NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 3

Yuni keluar dari kamar Nanda.

“Bunda maafin Nanda ya, semalam ketiduran.”

Nadia mengusap kepala Nanda dengan lembut. Jemarinya menyelip di antara rambut halus anak itu.

“Kalau capek ya tidur, Sayang. Enggak masalah.”

“Tapi Bunda jadi berantem sama Oma.”

Nadia terdiam sesaat.

Dadanya terasa sesak.

Anak sekecil itu justru merasa bersalah karena dirinya bertengkar dengan ibu mertuanya.

Nadia berjongkok hingga sejajar dengan Nanda, lalu menggenggam kedua tangan mungil itu.

“Bunda dan Oma enggak berantem, Sayang.”

Nanda langsung memeluk Nadia erat.

“Bunda, Nanda sayang Bunda.”

Hati Nadia menghangat.

Pelukan kecil itu seolah mampu menghapus semua lelah yang ia rasakan.

Walau bukan anak kandungnya, ia sangat mencintai Nanda.

Bahkan mungkin lebih dari dirinya sendiri.

“Bunda makan, yu,” ajak Nanda.

Nadia tersenyum lalu mencium puncak kepala anak itu.

“Yu.”

Nadia membereskan buku-buku Nanda, lalu menuntun anak itu menuju meja makan.

Sebelum makan, Nanda berdoa dengan khusyuk.

Kedua tangannya terangkat rapi, matanya terpejam, dan bibir mungilnya komat-kamit mengucapkan doa.

Itu sudah Nadia ajarkan sejak dini.

Karena itulah Nanda sudah terbiasa melakukannya tanpa perlu diingatkan.

Setelah sarapan, terdengar mobil jemputan Nanda datang.

Nanda bersalaman dengan Yuni, Mbak Tari, kemudian memeluk Nadia.

Nadia membalas pelukan itu erat, lalu mencium pipi dan kening Nanda dengan hangat.

Mata Yuni hampir mengeluarkan air mata melihat pemandangan tersebut.

Tatapannya melembut untuk sesaat.

“Kenapa aku selalu menuntut kamu hamil? Karena aku khawatir dengan masa depan kamu, Nad,” ucap Yuni dalam hati.

Nadia mengantar Nanda naik ke mobil jemputan.

Seperti setiap pagi, ia berdiri di depan rumah sambil melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang dari pandangan.

Itu adalah aktivitas Nadia setiap pagi.

Meski sederhana, selalu membuat hatinya bahagia.

Nadia membalikkan badan.

Ia melihat ibu mertuanya sedang berjemur di teras.

Walau ibu mertuanya selalu sinis kepadanya, Yuni mau mendengarkan nasihatnya untuk berjemur saja sudah membuat Nadia senang.

Mbak Tari sedang memijat kaki perempuan tua itu.

“Kamu jangan terlalu keras sama Nanda. Jangan karena bukan anak kandung kamu, kamu bisa berlaku semena-mena, Nadia.”

Mata Nadia langsung membesar.

“Astaghfirullah, Bu. Aku sayang sama Nanda walau dia bukan lahir dari rahimku.”

“ Kamu terlalu keras sama Nanda.”

“Apanya yang terlalu keras?”

“Main ponsel enggak boleh, makanan dari luar enggak boleh, minum es enggak boleh, main enggak boleh. Belajar itu perlu, Nad, tapi anak-anak juga perlu bermain.”

Nadia menarik napas panjang. Ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi.

“Aku tidak pernah melarang. Aku hanya membatasi. Dia boleh kok main ponsel. Nanda juga suka main, Bu, aku yang temani. Dan Ibu tahu sendiri kalau Nanda gampang sakit, makanya aku atur ketat makanannya.”

“ Aku capek ngomong sama kamu. Enggak mau kalah.”

Nadia hendak menjawab.

Namun Yuni langsung menyela.

“Tari, bawa aku ke kamar.”

Nadia menutup kembali mulutnya.

Kalimat yang sudah sampai di ujung lidah akhirnya ia telan sendiri.

Yuni melangkah pergi dengan bantuan Mbak Tari.

Sementara Nadia berdiri beberapa saat di tempatnya.

Dadanya terasa sesak.

Tak peduli seberapa keras ia berusaha, selalu ada saja yang salah di mata ibu mertuanya.

Nadia akhirnya masuk ke kamarnya.

Ia meraih ponsel yang berada di atas meja.

Ada pesan dari Raka.

Hanya berupa tangkapan layar bukti transfer.

“Lima juta.”

Nadia menatap layar ponselnya cukup lama.

“Semakin berkurang saja,” gumamnya.

Namun Nadia tidak pernah mengeluh soal nafkah.

Ia selalu menerima apa adanya.

Nadia mencoba menghubungi Raka.

Sekali lagi panggilannya tersambung.

Namun tak kunjung diangkat.

Rasa kecewa kembali mengendap di dadanya.

“Mas kenapa pulang...”

Nadia mengetik pesan itu.

Namun tak jadi mengirimkannya.

Ia menghapus tulisan tersebut perlahan.

“Mungkin Mas Raka masih marah sama aku,” gumamnya.

Akhirnya Nadia mengirim pesan lain.

“Mas, aku izin mau antar Ibu kontrol.”

Tak ada balasan.

Nadia menghela napas lalu mulai melakukan pembayaran melalui transfer.

Gaji Mbak Tari Rp1.500.000.

Listrik Rp500.000.

Internet Rp300.000.

Air PAM Rp200.000.

SPP Nanda Rp3.000.000.

Nadia menghitung ulang satu per satu.

Lima juta habis seketika.

Bahkan masih kurang.

Belum termasuk beras, air minum, kebutuhan rumah tangga, serta lauk-pauk selama satu bulan.

