NovelToon NovelToon
First Love First Fall

First Love First Fall

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lana Ra

Serenada Senja, seorang gadis di penghujung 30. Dia ingin melarikan diri dari situasi kantor yang membuatnya stress sekaligus menghindari satu orang yang selalu mengejarnya. Juga desakan orang tuanya untuk segera menikah.

Nada mendapatkan keinginannya itu aetelah beasiswa S2-nya disetujui. Namun, pelariannya kali ini malah membuat Nada bertemu masalah baru.

Narendra, teman dekat yang sekaligus naksir Nada, membuat situasi semakin sulit untuk gadis itu. Dia pun harus berhadapan dengan Agam Alfiansyah, dosennya yang killer.

Situasi itu dimanfaatkan oleh Agam untuk mendekati Nada. Walau gadis itu terang-terangan menolak. Sampai akhirnya satu kejadian mengubah seluruh persepsi Nada. Bahwa takdir itu yang menentukan sisa cerita.

***


Season 2

Setelah Serenada mau membuka hatinya untuk Agam Alfiansyah, apakah akhirnya di bisa mendapat gelar sebagai Nyonya Agam?

***
Season 3

Setelah menikah, kesibukan Agam dan Nada makin bertambah. Apalagi mereka terpisah jarak. Akankah mereka segera menimang buah hati? Atau malah tersibukkan oleh aktivitas masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Slice Of Life

Perjalanan ke atas tidak menemui halangan berarti sampai di tempat awal keberangkatan. Setelah mengambil tas di mobil, aku pergi ke toilet sebentar untuk ganti baju dan membersihkan diri.

Kupakai kaos lengan panjang berwarna biru langit dan jilbab navy. Untuk bawahan kukenakan kulot bunga-bunga yang senada dengan warna jilbab.

Sayangnya aku tidak bawa sandal ganti, jadi lebih baik bertelanjang kaki saja dari pada harus memakai sepatu berlumpur.

Keluar dari toilet aku langsung menuju mobil. Pak Agam sudah ada di dalam, tampak baru selesai menelpon. Wajahnya terlihat segar dengan balutan kaos polo berwarna biru dongker. Dia tersenyum melihatku masuk mobil.

“Mampir rumah tanteku dulu ya, dekat sini kok. Aku sudah lama tidak mengunjunginya,” pintanya.

Mau tidak mau aku mengiyakan saja.

“Oh iya, ini sandal jepit darurat. Dari pada nyeker,” katanya sambil menyerahkan sepasang sandal berwarna biru gelap. Rupanya dia memperhatikan kakiku yang telanjang. 

Walaupun agak sedikit kebesaran kupakai saja sandal itu. Pak Dosen juga sudah mengganti celana jeansnya dengan celana panthalon hitam dan memakai sandal santai.

Ketika menyalakan mesin mobil, rupanya dia memperhatikanku yang sedang menggosok-gosokkan tangan ke lengan sambil bersedekap. Udara siang ini cukup menggigit, padahal matahari sudah di atas kepala.

“Dingin ya?”

Aku mengangguk.

Diberikannya jaket dari sandaran kursi. “Pakai saja, biar tidak kedinginan.”

Jaket navy itu langsung kukenakan. Semerbak aroma maskulin dan fresh khas Agam Alfiansyah memenuhi penciumanku. Seketika menghadirkan memori saat bersamanya di air terjun. Kubuang pandangan keluar jendela, agar dia tidak melihat wajahku yang mungkin saja memerah.

Mobil hitam ini kembali menuruni jalur sempit seperti saat keberangkatan tadi. Setelah beberapa kali berhenti untuk memberi jalan pada kendaraan yang berlawanan arah, kami kembali ke jalur utama. Beberapa meter kemudian terdapat perempatan, mobil belok kiri. Jalurnya menurun tajam sehingga mobil melaju lambat.

Di kanan kiri jalan terlihat deretan rumah yang halaman depannya ditanami pohon apel. Akhirnya mobil berhenti di depan salah satu rumah. Kami berdua turun.

“Nggak apa-apa nih, parkir di sini?” Kondisi jalan yang menurun membuatku khawatir mobil tergelincir.

“Tenang saja, aman kok. Yuk masuk,” ajaknya.

Rumah itu memiliki pagar rendah dari bambu. Jalan masuknya dibuat dari batu yang tertata rapi menuju rumah utama.

