NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. Kehancuran Sebuah Desa

Vampir itu tidak bergeming. Tatapannya terkunci rapat darah segar yang ada pada tangan Khiya, seolah-olah darah itu sengaja dihidangkan untuknya. Ia mengabaikan teriakan kasar kedua bandit itu, menganggap mereka tak lebih dari lalat yang mengganggu. ‎Saat salah satu bandit menerjang dengan parang, sang vampir bergerak secepat kilat yang nyaris tak tertangkap mata. Tanpa menoleh, ia menangkap pergelangan tangan si bandit dan menekannya sedikit bunyi tulang retak bergema di dalam goa. Bandit itu menjerit, namun sebelum jeritannya selesai, satu hantaman keras ke ulu hati membuatnya terkapar tak sadarkan diri (tewas). Bandit kedua yang melihat temannya tumbang dalam hitungan detik mencoba kabur. Namun, sang vampir sudah berada di depannya dalam sekejap mata. Dengan satu gerakan tangan yang anggun namun mematikan, ia menghempaskan bandit itu ke dinding goa hingga tewas seketika.

Suasana kembali hening. Sang vampir melecuti pakaian salah satu bandit dan memakainya. lalu kembali melangkah perlahan mendekati Khiya. "Sekarang," bisiknya dengan suara rendah yang menggetarkan udara, "tidak ada lagi gangguan. "‎Vampir itu berhenti tepat di depannya. Hidungnya sedikit kembang kempis, menghirup udara dalam gua yang kini tercemar oleh aroma manis yang sangat spesifik. Matanya perlahan turun, menatap tangan Khiya yang tergores tanah dan krikil saat ia merangkak tadi. Setetes darah segar masih mengalir di sana.

"Kau yang membangunkanku, Gadis Kecil?" tanya vampir itu, suaranya terdengar lembut. Ia meraih tangan Khiya dengan gerakan halus namun kuat, menariknya mendekat. "Darahmu... Membangunkanku lebih cepat."

‎Khiya terbelalak. Ia baru sadar bahwa luka kecil di tangannya adalah alasan makhluk mengerikan ini bangkit dari tidur panjangnya. Rasa dingin dari tangan sang vampir yang terasa dingin seperti es membuat bulu kuduknya berdiri.

‎"Aku tidak sengaja!" bisik Khiya panik, mencoba menarik tangannya kembali.

‎Vampir itu tidak melepaskannya. Ia malah mendekatkan tangan Khiya yang terluka ke bibirnya, memejamkan mata sejenak dan mencoba mengingat aromanya yang tidak asing. "Siapa sebenarnya kamu gadis kecil?, kenapa aroma darahmu sangat aku kenal, dan siapa mereka mengejarmu sampai masuk kedalam gua ini?". Tanya vampir kepada Khiya " saya,,, saya,, eee," suara Khiya yang tiba - tiba menjadi gagap karena ketakutan melihat kedua bandit yang mengejarnya dihabisi dengan mudahnya. Jangan takut gadis kecil, saya tidak akan membunuhmu, saut vampir itu agar Khiya sedikit tenang dan menjawab pertanyaanya. Mendengar omongan vampir tadi Khiya mulai sedikit tenang dan berlahan menjawab.

"Saya hanyalah gadis biasa dari desa Vergreen, mereka bandit yang menyerang desaku, mereka masuk kedalam rumahku dan melukai neneku, aku berhasil keluar dari rumah, tapi salah satu dari mereka melihatku dan menyuruh kedua bandit itu untuk mengejarku sampai sini". Jawab Khiya sambil menunjuk ke arah bandit yang sudah tergeletak tak bernyawa.

Vampir itu melepaskan tangan Khiya. "Siapa namamu?" tanya vampir dengan raut wajah yang ingin tau, "Khiya.." jawabnya dengan nada terbata - bata, Khiya namaku". Vampir itu menunduk dan melirik kearah pintu goa, "Khiya, saat kamu dikejar oleh bandit dan berlari kesini, diluar goa ini siang atau malam?" tanya vampir, "siang tuan" jawab Khiya dengan rasa kebingungan kenapa dia bertanya demikian.

Vampir itu terdiam sejenak saat mendengar jawaban Khiya. "Siang?" gumamnya, matanya menyipit menatap ke arah pintu goa yang tak terlihat. Khiya, yang dilingkupi rasa takut namun putus asa, tiba-tiba bersimpuh di depan makhluk itu. "Tuan... tolonglah aku. Tolong bebaskan desaku. Para bandit itu menghancurkan segalanya menangkap gadis - gadis dan laki - laki untuk di jual menjadi budak. Jika kau sehebat yang aku lihat, kau pasti bisa mengusir mereka!" seru Khiya dengan penuh harap vampir itu mau menuruti permintanya.

