Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3--Alat Penyuling Cairan Emas
Malam hari. Udara Sukacita masih terasa sangat pengap oleh bau sampah, namun suasana di lahan satu hektar itu jelas tampak sepi. Beberapa preman yang menjaga lahan ini untuk dijadikan sampah telah pergi, meninggalkan Aris seorang diri yang masih tidak terima.
Di depannya, papan kayu bertuliskan 'Milik Keluarga H. Mansur' sudah patah, tergeletak di bawah tumpukan ban bekas yang terbakar. Kebun jati yang hijau telah hilang, berganti menjadi lembah sampah. Aris menggertakan gigi.
Mana mungkin dia membiarkan lahan miliknya jadi begini! Dia berbeda dengan Rara dan ibunya, dia anak lelaki satu-satunya harapan di keluarga. Dia tidak takut denga mafia sampah dan bos Malik yang entah berantah itu.
Mereka menutup mulut para petinggi desa? Ia tidak peduli! Ia akan menuntut keadilan versi dia sendiri.
“Yosh, saatnya bersih-bersih. Kakek gak aka tidur tenang kalau lahannya gini … maaf, kek. Ini salah Aris karena meninggalkan di pusat kota untuk kuliah.”
Aris melipat lengan bajunya, siap-siap untuk membersihkan sampah.
Dan itu detik itu pula, layar notifikasi ala hologram kembali muncul di kepalanya.
[Sinkronisasi Sistem 'Petani Sultan' Proses penggunaan sistem: 60% ... 80% ... 100%!]
[Ding! Sinkronisasi Berhasil!]
[Selamat Datang, Inang Aris. Anda telah mengaktifkan Sistem 'Petani Sultan'—Satu-satunya sistem yang mampu mengubah kotoran peradaban menjadi kemilau kekayaan.]
“Gi!” Aris terkejut pasalnya suara itu tiba-tiba muncul dari entah suatu tempat. apa-apaan ini? Situasi absurd juga ada batasnya.
“Siapa disana, keluar anjing! Antek antek malik ya?”
Aris memasang kuda-kuda, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut kegelapan di balik tumpukan ban bekas. Namun, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada hening malam yang sesekali dipecahkan oleh suara jangkrik yang terdengar parau karena polusi.
Jendela hologram itu tetap melayang, mengikuti ke mana pun arah pandangan Aris. Warnanya biru neon, berpendar tenang di tengah kegelapan lembah sampah.
[Ding! Harap tenang, Tian Aris. Saya adalah 'AI-Navigator System' yang terikat langsung dengan kesadaran Anda. Saya ada di dalam kesadaran, tuan. Tidak ada antek Boss Malik dalam radius 500 meter.]**
"H-Hologram? Sistem?"
Aris menurunkan kepalan tangannya. Napasnya masih menderu. Sebagai lulusan SMA yang pernah menjadi anak kuliah—-walau ujung ujungnya putus karena gak ada duit, ia akrab dengan fiksi ilmiah, terutama beberapa cerita novel seperti ginian. tapi mengalaminya sendiri di atas tumpukan sampah adalah hal lain.
Apa dia jadi stres karena baru dipecat dan mengalami halusinasi?
"Jadi... suara ini cuma aku yang dengar?"
[Benar. Sistem ini dirancang khusus untuk mengubah energi negatif (sampah) menjadi energi positif. Anda berada di lokasi dengan akumulasi limbah B3 tertinggi di wilayah ini. Potensi pengembangan: Tak Terbatas.]
Aris terdiam sejenak. Ia melihat ke arah tangannya yang kotor terkena oli bekas, lalu melihat kembali ke layar itu. "Mengubah sampah... jadi energi positif?"
Lalu Aris tertawa. “Apaan itu? Apa aku jadi kosuke Ueki dari the law of ueki?”
Ia jadi teringat akan cerita kartun yang dia tonton. Itu menceritakan tentang pertarungan antar bakat anak SMP, dimana MC memiliki kemampuan mengubah sampah menjadi pohon.
[Ding!]
[Analogi yang menarik. Meskipun mekanismenya mirip, 'Sistem Petani Sultan' tidak dirancang untuk turnamen antar pemilik bakat, melainkan untuk dominasi ekonomi dan pemulihan ekologi.]
Aris menyeringai lebar. Kalau dia benar-benar menjadi seperti Ueki, setidaknya dia tidak perlu bingung mencari material. Di depannya bukan lagi tumpukan polusi, tapi "amunisi" yang melimpah.
"Oke, oke. Kalau ini bukan halusinasi, buktikan. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aris, nada suaranya kini penuh dengan rasa penasaran yang mendesak.
[Misi Pemula: Langkah Pertama Sang Sultan]
[Tujuan: Kumpulkan 10 kg Sampah Plastik (Botol, kantong, atau limbah industri).]
[Hadiah: Alat penyuling cairan emas Lv 1
Bonus 50ml "Cairan Dewa - Nutrisi Purifikasi" Lv.1
Kemampuan bela diri tingkat tinggi]
[Batas Waktu: Sebelum Matahari Terbit.]
“Alat penyuling esensi cairan emas? Apaan itu?”
[Ding! Alat esensi penyuling cairan emas adalah alat penyuling dari sistem, dengan alat ini anda bisa mengubah tumpukan sampah jadi cairan dewa tingkat 1]
[Kemampuan cairan dewa tingkat 1 itu luar biasa mampu menetralkan racun di tanah dalam radius 1x1 meter secara instan. Selain itu, tanaman yang disiram dengan cairan ini akan mengalami percepatan pertumbuhan sebesar 100% dan menghasilkan buah dan hasil berkebun dengan kualitas super yang tidak ada di dunia medis saat ini.]
