Awal dari sebuah kejadian misterius yang membawa seorang Edgar Stewart, menjelajahi dunia baru yang belum pernah di pijaki oleh siapapun.
Namun bagaimana jadinya, jika pria berusia dua puluh tiga tahun itu malah tersesat dalam pikirannya sendiri karena kejadian-kejadian masa lalunya yang suram.
Akankah Edgar bisa kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulfan Kirstail, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Teman Malam
Malam hari disebuah kamar yang kelihatan remang, karena hanya ada sebuah lampu minyak yang menyala dengan hangat mengisi kegelapan.
"Gigiku bisa copot jika kau melakukan itu terus padaku, Dryzell." Bantah Edgar seraya menyentuh ujung bibirnya dengan ujung jari kanannya. Mendengus sebal begitu rasa sakit menggerayangi sekujur tubuhnya.
Belum lagi ketika Zhippy menekan luka yang terdapat di pinggangnya, sudah sukses membuat Edgar semakin mengutuk orang-orang ini.
"Itu karena kau pergi dari Guild tanpa sepengetahuan siapapun! Kau jelas sekali salah. Meskipun kau sedang berburu sekalipun!" Tukas Dryzell pada dirinya. Pria itu seperti belum cukup meski sudah meninju wajah Edgar.
"Maafkan aku." Kata Edgar mau tidak mau harus mengakui kesalahannya. "Kalian terlalu berlebihan, aku sungguh baik-baik saja." Sambung Edgar lagi, ia berusaha untuk menjauhkan tubuhnya dari Zhippy yang saat ini terlihat mulai fokus mengobatinya.
"Diam lah, jika tak ingin Dryzell menghajar mu lagi, Bodoh!" Sambar Liza yang sudah naik pitam. Gadis itu masih ingin bersikap sabar meskipun kekesalan didadanya sudah meluap dan akan meledak kapan saja.
Dryzell menggeleng melihat sikap Edgar kali ini, pria itu memang tak ada ubahnya seperti bocah yang baru pertama kali diadopsi olehnya.
Pria tua itu sebetulnya memang tak betul-betul marah pada Edgar. Ia hanya terlihat khawatir, apalagi melihat keadaan anak itu seperti mangsa yang baru saja melarikan diri dari serangan binatang buas.
"Untung kau tak kembali dengan nama saja. Lain kali berhentilah bertindak ceroboh." Kata Dryzell, lalu bergegas pergi keluar dari kamar itu. Edgar menatap sosok itu yang telah pergi dari hadapannya dengan gusar.
"Kalian menyebalkan." Ucap Edgar merasa sedikit berang. Dia membuang pandangannya kearah lampu minyak yang menyala.
Fyon masuk kedalam kamar Edgar dan kini telah berdiri diambang pintu. Edgar yang melihat orang itu langsung bertanya sesuatu. "Darimana kau mendapatkan mulut ember mu itu, huh?! Lain kali akan ku hajar kau!" Katanya pada Fyon.
"Diam lah, bodoh! Jika kau bergerak terus seperti itu, aku tidak akan bisa mengobati lukamu ini. Lukamu begitu parah, dan kau bersikap seolah itu tak ada?" Bantah Zhippy yang langsung memukul kepala Edgar dengan tangannya.
Liza menahan tawanya. Bum pernah ia melihat seseorang dengan sikap dingin seperti Zhippy ini naik pitam. Edgar dan Fyon memang adalah sebelas dua belas. Mereka berdua tak akur, terkadang. Orang-orang di Guild sudah tahu itu, termasuk Zhippy juga.
"Kupikir aku lebih takut jika melihat Zhippy marah dibanding pukulan Dryzell yang baru saja melayang di wajahmu." Ejek Liza.
Mendengar hal itu Edgar sama sekali tak berkutik. Dia membiarkan Zhippy menyelesaikan tugasnya, menyembuhkan lukanya. Setelah itu Edgar harus menjalani sebuah perawatan lanjut dengan menggunakan obat tradisional. Sebetulnya Zhippy juga bisa membuatnya jika dia merasa sihir penyembuhnya tak cukup untuk mengobati luka yang lebih parah.
"Kau boleh menghajar ku setelah ini, tapi kalau aku boleh tahu, kenapa akhir-akhir ini kau terlihat lebih murung dari biasanya?" Tanya Fyon dengan sikap yang tak biasa. Pria itu masih berdiri dengan melipat kedua tangannya diatas dibawah dada. Pandangannya tak langsung menghadap kearah Edgar, namun Edgar cukup tahu kalau ucapan itu ditujukan untuk dirinya.
