Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diem-dieman
Beberapa hari kemudian, suasana canggung masih menggantung di antara Kilau dan Dai. Ciuman singkat di lift apartemen itu seolah menjadi tabir yang memisahkan mereka. Kilau tenggelam dalam kesibukan mengembangkan MahaTech, perusahaan teknologi yang tengah naik daun.
Rapat demi rapat menenggelamkan Kilau pada kesibukan menggila, presentasi satu dan presentasi lainnya seperti gerbong kereta panjang yang tak ada habisnya, semua dilakukannya demi memajukan perusahaan. Pikirannya nyaris tak punya ruang untuk Dai, meski bayangan wajah pria itu sesekali hadir di sela-sela kesibukannya. Sengaja dia melakukan itu semua karena berpikir kedekatan mereka sudah melampaui batasan. Ya padahal kan semua itu terjadi juga karena keinginan Kilau sendiri. Wanita memang mahkluk yang membingungkan. Giliran kemauannya dituruti malah jadi ngadi-adi.
Sementara itu, Dai juga disibukkan dengan pekerjaannya di bengkel. Tangannya selalu penuh oli. Tak ada waktu sekedar memegang ponsel untuk memberi kabar pada sang pacar. Keterampilan dan ketepatannya dalam memperbaiki motor pelanggan selalu membuat bengkelnya ramai oleh pelanggan baru yang terus berdatangan. Tentu saja alasan lain kenapa bengkel Dai selalu ramai adalah karena wajahnya yang tampan dan sangat mempesona untuk seorang montir biasa.
"Dai, lo berantem sama Kilau ya?" Sajen ada di bengkel sambil menikmati martabak kiriman pelanggan Dai yang puas dengan servis yang Dai berikan pada motornya.
"Tanyain aja sama bos lo, kerja sama dia kan lo?" Tanpa melihat pun Dai bisa tahu apa yang sekarang Sajen lakukan.
"Gue baru training elah, nggak ditempatin di satu kantor sama binik lo!" Sajen bicara sambil mengunyah martabak yang memenuhi mulutnya.
"Tapi dari cara lo ngomong gue udah bisa nebak sih, kalian beneran berantem, iya kan? Diem-dieman gitu? Wah kalau bisa jangan dilanjutin kebiasaan nggak baek kayak begono. Dosa Dai, dosaaa! Paham dosa kan lo?" Kali ini Sajen mendekati Dai.
Dai saat ini hanya memakai singlet dengan kemeja lengan panjang diikat ke pinggang, celana panjang robek-robek pada bagian lutut dan atas paha, dan rambut dikuncir asal ke belakang kepala tapi beberapa bagian dibiarkan tak terikat, berantakan tapi manly sekali. Aroma parfum Dunhill yang dia pakai bercampur keringat juga bau oli makin menambah kesan jantan dan badas.
"Gue yang salah mungkin tapi ya udah lah.. Biarin aja." sepertinya Dai terlalu lelah untuk meladeni obrolan tentang Kilau.
"Ada apa sih? Kali aja gue bisa bantu masalah kalian." Mau sok jadi penasehat padahal dia sendiri nggak sehat cara mikirnya.
"Sumpah nafas lo bau martabak. Jauhan dikit bisa kan? Orang yang nggak tau bisa ngira lo mau nyium gue, anjir." Dai mendorong Sajen menggunakan tangan kirinya agar pemuda itu sadar diri untuk jaga jarak dengannya.
"Lagian ya udah sih nggak usah terlalu mikirin masalah gue sama dia, terakhir kali lo ikut campur, gue malah berakhir lo jual ke dia. Bajingan emang!" Dai menata kembali kemejanya, dia kancing kan sempurna lalu bagian lengan dia gulung hingga sikut.
"Lo mah orangnya pendendam banget heran, gitu aja dibahas mulu. Eh mau kemana? Ikut dong, gue gabut nih Dai.. Hp gue baru aja gue colokin soalnya." seperti anak kecil yang melihat bapaknya mau pergi, buru-buru si Sajen ini mau ngintilin.
Dai melirik malas, wajahnya menunjukkan jika dia ogah banget dibuntuti Sajen kayak kang kredit ngejar-ngejar nasabahnya karena telat bayar angsuran. "Bisa minggir nggak lo? sebelum kesabaran gue yang cuma sebesar biji wijen ini hilang porak poranda dan jadiin lo spanduk bengkel."
Hingga Dai pergi, Sajen tetap cemberut prengat-prengut. "Keputusan gue buat nggak pacaran hingga sekarang sepertinya udah tepat. Liat aja itu si Dai, jadi ilang kewarasannya tersapu sama namanya sendiri.. Badai!"
Ya mungkin benar apa yang dikatakan Sajen ya, nggak usah gegayaan pacaran kalau emang segala sesuatunya nggak mendukung. Mungkin tampangnya memang lumayan, lumayan ancur..! Isi dompet juga alakadarnya, tapi jangan sepelekan mental seorang Sajen yang melempem jika dekat dengan perempuan. Jadi apa faedah yang bisa kita ambil dari pejantan bernama asli Jenaka Ben Dino? Tidak ada pemirsa, sungguh tidak ada! Lebih baik di skip saja.
Meninggalkan Sajen yang mulutnya masih komat-kamit kayak mbah dukun baca mantra, beralih ke Dai yang saat ini sedang berbelanja kebutuhan bengkelnya di toko sparepart motor dan mobil paling lengkap di kotanya.
"Aduuh mas Dai, baru keliatan lagi. Kok sekarang jadi jarang main ke sini sih.. Nggak kangen ya sama Yayan?" Yang tersebut baru saja bicara adalah tukang parkir di depan toko sparepart.
"Nitip motor ya bang." Dai cukup tersenyum sambil melenggang masuk ke dalam toko, tapi reaksi si tukang parkir langsung salting brutal. "Dititipin hatinya mas Dai juga Yayan mau kok mas.. Aiiih laki Yayan makin tampan aja deh ah!"
Si abang Yayan itu bernama asli Yanto, dia terlahir sebagai lelaki tulen tapi dirinya selalu berpikir jika sejatinya dia adalah wanita yang terjebak dalam tubuh berbelalai panjang yang tumbuh abadi dalam celananya.
"Oke mas. Nanti biar karyawan kami yang nganter pesanan mas Dai ke bengkelnya." begitu kira-kira ucap sang pemilik toko ketika Dai selesai berbelanja dan membayar sejumlah uang padanya.
Keluar dari toko, Dai disambut hal yang nggak pernah dia duga. Ada sosok yang membuatnya malas untuk berlama-lama berada di toko sparepart tersebut. Dia adalah Arang Wijaya, calon tunangan Kilau.
"Ini hari apa coba bisa ketemu gembel miskin benalu plus mokondo di sini. Benar-benar sial!" celetuk Arang mulai memprovokasi.
"Emang sial. Karena di garis takdir lo itu nggak akan pernah ada yang namanya keberuntungan." balas Dai dengan senyum meremehkan.
Arang mendengus. Tapi sesaat kemudian dia mengambil ponselnya dari dalam jas. Dengan tampang sengak dan senyum licik dia perlihatkan apa yang ada di dalam ponselnya tersebut. Dai tampak terkejut. Tapi dia mencoba tetap tenang.
"Aku akan sebarin video ini dan bilang ke semua orang jika Kilau sang direktur MahaTech yang akan bertunangan dengan Arang Wijaya pemilik Group Adiwijaya ternyata berani berselingkuh di belakang pasangannya. Kita lihat bagaimana reaksi publik nanti jika video ini tersebar luas?" dengan bangga Arang memamerkan statusnya sebagai tunangan Kilau serta pewaris Group Adiwijaya.
Senyum simpul tapi penuh ejekan Dai berikan sebagai balasan atas ancaman yang Arang berikan padanya. "Silahkan sebarkan saja. Lo tanya reaksi publik setelah melihat rekaman cctv itu sama gue? Menurut gue, orang-orang akan bilang kalau Kilau sang direktur MahaTech lebih cocok berpasangan dengan lelaki yang menciumnya secara bar-bar di lift ketimbang sama calon tunangannya yang mirip boti. Gimana menurut lo? Kira-kira lo siap dihujat netizen sampai ke tulang sumsum?"
Jelas Arang murka. Bukan gini yang dia mau. Arang pikir dengan menggertak Dai menggunakan rekaman cctv di lift sewaktu Dai mencium Kilau beberapa hari yang lalu akan membuat nyali Dai menciut dan memohon padanya untuk tidak menyebarkan video itu. Tapi ternyata Dai bukan lelaki penakut seperti yang dia bayangkan. Dia bahkan berani balik menyerang mental Arang meski tak membawa 'senjata' apa-apa.
"Makasih udah jagain motor gue ya bang." Dai memberikan uang dua puluh ribu pada Yayan. Yayan berterimakasih sampai mau cium tangan pada Dai.
"Jangankan jagain motornya, jagain mas Dai tiap hari juga Yayan ikhlas, mas." Dai hanya tersenyum lalu menyalakan mesin motornya. Meninggalkan Yayan juga Arang di tempat yang sama tapi dengan suasana hati berbeda.
"Dasar gembel mokondo!" Teriak Arang lantang. Teriakan Arang tentu memancing atensi Yayan, dia merasa tak terima orang yang selalu baik padanya dikatai 'gembel mokondo'.
"Heh bacot yeiy jahat bingitz yes! Yayan nggak suka laki Yayan dikata-katain kayak gitu! Yayan kokop ubun-ubun yeiy biar yeiy duluan rasain bergelantungan di jembatan sirotol mustaqim, maooo?!" Pas bilang kata 'Mao' suara lemah gemulai Yayan berubah jadi suara laki macho yang full bass.
Merinding juga Arang dekat dekat sama makhluk Tuhan yang jenisnya seperti ini, daripada beneran dapet kokopan maut dari si Yayan, Arang memutuskan buru-buru pergi dari sana.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