Di teras rumah yang berwarna kuning itu terlihat seorang wanita yang duduk di kursi kayu. Dia berdiri melihat kedatangan kami.

“Assalamualaikum,” sapa Pak Agam.

“Waalaikum salam. Akhirnya main ke sini,” jawab wanita itu dengan ceria.

Mungkin usianya sedikit lebih tua dari almarhum ibuku. Wajahnya tampak senang ketika Pak Agam mencium tangannya dengan takzim. .

“Ini siapa?” tanya wanita berbaju merah itu sambil melihat ke arahku.

Aku tersenyum sopan lalu melangkah maju untuk mencium tangan beliau. Wanita tua itu mengelus-elus punggungku.

“Namanya Serenade, Tante. Nada, Tante Dyah ini adik ibuku.” Demikian Pak Agam memperkenalkan kami.

“Cantik,” ujar Tante Dyah memuji.

Senyumnya hampir mirip dengan senyuman Pak Agam. Tante Dyah menggandeng tanganku, masuk ke dalam rumahnya. Kami duduk bersebelahan di sofa panjang ruang tamu, sementara Pak Agam duduk berseberangan.

“Gimana kabarmu, Le? Sudah lama banget kamu nggak mampir ke sini.”

“Baik, tante,” jawab Pak Agam.

“Kamu kok baru sekarang dikenalkan sama Tante?” Tante Dyah menatapku dengan wajah merengut yang dibuat-buat.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Ini tadi pasti habis main ke Coban Pelangi, ya?” selidiknya. “Bentar, Tante suruh Tina bikinin minum dulu, sekalian makan siang di sini ya,” bujuknya.

“Waduh jadi ngerepotin, nih,” ujarku.

“Halah, kamu baru sekali ke sini. Tunggu dulu sebentar, habis itu kita ngobrol lagi ya, Cah Ayu.” Tante Dyah beranjak berdiri.

Mendadak aku teringat kalau belum salat. “Tante, bisa numpang salat dhuhur?”

“Bisa-bisa. Kalau begitu kalian salat dulu,” jawab Tante Dyah.

Aku mengikutinya masuk ke dalam meninggalkan Pak Agam di ruang tamu.

Di dalam rumah yang asri itu aku bertemu seorang gadis mungkin dia masih SMA.

“Wah, Mas Alfian bawa cewek. Kenalkan Mbak, aku Tina adek sepupunya Mas Alfian,”ujarnya memperkenalkan diri.

“Serenada, panggil saja Nada,” jawabku sambil mengulurkan tangan. Tanpa kuduga ia menarik tanganku dan bercipika-cipiki. Rasanya canggung.

“Anterin mbak Nada wudhu, Tin. Trus siapin mukena di kamar kamu, biar sekalian istirahat di sana nanti,” pinta Tante Dyah.

“Tina ini anak bungsu, agak manja. Kakaknya Seno dinas di Singosari, jadi tentara. Makanya jarang pulang,” lanjut tante Dyah.

Ternyata keluarga tante Dyah memang banyak yang jadi TNI. Kuduga selain kakaknya, suami Tante Dyah juga pasti tentara.

“Ayo, Mbak,” ajak Tina. Dia dengan senang hati menyeretku ke belakang.

“Itu kamarku,’ tunjukknya pada pintu kedua dari belakang,” setelah wudhu langsung saja ke sana. Aku mau bantuin ibu nyiapin makan ya,” lanjutnya.

“Makasih ya.” Tina mengangguk lalu buru-buru pergi.

Selesai salat, aku berjalan ke teras. Sambil duduk di kursi kupandangi halaman depan rumah yang ditanami pohon apel. Beberapa buah terlihat bergelantungan, ada yang sudah berwarna merah dan ada yang masih hijau.

“Oalah, kamu di sini tho, Nduk,” ucap Tante Dyah. Wanita ramah itu lalu duduk di sebelahku.

“Pemandangannya bagus, Tante,” pujiku.

“Maklumlah, rumah Ndeso yang bisa dilihat ya cuma tanaman.”

“Tapi saya suka rumah yang asri, Tante. Almarhum Ibu suka memelihara tanaman hias di rumah. Ada bunga mawar, melati, bougenvile, lidah mertua, anggrek, macem-macem pokoknya. Kalau saya cuma bagian menyirami saja sih, nggak pintar merawat. Hehehhe,” jelasku.

“Owh, jadi ibumu sudah meninggal?” Aku mengangguk.

