Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Pertanyaan itu menghantam Juan telak. Syok. “Tante, aku tidak bermaksud seperti it...?”
Belum sempat Juan menyelesaikan kalimatnya, Tante Hena sudah bergerak cepat. Bibirnya menyerobot bibir Juan. Ciuman itu ganas, menuntut balasan, melumat habis tanpa jeda.
Juan sempat gelagapan, terkejut dengan serangan panas yang tiba-tiba. Namun, tubuh mudanya dengan cepat menyesuaikan diri. Secara perlahan, ia mulai membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.
Lidah mereka bertemu, saling sedot dan membelit, menuntut kepuasan yang lebih dalam.
Tante Hena meraih tangan Juan. Ia membimbing tangan muda itu ke atas. Menyentuh dua bukit kembar menjulang miliknya yang sudah lama tidak disentuh pria sejak ia bercerai.
"Remas dengan keras, Juan!!!" bisik Tante Hena, suaranya tercekat.
Juan bak kerbau yang dicucuk hidungnya. Ia meremas bukit kembar itu, keras dan buas, tanpa melepas pangutan bibir mereka. Juan terkejut. Bukit kembar itu sudah tanpa pembungkus, sehingga telapak tangannya bisa merasakan puncak puting kecil yang keras di atas bukit ranum itu.
Mereka tenggelam dalam ciuman dan remasan itu selama tiga puluh menit, di tengah hujan deras yang mengguyur bumi malam itu.
"Kita pindah ke kamar, yuk," ajak Tante Hena, napasnya memburu.
Juan menolak. Kepergok Laras adalah mimpi buruk yang bisa membuatnya diarak keliling desa karena dituduh kumpul kebo dengan Janda, Ibu mantan pacarnya.
"Laras menginap di kosan temannya. Dia akan pulang siang besok. Kita aman, tidak usah khawatir," ucap Tante Hena. Ia segera menyosor kembali bibir Juan, melilit lidahnya, bertukar ludah, meyakinkan keraguan pemuda itu.
"Ayo..." Tante Hena menarik kuat tangan Juan, memaksanya masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Juan langsung disambut kembali. Bibirnya diserobot tanpa ampun. Bahkan Tante Hena langsung meremas pusaka Juan yang sudah keras dan tegang yang tersimpan di balik celana jeans-nya.
Tante Hena membuka kancing baju Juan dengan gerakan lambat, penuh gairah, kemudian mendorong Juan telentang di atas tempat tidur.
Dengan cepat, hanya celana dalam yang tersisa di tubuhnya. Sisanya sudah terlepas entah ke mana.
"Kamu punya tubuh yang bagus, Juan." Puji Tante Hena. Ia kemudian menarik turun kain terakhir di tubuh Juan.
Tante Hena tertegun sesaat. Ia tidak menduga pusaka milik Juan sangat besar dan menjulang. Ia kesulitan menelan ludah. Dibandingkan dengan milik mantan suaminya, pusaka Juan tidak ada apa-apanya.
"Laras pasti akan menyesal karena membuangmu, Juan," kata Tante Hena, sementara tangan kanannya sudah meremas pusaka Juan itu, merasakan urat dan panasnya.
Dari remasan dan elusan biasa, pusaka Juan kini sudah berada di rongga mulut Tante Hena. Ia memberikan servis luar biasa pada pusaka keramat Juan. Lidah Tante Hena menyapu payung pusaka itu, menciptakan kenikmatan baru yang Juan rasakan, campuran antara nikmat dan geli yang memabukkan.
Setelah puas bermain-main di mulutnya, Tante Hena kembali melumat bibir seksi Juan.
Entah sejak kapan, Tante Hena sudah tanpa busana. Dua bukit kembarnya yang masih kencang menjulang dan lembah rahasia miliknya yang lembap dan siap, seolah memanggil Juan untuk segera memasukinya.
"Kemarilah, Juan. Apa kamu tidak ingin merasakan langsung bukit kembar Tante? Dan merasakan bagaimana nikmat menyedotnya?" Rayu Tante Hena, yang sudah berbaring telanjang di ranjang.
Juan, yang sudah terbakar gairah, menurut begitu saja. Ia bergerak ke arah tubuh polos Tante Hena, meremas bukit kembar yang terasa empuk dan menggemaskan itu. Sisi lainnya ia sedot, buas, layaknya bayi kecil yang kehausan.
Tangan Juan yang lain tanpa menunggu perintah sudah menjelajahi lembah rahasia Tante Hena yang lembap. Juan menyedot kacang kecil itu dengan kuat, membuat pemiliknya menggeliat tak tertahankan.
