Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAMBAR TIGA ORANG
BAB 34 — GAMBAR TIGA ORANG
Pagi itu Keisha bangun dengan perasaan yang aneh dan campur aduk.
Sejak semalam, kalimat Arsen terus berputar-putar di kepalanya, tak mau pergi.
“Tidak ada ruang di hidupku selain kamu dan Leo.”
Menyebalkan.
Terlalu berlebihan.
Dan entah kenapa... kalimat itu berhasil membuat dadanya terasa hangat membara.
Ia membanting bantal ke sisi ranjang dengan kesal.
“Kenapa sih dia selalu ngomong hal-hal gitu pas mau pulang?! Pas aku nggak bisa jawab apa-apa!”
Di dapur, ibunya sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Begitu melihat wajah Keisha yang muncul dengan rambut berantakan tapi pipi merona, wanita itu langsung tersenyum penuh arti.
“Semalam diantar lagi ya?”
“Iya.”
“Lama ngobrol di mobil ya?”
“Enggak! Cuma sebentar!”
“Terus kenapa kamu turun sambil senyum-senyum sendiri gitu? Kaya orang kena sihir?”
Keisha langsung duduk cepat di meja makan.
“Aku lapar! Fokus masak saja Bu!”
Ibunya tertawa kecil.
“Kamu jatuh cinta lagi ya sama dia?”
JLEB!
Sendok di tangan Keisha hampir terlepas jatuh.
Tak lama kemudian Leo berlari masuk sambil membawa kotak pensil warna.
“Mama! Mama!”
“Apa sayang?”
“Habis makan bantu Leo ya.”
“Bantu apa?”
“PR gambar. Tugasnya gambar keluarga.”
Keisha membeku sepersekian detik.
“Keluarga?”
“Iya. Keluarga sendiri.”
Dari arah kompor, ibunya langsung melirik tajam dengan mata yang berbinar-binar penuh gosip.
Bahaya lagi. Suasana jadi tegang manis.
Setelah sarapan, mereka duduk di karpet ruang tamu. Leo membentangkan kertas gambar ukuran besar.
Keisha duduk di sampingnya.
“Ayo gambar. Leo mau gambar siapa saja di keluarga?”
Leo menjawab dengan santai dan sangat yakin.
“Mama, Papa, sama Leo.”
Keisha menahan napas pelan.
“Papa yang mana?”
Leo menatap ibunya seolah pertanyaan itu sangat bodoh.
“Papa ya Papa. Yang sering datang bawa hadiah itu lah.”
Anak ini memang terlalu percaya diri dan tegas.
Leo mulai mencoret-coret kertas dengan semangat.
Ia menggambar kepala bulat besar.
Lalu badan kotak.
Lalu tangan yang digambar sangat panjang sampai aneh.
Keisha tertawa melihatnya.
“Itu siapa?”
“Itu Papa.”
“Kenapa tangannya digambar panjang sekali?”
“Biar bisa gendong Leo... sama bisa peluk Mama dari jauh,” jawab anak itu polos.
Keisha terdiam mendadak.
Ibunya yang sedang cuci piring di dapur sampai tersedak batuk karena menahan tawa mendengar jawaban itu.
“Nah, kalau ini Mama,” kata Leo lagi sambil menggambar sosok perempuan berambut panjang.
“Kenapa gambarnya senyum lebar sekali sampai matanya ketutup?”
“Karena kalau ada Papa, Mama pasti senyum. Wajah Mama jadi cerah,” jawab Leo dengan logika anak kecil yang luar biasa jujurnya.
Keisha menoleh cepat, kaget.
“Aku enggak selalu senyum kok.”
Leo mengerutkan kening berpikir keras.
“Ooh... iya juga. Kadang Mama galak juga kalau Leo nakal.”
HA HA HA!
Ibunya akhirnya tertawa keras sekarang. Tidak tahan lagi.
Benar-benar pengkhianat!
Ting... tong...
Bel pintu berbunyi.
“PAPAAAAA!!!”
Leo langsung melesat berdiri dan berlari secepat kilat ke depan pintu.
Keisha spontan ikut berdiri, lalu buru-buru pura-pura mengambil gelas air agar tidak ketahuan kalau dia juga menunggu.
Pintu terbuka. Arsen masuk membawa kantong plastik berisi buah-buahan segar dan roti tawar.
“Pagi semua.”
“Pagi, Nak,” jawab ibunya dengan nada yang terlihat terlalu manis dan ramah.
Ayahnya dari arah sofa cuma mengangguk santai, gaya bangsanya persis seperti calon mertua pemilik kerajaan.
Arsen baru saja meletakkan tas dan melepas jam tangannya ketika tangan kecil Leo menarik-narik celananya.
“Papa! Papa! Lihat ini! Gambar keluarga Leo!”
Arsen ikut berjongkok dan mengikuti anak itu ke ruang tamu.
Kertas besar diperlihatkan.
Pria itu menatap gambar itu cukup lama, matanya menyapu setiap detail coretan tangan kecil itu.
Lalu ia menatap putranya.
“Ini siapa yang paling ganteng menurut gambar?”
“PAPA!” jawab Leo lantang.
“Pintar anak Papa.”
“Yang paling cantik itu Mama.”
“Lebih pintar lagi.”
“Yang paling lucu itu Leo.”
“Jenius. Anak jenius.”
Keisha yang mendengar dari belakang cuma bisa memutar bola matanya malas.
Bapak dan anak ini sama saja, sama-sama suka dipuji.
Arsen lalu menatap gambar itu lagi dengan tatapan yang jauh lebih serius dan lembut.
