Sakit hati dengan mantan pacar membuat Adrian gelap mata, dia memilih jalan hitam untuk menghancurkan hidup mantan kekasihnya, Alyn berjuang melepaskan jerat ilmu hitam yang menghantui hidupnya.
Setelah gagal menguasai jiwa Alyn, guna-guna itu berbalik menyerang Adrian, Akankah Adrian bisa lepas dari jerat guna-guna kirimannya sendiri, bagaimana dia terbebas dari karma masa lalunya yang kelam.
Banyak hati yang terluka akibat ulah Adrian, dan penyesalan selalu hadir saat semua sudah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiens K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Di tempat lain, Bimo sedang melawati hari-hari kuliahnya dengan normal, dia fokus belajar belum berfikiran untuk dekat dengan salah satu mahasiswi di kampusnya. Hingga suatu hari, saat sedang bersantai tiba-tiba Putri menghubunginya.
"Hai Put, apa kabar?" sapa Bimo ramah.
"Kak, jemput Putri di terminal sekarang," suara Putri parau.
"Hah! ada apa Put, kog tiba-tiba udah di sini?" Bimo kaget, langsung bangun dari tidurnya.
"Aku." Putri menangis.
"Ok, Kakak jemput sekarang." Bimo menyambar kaos, dia meminjam motor milik ibu kos untuk menjemput Putri.
"Bu, Bimo pinjam motor buat ke terminal jemput saudara boleh?" pamit Bimo.
"Pakai aja Bim, kuncinya di tempat biasa," ucap ibu Kos
Bimo berteman akrab dengan anak pemilik kos, selain itu Bimo juga suka membantu di rumah ibu kosnya, mereka sudah menganggap Bimo seperti keluarga sendiri.
"Terimakasih, Bu." Bimo mengambil kunci motor, dan memakai helm. Dia langsung tancap gas menjemput Putri.
Sesampainya di terminal, Bimo melihat Putri berdiri di pinggir jalan membawa tas kecil, apa anak ini kabur? pikiran Bimo mulai kalut.
"Kamu kenapa, Put?"
Melihat Bimo di depannya Putri langsung berderai air mata, Bimo semakin bingung. Bimo menyuruh Putri memakai helm, kemudian mengajaknya pulang ke kos.
Sesampainya di tempat Kos, Bimo mengajak Putri duduk di ruang tamu. Bimo tidak berani membawa Putri ke kamarnya, karena tidak boleh membawa wanita ke kamar.
Putri kembali terisak, Bimo semakin panik, suara tangisan Putri terdengar oleh Bu Rosa pemilik kos yang langsung datang ke ruang tamu.
"Ada apa ini Bimo, dia siapa?" Bu Rosa ikut bingung.
"Ini Putri, Bu. Pacar saya," ucap Bimo lirih.
"Ada apa ini Nak Putri? coba dibicarakan baik-baik." Bu Rosa menenangkan Putri, dengan duduk di sampingnya.
"Putri, Putri hamil, Kak," Putri kembali terisak.
Bimo dan Bu Rosa sama-sama terkejut. Bu Rosa menatap Bimo, menunggu pengakuan dari Bimo, tapi pemuda itu hanya tercengang tak percaya mendengar ucapan Putri.
"Bimo! kamu hamilin Putri?" Bu Rosa melotot.
Putri dan Bimo sama-sama menggelengkan kepala, Bu Rosa makin bingung, dengan tingkah kedua anak muda di depannya.
"Jadi bagaimana ini, coba jelaskan pada Ibu?" Bu Rosa menunggu penjelasan dari Putri.
"Itu anak Adrian 'kan, Put?" tanya Bimo, suaranya bergetar.
Putri mengangguk sambil terisak, Bu Rosa menggelengkan kepala, dia heran sama anak sekarang pacaran sama siapa, hamilnya sama siapa.
"Jadi bagaimana ini Bim, kenapa kamu gak datangin si Adrian dan minta dia bertanggung jawab?" Bu Rosa mulai kesal.