"Ini sangat nikmat, lebih cepat sayang, ahhh... Terus Juan!" Ujar Tante Hena sambil meremas-remas rambut Juan dengan mulutnya yang sudah meracau tak keruan.
Juan terus menyedot kacang kecil di tengah lembah rahasia itu dengan kencang. Bukan hanya menyedot, ia juga mengobok-oboknya dengan jari tengahnya hingga membuat lembah itu semakin banjir, berakhir dengan menyemprotkan air mancur yang deras.
"Kamu sangat pintar, Juan," puji Tante Hena, lantas mendorong tubuh Juan ke atas tempat tidur. "Kita akan ke menu utama," katanya, menatap Juan dengan tatapan genit dan menantang.
Tante Hena berjongkok di atas tubuh Juan, lalu memasukkan pusaka Juan ke lembah miliknya dengan perlahan. Matanya mendelik ke atas saat pusaka Juan menerobos masuk ke dalam gua rahasianya.
Tante Hena mendiamkan pusaka itu cukup lama, memberi waktu pada gua rahasia miliknya untuk beradaptasi dengan pusaka keramat Juan yang besar.
Beberapa detik kemudian, Tante Hena mulai bergerak perlahan. Wajahnya meringis menahan rasa sakit bercampur nikmat yang menyiksa.
"Juan, remas bukitku..." pinta Tante Hena, nadanya berubah menjadi perintah.
Telapak tangan Juan dalam satu gerakan sudah menggenggam bukit besar dan empuk milik Tante Hena. Sementara wanita itu terus bergerak semakin cepat dan liar, bak kuda betina yang lepas kendali.
Semakin cepat goyangan Tante Hena, semakin cepat pula remasan Juan pada bukit kembar yang ranum itu. Bukan hanya remasan, Juan juga menyedot dan menggigit biji kacang di atas bukit ranum itu, sehingga membuat pemiliknya semakin mendesah keras.
"Terus Juan, remas dengan kuat..." racau Tante Hena, tangannya meremas-remas rambut Juan, tanpa menghentikan goyangannya.
Keringat mulai bercucuran deras, namun itu tidak membuat perempuan paruh baya berusia 39 tahun itu menghentikan goyangannya yang semakin hot dan buas.
"Akhh, Juan aku sampai..." Tante Hena berteriak nyaring saat ia mencapai puncaknya.
Juan, yang belum mencapai ujungnya, memutarkan tubuh mereka dan menghujamkan kembali pusakanya ke dalam gua rahasia milik Tante Hena. Kali ini, Juan yang mengambil alih kendali permainan.
Mata Tante Hena mendelik putih saat Juan mulai menghujamkan pusakanya dengan kasar dan dalam. Tante Hena yang sempat kelelahan, kini tenaganya bangkit kembali. Ia menggoyangkan pinggulnya, menyambut kedatangan pusaka keramat Juan, yang memberikan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kematian suaminya beberapa tahun silam.
"Lebih cepat, Sayang. Aku hampir sampai lagi..."
Juan, yang juga merasakan dirinya sudah di ujung, bergerak lebih cepat dan liar, menghantam gua rahasia Tante Hena tanpa ampun.
"Ahh..."
Lahar putih menyembur keluar dari pusaka Juan dan memenuhi perut Tante Hena, sebelum Juan ambruk di sebelah tubuh Tante Hena yang sudah terpejam, kelelahan, karena kenikmatan surgawi yang diberikan Juan.
Beberapa menit kemudian, Juan merasakan geli pada pusakanya. Ia membuka mata dan menemukan Tante Hena sudah kembali mengemut dan memberikan servis pada pusaka miliknya.
"Berdiri lagi, ini cangkul..." celoteh Tante Hena dengan gelak kecil, sebelum pusaka itu menghilang dilumat bibir seksinya dan disapu kelembutan lidahnya.
Semangat tempur Juan kembali bangkit. Pusaka itu kembali berdiri menjulang, menuntut untuk masuk kembali ke lembah rahasia milik Tante Hena yang panas dan basah, lembah yang sudah merenggut keperjakaannya malam ini.
"Satu ronde lagi, ya..." pinta Tante Hena, matanya berbinar.
Tanpa menunggu respons Juan, Tante Hena sudah berjongkok dan memasukkan pusaka itu ke dalam lembah rahasia miliknya yang panas dan basah.
"Ooo... Pusakamu sangat luar biasa, Juan. Aku akan ketagihan... Ahhh..." racau Tante Hena sambil bergerak naik turun, bahkan melakukan gerakan ngebor khas Inul Daratista.
Gerakan itu membuat pemilik pusaka itu merem melek keenakan. Seolah lupa bahwa hujan turun deras di luar, sementara mereka di dalam, tanpa sehelai benang pun, asyik bermain kuda-kudaan.