Karena balas budi, Kailani bersedia mengandung calon bayi dari pria yang sama sekali belum ditemuinya. Namun, apa jadinya jika pria tersebut ternyata adalah sang mantan terindah yang ditinggalkannya karena tuntutan sebuah keadaan?
Apakah yang akan dilakukan sang pria yang ternyata masih mencintai Kailani dalam diam dan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akankah Kailandra menyadari?
Karina yang sedang duduk bersandar di atas brankar sambil berselancar di sosial media melalui telepon genggam, seketika menghentikan aktivitasnya. "Kai, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu? Aku yang mengandung mereka, Kai. Bahkan Aku bertaruh nyawa untuk melahirkan mereka. Masih saja salah di depanmu? Kalau memang ASI-ku tidak bisa keluar, apa itu salahku? Apa itu berarti Aku bukan ibu yang baik?" tantang Karina seolah-olah dirinya benar.
"Kamu pikir mengandung dan melahirkan saja sudah cukup membuatmu disebut Ibu? Jangan salah Karina, justru tugas sebagai Ibu seutuhnya itu baru dimulai setelah anak itu lahir. Bagaimana seorang ibu merawat, membesarkan dan mendidik anaknya. Dan itu tidak bisa kamu lakukan sambil terus menghabiskan waktu dengan hanya bermain handphone seperti ini" sahut Kasih, menimpali pernyataan Karina yang keras pada putra tunggalnya.
Sedari kemarin-kemarin, sesungguhnya Kasih sudah jengah dengan kebiasaan Karina yang seakan tidak bisa hidup tanpa telepon genggam. Namun, dia masih menahan diri. Mengingat tidak ingin membuat menantunya itu stres. Sehingga bisa menghambat keluarnya ASI.
"Jelas kamu salah, Kar. Setidaknya kamu berusaha dulu," tegas Kailandra.
"Sebentar lagi, ada seorang bidan yang akan membantu menstimulasi agar ASI-mu segera keluar."
Belum sempat Karina mencari alasan untuk menolak keinginan Kasih, pintu ruangan terbuka diikuti dengan kemunculan perempuan dengan pakaian yang berbeda dengan seragam suster yang keluar masuk membantu Karina sebelumnya.
"Tolong bantu menantu saya agar bisa segera keluar ASInya" Kasih berdiri menyambut seorang bidan yang bertugas memberikan bimbingan laktasi pada ibu-ibu yang baru saja melahirkan.
"Baik, Bu, dengan senang hati." Perempuan tadi menjawab dengan ramah.
Karina tampak gelisah. Ekor matanya melirik ke arah Kailandra dan Kasih yang sedang kompak melemparkan tatapan tajam kepadanya. Detik itu juga, perempuan tersebut menyadari posisinya yang sebenarnya. Setelah masa kehamilan yang membuatnya sedikit terbuai dengan kebaikan Kasih, kini semua kembali ke awal. Di mana dia memanglah bukan menantu pilihan yang diharapkan Kasih untuk mendampingi Kailandra.
Perempuan berprofesi bidan yang menjadi pembimbing sekaligus pendamping Karina mulai melakukan sesinya. Perempuan tersebut meminta Karina untuk tidak malu-malu mengeluarkan bagian tubuh yang menjadi sumber makanan bayi. Saat bidan itu ingin mencontohkan cara pijatan untuk merangsaang keluarnya Asi, ia merasakan kejanggalan pada bagian tubuh Karina. Sebagai profesional yang paham benar anatomi tubuh perempuan saat hamil atau pun pasca melahirkan, bidan tersebut mengernyitkan keningnya.
"Selama hamil, apa ibu pernah merasakan payyudara ibu mengeras atau nyeri saat disentuh?" Bidan mencoba sedikit menggali informasi.
Karina menggelengkan kepalanya dengan reflek. Tidak banyak hal yang dia ketahui tentang menyusui. Sungguh dia lupa untuk mempelajarinya juga.