[Penjelasan tingkat cairan dewa tingkat 1 dapat menetralkan racun dalam 1x1 meter dan membuat lahan subur 100x lipat dari tanah biasa, setiap tetes cairan.]
[ cairan dewa tingkat 2 dapat menetralkan racu dalam radius 2x2 meter setiap tetesan cairan dewa]
[Cairan dewa tingkat 3 dapat menetralkan racun dan meningkatkan kesuburan dalam radius 5x5 meter setiap satu tetesan]
[Dan yang terakhir! Caira tingkat 5 dapat menetralkan racun dan meningkatkan kesuburan dalam radius 10x10 m setiap tetesan air!]
[Karena level tuan rumah masih kecil, tuan rumah cuma bisa akes radius 1x1 meter saja.]
Aris menelan ludah. Hitungan 1x1 meter mungkin terdengar kecil, tapi tunggu sebentar. Dia kan bakal dapat 50 ml cairan dewa tingkat satu, dan 10 kg yang bisa dijadikan 100 ml itu artinya dia punya 150 ml.
150 ml jika digunakan semuanya secara matematika! Itu berati hampir 50% dari lahannya bakal kembali subur dong!
Terus hadiah lainnya
"Sepuluh kilo plastik untuk kemampuan bela diri dan cairan ajaib? Ini bukan cuma untung, ini namanya mukjizat tuhan!”
Tanpa membuang waktu, Aris langsung bergerak. Rasa lelah akibat perjalanan jauh dari kota seketika menguap, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Ia memunguti botol-botol mineral yang sudah menghitam, bungkus-bungkus kemasan deterjen, hingga sisa pipa PVC yang berserakan.
Setiap kali tangannya menyentuh sampah plastik, sebuah bar indikator di hologramnya meningkat.
[Proses Pengumpulan: 3kg... 6kg... ]
Namun lahan itu luas, sampah juga berjamaah. Di malam hari yang pekat itu tindakan Aris mengundang beberapa keterkejutan warga desa—yang masih pada asik nongkrong termasuk pak wak darmo.
“Itu si Aris, kan?” bisik salah satu pemuda desa yang sedang nongkrong di pos ronda tak jauh dari batas lahan.
Wak Darmo yang sedang menyeruput kopi hitamnya nyaris tersedak. Ia menyipitkan mata, memperhatikan bayangan seorang pemuda yang sedang sibuk membungkuk dan memunguti sampah di tengah kegelapan malam yang beracun itu.
“Gila... apa dia sudah putus asa?” gumam warga lain. “Baru sehari pulang, mentalnya sudah kena. Kasihan si Aris, dulu ketua OSIS, sekarang jadi pemulung sampah di tanahnya sendiri yang sudah hancur.”
Wak Darmo mendesah berat, matanya memancarkan rasa iba yang mendalam. “Mungkin dia tidak terima lahan kakeknya jadi begitu. Tapi kalau dia ketahuan anak buah Boss Malik, nyawanya bisa hilang. Sampah itu sudah jadi ladang uang buat mereka.”
Aris tidak peduli dengan bisikan-bisikan itu. Tangannya lebih fokus untuk mengumpulkan sampah dan menyelesaikan pembersihan ini.
Ia memunguti botol-botol mineral yang sudah menghitam, bungkus-bungkus deterjen, hingga sisa pipa PVC yang patah. Setiap kali ia memasukkan sampah ke dalam karung, layar sistem di sudut penglihatannya terus menghitung.
"Kak Aris! Apa yang kamu lakukan?!"
Suara melengking Emi terdengar dari kejauhan. Adiknya itu berlari mendekat dengan wajah penuh ketakutan, namun ia berhenti tepat di batas lahan, tak berani menginjak tanah yang berminyak itu.
"Pulang, kak! Kalau mereka datang dan lihat kakak di sini, mereka nggak akan segan-segan menghajar kakak lagi!" tangis Emi pecah. "Ibu menangis di dalam, Mas. Jangan buat kami makin takut."
Aris menoleh, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pulanglah, Emii. Jaga Ibu. Bilang sama Ibu... mulai hari ini, kakak bakal lakuin sesuatu. Kakak gak akan membiarkan lahan ini diambil oleh siapapun! Kakak akan tuntut keadilan.”
Menuntut keadilan? Sungguh ucapan yang terlalu idealisme, adiknya sudah putus asa selama bertahun-tahun melihat ibu da para warga yang tidak bisa membantu apapun karena bos mereka Malik adalah salah satu anak dari pejabat kaya raya.
Kemampuan uang adalah segalanya di dunia mereka menyuap beberapa petinggi untuk menutup mulut, mau melawan pun rakyat kecil seperti mereka gak bakal mampu.
Namun tatapan dan semangat juang dari sang kakak yang muncul membuat bara api di hati Emi berkibar. Kakaknya sudah pulang! Hal yang selama ini ditunggu-tunggu, rekan untuk melengserkan si malik anak pejabat korup.
Melihat itu Emi tersenyum dan menangis.
Aris melihat adiknya yang masih berdiri terpaku di batas lahan, air mata masih mengalir namun bibirnya tersenyum. Semangat yang terpancar dari Aris seolah menular, memberikan harapan baru bagi Emi yang selama ini hidup dalam ketakutan.
"Kak..." Emi menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Emi nggak mau cuma diam dan nangis lagi. Emi mau bantu Kakak. Lahan ini milik kita, dan kita akan ambil balik semuanya!"
Tanpa menunggu persetujuan Aris, Emi melangkah masuk ke area lahan. Meskipun bau busuk itu masih menyengat, ia mulai memunguti botol-botol plastik di dekatnya. Ia tidak lagi peduli dengan ancaman Malik atau preman-premannya; keberadaan kakaknya di sana sudah cukup menjadi perisai baginya.