Di sana tergambar tiga orang yang sedang bergandengan tangan berdiri di bawah matahari yang besar dan bersinar. Ada gambar rumah kecil di belakang mereka.
Dan di bagian bawah kertas, ada tulisan miring dan belum rapi:
KELUARGAKU
Tatapan Arsen berubah sangat dalam.
Ia kembali mensejajarkan wajahnya dengan Leo.
“Kamu senang hidupnya begini? Ada kita bertiga?”
Leo mengangguk sangat mantap sampai kepalanya goyang-goyang.
“Mau tiap hari begini terus. Jangan pergi-pergi lagi.”
Ruangan itu mendadak hening. Suasana jadi terasa sangat emosional.
Keisha buru-buru menunduk pura-pura merapikan bantal sofa agar tidak dilihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Arsen berdiri perlahan. Matanya mencari dan menatap lurus ke arah Keisha.
“Aku juga mau.”
Jantung Keisha berdetak salah tempo.
“Apa?”
“Aku juga mau tiap hari begini.”
Ia menatap Leo, lalu menatap rumah sederhana itu, lalu kembali menatap wajah Keisha dalam-dalam.
Wanita itu buru-buru mengalihkan pandangan, jantungnya berpacu kencang.
“Jangan bikin anak bingung dengan omong kosong.”
“Aku justru mau bikin semuanya jelas. Sangat jelas.”
Tiba-tiba suara ibunya terdengar keras dari dapur, sengaja agar terdengar.
“Arsen! Kamu kan suka soto ayam sama bakso! Makan siang di sini saja ya! Ibu masak banyak!”
Keisha menatap ibunya tak percaya.
Wanita itu pura-pura sibuk mencuci pisau seolah tidak terjadi apa-apa.
Belum selesai Keisha syok, ayahnya dari ruang tengah menambahkan santai,
“Kalau mau ganti baju santai juga ada kok di kamar tamu. Baju bekas ayah mu muat kayanya.”
Keisha menghela napas panjang.
Seluruh anggota keluarga ini benar-benar konspirator utama! Mereka semua memihak Arsen!
Siang harinya mereka makan bersama di meja makan.
Leo duduk manis tepat di tengah-tengah antara Arsen dan Keisha.
Anak itu seolah menjadi komandan kecil. Setiap kali mau sesuatu, ia otomatis menyuruh keduanya bekerja sama.
“Papa ambilin sendok.”
“Mama ambilin air putih.”
“Papa bukain saus tomat.”
“Mama suapin satu sendok dulu.”
Seolah itu adalah hal yang paling wajar dan paling normal di dunia ini.
Dan yang paling menakutkan bagi hati Keisha...
Rasanya memang mulai terasa sangat normal. Sangat pas. Sangat... seperti keluarga.
Setelah makan siang, kelelahan membuat Leo langsung tidur siang. Ayah dan Ibu juga masuk kamar untuk istirahat.
Rumah menjadi sangat tenang dan sunyi.
Keisha sedang membereskan piring kotor dan mengelap meja di dapur ketika Arsen masuk perlahan ke ruangan itu.
“Kamu enggak capek?” tanya Keisha pelan tanpa menoleh.
“Capek apa?”
“Ya... datang terus ke sini tiap hari. Kerjaan juga banyak kan?”
Arsen bersandar santai di kusen pintu, menatap punggung wanita itu.
“Enggak. Nggak pernah capek.”
“Kenapa sih?”
“Karena tiap kali aku pulang dari sini... hati aku jadi lebih tenang. Pikiran jadi lebih jernih.”
Tangan Keisha berhenti mengelap meja.
“Arsen...”
“Aku serius ngomong ini.”
Ia melangkah masuk mendekat satu langkah.
“Dulu aku punya rumah besar, megah, tapi rasanya dingin, kosong, dan sepi banget.”
Satu langkah lagi. Jarak mereka tinggal beberapa meter.
“Tapi sekarang... rumah kecil ini rasanya jauh lebih nyaman. Jauh lebih terasa seperti rumah.”
Keisha menelan ludah susah.
“Jangan ngomong sembarangan gitu di dapur orang.”
“Aku bisa pindah ke ruang tamu kok kalau kamu mau,” jawab Arsen santai dengan senyum nakal.
“Kamu nyebelin sekali.”
“Aku tahu.”
Sekarang mereka berdiri terlalu dekat.
Keisha refleks mundur satu langkah sampai punggungnya bersentuhan dengan meja dapur. Ia terjebak.
Arsen menatap wajahnya lekat-lekat, matanya gelap dan dalam.
“Aku mau tanya satu hal.”
“Apa?”
“Kapan kamu berhenti pura-pura enggak suka sama aku?”
Keisha menahan napas.
“Tidak pernah.”
Arsen tersenyum miring, senyum kemenangan.
“Berarti... sebentar lagi kamu akan ngaku.”
Tiba-tiba pria itu mundur sendiri dengan santai.
Ia mengambil satu buah apel merah dari keranjang di meja, lalu berjalan keluar ruangan seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.
Keisha berdiri mematung di tempat itu dengan jantung yang berdegup kacau balau.
Menjelang sore, sebelum Arsen pulang, ia sempatkan diri berhenti di depan kulkas.
Matanya menatap gambar Leo yang ditempel di sana.
Dengan pelan, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret gambar itu.
“Buat apa?” tanya suara Keisha dari belakang.
Arsen menoleh, menatap wanita itu dengan tatapan tenang namun penuh tekad.
“Pengingat.”
“Pengingat apa?”
“Target.”
Arsen masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Keisha yang berdiri di teras dengan wajah yang memanas sampai ke ujung telinga.
Bersambung...