Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lo pikir gue takut?!
tok tok tok
"Yiwa, bangun, nduk." panggil Mbah Sekar dari luar kamar.
"Ini sudah mau bangun, mbah!" balas Yiwa. Namun bukannya bangun, ia justru semakin menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
"Segera bangun, nduk. Sudah sore loh ini. Kamu belum makan dari kemarin."
Ya, hari sudah semakin sore. Tapi gadis itu belum beranjak sama sekali dari ranjangnya. Ia justru semakin menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut. Itu semua juga karena badannya yang terasa berat dan capek sekali.
"nduk? Bangun ya? Sudah jam empat sore loh! Tidak baik tidur terlalu lama."
Dibalik selimutnya, Yiwa menghela nafas. "Iya mbah, ini Yiwa bangun."
Ia menyibakkan selimutnya. Menguap lebar-lebar dan merenggangkan kedua tangannya. "Badan gue kok pegel semua gini sih?"
Dengan langkah gontai, ia berjalan ke sudut ruangan dimana kopernya yang masih terbuka lebar-lebar tergeletak. Semalam memang ia belum sempat membereskannya karena setelah mandi pun langsung tidur.
Setelah mengambil baju yang akan di pakainya, kemudian Yiwa berjalan keluar menuju kamar mandi. Karena kamar mandinya pun terletak di samping dapur.
Rumah ini tidak terlalu besar, cukup sederhana dan sangat menggambarkan kesan tradisional. Namun, kalau hanya ditinggali Mbah sendirian, rumah ini sudah cukup besar juga. Ruang tamu, ruang makan dan dapur jadi satu, ada tiga kamar tidur, dan satu kamar mandi.
"Habis mandi langsung makan ya, nduk."
Yiwa langsung menoleh ke arah dapur dimana Mbah Sekar sedang berdiri di depan kompor. Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci.
"Iya, Mbah!"
...♡♡♡...
Saat ini, Mbah Sekar dan Yiwa sedang menyantap makan malam dengan ketenangan. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Sesekali Mbah Sekar memperhatikan Yiwa yang sedang makan dengan sangat lahap.
"Tambah lagi lauknya, nduk." Mbah Sekar menyendokkan ayam suwir keatas piring Yiwa.
"Makasih, mbah. Masakan Mbah enak banget. