Kau pernah begitu mencintai namun pada akhirnya kau bukan pilihannya?
Kau pernah amat sangat ingin bersanding dengannya tapi harus berpisah. Sudah lupakan, lihat cerita kita saat ini. Akan segera kuceritakan prihal hal baik dan buruknya kita saat mencintai.
Yang menjadi Kita, "Bukan."
-ReviieAufiar
Cerita ini hanyalah keresahan yang terjadi di kalangan anak muda. Maraknya Ghosting, Benching, Overthingkin dll
Cover Pinterest or Royal Blood
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Apa itu cinta?
Untuk mendapatkan cinta maka penuhilah dirimu dengan cinta itu sampai anda menjadi magnet yang bisa menarik kutubnya.
Kalau bisa kita menikmati dan mengingat setiap detiknya akankah kau tetap berada di jalan itu bersamaku?
Kebanyakkan cerita kita berakhir sampai disini. Kuharap kau mengerti tentang apa yang ingin aku sampaikan. Jangan pergi untuk berlalu ya, aku tak mau dan takkan mampu.
Di kafe.
Lelaki itu seperti biasanya mencuci gelas dan mengelapnya sebelum meletakkan satu persatu di tempat semula.
"Yow. Mendekatinya dan menatap wajah lelaki itu yang sedang sibuk dengan pekerjaannya dan celemeknya. Sejak kapan kenal Rere?" Tanya Afran penasaran.
"Ah iya, temen sekolah aku. Sebenarnya dia gadis yang gua ceritain waktu itu." Tersenyum menatap lelaki itu dan meneruskan pekerjaannya.
"Oke deh kalo gitu bro. Menepuk bahunya dengan senyum sedikit kecut menyembunyikan kesedihan. Semangat selalu ya." Pungkas lelaki itu memakai celemeknya dan kembali ke kasir samping lelaki itu.
"Siap bro. Aku baru tau kalian satu jurusan." Mengibaskan tangannya dan mengelapnya dengan kain.
"Ah iya, sebenernya gua juga dah lama suka sama dia tapi cuma bisa jadi teman dekat karena Rere udah punya pacar." Ucapnya sambil mengecek pengeluaran belanja dan pemasukkan hari ini.
"Ah siapa?" Mendadak berhenti sejenak menimbang kopi di timbangan digital tersebut.
"Sudah dua semester ini bro. Ucapnya. Tapi kalo orang itu loh gua rela kok mundur hehe." Tawanya.
"Ah bisa aja lu." Melanjutkan meracik kopi pesanannya. Ini dah selesai antar gih." Ucap lelaki itu dan pergi ke belakang duduk di kursi dalam ruangan pekerja.
"Astaga apa iya Rere dah punya pacar kenapa kemarin dia gak bilang sama sekali ya. Bertanya-tanya sendiri dalam batinnya, berdiri dan bercermin merapikan rambutnya. Apapun itu Rere pasti bakalan cerita nantinya." Tersenyum menatap cermin dan kembali ke pekerjaannya.
Di rumah dengan banyak pekerjaannya, gadis itu dengan teliti mengecek ulang satu demi satu kata-kata yang harus diperbaiki dan beberapa kalimat yang harus ditambah untuk penambahan naskahnya.
2 Jam kemudian.
"Ah lelahnya, merenggangkan badannya ke kanan dan kekiri. Menaikkan kakinya diatas kursi kerjanya dan menatap layar hp nya men-scroll dari atas ke bawah dan meletakkannya hpnya kembali ke meja dan menghela nafas cukup panjang. Hufffff, lelahnya." Meletakkan kepalanya diatas meja.
"Sebenernya gua harus gimana sih. Menghela nafas kembali. Sebenernya aku harus milih siapa sih? Ahhhh. Sebal!" Gerutunya.
Dring. Dring. Dring. Getaran dari hp Rere.
Dengan cepat melihat beberapa chat masuk salah satunya dari Jie dan Yo.
Chat Yo*
"Re entar malem meet up kuy?" Tanyanya.
Chat Jie*
"Re temenin sore ini cari kado buat cewek gua nanti sekalian makan bareng. Buruan bales."
"Sep. Jam berapa?" Balasnya.
" Jam 4 beb. Selesai kerja gua kesana langsung jemput." Balasnya.
"OK."
Jie menatap pesan masuk gadis itu.
"Kalau kalo gak gini gak bakalan bisa ketemuan. Hmmmm." Mematikan hpnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Ruang kerja Rere
"Hari yang panjang. Gerutu Rere. Baiklah ayo bangkit." Bangkit dari meja kerjanya.
Segera pergi dan bersiap-siap merapikan meja kerjanya. Dan mandi mengganti bajunya.
Bercermin dan melihat dari atas kebawa mengenakan dres dibawah lutut.
"Hmmmm. Kayaknya pakai kemeja sama jeans biasa aja deh." Mengganti pakaiannya kembali dan mengikat rambutnya lalu merapikan poninya segera turun dan memakai sepatu catsnya.