"Apa Anda mengkonsumsi obat atau ramuan tertentu selain obat dari dokter untuk mempercepat proses penyembuhan bekas sayatan jahitan SC?" Bidan kembali bertanya.
Lagi-lagi Karina menggelengkan kepalanya. Dalam hati perempuan itu merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya melewatkan hal yang tidak kalah penting seperti ini. Jika Karina tahu akan serumit ini, jelas lebih baik kalau dirinya pura-pura koma saja.
Melihat gelagat Karina yang mencurigakan, Kailandra menarik tangan Kasih dan mengajak mamanya tersebut keluar meninggalkan ruangan di mana istrinya masih terus diberondong pertanyaan-pertanyaan yang diberikan bidan.
"Ma, setelah melahirkan, apa memang perempuan bisa tetap bergerak bebas? Apa bekas operasinya tidak sakit?"
Mendengar pertanyaan Kailandra, Kasih langsung memukul lengan anaknya tersebut dengan sedikit keras. "Jaman mama dulu, operasi sesar masih jarang dilakukan. Mama juga tidak pernah mengalami, jadi mama tidak tahu rasanya bagaimana. Tapi minggu kemarin mama baru saja menjenguk menantu teman mama yang selesai operasi sesar. Gerakannya tidak segesit Karina sekarang. Cara berjalannya pelan sedikit membungkuk. Entahlah, mungkin Karina memang badak."
Kailandra mencebikkan bibirnya. Entah mengapa, perasaannya mengatakan ada yang disembunyikan oleh Karina. Dia akan mencari tahu, nanti setelah anak-anaknya sudah membaik keadaannya.
Meninggalkan Karina yang sedang merasa terintimidasi karena masalah Asi serta Kailandra yang sedang bergelut merangkai kejanggalan-kejanggalan sikap Karina pasca melahirkan. Kailani yang baru menyelesaikan kegiatannya memompa ASI, menarik napas lega. Meski belum terlalu banyak, 200cc perlahan ASI yang didapatnya sudah cukup untuk kebutuhan baby twins beberapa jam ke depan.
Berselang beberapa menit kemudian, Kalvin kembali datang. Kali ini tidak sendirian, ada Kenzo yang juga muncul bersamaan dengan pria tersebut.
"Keiko bagaimana? Pasti dia nyari aku." Kailani langsung menyambut Kenzo dengan pertanyaan.
"Aku sudah memberikannya pengertian. Kamu fokus saja dengan pemulihanmu," jawab Kenzo.
"Bagaimana dengan baby twins, Vin?" Pertanyaan Kailani beralih pada Kalvin.
"Berat badan mereka turun. Keduanya jarang menangis. Detak jantung masih sangat lemah."
Jawaban Kalvin membuat Kailani murung. Seburuk-buruknya kondisi Keiko saat dilahirkan, setidaknya Keiko dulu jauh lebih beruntung karena bisa melakukan skin to skin sesegara mungkin begitu dia sudah bisa duduk pasca operasi.
"Tolong bawa Aku ke sana," pinta Kailani, entah ditujukan pada Kenzo ataukah Kalvin.
"Kai, jangan menambah luka. Semakin kamu terikat dengan dengan anak-anakmu, akan semakin berat dan sakit melepaskan mereka. Jangan pernah bertemu langsung dengan mereka, jaga sendiri hatimu," pesan Kenzo.
Kailani menggeleng pelan. "Luka ini sudah menjadi resikoku, Ken. Bertemu mereka atau tidak, naluri ini tetaplah ingin melindungi dan memastikan anakku baik-baik saja dan tumbuh dengan baik. Setidaknya, saat mereka bersama keluarga barunya, mereka sudah dalam keadaan yang sehat," lirih Kailani sembari bersusah payah mengubah posisi yang tadinya masih berbaring miring menjadi duduk.
