NOVEL KE.9 = SANG PENARI.
"SUGENG RAWUH ING DUSUN GRINGGING"
Di sinilah perjalanan kami dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUMBAL
Di tengah perjalanan, rombongan berhenti. Tiga buah kain putih bersih dikeluarkan. Kain yang sangat dikenali oleh ketiga pemuda.
"Gila! mau apa kalian?" teriak Galang.
"Untuk apa kain kafan itu?" imbuh Galang.
Para pendorong gerobak tidak menggubris teriakan Galang. Mereka tetap melakukan apa yang hendak dilakukan yakni membungkus ketiga pemuda menggunakan kain kafan tadi. Sontak Rizal, Adnan dan Galang meronta. Berusaha melepaskan diri sembari terus berteriak. Namun, percuma saja sebab kekuatan mereka sangat jauh berbeda. Dalam satu pelototan mata saja, ketiga pemuda menjadi lemas, tidak kuat bergerak. Tubuh ketiga pemuda dibungkus layaknya jenazah yang hendak dikebumikan.
"Ya Alloh! apa ini? tolong hamba ya Alloh!" ratap Adnan di dalam hati.
Kondisi tubuh sangatlah lemah. Jangankan meronta, berteriak saja tidak bisa. Ketiga pemuda hanya bisa pasrah saat didorong kembali oleh orang-orang yang bertubuh tambun tersebut. Mimik wajah ketiganya terlihat datar tapi mata mereka, terus saja menitikan air mata.
"Sudah cukup main-mainnya! untuk apa berlama-lama mengelilingi hutan jika nasib kalian telah ditentukan? bukankah itu hanya melakukan sesuatu yang sia-sia?" ujar salah seorang pendorong gerobak.
"Siapa kalian, begitu berani menentukan nasib kami?" tanya Rizal dengan suara yang lirih.
"Ini semua juga karena ulahmu! kamu dan temanmu itu (menunjuk ke arah Galang) begitu sombong. Dengan entengnya merendahkan kaum kami sebelum naik ke sini. Tentu saja kesombongan kalian, kami sambut dengan tangan lebar. Kalian akan segera menjadi bagian dalam dunia kami."
Rizal dan Galang lantas berpikir dengan keras. Keduanya menyadari apa yang telah mereka katakan dan kemudian lekas meminta maaf. Sayangnya, permintaan maaf itu, ditolak dengan tegas.
"Semua orang sudah terlanjur suka. Bagaimana bisa keputusan dirubah?"
...Deg.....
"Tolong maafkan kami! kami tahu, kami salah. Ini pelajaran yang tidak akan pernah kami lupakan sepanjang hidup kami. Kami akan terus mengingatnya dan mawas diri. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi! kalau perlu, kami tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di sini," sahut Adnan.
"Kamu, Adnan.. nasibmu masih dalam pertimbangan. Kamu tidak sama dengan kedua temanmu ini. Mereka berdua yang merendahkan kaum kami. Sementara kamu, sama sekali tidak. Jangan terlalu takut dan jangan terlalu senang juga. Semua masih belum pasti. Antara dilepaskan ataukah ditumbalkan, seperti dua temanmu yang lain."
...Deg......
Ketiga pemuda membulat seketika. Tangis Rizal dan Galang pun kian deras.
"Jangan! tolong maafkan juga mereka! kami masih muda, sangat ceroboh hingga menyinggung kalian. Mohon maafkan kami!" iba Adnan yang masih terus berusaha.
"Aku hanya bilang kalau nasibmu masih dipertimbangkan. Bukan berarti kalau kamu akan benar-benar selamat. Lebih baik, kamu pikirkan dirimu sendiri saja! siapa menanam, tentu akan menuai bukan?"
...Deg.....
..."Kreesss.. Kreeess... Kresss..."...
Suara yang sangat familier bagi ketiga pemuda. Suara khas dari roda gerobak yang melindas ranting kering serta dedaunan dan kali ini, mereka sendiri yang berada di dalam gerobak. Sengaja dipersiapkan untuk dijadikan persembahkan. Setelah sebelumnya diberikan kesempatan untuk mencoba keluar. Mencari jalan untuk bisa pulang. Sayangnya, usaha Rizal, Adnan dan Galang menemui kegagalan. Tampaknya, hari ini adalah hari terakhir dari kesempatan yang telah diberikan.
"Apa yang harus kami berdua lakukan agar kalian dapat memaafkan kami?" tanya Galang.
"Tidak ada. Kamu pikir, semudah itu membuat perjanjian dengan kami? tapi, bagaimana pun, semua hal bisa dibicarakan."
"Apa maksudmu?"
"Kami menerima imbalan, jika kamu meminta sesuatu dari kami, kamu juga harus memberikan sesuatu kepada kami."
"Pertukaran?"
"Ya benar."
Galang terdiam sesaat sebelum kemudian kembali bertanya:
"Memangnya apa yang kamu inginkan?"
"Galang cukup! jangan membuat perjanjian dengan kaun jin!" sergah Adnan.
"Aku baru bertanya saja Nan. Lagi pula, kamu bisa berbicara seperti itu karena nyawamu sudah aman. Kamu sama sekali tidak memikirkan aku dan juga Rizal."
"Bukan begitu Lang, kamu juga sudah mendengarnya. Nasibku masih dipertimbangkan dan bukan benar-benar aman."
"Tapi kamu, tidak melakukan kesalahan. Berbeda dengan kami berdua."
Mendengar jawaban Galang, Adnan pun diam.
"Katakan! apa yang kamu mau?"
Galang kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada si pendorong gerobak.
"Hemm.. sepertinya ini akan membuat kaumku senang. Begini, kamu pasti ingin selamat bukan?"
"Tentu saja aku ingin selamat."
"Kalau begitu, pilih salah satu dari dua temanmu ini untuk menggantikanmu menjadi tumbal!
...Deg.....
Keenam pendorong gerobak pun tertawa. Mereka merasa sangat puas telah mempermainkan Rizal, Adnan dan Galang.
"Bagaimana? apa kamu bisa memilih satu di antara kedua temanmu? apa kamu rela kalau mereka berdua selamat? jika memang akan ada orang yang selamat, kenapa bukan kamu saja?"
"Jangan mempermainkan Galang!" bentak Adnan yang tiba-tiba memiliki kekuatan untuk berbicara dengan lantang.
"Baiklah. Begini saja, masing-masing dari kalian menyebutkan satu nama untuk ditumbalkan. Jika dua orang memilih satu nama yang sama maka, nama yang disebut itulah yang akan ditumbalkan dan dua orang tadi akan selamat."
"Sinting kalian!"
"Jangan terlalu emosi Adnan. Coba kita dengar pendapat Galang. Bagaimana Galang? kamu memilih siapa?"
Galang hanya diam, alisnya naik turun diikuti dahinya yang berkerut.
...🍁 Bersambung... 🍁...