Semua kebutuhan itu ditanggung Nadia dengan kualitas terbaik.

Jumlahnya hampir mencapai Rp10.000.000.

Nadia menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis.

Darimana Nadia menutupi kekurangannya?

Orang tua Nadia hidup sederhana.

Rumah mereka pun sederhana.

Padahal ayahnya dulu seorang pengusaha sukses.

Karena terus dirongrong keluarga besar, ayahnya memilih mundur dari dunia usaha.

Bukan bangkrut sebenarnya.

Melainkan sengaja membangkrutkan diri di mata keluarga besar.

Ia memilih menyimpan uang dan hidup tenang.

Sementara keluarga yang lain menganggap mereka benar-benar jatuh miskin.

Nadia mengetahui hal itu dari pengacara keluarga.

Ia tahu dirinya memiliki deposito sebesar sepuluh miliar rupiah.

Namun selama ini ia tetap hidup sederhana.

Uang hasil deposito ia tabung kembali.

Sebagian lagi ia gunakan diam-diam untuk membantu kebutuhan rumah tangganya.

“Aku ingin jujur dengan uang yang aku punya, tapi aku tak ingin dicintai karena uang. Lebih baik aku diam-diam membantu saja,” ucap Nadia dalam hati.

Setelah membayar tagihan listrik, air, internet, dan gaji Mbak Tari, Nadia kembali ke kamar.

Ia berdandan sederhana.

Gamis berwarna krem.

Jilbab polos.

Dan sedikit bedak untuk menyamarkan wajah lelahnya.

Tak ada perhiasan mencolok.

Tak ada tas mahal.

Nadia memang tak pernah merasa perlu menunjukkan apa yang ia miliki.

Ia mengambil tas kecil, memasukkan ponsel dan dompet, lalu keluar kamar.

Yuni sudah duduk di ruang tamu.

Wajah perempuan itu ditekuk seperti biasa.

“Lama sekali.”

“Maaf, Bu. Tadi saya menyelesaikan beberapa pembayaran.”

Yuni mendengus.

“Jangan boros jadi istri. Kasihan Raka, sendirian mencari nafkah.”

Nadia terdiam.

Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam.

Andai Yuni tahu.

Uang lima juta yang diberikan Raka setiap bulan bahkan tidak cukup untuk menutup setengah kebutuhan rumah tangga.

Namun seperti biasa, Nadia memilih menelan semuanya.

“Ya, Bu. Saya akan menggunakan uang sebaik mungkin.”

Ia lalu memesan taksi online.

Sementara menunggu, Yuni sibuk bermain ponsel.

Nadia duduk di sampingnya.

Tiba-tiba ponsel Yuni berdering.

Wajah perempuan itu yang semula masam mendadak berubah lebih lembut.

“Besok jadi, kan?”

Nadia menoleh sekilas.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Itu suara Yuni saat berbicara dengan Raka.

Ada rasa nyeri yang perlahan menjalar di dadanya.

Jadi, Raka masih sempat menelepon ibunya.

Sementara pesan dan panggilannya sendiri tak pernah dibalas.

Nadia menundukkan kepala.

Berusaha mengabaikan rasa kecewa yang mulai memenuhi hatinya.

Tak lama kemudian, taksi datang.

Nadia membantu Yuni masuk ke mobil.

Begitu duduk, Yuni kembali melontarkan kalimat yang menusuk.

“Coba kamu punya mobil seperti Ratna.”

Nadia menoleh dan tersenyum tipis.

“Insyaallah, nanti Nadia beli, Bu.”

Yuni mendecakkan lidah.

“Paling juga pakai uang Raka.”

Senyum Nadia sedikit memudar.

Namun ia tetap diam.

Ia hanya memandang keluar jendela, menyembunyikan perih yang semakin sering datang tanpa diundang.

Rumah sakit sudah ramai.

Nadia memapah Yuni menuju ruang pendaftaran.

Yuni duduk menunggu dengan nyaman.

Sementara Nadia mondar-mandir mengurus administrasi, mengambil nomor antrean, dan menebus obat.

Karena terlalu sering datang, beberapa perawat sudah mengenalnya.

“Kontrol lagi, Bu Nadia?” sapa salah satu perawat.

Nadia tersenyum ramah.

“Iya, Mbak.”

Setelah rontgen selesai, mereka menuju poli paru.

Yuni mengeluh sepanjang jalan.

“Astaga, kapan sembuhnya penyakitku ini?”

Nadia menggenggam tangan ibu mertuanya.

“Insyaallah segera sembuh, Bu.”

Di ruang tunggu, Yuni sibuk dengan ponselnya.

Sementara Nadia membuka buku kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Membaca adalah caranya menenangkan hati.

Tak lama kemudian, nama Yuni dipanggil.

Mereka masuk ke ruang praktik dokter spesialis paru.

Di balik meja duduk Dokter Handoko, dokter yang sudah menangani Yuni selama beberapa bulan terakhir.

Setelah memeriksa hasil rontgen dan beberapa catatan, dokter tersenyum.

“Perkembangannya bagus, Bu Yuni.”

Wajah Nadia langsung berbinar.

Matanya ikut bersinar penuh harapan.

“Mulai minggu ini, obatnya cukup diminum dua hari sekali.”

Nadia mengembuskan napas lega.

Bahu yang sejak tadi tegang akhirnya mengendur.

Alhamdulillah.

Usahanya mengingatkan obat setiap hari tidak sia-sia.

“Yang penting Ibu jangan banyak pikiran,” lanjut dokter. “Dibawa santai saja.”

Yuni mendesah panjang.

“Bagaimana saya tidak banyak pikiran, Dok? Menantu saya belum juga memberi cucu.”

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!