Kalvin langsung mengambil kursi roda di sudut ruangan lalu mendekatkan benda tersebut di dekat brankar Kailani. "Maaf, Kai. Boleh aku membantumu?" Kalvin mengatakannya dengan hati-hati.
"Tidak perlu, Vin. Aku bisa pelan-pelan. Tolong antar Aku ke ruang anak-anak." Kailani menarik napas dalam. Pasca operasi dan terbangun dari koma dua harinya, ini adalah kali pertama dia akan mencoba berdiri. Keringat dingin membasahi keningnya karena sedikit menahan nyeri dan panas seperti sensasi kulit terbakar di area sekitar bekas jahitan sesarnya.
"Ken, kamu pulanglah. Setidaknya Keiko tenang kalau ada kamu. Maaf belum bisa ngambil Keiko. Aku akan pulih dengan cepat. Sampaikan Terima kasihku juga pada Keira." Kailani menatap Kenzo begitu lembut.
"Sudah Aku bilang, Keiko juga anakku, Kai. Kamu sama sekali tidak merepotkan kami. Ya sudah, Aku pulang. Ini ponselmu, waktu itu Kailandra yang menemukan. Kalau ada apa-apa, hubungi Aku." Kenzo mengulurkan benda pipih bertekhnologi tinggi milik Kailani pada mantan istrinya itu.
Tidak ingin membuang waktu, Kailani diantar Kalvin menuju ruang di mana baby twins berada. Tidak lupa Kailani membawa sebotol ASI yang sudah disiapkannya tadi. Kalvin hanya mengantar sampai pintu depan, untuk masuk ke dalam, Kailani dibantu oleh perawat yang sudah diajak Kalvin bekerjasama.
"Assalamu'alaikum ... ini bunda sayang, dengarin bunda, ya. Setelah hari ini, bunda tidak tau akan bertemu dengan kalian lagi atau tidak. Tapi bunda janji, akan tetap memberikan hak kalian bagaimana pun caranya. Ayo...Kalian juga semangat berjuang. Minum yang banyak, nangis yang kenceng." Kailani berbisik tepat pada bagian inkubator kaca yang berlubang di sisi depan box tersebut.
Bulir bening perlahan jatuh membasahi pipi mulus Kailani. "Maafkan bunda, jika suatu saat nanti kalian mengetahui cerita yang sebenarnya, tolong jangan benci bunda, ya."
Suara Kailani semakin bergetar, tanpa disadarinya, ada sosok pria yang baru saja datang berniat ingin menghampiri dan memarahinya. Namun, langkah kaki pria tersebut berhenti, ketika mendengar suara tangis bayi bersahut-sahutan sedikit nyaring.
Kadang pembaca ini membaca untuk menenangkan fikiran tapi karyamu yg hanya STUCK pada 1 huruf boleh bikin pikiran pembaca jadi stress 😔😔😔 & aku salah 1 pembaca yg sekarang sudah stress 😒😒😒
jika hampir disetiap novel kalian kalian pasti hadirkan sosok lelaki lain yang begitu baik dan peduli pada pemeran utama wanita seperti sosok KELVIN, kalian bungkus intaksi mereka dengan embel peduli pada sahabat, menganggap saudara, melindungi orang yang disayang,dll
apakah novelis wanita berani juga hadirkan sosok wanita lain yang baik dan begitu peduli pada sosok pemeran utama pria (suami), dengan embel peduli pada sahabat, dan anggap saudara atau melindungi orang yang disayangi
saat kalian hadirkan sosok kelvin yang begitu tulus dan selalu ada untuk melindungi kailani, berani tidak kalian berlaku adil hadirkan juga wanita lain yang tulus, dan selalu ada untuk melindungi kailandra
karena wanita itu mahluk egois
tidak ada wanita yang boleh menyukai suaminya kalau ada wanita itu wanita pelakor
tapi mereka akan kebaperan bila ada pria lain yang menyukainya dan akan menganggap pria itu pria baik2 dan tulus