"Putri diperkosa, Bu. Putri enggak mau bertemu laki-laki itu." Putri mulai bercerita, dia takut orang tuanya tahu. Dia pasti diusir dari rumah.
Bu Rosa dan Bimo sama-sama terdiam, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Bu Rosa mencoba mencari jalan keluar, sementara Bimo bingung harus bagaimana dengan semua ini.
"Jadi bagaimana ini, Bim?" Bu Rosa menunggu pendapat Bimo.
"Sudah berapa bulan, Put?" tanya Bimo lirih.
"Tiga bulan, selama ini aku udah berusaha menggugurkannya tapi tidak bisa, Putri takut mati." Putri menangis.
"Kita temui orang tuamu," ajak Bimo.
Mata Putri membelalak, dia tak percaya Bimo akan menemui orang tuanya.
"Bisa mati aku Kak," tolak Putri.
"Kita menikah," ucap Bimo datar.
"Menikah, Bim bagaimana kuliahmu?" Bu Rosa ikut bicara.
"Saya akan bekerja. Putri maukah kamu hidup susah denganku, kamu tahu 'kan kondisiku saat ini?" Bimo menatap Putri.
Putri mengangguk, dia semakin menangis. Dia merasa sangat bersalah. Bimo mau berkorban menutupi aib yang bukan karena ulahnya.
"Jadi bagaimana, Bim?" Bu Rosa menyayangkan keputusan Bimo.
"Bu, Ibu adalah orang tua keduaku, jika nanti orang tua kami menentang, bersediakah ibu menerima kami di sini?" Bimo memohon.
"Bimo, Bimo, kamu sudah seperti anak Ibu sendiri. Selesaikan masalahmu, jika memang orang tua kalian tidak mau menerima kalian, pulanglah ke sini." Bu Rosa menangis haru.
"Terimakasih, Bu." Bimo menyalami Bu Rosa.
Keesokan harinya Bimo mengajak Putri pulang, dia berencana pulang ke orang tuanya lebih dulu sebelum bertemu dengan orang tua Putri. Bimo meminta Putri tidak menyinggung masalah Adrian. Dia akan mengakui bayi di perut Putri sebagai anak kandungnya.
***
Orang tua Bimo terkejut melihat kedatangan Bimo tanpa memberi kabar terlebih dahulu, di tambah lagi pulang bersama seorang gadis.
"Ada apa kamu pulang mendadak gini, Bim?" tanya Mama Bimo.
"Ma, Bimo mau bicara penting." Bimo mengatur napasnya, dia sudah bersiap menerima kemarahan orang tuanya.
Papa dan mama Bimo berpandangan, merasa ada yang tidak beres dengan anak mereka. Putri hanya menunduk dengan jantung berdebar, dia takut orang tua Bimo akan marah.
"Kamu mau bicara apa?" Papa Bimo penasaran.
"Pah, Mah, maafkan Bimo sudah membuat papa dan mama kecewa, ini Putri pacar Bimo sekarang dia hamil anak Bimo,"
"APA!!!" kedua orang tua Bimo tak percaya.
Mereka memandangi Bimo dan Putri bergantian, Mama Bimo langsung menangis dia masih tak percaya anaknya sudah berbuat sejauh itu. Papa Bimo mengepalkan tangan hendak memukul Bimo, tapi langsung dipegang oleh istrinya.
"Bimo, Papa susah payah nyari duit buat nyekolahin kamu, kamu malah bikin hamil anak orang. Mau kau kasih makan apa nanti istrimu? mikir dong sebelum berbuat!" Papa Bimo menggebrak meja, Putri ketakutan.
"Bimo tahu Pa, Bimo akan bertanggung jawab." Bimo memohon.
"Dasar anak kurang ajar kamu!!" Papa Bimo pergi meninggalkan mereka, dia tak tahan melihat mereka.
"Jadi sudah berapa bulan?" Mama Bimo yang masih di ruangan itu mencoba mencari tahu.
