hadapannya ini telah ia ratakan dengan tanah.
"Kenapa hanya diam saja. Cepat minta maaf dan ganti rugi wajah anakku ini."
"Ya betul kau sudah merusak wajah anak-anak kami."
"Anakmu itu monster, dia mengerikkan."
Mendengar kata itu. Kartika sontak berteriak.
"Stop!"
Sungguh Kartika tidak dapat menahan amarahnya jika sudah menyangkut tentang anak sambungnya.
"Berani sekali kalian mengatai anakku monster?" Tanya Kartika.
"Coba tanya pada diri anda semua. Apa kalian sudah beres mengurus anak-anak kalian? Coba tanyakan pada anak kalian, apa yang dia lakukan hingga anakku memberikan pelajaran pada anak kalian.?" Tanya Kartika dengan nada tegas dan tinggi.
"Saya harap kalian semua bisa tertib." kata ibu kepala sekolah.
"Saya bisa tertib bu, asal ibu-ibu yang tidak tahu diri ini bisa diam, dan tidak menghina anak saya." Ucap Kartika.
"Molki, coba ceritakan sayang kenapa sampai memukul anak,anak ini?" tanya Kartika
Lalu Molki menceritakan sebabnya. Kenapa ia sampai memukul teman sekolahnya. Yang awalnya hanya mengejek Molki, namun Molki masih bisa menahan amarahnya dna pergi menghindar. Namun, saat Molki melihat kerumuman siswa-siswi, Molki pun penasaran dan mendekati, ternyata sang adik sedang di bully oleh siswa yang tadi mengejek Molki. Dan karena tidak bisa menahan amarahnya lagi, Molki pun langsung memba*bi buta, memukul siswa-siswa yang telah membuat air mata sang adik jatuh membasahi pipinya.
"Benar begitu nak?" tanya ibu kepala sekolah pada siswa yang telah terluka di bagian wajahnya.
Siswa hanya diam. Tidak menjawab. Mereka menunduk karena takut.
"Ibu bisa lihat kan. Mereka hanya diam berarti mereka salah." Ucap Kartika
"Diam kau. Anakku tidak salah, dia korban. Buktinya wajahnya sampai luka."
"Yah, wajah anakku juga luka."
"Stop." Teriak kepala sekolah. "Lebih baik kita selesaikan semua masalah ini secara kekeluargaan, tidak usah di perbesar-besarkan."
"Tidak! Aku akan membawa masalah ini ke jalur polisi." kata salah satu ibu siswa sambil meraih tas dan berdiri lalu menarik anaknya keluar dadi ruangan kepala sekolah. Begitupun dengan para ibu yang lain, keluar dari ruangan dan bersikukuh untuk membawa jalur ini ke kepolisian.
"Tante. Apa kak Molki akan di penjara? Tapi kak Molki ngak salah tante."
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.