NovelToon NovelToon
My Brother is Everything To Me

My Brother is Everything To Me

Status: tamat
Genre:Romansa / Cinta Terlarang / Romansa-Tata susila / Tamat
Popularitas:263.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Reny Etrora

"Kak, kok lo cium gue?"

"Kenapa? Waktu kecil, kita sering ciuman begini. Lo adik gue"

"Lo bohong kak. Ciuman lo barusan, bukan karena lo nganggap gue adik. Gue bukan adik kecil lo lagi. Gue udah gede, udah kuliah, gue juga udah punya pacar"

Radit mengecup bibir Jelita lagi. Membiarkan sepasang bibir itu menempel beberapa saat. Radit ingin melihat reaksi gadis yang sedang ditindihnya.

"Kenapa lo gak nolak?"

Jelita seketika mematung. Ia tidak bicara lagi dan hanya memutar bola matanya, bingung. Ia tidak mengerti dan hampir depresi memikirkan gemuruh rasa di sanubarinya. Radit kakaknya. Dan kenapa ia membiarkan bibirnya yang belum disentuh pria manapun, dimainkan liar oleh pria yang sejak kecil ia panggil kakak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Yang Sama

Permainan bibir Radit semakin intim menyapu bersih lispstik berwarna merah jambu yang tadinya mewarnai bibir Jelita. Jelita berusaha mengimbangi namun tekanan di atasnya terlalu berat hingga membuatnya sulit bergerak. Ada yang aneh pastinya. Meskipun otak warasnya menolak keras cumbuan ini tapi di satu sisi yang lain, otak gilanya terus mendorong untuk tidak berhenti.

Ini tidak benar bagi Jelita. Namun tentu saja tidak ada yang salah bagi Radit. Ia sedang tidak bercumbu dengan adiknya tapi ia sedang bercumbu dengan gadis yang saat ini memenuhi relung hatinya. Rahasia ini tidak bisa Radit utarakan karena janjinya dengan kedua orangtuanya. Tapi ia sangat tahu jika dirinya telah membuat gadis di bawahnya diliputi rasa frustasi serta resah yang tak berkesudahan.

Sekarang Radit semakin yakin, laki-laki yang Jelita cintai adalah dirinya bukan Zain. Namun nyatanya gadis itu tentu saja menganggap perasaannya itu suatu kesalahan yang menyimpang bahkan melawan norma. Inilah yang membuat Radit dihantui rasa bersalah besar. Dia tidak akan memberitahu Jelita yang sebenarnya tapi ia juga tidak bisa terus-terusan menahan gejolak rasa di dalam sanubarinya. Ia ingin memeluk dan menyentuh gadis yang dicintainya itu sesering mungkin. Menggambarkan rasa cintanya yang sudah tumbuh beberapa tahun silam.

"Kak, gue ngantuk" ucap Jelita sesaat setelah Radit membebaskan bibirnya.

"Tidurlah" kata Radit sambil mengelus ujung kepala Jelita.

Alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya tadi masih menguasai dirinya. Jelita pun dapat tidur cepat tanpa harus mengkhayal kesana kemari seperti rutinitas cewek pada umumnya sebelun tidur.

"Maafin gue, Ta. Gue buat lo bingung. Tunggulah sebentar lagi. Gue akan kasih tahu lo semuanya" ucapnya ragu. Namun Radit merasa yakin suatu saat nanti Jelita akan tahu rahasia itu, entah itu dari dirinya, bisa juga dari orangtuanya atau nanti adiknya itu akan tahu dengan sendirinya. Tinggal menunggu waktu saja sampai bom waktu meledak.

Satu yang Radit takutkan. Apakah nanti Jelita akan membencinya setelah tahu semuanya? Karena ia juga turut andil menyimpan rapat rahasia itu.

***

Tubuh Jelita menggeliat sembarang. Beberapa persendiannya menimbulkan bunyi khas saat sepasang tangannya terangkat ke atas. Perlahan ia membuka mata dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Baru kali ini ia bangun di tempat berbeda. Jelita menggelengkan kepala. Otak kecilnya berusaha mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat, ia masih tidak menemukan alasan dirinya bisa sampai terdampar di sini.

