Haii Readers...
Ini karya Ku yang ke empat semoga kalian suka...
"Dasar wanita ja**ng, aku menyesal menikahimu." Abbas menarik rambutku.
Ppllaakk.
Abbas menampar ku hingga bibir ku mengeluarkan darah segar.
"Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku memegangi lutut suami ku.
"Cepat kamu ceraikan dia, Mommy ngga sudi mempunyai menantu miskin, ja**ng dan mandul seperti dia." Usir Mommy mertua ku.
Air mata ku mengalir deras, Daddy mertua ku hanya diam saja.
Bagaimana kelanjutannya kisahnya?
Kisah ini diambil dari seorang sahabat, bukan plagiat ini kisah nyata. Semoga kalian menyukainya...
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Disangka
Tak lama kemudian, acara selesai. Abbas menarik ku keluar.
Papa, Mama dan Abang Alvan menghadang aku dan Abbas.
"Jadi kalian Benar-benar serius, bukan lagi dramakan?." Papa Ku melihat cincin di jari manisku. Aku menunduk.
"Om, aku serius meminang Alsava menjadi istriku. Mohon Om dan tante memberikan kami restu." Abbas memberanikan diri menghadapi keluargaku.
"Ini baru, boy ku." Papi Mario menepuk pundak Abbas, Papinya Abbas.
"Gimana Sob, akhirnya kita bisa jadi besanan." Papi Mario menyenggol tangan Papa Alvendra.
Mereka dari SMA sudah bersahabat dan bahkan mereka sempat janji akan menjodohkan anak-anak mereka. Namanya sudah takdir aku dan Abbas bersama, tanpa campuran adukkan kedua orangtua kami.
"Lebih baik kita langsung persiapkan pernikahan anak-anak kita. Soal biaya tenang, semuanya aku yang tanggung, kami dan keluarga tinggal duduk manis." Papi Mario antusias.
"Terserah kamu aja, aku ikut aja. Bagi aku yang terpenting kebahagiaan putri dan putra mu." Kata Papa Alvendra.
"Aku suka gaya kamu, ngga pernah berubah. Selalu ngikutin apa yang ku mau. Thank's ya, Sob. Selalu ada untuk aku selama ini." Papi Mario memeluk Papa Alvendra.
"Iya, Sob. Kamu sudah ku anggap sebagian saudara sendiri, cuma kamu yang masih mau menerima aku sebagai sahabatku." Kata Papa Alvendra sedih dan mengingatkan kejadian masa lalu yang kelam.
"Sudahlah, Sob. Itu sudah lama jangan di ingat lagi." Papi Mario menepuk pundak Papa Alvendra.
"Cih! Ini yang bakal jadi menantu ku, dia anak alvendra yang miskin. Aku ngga, apa kata teman-teman ku mempunyai besan dan menantu miskin." Batin Mami Siska, ia menatap sinis mereka yang sedang berbahagia.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Di rumah kediaman Abbas. Abbas sudah memiliki rumah sendiri, walau tak sebesar rumah orangtuanya.
"Pi, kenapa Abbas harus nikah sama si gadis miskin itu sih?nanti bakalan memalukan keluarga kita." Mami Siska protes.
"Mi, jangan ngomong seperti itu. Alvendra itu sangat berjasa, kalau bukan Alvendra yang tolong Papi mungkin saat ini Papi tidak ada." Papi Mario menduduki sofa.
"Tapi, Pi. Aku ngga mau punya menantu kaya dia." Mami Siska ikut duduk di sofa.
Abbas melihat Mami dan Papinya bicara mengenai Alsava menjadi menantunya, ia berdiri di pintu dapur.
"Mami ngga suka, Pi. Mami sudah menjodohkan Abbas dengan perempuan yang sederajat sama kita, Pi." Mami Siska tak henti-hentinya membujuk Papi Mario.
"Abbas ngga mau, Mi. Abbas mau nikah sama Alsava." Abbas yang langsung menonggolkan diri.
"Abbas itu sangat mencintai Alsava, dia wanita satu-satunya yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku." Sambung Abbas.
"Kalian ini sangat keras kepala, Mami ngga akan anggap gadis miskin itu menantu Mami." Mami Siska pergi.
"Sudah, Bas. Biarkan Mami, nanti dia akan tau Alsava itu bagaimana. Kamu duduk dulu sini." Kata Papi Mario menepuk sofa di sebelahnya.
Abbas menghampiri Papi Mario.
"Papi sangat bangga sama kamu, nak. Papi akan mempersiapkan pernikahan kamu, nanti tanya sama Alsava mau konsep seperti apa nanti di pernikahan kalian." Papi Mario merangkul anak tunggalnya.
"Terimakasih, Pi. Alsava itu sangat berarti bagiku, Pi. Aku sudah lama mencintainya, tapi selalu dia menolak ku. Karena dulu aku seorang playboy, itu aku lakukan agar dia menyadari perasaannya kepada ku. Tapi dia malah ngga sadar-sadar malah benci." Abbas menyandarkan kepala di sofa dan mengingatkan sewaktu pertama kali ia jatuh cinta dan menyatakan cintanya kepada Alsava.