Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Hella menyerahkan kertas yang tadi telah ia isi kepada Marcel dengan kedua tangan. Ada sedikit rasa gugup yang ia sembunyikan di balik wajah tenangnya. Marcel menerima kertas itu, matanya langsung menyapu setiap baris tulisan.
“Silakan tunggu sebentar,” ucap Marcel singkat namun sopan.
Hella hanya mengangguk pelan. Ia berdiri dengan rapi di ruang tunggu, tangannya saling menggenggam, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Sementara itu, Marcel berjalan menuju ruang kerja Dave. Pintu diketuk dua kali sebelum ia masuk. Di dalam, Dave sudah duduk di kursinya, tampak serius seperti biasa, dengan beberapa berkas di meja.
“Bagaimana?” tanya Dave tanpa basa-basi.
Marcel mendekat dan menyerahkan kertas milik Hella. “Ini hasilnya, Tuan.”
Dave menerima kertas itu dan mulai membaca dengan teliti. Suasana ruangan terasa hening, hanya suara lembaran kertas yang sesekali bergeser. Wajah Dave tetap datar, sulit ditebak apa yang ada di pikirannya.
Beberapa saat kemudian, Dave meletakkan kertas itu di meja.
“Baiklah.. Terima dia” ucapnya singkat.
Marcel sedikit mengangguk, sudah terbiasa dengan keputusan cepat seperti itu.
“Beritahu dia, mulai besok dia sudah bisa bekerja” lanjut Dave. Ia kemudian mengambil satu lembar kertas lain dari laci mejanya dan menyerahkannya kepada Marcel. “Ini peraturan dan tugasnya. Jelaskan semuanya.”
Marcel menerima kertas tersebut.
Dave kembali menambahkan, “Hari Minggu libur. Dia punya anak, kan? Biarkan dia tetap punya waktu untuk itu.”
Marcel sempat menatap Dave sekilas, ada sedikit perubahan nada yang jarang ia dengar, tapi ia tidak berkata apa-apa.
“Gajinya empat juta tiap bulan, dan itu berlangsung selama dua bulan dia kerja. Kalau kerjanya sesuai standar, naik jadi enam juta tiap bulan”
lanjut Dave. “Kalau dia setuju, suruh langsung mulai kerja besok.”
“Baik, Tuan,” jawab Marcel.
Marcel pun keluar dari ruangan kerja Dave dan kembali menemui Hella yang masih menunggu dengan sabar di ruang tamu. Begitu melihat Marcel datang, Hella langsung berdiri tegak.
Marcel menghampirinya dan menyerahkan kertas yang tadi diberikan Dave.
“Nona Hella, Anda diterima bekerja di sini” ucap Marcel.
Mata Hella sedikit melebar, antara lega dan tidak percaya.
“Ini adalah peraturan dari Tuan Dave, tugas harian, dan ketentuan yang harus Anda pahami” lanjut Marcel dengan nada profesional.
Hella menerima kertas itu dengan hati-hati, membacanya sekilas.
“Untuk dua bulan pertama, gaji Anda empat juta. Jika kinerja Anda baik, maka akan dinaikkan menjadi enam juta tiap bulan” jelas Marcel lagi. “Dan Anda mendapatkan hari libur setiap hari Minggu.”
Mata Hella langsung berkaca-kaca tipis.
“Terima kasih…,” ucapnya pelan.
Dalam benak Hella, uang empat juta dalam satu bulan, itu sudah seperti mendapatkan bunga mawar yang cuantik setaman penuh.
Marcel menatapnya sejenak. “Jika Anda setuju, Anda bisa mulai bekerja besok, dan jika tidak ada masalah lain lagi atau tidak ada pertanyaan lainnya, saya akan melanjutkan ke tahap berikutnya, saya akan menunjukkan dapur, kamar anda, dan ruangan - ruangan lainnya”
Hella menggenggam kertas itu sedikit lebih erat. Dalam benaknya, terlintas wajah putranya, Dimas.
Ia menarik napas dalam, lalu mengangguk mantap.
“Saya setuju, Pak. Saya akan mulai besok.”
Di balik pintu ruang kerjanya, Dave yang masih duduk diam tanpa ekspresi, tidak tahu bahwa keputusan singkatnya hari itu akan membawa perubahan besar—bukan hanya untuk Hella, tapi juga untuk hidupnya sendiri.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