“Papa dan mamanya Agam juga sudah meninggal dunia. Mamanya sangat cantik, asalnya dari Aceh. Dia meninggal kena tumor payudara yang terlambat terdeteksi. Saat itu Agam masih SMA. Mas Teguh, almarhum kakakku bertemu dengannya saat masih bertugas di Aceh. Mereka tinggal di sana sampai Agam lulus SMA.

Ketika Agam kuliah di Malang, Mas Teguh mengajukan mutasi ke Jawa. Dia bertugas di Surabaya sampai meninggal dunia lima tahun lalu.

Waktu itu Agam sudah jadi dosen dan mengajar di Malang. Sebelum meninggal, dia sempat menjodohkan Agam dengan Eva, anak temannya Suwignyo.”

Wajah Tante Dyah terlihat penuh kerinduan ketika menceritakan kakaknya. Aku hanya diam saja memperhatikan kisah itu.

“Tapi mereka tidak berjodoh, lalu Agam kuliah lagi ke Amerika. Agam itu memang pinter, tapi sayang nggak pinter mendapatkan calon istri. Kalau ditanyain kenapa belum menikah, katanya belum ada yang cocok. Nah, berarti sekarang sudah ada yang cocok,” bisik Tante Dyah.

Pipiku memanas.

Gawat! Dia pasti berpikir kalau aku calonnya Pak Agam.

“Tapi, saya—.” Aku mau protes meluruskan anggapan Tante Dyah tentang kami. Tapi tiba-tiba Pak Agam sudah bediri di ambang pintu.

“Lagi ngomongin aku ya?” tanyanya.

“Lah, panjang umur kamu, Le,” jawab Tante Dyah. “Eh iya, tadi mau ngajak kalian makan kok malah ngobrol. Ayo-ayo makan dulu, Tina sudah bikin opor ayam loh,” lanjutnya.

Acara makan berlangsung cukup hangat. Tante Dyah mengambilkan nasi dengan porsi jumbo di piringku, didukung oleh Tina.

“Maem yang banyak, Mbak,’ ujarnya. Pak Agam hanya senyum-senyum melihat perlakuan mereka.

Ketika hendak protes, dia bilang, “Kamu terlalu kurus, Nad. Terlalu sering makan cabe sih.”

Setelah basa-basi sejenak, Tina mengajakku istirahat di kamar. Mulanya aku ingin menolak agar bisa segera pulang—meskipun sebenarnya sangat lelah. Tapi karena Tante Dyah memaksa dan juga tidak tega melihat Pak Agam yang terlihat lelah, akhirnya kusetujui juga.

Kurebahkan tubuh di kasur dengan mata terbuka. Mengingat dia berbaring di kamar sebelah, perasaan aneh kembali menyelimuti hatiku.

Setelah apa yang terjadi hari ini, membuatku sadar bahwa Pak Agam sebenarnya tidak se-killer itu. Dari Tante Dyah aku jadi tahu lebih banyak tentang keluarga Pak Agam. Tapi satu hal yang menggangguku adalah perjodohannya yang gagal. Kenapa ya?

“Tin, kena sih Mas Alfian gagal merit?” tanyaku pada Tina yang sedari tadi berbaring sambil mainan hape.

“Oh, itu. Katanya sih Mas Alfian ada tugas belajar, jadi nggal bisa merit saat itu. Aku nggak tahu detilnya, sih. Tahu-tahu gagal aja,” terangnya.

“Oh iya, Mbak Nada pasti datang kan, Minggu depan? Acara resepsinya Mas Setyo. Sepupu kami dari tante Rima.”

“Tante Rima?”

“Jadi gini silsilahnya. Pakde Teguh, itu papanya Mas Alfian, dia punya anak tunggal. Lalu ibuku, adiknya Pakde Teguh. Punya dua anak, Mas Seno sama aku. Lalu yang bungsu itu tante Rima, punya anak tunggal Mas Setyo. Nah, dia kan kerja di luar jawa, dapat istri orang Malang yang merantau ke sana. Trus, minggu depan baru deh resepsi di Malang buat keluarga dan teman-teman di sini,” jelasnya.

Aku hanya mangut-manggut. Setelah menjelaskan itu, Tina kembali sibuk dengan hape.

Kumiringkan tubuh ke kanan, berusaha untuk memejamkan mata. Pak Agam bisa tidur nggak ya? Kasihan, dia pasti capek banget.

