Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEHARUSNYA 25 TAHUN
Ranum dijatuhkan hukuman 25 tahun penjara. Dia dimasukkan ke salah satu penjara yang memiliki tingkat keamanan paling ketat di Australia. Ranum mendapatkan sel di blok C, blok tersebut dihuni sekitar 500 tahanan, blok ini salah satu blok neraka di penjara tersebut. Karena di blok penjara ini, di huni tahanan kelas kakap. Ranum merapikan kasurnya dan menaruh beberapa barangnya di meja. Ranum memiliki satu teman di dalam sel itu.
“Akhirnya aku memiliki teman.” Teman satu sel Ranum terlihat bahagia. “Namaku Melvin.” Lanjut orang itu menjulurkan tangannya.
“Mark.” Ranum menjawab singkat. Tetap menata barangnya dan tidak menghiraukan juluran tangan Melvin.
“Nama yang bagus, maka kita bisa menjadi M2 mulai saat ini.” Melvin antusias.
“Aku tidak membutuhkan julukan untuk kita berdua. Dan aku bukan kawanmu.” Ranum menjawab datar.
“Baiklah kalau begitu, bagaimana kamu bisa masuk penjara ini?” Melvin bertanya penasaran.
“Membunuh.”
“Keren! Aku memiliki teman satu sel seorang pembunuh!” Melvin takjub. “Berapa banyak orang yang sudah kamu bunuh?” Lanjut Melvin penasaran.
Ranum hanya diam, lalu naik ke ranjangnya yang berada di bagian atas.
“Kamu sangat keren. Dingin dan mematikan.” Melvin masih takjub melihat Ranum.
“Memang apa yang membuatmu dipenjara?” Ranum bertanya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
“Sebenarnya bukan masalah keren sepertimu atau tahanan lainnya. Pun aku terkadang malu untuk menjelaskannya.”
“Tidak ada kejahatan yang keren.” Ranum datar.
“Aku hanya seorang peretas.” Melvin berbicara dari ranjang bawah. “Aku meretas sistem pertahanan seluruh negara di benua Asia dan Australia.” Lanjut Melvin.
“Berapa lama masa tahananmu?”
“Seumur hidup.” Melvin tertawa kecil. “Bagaimana denganmu?” Melvin bertanya balik ke Ranum.
“Seharusnya 25 tahun.”
“Seharusnya? Kamu dapat keringanan?” Melvin bertanya penasaran.
“Kita lihat saja nanti.” Ranum memiringkan badannya menghadap tembok, lalu tertidur.
***
Pagi hari tiba, para tahanan bebas melakukan aktivitas di lapangan penjara. Ada yang berolahraga, ada yang hanya sekedar duduk – duduk, ada yang mulai bekerja, dan lain sebagainya. Ranum memilih untuk duduk di kursi tepi lapangan. Melvin menghampiri Ranum.
“Mark, kamu tidak melakukan aktivitas?” Melvin bertanya ke Ranum.
Ranum menggeleng. “Rutinitas pagiku biasanya merokok.”
Melvin mengeluarkan rokok dari sakunya. “Ambillah.” Melvin menyodorkan bungkus rokok.
“Dari mana kamu mendapatkannya?” Ranum mengambil satu batang rokok milik Melvin.
“Kamu bisa membelinya lewat sipir.” Melvin menjelaskan. “Tapi harganya dua kali lipat dari harga di pasaran.” Lanjut Melvin.
“Terima kasih.” Ranum mengangkat rokok yang ada di jarinya.
“Santai, kamu kan temanku.”
“Belum.” Ranum menjawab datar.
“Berarti ada kemungkinan.” Melvin tertawa.
Ranum tak acuh, tetap menghisap rokok yang ada di tangannya.
“Kamu sudah memilih mau bekerja apa?” Melvin bertanya ke Ranum.
“Mungkin aku akan mengambil pemecah batu.”
“Kenapa kamu memilih itu?”
Ranum mengangkat bahunya, menjelaskan bahwa dia pun tidak tahu.
Segerombolan tahanan berjalan ke arah Ranum.
“Sebaiknya kita pergi dari sini Mark.” Melvin berbisik ke Ranum.
“Siapa mereka?”
“Salah satu gerombolan yang memegang blok ini.” Melvin mulai ketakutan. “Ayo pergi dari sini Mark, sebelum masalah datang.” Lanjut Melvin.
Ranum tetap duduk dengan santai sambil menikmati rokoknya. Melvin menghadang gerombolan itu.
“Maaf kawan – kawan, kami baru saja ingin pergi. Silahkan pakai tempat ini untuk kalian berkumpul.” Melvin berbicara ke gerombolan tahanan itu. “Ayo Mark kita pergi.” Lanjut Melvin.
“Rokokku belum habis, bersabarlah.” Ranum dengan santai.
Salah satu anggota gerombolan itu mengambil rokok yang ada di tangan Ranum, menghisap rokok itu lalu menginjaknya.
“Maaf tuan, tapi aku masih butuh rokok yang kamu injak.” Ranum tersenyum ke orang tersebut. “Tolong ganti rokok itu tuan.” Lanjut Ranum.
“Kau pikir aku bapakmu! Pungut rokok itu dan hisap jika bisa!” Orang itu tertawa di depan wajah Ranum diikuti anggota yang lainnya.