"Ti- Tidak mungkin aku seperti apa yang kau katakan itu, jangan bergurau. Aku baik-baik saja sebelum Demon berhasil melukaiku." Jawab Edgar.
"Huft, lagi-lagi." Keluh Liza menghembuskan nafasnya malas. "Sudah kuduga kau menyembunyikan sesuatu dari kami." Sambungnya.
"Maksudnya?" Ucap Edgar pura-pura tak menghiraukan soal itu. "Dryzell pasti akan lebih marah jika dia tahu bahwa kau menyembunyikan sesuatu dari kami." Lanjut Fyon.
"Kau hanya tinggal katakan saja pada kami. Jangan biarkan dirimu terbebani oleh semua itu sendirian. Disini kita bukan hanya sekedar Guild, kau tahu? Kau sendiri yang berkata begitu pada kami." Ucap Liza.
Edgar pasrah pada akhirnya. Mau tak mau ia harus berkata pada orang-orang ini, kalau dirinya memang merasa ada yang berbeda.
Edgar menggigit bawah bibirnya sebelum menjawabnya. "Aku hanya merasa bahwa aku bukanlah seorang Edgar yang selama ini hidup bersama kalian di Red Raven." Kata Edgar.
Semua orang yang berada didalam kamarnya ini bergeming, tak tahu harus mengatakan apa, Edgar menatap wajah bingung itu satu persatu. "Sudah kuduga kalian akan seperti ini." Ucap pria itu.
"Aku hanya berharap bahwa ada seseorang yang berkata padaku bahwa apa yang telah ku alami ini tak nyata. Aku hanya seperti baru saja terbangun dari mimpi aneh yang sangat panjang. Menggambarkan tentang sebuah perjalanan menuju masa depan, yang aku bahkan tak menyangka setelah aku terbangun. Dan setelah itu," Tutur Edgar sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
Dia melihat satu persatu tatapan yang telah ia buat menjadi penasaran dengan kata-kata selanjutnya yang berharap secepatnya keluar dari mulutnya.
"Aku seperti merasa ada yang hilang." Sambungnya. "Itu semacam.." Gumam Liza. "Seseorang terkadang memang mengalami hal tersebut, jadi menurutku itu hal yang wajar. Tenang saja." Sabar Zhippy yang telah selesai mengobati luka Edgar.
Pria berambut putih itu telah usai melilitkan sebuah perban di badan Edgar, menutupi luka cakar yang ternyata cukup parah tersebut supaya tak memburuk.
"Yang terpenting adalah, ketika kau memiliki sebuah luka, baik karena hal kecil atau besar, coba untuk tidak kau sembunyikan sendirian. Hanya orang idiot dan egois, yang akan melakukan itu." Jawab Zhippy. Pemuda itu kini beranjak pergi dari hadapan Edgar, berjalan keluar kearah pintu yang sejak tadi terbuka lebar.
"Zhippy benar." Kata Liza seraya tertawa kecil. "Tapi mimpi itu hanyalah bunga tidur." Ujar Fyon berasumsi. Edgar mengangguk, "Kau benar. Tapi yang telah aku alami sebelumnya, bahwa aku sama sekali tak bisa langsung mengatakan hal itu dengan sebutan mimpi. Rasanya aku seperti terseret ke masa depan. Aku terbangun dari tidurku begitu ada seseorang yang menyadarkan dan membangunkan ku dari kejadian itu." Jelas Edgar.
"Aku memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Kenley Rhys, yang pernah menetap bersama kita di Red Raven." Penjelasan Edgar barusan sukses membuat teman-temannya tambah kebingungan.
"Kenley Rhys?" Kata Liza mengerutkan kedua alisnya. Edgar mengangguk. "Dia seperti hidup bersama kita selama ini, dan coba kalian lihat? Kenapa di dalam kamarku terdapat kedua kasur jerami jika faktanya hanya aku yang berada disini setiap malam?"
Liza dan Fyon saling bertatapan kebingungan. "Sayang sekali dia telah mati saat usianya lima tahun. Aku yang tak bisa menerima kematiannya terus beranggapan kalau Kenley masih hidup hingga saat itu, kenyataan mulai menamparku, lalu menjawab semuanya." Jelas Edgar lagi.
......................