Oohhh

Jelita melotot sambil menyingkap selimut untuk melihat bagian bawah tubuhnya.

Hah!

"Aman. Gue gak di apa-apain" ucapnya lega. Tapi siapa yang bawah gue ke sini ya? Dan ini kamar siapa?" Jelita mengacak-acak rambutnya. Baru kali ini ia bangun dengan pikiran kusut juga kebingungan.

Jelita pun bangkit dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi. Ia tidak peduli jika dicap cewek lancang karena memakai kamar mandi orang lain tanpa izin. Sekarang ia butuh air dingin untuk membasuh wajahnya agar pikirannya jernih kembali. Mungkin saja setelah itu ia dapat mengingat apa yang sebenarnya terjadi.

Tok! Tok! Tok!

Sontak Jelita tercengang saat pintu kamar mandi yang sedang dipakainya diketuk seseorang. Tubuhnya mematung di tempat. Dengan hati berdebar, ia pun memberanikan diri membuka pintu pelan-pelan. Matanya melotot begitu pintu terbuka lebar.

"Lo, kak. Jadi ini apartement lo. Hah! Syukurlah" ucap Jelita melepas nafas lega.

Baru saja kaki kanannya keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering. Jelita meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

"Zain" ucapnya sebelum menjawab panggilan.

"Loudspeaker" titah Radit.

"Dih maksa. Ogah" tolak Jelita mendelik.

"Loudspreaker atau gue kasih tahu papa kalau semalam lo mabuk" ancam Radit dengan tatapan membidik.

Jelita mendengkur dongkol. Ia paling tidak suka diancam-ancam begini. Tapi mau bagaimana lagi, bisa habis ia dimarahin papanya jika Radit memberitahu apa yang terjadi dengannya semalam.

"Ni gue loudspreaker" ucapnya tak ikhlas.

📞 Ya Zain

📞 Ta, kamu semalam kemana? Kita semua cariin kamu. Orangtua kamu, kak Radit, dan aku juga. Semua khawatir sama kamu.

📞 Semalam aku jalan sama teman. Maaf ya aku lupa kasih kabar.

Jawab Jelita berbohong. Ia tidak mau Zain menganggapnya cewek liar jika kekasihnya itu tahu jika ia mabuk semalam.

📞 Ya sudah sekarang kamu dimana? Aku belum puas kalau belum lihat kamu.

📞 Hmm aku di...di rumah.

📞 Kalau gitu aku ke sana.

Radit merebut ponsel Jelita.

📞 Tidak perlu. Jelita sama gue sekarang. Dia baik-baik saja.

Radit memutuskan sambungan sepihak.

"Kak, lo apaan sih. Lancang banget. Sini HP gue"

"HP lo, gue sita. Kita sarapan dulu" ucap Radit tegas sembari berjalan lebih dulu meninggalkan kamar.

Jelita mengepal tangannya geram. Mimik wajahnya bringas layaknya preman yang siap membinasakan musuhnya. Radit memamg senyebelin itu.

"Makanan apaan sih ini? Dari penampilannya saja kayaknya gak enak" gerutu Jelita masih terbawah kesal atas sikap Radit tadi.

"Gak baik menghina makanan. Ntar lo kena batunya" sahut Radit mengingatkan.

"Lo nyumpahin gue?"

"Sudah duduk, makan yang banyak. Lo gak sadar badan lo kerempeng gitu" ledek Radit sembari duduk.

"Kayak lo paling sempurna saja" timpal Jelita.

Di tengah santap pagi itu, tiba-tiba terlintas sesuatu di kepala Jelita. Sebuah adegan panas melintas begitu saja. Bibirnya dengan Radit saling berpaut. Yang membuat Jelita heran, baju yang ia kenakan dalam adegan itu, sama dengan yang sedang ia pakai sekarang.

Itu artinya yang barusan yang gue ingat, semalam kejadiannya. Apa semalam gue sama kak Radit,..... Pikiran Jelita terputus. Tiba-tiba saja Radit bersuara dan membuyarkan segalanya.

"Mau sampai kapan lo melamun?" tanya Radit sambil menyuapkan pasta ke dalam mulut Jelita.