Ranum tersenyum ke orang itu. Ranum melayangkan tinjuan ke arah rahang orang tersebut sangat keras, membuat rahang orang itu patah hingga merenggut nyawanya. Anggota yang lainnya terdiam, Melvin juga ikut terdiam. Ranum merogoh saku celana mayat orang tersebut, dan mengambil sebatang rokok.
“Berani sekali kau melakukan itu pada James!” Salah seorang dari gerombolan itu berteriak.
“James?” Ranum bingung.
“Orang yang barusan kamu bunuh itu bernama James.” Melvin berbicara ke Ranum dengan pelan.
“Oh, maafkan aku. James yang kukenal matinya lebih mengenaskan dari ini.” Ranum tersenyum ke arah gerombolan itu sambil membakar rokoknya.
“Kurang ajar kau bajingan!” Orang pertama melayangkan tendangan ke arah kepala Ranum.
Ranum menghindari tendangan itu dengan mudah. “Untung kamu selamat.” Ranum melihat ke rokok yang berada di bibirnya.
Orang pertama dengan gesit mengarahkan pukulan ke arah perut, Ranum menangkap tangan orang itu, diputar lalu diinjak dengan keras di bagian pundaknya. Orang pertama itu tersungkur ke rumput berteriak dan memaki Ranum dengan tangan patah. Ranum membalikkan tubuh orang itu, wajahnya diinjak hingga sama sekali tidak bisa dikenali lagi.
Ranum menghisap rokoknya. “Giliran siapa sekarang?” Ranum menghembuskan asap dari mulutnya.
Belum selesai Ranum menghembuskan asapnya, dua orang loncat ke arah Ranum, melayangkan pukulan mengarah ke perut dan wajah Ranum. Pukulan yang mengarah ke wajah berhasil di hindari, tapi Ranum gagal menghindari pukulan yang mengarah ke perutnya, Ranum terlempar, menabrak kursi di tepi lapangan.
Ranum melihat rokoknya yang terjatuh ke tanah. “Baiklah.” Ranum dengan wajah buas.
Ranum bangkit, berlari ke arah dua orang tadi. Ranum melayangkan tendangan, telak mengenai kepala salah satu dari mereka. Belum sempat bergerak, Ranum melayangkan tinju ke orang berikutnya, telak mengenai perutnya. Orang itu membungkuk, menahan rasa sakit di perutnya, Ranum segera mengayunkan lututnya ke arah wajah orang itu. Seketika nyawa orang itu melayang dengan satu tendangan. Ranum berlari ke arah orang yang tergeletak di rumput, kakinya dengan cepat menghancurkan rahang tahanan lainnya yang sedang terkapar di lapangan itu. Tiga tahanan tewas seketika.
“Selanjutnya kalian.” Ranum menatap tajam ke arah gerombolan yang tersisa.
Tidak banyak bicara Ranum langsung lompat ke arah gerombolan itu. Masih di udara, kaki Ranum dengan lincah menendang kepala salah satu diantaranya hingga patah, satu orang lagi tewas seketika. Tangan Ranum dengan gesit mengambil kepala yang lainnya, di hantamkan ke bahunya.
“Sial!” Ranum bergumam karena luka di bahunya masih belum pulih. Tidak mau merasakan rasa sakit lebih lama lagi, Ranum dengan cepat menghantam kepala orang itu dengan sikutnya. Membuat orang itu kejang – kejang di lapangan penjara.
Satu tendangan melayang ke arah kepala belakang Ranum. Tendangan itu tidak membuat Ranum bergeser sedikitpun.
“Main belakang eh?” Ranum menangkap kaki orang itu, sikut ranum dengan kuat menghantam tempurung kaki orang itu hingga membuat kakinya patah. Orang itu berteriak kesakitan, membuat seluruh lapangan melihat ke arah perkelahian itu. Tidak butuh waktu lama Ranum mematahkan rahang orang itu dengan tangannya, membuat teriakan itu berhenti seketika.
“Sepertinya tinggal kalian berdua.” Ranum tersenyum ke orang yang tersisa.
Dua orang itu langsung berlari cepat ke arah Ranum sambil melayangkan tinju. Ranum menangkap dua pukulan itu dengan mudah. Ranum mematahkan pergelangan tangan dua orang itu menggunakan tangannya, menarik tangan mereka, lalu Ranum dengan sangat kuat melayangkan tinju ke wajah dua orang itu. Belum sempat terjatuh, Ranum menangkap dua kepala orang itu, lalu menghantamkan dua kepala itu satu kepala dengan kepala lainnya berkali - kali.
Tiga sipir berlari ke arah Ranum, salah satunya melepaskan tembakan peringatan.
“Hentikan! Taruh tanganmu diatas kepala!” Sipir itu berteriak ke arah Ranum. Tiga sipir menodongkan pistol ke arah Ranum.
Ranum menatap sipir – sipir itu, tangannya tetap gesit menghantamkan dua kepala itu.
“Oh maaf.” Ranum melepaskan dua kepala itu, mengangkat tangannya.
Salah satu sipir mendekat ke Ranum. Memborgol tangan Ranum.
“Orang ini tidak salah pak. Kelompok Bert mengganggu kami duluan.” Melvin berusaha menjelaskan ke salah satu sipir.
Sipir - sipir itu tak peduli dengan pembelaan Melvin, mereka tetap menggiring Ranum keluar dari lapangan.