Sukma hilang hutan dan gunung yang terletak di Sumatra bagian selatan Lampung.
Gunung dan hutan yang meninggalkan seribu tanda tanya
Konon masih banyak warga dan masyarakat yang mengharapkan kepulangan sanak saudaranya, yang telah lama menghilang bertahun-tahun di dalam hutan tersebut.
Sukma hilang yang terkenal akan cerita mistisnya, seakan tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman.
Hingga sampai saat ini masih banyak warga dan masyarakat yang mempercayai mitos-mitos gunung dan hutan tersebut, bahwa siapapun yang hilang atau tersesat di dalamnya , tidak akan pernah bisa kembali untuk pulang .
Kisah ini menceritakan beberapa muda-mudi yang hilang di telan kegaiban hutan Sumatra tersebut .
Apakah mereka semua bisa keluar dari hutan yang mengerikan itu ???
Tetap ikuti ceritanya !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dosy irwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - MATI !!!!
Dalam keadaan yang sangat menegangkan, Dodi masih berupaya menggapai parang yang sedikit lagi di raih olehnya, namun wanita kebaya merah itu mengibaskan tangannya hingga membuat Dodi jatuh terpental.
Dodi yang mencoba bangkit kembali tersungkur karena tidak kuasa menahan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, darah segar mengalir dari mulut Dodi yang kian kehilangan kesadaran nya.
Tidak sampai di situ saja, Wanita kebaya merah itu terus mendekati yang lain nya seolah ingin membunuh setiap orang yang ada di sana. Dewo segera menyuruh Asma dan Fira bergegas pergi menyelamatkan diri.
"Asma, Fira sebaik nya kalian segera pergi ke puncak gunung, insya Allah jika kami selamat kami akan segera menyusul" pinta Dewo kepada kedua teman wanita nya tersebut.
"tapi Wo kalian bagai mana" ucap Fira ketakutan sambil menarik lengan tangan Dewo.
"saat ini jangan terlalu banyak debat Fir, sekarang kalian pergi, selamatkan diri kalian dahulu, PERGI SEKERANG!!" pekik Dewo dengan nada yang tinggi.
Fira dan Asma yang mendengar itu hanya bisa diam, kemudian perlahan pergi berlari sambil beruraikan air mata meninggalkan kawan-kawannya.
Dewo yang melihat kedua teman wanita nya pergi dalam kondisi aman Dewo sedikit merasa lebih tenang. Dewo pun segera mendekati Dodi yang sudah terkapar lemah di tanah.
"Dod bangun" ucap Dewo kepada Dodi yang mulai sadar.
Boy yang bertubuh gempal dengan sekuat tenaga berlari menabrakan diri nya kepada wanita kebaya merah itu. namun kekutan wanita kebaya tersebut sangat lah kuat, sehingga dengan mudahnya jemari yang di persenjatai oleh kuku-kuku tajam nya tersebut menembus tubuh dari Boy.
terlihat Boy menggeliat kejang dengan suara darah yang menetes deras ke tanah.Wanita kebaya merah itu tertawa cekikikan menikmati raut wajah Boy yang sudah sakaratul maut di hadapan nya.
Dodi dan Dewo terbelalak kaget menyaksikan kematian teman nya di depan mata mereka, merasa tidak percaya bahwasanya kawan nya tersebut mati mengenaskan di tangan wanita kebaya merah tersebut.
dengan sisa tenaga terakhir nya Boy memeluk erat tubuh wanita kebaya tersebut sambil berteriak.
"PENGGAL WANITA BIADAB INI !!" pekik Boy dengan suara nyaring gemetaran.
Dodi dan Dewo yang mendengar teriakan Boy dengan cepat bangkit dan berlari menuju dimana Boy yang sedang mendekap erat memberikan ruang untuk segera menghabisi wanita kebaya merah itu.
Dodi yang segera mengambil parang dengan cepat menghujamkan parang nya tepat di kepala wanita kebaya merah tersebut hingga terbelah menjadi dua bagian, terdengar jeritan yang sangat mengerikan dari wanita kebaya itu, hingga Dodi terduduk gemetaran menyaksikan wanita kebaya itu terguling meronta-ronta di tanah dengan parang yang masih melekat di kepalanya.
Dewo yang mencoba menyelamatkan Boy menekan luka sobek mencoba menghentikan laju pendarahan yang terus mengalir dari tubuh Boy, Namun sangat di sayangkan, terlihat dari tatapan mata nya yang kosong, menandakan sudah putus nyawa nya saat itu. Dewo berteriak histeris menangis sejadi-jadi nya dan terus berkata-kata di samping jasad kawannya tersebut.
"Boy bangun Boy, Lo harus pulang Boy, ayok Boy bangun" Dewo terus menggoyang-goyangkan tubuh Boy meminta Boy segera bangun dengan bergelimangan air mata.
