Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suasana di rumah tuan Aslan terlihat tenang, karena hari weekend. Mungkin anak-anak kembali tidur setelah selesai sholat subuh. Tapi berbeda dengan tuan Aslan yang sedang duduk di ruang keluarga sambil memegang Tablet. Wajah itu terlihat serius dengan kacamata Bersangga di hidung mancungnya. Sementara Bu Widya sedang sibuk di dapur mengurus sarapan pagi.
"Pagi Papi." Sapa Jidan membuat pria paruh baya itu itu melihat ke arahnya.
"Pagi ini Jabir. Papi lihat kamu rapi sekali pagi ini. mau kemana?" Tanya tuan Aslan saat meneliti penampilan Jidan yang terlihat berbeda pagi ini dari hari-hari sebelumnya, karena Jidan menggunakan baju kaos berwarna hitam yang di padukan dengan Jaket trucker berwarna mocca, serta celana jins kain berwarna hitam, membuat penampilan pria mudah itu terlihat tampan.
"Mau jalan Papi sama teman."
"Teman atau teman?" Jidan terlihat salah tingkah saat tuan Aslan menggoda nya.
"Teman papi." Jawab Jidan jujur. Karena memang dia menganggap Nada sebagai temannya untuk lebih dari itu Jidan belum bisa saat ini, tapi untuk kedepannya mungkin Jidan akan usahakan.
"Jidan, jika kamu menyukainya. Papi sarankan untuk langsung melamar nya. Papi nggak mau kamu mengajaknya pacaran tapi papi ingin kamu langsung menikahi. Sebaik-baiknya hubungan yaitu yang halal." Nasehat tuan Aslan dengan serius.
"Iya Pi, insyaallah Jidan tidak akan pacaran lama-lama." Jawab Jidan tersenyum mendapatkan tepukan hangat dari tuan Aslan. Sama halnya seperti almarhum ayahnya, tuan Aslan menjadi ayah yang baik saat menasehati mereka.
"Pergilah, teman mu pasti sudah menunggu."
"Iya Pi, aku pergi dulu. Assalamualaikum."
Tidak berselang lama Jidan menghentikan motornya didepan rumah Nada, rumah yang tidak terlalu mewah tapi terlihat sangat nyaman untuk ditinggali.
Setelah memarkirkan motornya, Jidan melangkah kearah pagar rumah Nada.
"Assalamualaikum bik, ada Nada?"
"Waalaikumsalam nak Jabir, ada didalam."
Pembantu di rumah Nada tentu mengenal Jidan, karena setiap ada kesempatan ke kota S, Jidan selalu menyempatkan dirinya untuk mampir menerima ajakan Nada berkunjung.
"Mari masuk, nak Jabir." Ajak wanita paruh baya itu mempersilahkan Jidan masuk kedalam rumah.
"Iya bik."
"Nak Jabir mau minum apa?"
"Air putih aja bik."
"Baik nak Jabir, tunggu sebentar biar bibik ambilkan." Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan Jidan di ruangan tamu.
Sementara Jidan meneliti rumah Nada yang tidak terlihat berubah sama sekali. Rumah itu hanya ada beberapa hiasan bunga, tapi Jidan tidak pernah melihat foto keluarga Nada di sana.
Jidan tidak tau kemana keluarga gadis itu, karena selama Jidan kesana dia tidak pernah melihat orang tua Nada ataupun saudaranya. Yang selalu ada menyapa nya hanya pembantu dan satpam didepan.
"Ini air putih nak Jabir. Bibik juga bawa cemilan kecil untuk nak Jabir." Ucapnya seraya menaruh nampan berisi air putih sesuai pesanan Jidan dan juga beberapa camilan ringan.
"Terima kasih bik." Ucap Jidan tersenyum ramah."Oh iya bik, kemana Nada. Tumben dia belum turun."
"Sebentar biar bibik periksa dulu, siapa tau mbak Nada lagi siap-siap."
Belum Art itu melangkah ke ruangan lain untuk memanggil Nada. Nada keluar dengan penampilan yang berbeda tapi tetap terlihat cantik.
Hari ini Nada terlihat cantik tanpa menggunakan kaca mata dan sedikit menghias wajah nya dengan Make up natural. Penampilan nya juga berubah dari biasanya. Baju pink menelai yang di padukan dengan hijab abu-abu.
"Kenapa kalian menatap ku, apakah ada yang salah?" Tanya Nada bingung dengan tatapan keduanya. Sementara Jidan maupun Art itu menggeleng secara spontan."Jika tidak ada yang salah, kenapa kalian menatap ku seperti itu?"
Nada was-was dengan penampilan nya sekarang, ia takut kalau penampilan nya terlihat norak hingga membuat Jidan malu nanti. Nada tidak menginginkan itu.
"Nggak mbak Nada. Mbak Nada terlihat sangat cantik hari ini." Jawab Art itu tanpa berkedip.
"Iya Nad, kamu cantik sekali hari ini, masya allah." Sambung Jidan memuji, membuat Nada tersipu malu mendengarnya.
"Sudahlah, ayo kita jalan." Ajak Nada mengalihkan tatapan pria itu.
"Ah, ayo."
"Bik aku keluar dulu ya." Izin Nada seraya mengambil tangan wanita paruh baya itu, lalu mencium punggung tangannya.
"Iya mbak hati-hati. Jangan terlalu kecapean." Ucap Art itu mengingatkan. Jidan yang dari tadi melihat interaksi keduanya bisa melihat raut khawatir dari wajah art itu.
"Siap bik." Jawab Nada mengangguk.
Setelah Jidan berpamitan, Jidan membawa Nada jalan-jalan seperti permintaannya. Nada sendiri tidak protes saat Jidan membawa nya jalan-jalan menggunakan motor bukan mobil. Gadis itu dengan senang hati menikmati suasana di pagi hari saat melewati jalan yang tidak terlalu padat karena hari wikend.
Di sebuah wisata kota S yang kini di padati oleh orang-orang, kini terlihat ramai oleh pengunjung. Dari anak-anak sampai orang dewasa.
"Sepertinya seru!" Ucap Nada menatap tempat itu dengan mata yang berbinar-binar dan juga hati senang. Sementara Jidan menatap Nada dengan kening yang mengerut saat merasakan kalau Nada belum pernah ketempat itu.
"Kamu belum pernah kesini Nada?"
"Iya aku belum pernah kesini dan baru kali ini." Jawab Nada tanpa menoleh ke arah Jidan.
Jawaban yang sama setiap kali Jidan membawa Nada jalan-jalan seperti permintaannya, karena selalu itu yang dia dengar: Nada seperti orang yang tidak pernah ke tempat wisata itu.
Jidan selalu bertanya-tanya, kenapa Nada tidak pernah jalan ketempat wisata yang berada di kota S, padahal kalau di lihat-lihat Nada gadis yang mampu untuk bepergian apalagi menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya.
Apakah Nada bersama keluarganya sering keluar kota untuk menghabiskan waktu bersama? Bisa saja iya atau tidak.
Nada terlalu banyak menyimpan rahasia.
Bersambung….