"Tiga bulan, Mah," ucap Bimo lirih, menunduk tak berani menatap wajah mamanya.
"Bimo, Bimo, kenapa kamu hancurkan masa depanmu sendiri, dan kamu jadi perempuan juga gatel amat sih, kecil-kecil sudah ngerti begituan!!" Mama Bimo memandang sinis Putri, Putri hanya bisa menangis.
"Mah, jangan salahin Putri. Ini salah Bimo!" Bimo membela Putri.
"Kalau dia gak kegatelan, gak bakalan ini terjadi. Semua tergantung sama wanitanya, kamu jangan bodoh jadi laki-laki, apa benar itu anak kamu?" Mama Bimo memandang sinis Putri.
Putri tak tahan lagi, dia berlari keluar. Bimo mengejar Putri.
"Mamah ngomong apa sih, jahat banget. Putri! Putri! tunggu, kamu mau ke mana?"
"Putri mau pulang Kak, Putri gak tahan dengan omongan keluarga Kakak!" Putri menangis sambil terus berjalan.
"Maafkan mamaku, ayo kita pulang ke rumahmu." Bimo memegang tangan Putri, sambil menunggu angkot untuk ke rumah Putri.
***
Di rumah Putri orang tuanya kebingungan karena Putri menghilang tanpa kabar, ayah dan ibunya tidak bekerja demi mencari keberadaan Putri.
Ibu Putri menangis di ruang tamu, saat Bimo dan Putri tiba di rumahnya, melihat Putri datang wanita itu langsung memeluk anaknya.
"Kamu kemana aja Putri? Ibu sama Ayah cemas." Ibu Putri menangis.
Mendengar kegaduhan di ruang tamu, ayah Putri yang berada di dalam langsung keluar menemui istrinya.
"Ada apa Bu, Putri! kamu dari mana saja, Nak?" Ayah Putri memeluk anaknya.
Setelah semua tenang, Putri duduk di samping Bimo, dan meminta orang tuanya duduk.
"Ayah, Ibu maafkan Putri, Putri udah ngecewain kalian." Air mata Putri menetes.
"Begini Pak, Bu, saya mau menikahi Putri." Bimo mulai mengutarakan niatnya.
"Menikah? Putri, kamu baru kelas dua," Ibu Putri menatap anaknya.
"Putri hamil, Bu." Air mata Putri berlinang.
"Apa!" Ibu Putri langsung lemas.
Ayah Putri menampar Bimo, melihat Bimo disakiti Putri langsung melindungi Bimo.
"Ayah jangan sakiti, Kak Bimo, dia mau bertanggung jawab!" teriak Putri.
"Tanggung jawab bagaimana!" Teriak ayah Putri geram.
"Ayah, Ibu kumohon, kalau kalian tidak merestui, kami akan pergi dari sini, kami akan tetap menikah, ayo Kak," Putri menarik tangan Bimo, mengajak pergi dari rumahnya.
"Putri!" Ayah Putri berteriak memanggil. Namun Putri tetap melangkah pergi.
Ayah Putri mau mengejar tapi istrinya terjatuh dan pingsan, dia mengurungkan niatnya mengejar Putri, dan menolong istrinya.
Putri dan Bimo kembali ke rumah Bu Rosa, dia tak mau lagi bertemu kedua orang tuanya. Dia kecewa karena mereka tidak memberinya kesempatan memperbaiki diri.
Sepanjang jalan, Bimo memeluk Putri. Dia sudah bertekad akan menjaga Putri apapun yang akan terjadi. Harapan terakhir mereka cuma Bu Rosa.
*******
udh 2 karyamu yg aku baca 😁🙏🏻
semangat selalu thor.. 💪🏻😘
malang bgt nasib menik.. ortu adrian andi pasti hancur bgt, kehilangan 2 putra nya dlm waktu yg berdekatan 🥺😭
ah author bikin aku mewek aja dech 😭😭😭