Suara pintu terbuka. Ya tentu saja lelaki itu punya kunci serep rumahku. Lelaki itu masuk dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Lu kenapa?" Tanya Rere duduk di tangga depan pintu keluarnya dan menoleh ke arah lelaki itu.
"Gua putus." Menatap Rere dan kembali menghela nafas.
"LAHH KOK BISA." Teriaknya.
"Astaga Re. Melemparkan bantal sofa ke arah gadis itu. Suara loh." Lalu tertawa menatap rambut gadis itu jadi berantakkan.
Gadis itu menghembus poninya dan menatap lelaki itu dan melempar sepatu sebelah kirinya mengenai badannya.
"AWwww sakit Re." Teriaknya.
Gadis itu merapikan. Rambutnya dan berjalan mendekati lelaki itu mengambil sepatunya.
"Ayo ke pasar aja kita makan malam dirumah." Ajak gadis itu memakai sepatunya dan memakai tasnya menoleh ke arah lelaki itu.
Di atas motor dalam perjalanan ke pasar.
"Mau masak apa Re?" Tanyanya.
"Liat entar deh. Buat stok seminggu 2 minggu mumpung lu ada kan." Ucapnya.
"Haha. Lo Kangen gua temenin belanja ya. Kemana pacar lu." Nada mengejek.
"Dia balik ke kampungnya, mamanya sakit." Ucapnya datar.
"Yee. Nanti beli ikan nila ya kuta panggang sendiri." Ucapnya.
"Lu yang manggang ya. Biar aku buat sambalnya. Eh mau masak sayur apa?" Menarik jaket jeans Jie perlahan.
Lelaki itu menoleh.
"Re jangan keras-keras. Hmmm. Masak ca-kangkung gimana?" Tanyanya.
"Hmm. Boleh. Parkir di sana aja." Menunjuk.
"Hokey. Turun gi. Memarkir motornya. Kita kemana?" Tanyanya mengunci motornya.
"Kesana hayuk." Menarik lengan lelaki itu.
Pemandangan pasar yang sudah lama tidak ku jejaki dengan gadis ini. Ekspresi yang serius saat memilih-milih bawang, cabe, tomat. Sudah seperti ibu rumah tangga saja.
"Re beli ayam berapa kilo?" Tanyanya.
"Sekilo setengah aja." Jawabnya.
"Hmmm. 2 kg deh. Gua makan dirumah lu aja sebulan kedepan. Pak 2 kilo ya di potong-potong." Ucap lelaki itu.
"Ok mas."
"Jie ada ceker mau gak?" Menyenggol lengannya.
"Hmmm boleh deh buat pentol ceker sama bisa buat soto ceker lamongan." Pungkasnya.
"Pak tambahan cekernya sekilo." Menunjuk barisan ceker tersebut.
"Siap neng. Sama suaminya ya." Tersenyum.
"Haha. Tawa datar. Bukan pak." Pungkasnya menolak.
Lelaki itu memegang bahu wanita itu dan memeluknya.
"Cocok ya pak." Menoleh ke penjual ayam itu lalu menatap gadis itu.
"Apaan sih." Memanyunkan mulutnya.
"Hahaha. Lucu banget ni adek gua pak." Tawanya.
"Oh adik nya ya mas. Memberikan sekantong kresek kepada jie. Ini mas 86 ribu." Ucapnya.
"Ini pak." Memberi uang pecahan 100 ribuan.
"Oh iya ini kembaliannya mas."
"Terimakasih pak." Menghampiri gadis itu memilih ikan.
"Jie ini mau." Menunjuk ikan basah dan seafood.
"Boleh tu, mau beli berapa?" Tanyanya.
"Mau buat kepiting saos padang?" Tanya Rere.
"OK. Mas saya mau ini, ini dan ini." Ucapnya.
"Eh banyak amat Jie." Memegang tangannya.
"Lah kan buat sebulan kedepan dari harus makan diluar. Sekalian gua ngekos di rumah lu aja ya kamar bawakan gak di pake." Gumangnya.
"Ehh gua tanya papa dulu." Ucapnya.
"Hmm. Terserah si." Menaikkan bahu dan tangannya.
Sesampainya dirumah langsung menyiapkan makanan.
"Eh bantuin nyuci cumi sama udang ya." Ucap Rere sambil memasak sayur.
"Siap tuan putri." Mengerjakan apapun yang diperintah.
Telepon berdering.
"Re hp lu berdering tu." Panggilnya.
"Ambilin tolong." Teriak Rere.
"OK." Menatap layar tertulis "Yo" Re lu masih berhubungan dengan anak ini.
Mengambil hp nya di tangan Jie.
"Iya hallo Yo." Jawab Rere.
"Re dimana? Kok gak balas chat gua. Gua di depan rumah ni." Tanyanya.
"Ah di depan. Iya ni gua dirumah bentar ya gua buka dulu." Tanyanya.
Dengan cepat berlari membuka pintu.
"Re mau kemana?" Teriaknya.
Pintu terbuka lelaki itu berdiri memegang karangan bunga dan menatap kaget lelaki itu.