Farhan, divonis mandul. Agar bisa mempertahankan Marla, Farhan rela membayar adik tirinya Agustin untuk menikahi Marla selagi Marla dan Farhan bercerai sementara.
Sesuai perjanjian Agustin harus menghamili Marla, setelah mengandung dan melahirkan Marla akan dikembalikan ke Farhan.
Awalnya, Agustin setuju karna bayaran. Tapi lambat-laun berangsur berubah pikiran. Agustin malah berubah haluan, dan ingin menjaga keluarga kecilnya. Anaknya dan Marla istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Agustin Bukan Farhan
Mereka berhenti di pertengahan jalan. Tangan besar Agustin mencekram daging kasur yang belum dipasangkan seprai, lalu mengeluh. “Tunggu dulu, Mbak.” Agustin menarik diri dari rengkuhannya di tubuh Marla, dia masih ragu untuk tahap selanjutnya, padahal separuh pakaian Marla sudah dia tanggali. Agustin yang bertelanjang dada turun dari kasur, lalu memungut kemejanya. Marla yang menutupi tubuh dengan lembar baju memperhatikan pergerakan Agustin. Ada sorot lega yang tercerminkan di wajahnya.
“Kita pindah tempat, Mbak. Di sini …” Agustin mengedarkan pandangan ke seisi kamar. “Aku rasa lokasi yang kurang tepat.”
“Pindah kemana?” Marla menyahut bingung.
“Hotel.” Agustin mengambil alih lembar baju di tangan Marla lalu memakaikannya ke tubuh Marla yang hanya berbalut dalaman.
“Untuk apa ke hotel, Agustin?”
“Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri. Malam pertama kita … harus di hotel. Yang tentunya kasurnya lebih nyaman, ada AC dan lebih sejuk.”
Sedikit lega, karena akhirnya Marla bisa menunda sejenak. Tapi di hotel bagi Marla terlalu membuang uang. “Tidak perlu, Agustin …”
“Harus, Mbak!” Tandas Agustin, “Mbak ‘kan yang bilang sendiri, memperlakukan Mbak sesuai yang aku mau. Dan ini yang aku mau.” Agustin menggendong tubuh Marla, diciuminya wajah sang istri di saat dalam gendongan lalu mendobrak pintu. Petugas pengangkut sudah lama pergi, Agustin segera membawa Marla keluar dari apartemen. Sekitar apartemen mereka cukup sepi, apalagi hari yang menjelang gelap.
Di pinggir jalan Agustin menggendong Marla dengan berjalan kaki. Ada hotel bagus yang lokasinya tidak terlalu berjauhan dari apartemen mereka, dan Agustin ingin dia bersama Marla menghabiskan malam bersama di sana. Di depan bangunan hotel, Marla meminta diturunkan. Agustin membawanya turun lalu menarik Marla masuk ke dalam hotel. Mereka melakukan check-in, memesan satu kamar pengantin untuk semalam, setelah membayar Agustin langsung membawa Marla ke nomor kamar yang ditujukan.
Nomor 576.
Agustin memasukkan kunci dan membukanya. Terpaan AC membuat wajahnya sejuk, lalu menjelajahi seisi kamar hotel. Agustin menghirup udara yang harum oleh pengharum ruangan yang digantung di depan AC lalu memeluk punggung Marla, “Sebelum mulai, Mbak mau mandi dulu?”
Marla mengangguk, lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Agustin menunggu sambil merebahkan diri di atas ranjang. Wajahnya begitu semringah, apalagi membayangkan banyak momen untuk kedepannya. Agustin begitu menyukai suasana kamar hotel ini. Kasurnya lebih empuk, aroma sekitar begitu harum, AC yang menerpa begitu sejuk. Agustin ingin Marla menjalani malam bersamanya tanpa perlu merasa risih dengan apapun. Semuanya lengkap! Mereka hanya perlu memadukasih satu sama lain.
Setelah Marla keluar dengan balutan handuk, Agustin mendekat dan mengendus tengkuknya. Harum … Agustin segera merebahkannya. Tangannya bergerak hendak melepaskan handuk Marla, Marla menahan pergelangan tangannya, “Agustin …” desisnya, “Aku pakai baju dulu, ya.”
Agustin terkekeh. “Tidak perlu, Mbak. Nanti juga bakalan dilepas.”
Agustin menyingkirkan balutan handuk yang menghalangi, seketika hatinya berdesir, menelan ludah dengan gugup. Agustin menutup mata, tidak berani melihat area yang lebih sensitif, apalagi Marla berusaha menutupinya.
“Kita baca doa dulu, Mbak. Agar anak yang kelak lahir, akan diberkati. Ikuti aku.” Bibir Agustin bergerak, keduanya melafazkan satu doa yang sama. Usai melafazkannya, Agustin mendaratkan kecupan di kening Marla.
Perlahan Agustin memberanikan diri untuk melanjutkan, ditanggalinya pakaian atasnya lalu menindih Marla. Ikat pinggang sudah dia tarik, lalu berbisik di telinga Marla, “kita langsung to the point, ya Mbak.”
.
.
Agustin suka mendengar nafas Marla yang tersengal. Agustin senang dengan malam yang mereka lalui. Darah keduanya seakan mendidih, hati Agustin bergejolak. “Sayang …” Agustin membuang panggilan ‘Mbak’ yang membuat gatal mulutnya selama berhari-hari. Dia berhak memanggil Marla dengan sebutan ‘sayang’, bahkan panggilan yang lebih romantis daripada itu.
Saat seluruh indra dan anggota tubuh Agustin begitu bersemangat. Seketika pergerakannya terhenti. Marla yang dia rengkuh … yang dia kira bahagia disentuh, menangis di bawah tubuhnya. Tubuh Agustin kaku, mendaratkan kepalanya di bahu lalu menangis di sela leher Marla, berbisik merasa bersalah, “Maafkan aku, Mbak.” Agustin sesegukan, saat tangis Marla meledak setelah ditahan semenjak dua jam yang lalu, ketika mereka memulai.
Satu yang Agustin sesali,
Menghalangi malam yang seharusnya indah.
Karna Agustin bukan Farhan.
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
penasaran dgn lanjutannya😭😭
plis deh jdi ikut sakit hati...