*

Tergagap bangun mendengar suara Azan, lalu tersadar bahwa aku masih di rumah Tante Dyah. Tina sudah tidak ada di sampingku.

Setelah menyegarkan diri dan salat Ashar, aku ngobrol di teras bersama Tante Dyah tentang bonsai. Selama ini kukira bonsai itu menyakiti tanaman, tapi ternyata aku salah.

“Bonsai itu adalah salah satu cara melestarikan jenis tanaman langka dalam bentuk miniatur. Pemotongan dan pengikatan itu selain untuk memperoleh nilai estetik, juga dilakukan agar tanaman tumbuh optimal. Nutrisinya cukup dan bagian tubuh tanaman menjadi lebih sehat,” terang beliau.

Setelah ngobrol cukup lama, Tante Dyah menawariku memetik apel di halamannya. Tapi pikiranku justru terfokus ke Pak Agam. Aku belum melihatnya sore ini.

“Mas Alfian belum bangun ya, Te?” tanyaku penasaran. Aku khawatir kami kemalaman pulangnya nanti.

“Belum kayaknya. Kamu bangunin gih, biar Tante yang memetik apel buat kamu.”

“Nggak, ah. Tante aja yang bangunin,” tolakku.

Wanita itu terkekeh. “Kenapa? ‘kan Cuma bangunin doang.”

“Dia galak Te, kalau di kampus,” laporku.

“Oh, ya?” Tante Dyah memandangku heran.

“Aku ‘kan mahasiswanya. Pas nerangin gitu, kita wajib dengerin dengan penuh perhatian, ketahuan nggak nyimak disuruh keluar kelas. Belum lagi kalau nyuruh ngerjain tugas, beuh banyak banget. Salah dikit suruh revisi.”

Tawa Tante Dyah pecah. “Masa iya, Alfian kayak gitu?”

“Iih, Tante gak percaya? Tanya aja sama teman-teman.”

Tante masih terkekeh mendengar penjelasanku, lalu dia berkata,”Gak apa-apa, bangunin sana. Ntar kalau dia marahin kamu, biar tante yang ngadepin.”

“Nggak, ah. Nggak berani,” tolakku.

“Nggak berani apa?” Suara Pak Agam terdengar sangat dekat. Aku tidak berani berbalik. Mungkin karena keasyikan cerita, aku tidak menyadari bahwa dia sedang menuju ke halaman.

Tante Dyah menoleh, sambil memasukkan buah apel ke dalam kresek. “Ohh, sudah bangun toh. Baru saja Nada kusuruh bangunkan kamu.”

Untuk mengalihkan perhatian aku buru-buru berjalan ke pohon yang lain. Kulihat sebutir apel merah yang letaknya agak tinggi. Menurut estimasi, dengan berjinjit aku bisa menggapainya.

Ternyata, aku salah. Apel itu dan tanganku masih berjarak beberapa senti. Kucoba mengambilnya dari arah lain. Sama saja, tanganku tidak sampai.

Sesaat berikutnya, Pak Agam datang dan meraih buah apel itu dengan mudah.

“Ini.” Diberikannya apel itu padaku. Tapi ketika hendak kuraih, dia menggerakkan tangannya sehingga aku luput memegang apel itu. Kuberikan tatapan garang padanya. Dia hanya menarik sebelah ujung bibirnya ke atas. “Nih, Ambil.”

Kuambil apel itu secepat yang aku bisa. tapi tenyata tangannya lebih cepat. Karena kesal kutinggalkan dia, dan mencari apel yang lain.

“Sudahlah, Fian. Jangan godain Nada terus,” kata Tante Dyah. “Cuma ada segini, belum musim panen,” lanjutnya.

“Wah ini sudah banyak. Maksih Tante,” jawabku girang. Mungkin ada sekitar sepuluh butir apel di dalam kresek bening yang dibawa Tante Dyah.

Setelah menghabiskan teh hangat yang disediakan, kami pun berpamitan pulang. Aku menitipkan salam untuk Tina. Anak itu sedang keluar sama teman-temannya.

“Hati-hati di jalan, Fian. Nggak usah ngebut, lagi bawa anak orang,” pesan Tante Dyah begitu kami masuk mobil. Dia berdiri di dekat jendela Pak Agam.

“Iya, Te. Pengennya sih bawa dia ke pelaminan juga,” jawab Pak Agam.

Aku syok mendengarnya.