Mulut Jelita refleks terbuka. Mau tidak mau ia harus mengunyah pasta itu meskipun sebenarnya ia sedang malas makan mie. Di kampus makan mie, di rumah juga makan mie, dan sekarang di apartement Radit pun makan mie juga. Gimana gak eneg coba?

"Kenapa lo mabuk?" tanya Radit.

Jelita terdiam. Ia tidak mungkin memberitahu alasan yang sebenarnya.

"Hmm gue mau coba-coba saja"

Radit tersenyum tipis. Ia tahu Jelita sedang berbohong karena semalam ia sudah mendapatkan jawabannya.

* 8 jam yang lalu...

Mata Jelita terasa berat sekali. Ia sampai harus bekerja keras untuk melebarkan pupilnya. Kecupan liar Radit di bibirnya pun tidak dapat ia tolak meskipun logikanya terus memberontak menyuruhnya berhenti.

"Kak, gue ngantuk banget" ucap Jelita berbisik.

"Tidurlah"

"Kak, lo gak boleh senyum semanis itu sama cewek lain" ujar Jelita.

Radit mengenyitkan dahi. Ia tidak mengerti apa yang Jelita kata kan.

"Tadi gue ke kantor papa. Gue mau kasih dasi sama lo. Gue nyusulin lo ke kantin. Gue liat lo akrab banget sama cewek itu. Gue gak suka, kak. Lo itu nyebelin banget sih. Baru kali ini gue minum dan itu karena lo" tutur Jelita panjang lebar dengan suara parau.

Radit senyum dikulum. Ternyata Jelita sedang cemburu. Ini sangat melegakan baginya. Ia tidak salah menduga, Jelita memang memiliki perasaan yang sama dengannya. *

1
Qaisaa Nazarudin
Akhir nya mereka Nikah juga,Maaf thor aku baca lompat2,Males banget baca yg area bab ada komplik nya,gak mau otak ku mumet, Makanya aku baca yg happy2 nya aja..😁
Qaisaa Nazarudin
Tapi menurut ku udah bagus Surya tau hubungan Radit dengan Jelita,Jadi Surya gak perlu lagi jodoh jodohin anaknya,Kayak anaknya gak laku aja..
Qaisaa Nazarudin
Surya masih aja ngebet ngejodohin Radit ama Nayla ck ck..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Radit udah menyukai Jelita itu dari lama..
Qaisaa Nazarudin
Ogeb,Kabur tapi tampa peesiapan apa pun, Hujung2 nya balik lagi kerumah,Sia2 aja drama kabur kaburannya..🤦🤦🤦🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Deg degan aku,Pasti Jelita akan menemuin sesuatu Rahasia..👍👍
Qaisaa Nazarudin
Pasti itu makam ortunya Jelita,Apa jangan2 ortu jelita meninggal karena kecalakaan,Dan kecelakaan itu di sebabkan oleh mereka,Karena rasa bersalah mereka mengadopsi Jelita..Aku cuma bisa menerka2 aja ya..😁
Qaisaa Nazarudin
Biasanya anak yg baru pulang kuliah dari luar negeri itu langsung di sibukkan dengan kerja,Lha ini Radit ini langsung jadi pengangguran..🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Pasti Radit udah tau dari lama,kalo Jelita itu bukan adek kandungnya,Dan Radit suka sama Jelita sebagai pasangan..
Qaisaa Nazarudin
Kok feeling ku kalo Radit itu Punya rasa lain ke Jelita,bukan perasaan kakak ke adek,tapi sebagai pasangan,Mereka juga pasti bukan adek kakak kandung kan.
V
sangat bagus
V
makasih thor buat karyanya, aku senang bacanya ,sukses terus buat karya selanjutnya
Puput
Emang kampret Di Radit🤣, mamakmu loh itu🤣🤣
Puput
Othor yang baik hati ada yang typo

mengecam seharusnya Mengenyam
nurul nazmi
seru ceritanya
Lina ciello
dyarr kapokkk kon emangg enakk 🤬
Lina ciello
nahh lungo ae
Lina ciello
endi iki flash back e yaw
Lina ciello
salah dalan bek kro zain.. mending gq sah kabeh
Lina ciello
hajarrr ae radit kui
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!