Segera Dodi mendekati Dewo yang masih menangisi jasad kawan nya tersebut, dengan pelan Dodi memegang pundak Dewo.
"Wo, Boy sudah gak ada, ikhlasin kawan kita ya" ucap Dodi yang juga terlihat berlinangan air mata.
Dewo yang mencoba mengikhlaskan kepergian Boy dengan pelan merebahkan jasad Boy di tanah, dengan sesegukan Dewo bersimpuh sambil mengusap air mata dengan tangan kanannya.
Dodi yang melihat wanita kebaya merah itu sudah tidak memiliki pergerakan, segera menghampiri dan mencabut parang yang masih melekat kuat di tengkorak kepala wanita kebaya itu. Lalu menebang beberapa daun pisang untuk menutupi jasad Boy yang sudah tiada.
Selesai menutupi jasad Boy, Dodi bertanya kepada Dewo.
"yang lain kemana Wo ?" tanya Dodi sambil melihat sekeliling.
"Asma dan Fira gua suruh menyelamatkan diri Dod" jawab Dewo dengan nada pelan sesegukan.
"Wawan kemana ?" tanya Dodi kembali.
Mendengar pertanyaan Dodi, Dewo memutar pandangan nya ke sekeliling lokasi keberadaan mereka.
"gua gak tau, terakhir dia sama kita di sini" jawab Dewo merasa kebingungan.
"yaudah sekarang kita ikhlasin Boy, kita cari kawan-kawan kita yang lain" ajak Dodi sambil membangunkan tubuh Dewo yang masih bersimpuh di tanah.
Dodi dan Dewo dengan berat hati bergegas pergi meninggalkan jasad Boy yang sudah di tutupi oleh daun pisang untuk mencari keberadaan teman-teman lain nya.
Di tempat lain Terlihat Wawan berlari sendirian ketakutan menerobos lebat nya belantara hutan, sungguh sangat di sayangkan Wawan meninggakan kawan-kawan lain nya hanya untuk menyelamatkan diri nya sendiri.
Sesekali Wawan memalingkan pandangan nya ke arah belakang, memastikan bahwa dirinya sudah merasa jauh dari wanita kebaya merah itu, tanpa di sadari kaki Wawan terperosok di sisi jurang hingga mengakibatkan Wawan jatuh terperosok masuk kedalam jurang.
Sementara Asma dan Fira yang mulai kelelahan berisitirahat sejenak untuk sekedar menghela nafas.
"Asma apa kita kembali kesana ya, aku takut" ucap Fira dengan mata yang berkaca-kaca.
"aku juga takut Fir, aku takut banget, sebaik nya kita tunggu mereka di sini aja, jika satu sampai dua jam mereka belum menyusul kita, sebaik nya kita tunggu mereka di puncak, sesuai apa yang Mbah Lanang bilang" jawab Asma dengan air mata yang terus menetes.
Waktu terasa cepat saat itu, Asma dan Fira sudah menunggu cukup lama, namun teman-teman lain nya tidak kunjung menyusul keberadaan mereka saat ini.
"ini udah dua jam Fir, sebaik nya kita lanjutin perjalanan kita kepuncak, siapa tau mereka juga sudah menuju puncak namun melalui jalan yang lain" ucap Asma sambil melihat jam di tangan nya.
Dengan rasa takut dan bingung, Fira mulai memberanikan diri nya untuk segera melanjutkan perjalanan menuju puncak bersama Asma.
Belum saja selangkah mereka melangkahkan kaki, terdengar suara langkah yang gaduh dari semak-semak yang tak jauh dari mereka, dengan cepat Asma dan Fira segera bersembunyi di balik semak belukar.
Suara langkah itu semakin mendekat ke arah mereka berdua, detak jantung berdebar-debar begitu keras, darah berdesir kencang mengalir keseluruh tubuh, sekuat tenaga mereka menahan suara nafas agar tak terendus di mana keberadaan mereka bersembunyi.
Asma dan Fira berpelukan memejamkan mata, merasa begitu takut akan apa yang ada di balik suara langkah itu. Namun suara langkah itu semakin terdengar dekat hingga terhenti tepat di belakang mereka berdua yang sedang bersembunyi, dengan tubuh yang bergetar katakutan, mereka berdua memberanikan diri melihat apa yang ada di belakang mereka saat ini, dan.
"AAAAAAAAAAAAAA!!!!" suara jeritan Fira dan Asma memecahkan kesunyian hutan kala itu.
Turut berduka kak, semoga almarhum diterima disisi yg Maha kuasa, kakak & keluarga senantiasa diberikan keluasan hati serta kesabaran menerima takdir
Semangat kak ✊ lekas kembali melanjutkan cerita aku menunggu 😊
semangat ya
tetap semangat ya kak💪💪