“Ya udah buruan kalau gitu. Nanti Tante yang nglamar Serena ke rumahnya,” jawab Tante Dyah sambil menatap ke arahku.

Entah bagaimana ekspresiku saat itu. Aku hanya bisa tersenyum sopan pada Tante Dyah tanpa bisa membantah. Rasanya sangat jengkel saat tidak bisa membela diri seperti ini. Kali ini Pak Agam sudah keterlaluan. Dia melibatkan tantenya untuk memanipulasiku.

“Oh iya, jangan lupa datang ke acaranya Setyo. Nanti Rima marah kalau kamu sampai nggak datang,” lanjutnya, “ajak Nada juga ya.”

“Beres Tante, assalamualaikum,” pamit Pak Agam. Mobil kami meluncur setelah tante Dyah membalas salam dan melambaikan tangan.

***

1
Shiren Gibrani. the way
Luar biasa
Chu Shoyanie
Kehilangan banget....
jadinya menggantung ...
Chu Shoyanie
Ah Ridwan....aku padamu😘😭
Chu Shoyanie
Kenapa kamu jadi sebijak ini Ridwan....😭😘
Chu Shoyanie
mas Dian itu gk manja tapi......qute(baca:kiyut),so sweet&smart....👍👍😍
Chu Shoyanie: mas Fian maksudnya ya....🙏🤭
total 1 replies
Chu Shoyanie
sudah sepatutnya Nada mulai mencintai sangat sm Mas Fian....apalagi ketika sedih krn kehilangan orang terkasih lagi...
Aku aja yg cm reader suka bgt sm mas Fian mu Nada....😍🤭
Chu Shoyanie
penasaran Mr.Rizky dibilang pengkhianat...🤔👍
Chu Shoyanie
srmoga Nada hamil
Chu Shoyanie
Lebih cintai suamimu Nada...di dunia nyata belum tentu ada suami seperfect Mas Fian...entahlah...🤗
Chu Shoyanie
nah ini yg bikin sebelku ke Nada:gk jjur ma suami,apapn resikonya,jujurlah!
Chu Shoyanie
sblnya Nada:otaknya S2 tp perasaannya SMA...;masa gk tau gelagat orang yg naksir sm dia,apalagi ada pengalaman jalan brg ma alm.rendra,trs dl prnh dikejar2 pak Rudi,apalagi skrg dpt suami dosen,baik,sopan,cinta bgt,eu cm ditanggapi:akan berusaha mencintai,bkn berusaha lg tp tegaskan bhw skrg mas Fian itu suami dunia akhiratmu Nada....
masa sm cwo mentah model ridwan aja gk keukur Nad😔
Chu Shoyanie
Gak tau sebel aja kl ada adegan\dialog\monolog Nada yg kurang menghargai rasa cinta yg dimiliki Mas Fian...makin +umur tuh makin bijak dong Nada....hadeuhhhhh🤔🤐
Chu Shoyanie
sebel sm Nada,gk bisa bilang nunggu suami jgn pakai seseorang?!itu pemicu ridwan makin "berani"!,jgn gt dong Nada...msh pgn klhtn gadis ya....
Chu Shoyanie
part ini bikin aku nangis...😭teringat masa lalu...cinta yg sgt kuat perlahan melemah krn LDR&hadirnya WIL...membuat kami (aku&anakku)terhempas dr sisinya... dia lbh nemilih yg haram(dg sgl rupa teror WIL itu pdku) drpd mmpertahankan yg sdh jls halal....
Qadarullaah....membuatku lbh kuat,lbh shabar&lbh ikhlash menjalani kehidupan....
Chu Shoyanie
Seabdainya di dunia nyata ada laki2 yg seperri Agam melamarku,aku akan langsung bersedia menjadi teman sehidup sesurganya ....,Aamiin🤲🤲🤲
Chu Shoyanie
emg beneran ada di dunia nyata org kyk firman???ngeri ih!!!
Chu Shoyanie
kalau aku malah senang ada canpuran bahasa aaingnya,jd aku bisa sambil belajar,makasih thor atas berbagi ilmunya🙏
Chu Shoyanie
ada kisah mistisnya juga ya thor....hebat kamu thor👍👍👍
Chu Shoyanie
aku selalu menantikan komunikasi Agam&Nada....
Chu Shoyanie
di dunia nyata ada ya karakter firman?namanya tak sebagus akhlaknya....syg bgt!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!