Sang vampir menunduk, menatap Khiya dengan tatapan dingin yang tak terbaca. "Aku bisa saja menghabisi mereka sekejap mata, Khiya. Tapi aku terikat oleh kutukan matahari. Aku tak bisa melangkah keluar dari bayang-bayang gua ini saat siang hari menyengat bumi."

Ia mengulurkan tangannya, membelai pipi Khiya dengan punggung jarinya yang pucat. "Kecuali... kau bersedia memberiku sesuatu."

"Apa syaratnya?" tanya Khiya gemetar.

"Darahmu," bisik vampir itu tepat di telinganya. "Jika aku meminum darahmu yang telah membangunkanku, aku akan mendapatkan perlindungan darimu. Aku akan bisa berjalan di bawah sinar matahari tanpa menjadi abu. Sebagai gantinya, desamu akan aman selamanya dan kamu Khiya harus menerimaku tinggal dirumahmu dan menjadi milikiku." seru vampir, dia ingin lebih tau siapa Khiya sebenarnya, karena dia masih penasaran dengan aroma darah Khiya.

Khiya terpaku. Ia tahu tawaran ini adalah pertaruhan nyawa dan dia akan terikat dengan vampir itu. Namun tidak ada jalan lain, ini adalah kesempatan satu - satunya yang dia miliki. "lebih baik saya berkorban dari pada warga desa dan teman - temanku dijual untuk dijadikan budak" gumam Khiya didalam hati. Khiya menarik nafas dalam - dalam seolah melepas semua keraguan dan ketakutan bersama keluarnya nafas dari mulut Khiya. " Baik tuan, saya menerima syaratnya, asalkan desaku bisa terbebas dari para bandit itu". Jawag Khiya dengan penuh keyakinan.

Vampir itu tersenyum mendengar jawaban dari Khiya dan melihat tekad yang besar untuk melindungi desanya. "Baiklah Khiya, akan ku hisap darahmu dan kamu harus mengingat ini baik - baik, setelah aku hisap darahmu, kamu menjadi milikiku seutuhnya. Khiya melangkah mendekat, "Silahkan Tuan, akanku ingat selamanya" jawab Khiya.

Perlahan vampir itu mendekat dan taring yang tadinya tidak terlihat mulai muncul, dengan lembut kedua taring vampir itu menembus kulit leher Khiya. Khiya meraih baju vampir itu dan memegang erat. Khiya memejamkan mata dan sesekali badanya menggeliat ketika vampir itu menghisap darahnya. Sebaliknya vampir itu terlihat tenang dan sangat menikmati hidangan yang super mewah ini. Setiap hisapan yang vampir itu lakukan. Di pikiranya muncul sebuah memori tentang seorang putri kerajaan di masa lalu. Namun ingatan yang muncul itu putus - putus seperti kita sedang menonton dvd yang sudah rusak.

Setelah selesai menghisap darah Khiya, vampir itu langsung mengangkat tubuh Khiya dan bergegas menuju desa Khiya dengan kecepatan yang luar biasa, sesampainya di perbatasan antara hutan dengan desa, mereka berhenti, alangkah kagaetnya Khiya melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Desa yang dulunya damai dan penuh kehangatan mendadak menjadi lautan api, dengan banyaknya mayat warga desa yang dihabisi oleh para bandit tanpa ampun.

Vampir menoleh ke arah Khiya, dia melihat wajah penuh putus asa tatapan penuh amarah seolah mengambarkan kebencian yang amat besar, terlihat oleh sang vampir gerombolan bandit sedang berpesta, tertawa di atas mayat warga desa, ada yang sedang memperkosa para gadis desa, menyiksa laki - laki dewasa yang belum dibunuh. Melihat semua itu sang vampir tidak kuat lagi, tanpa perintah, tanpa suara dia bergerak secepat kilat mendekat ke arah para bandit.

Dalam sekejap mata, suasana pesta pora para bandit berubah menjadi neraka. Sang vampir bergerak bagaikan bayangan hitam yang menyelinap di antara kobaran api terlalu cepat untuk ditangkap mata manusia.

‎Satu per satu bandit tumbang tanpa sempat berteriak. Kekuatannya luar biasa dengan satu gerakan tangan, senjata-senjata mereka patah, dan dengan kecepatan yang mengerikan, ia menghabisi mereka tanpa menyisakan satu pun yang berdiri.

Para bandit yang tadinya tertawa arogan kini hanya menjadi tumpukan tak bernyawa di tanah yang bersimbah darah.

‎Khiya hanya bisa terpaku melihat pemandangan itu. Di satu sisi, ia merasa ngeri melihat keganasan sang vampir, namun di sisi lain, ada rasa lega karena para pengacau itu telah musnah. Kini, keheningan menyelimuti desa yang hancur, hanya menyisakan suara kayu terbakar dan isak tangis teman-teman Khiya yang masih terikat.

‎Sang vampir berdiri di tengah reruntuhan, matanya yang merah perlahan memudar saat ia menoleh ke arah Khiya dan kembali tenang.

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!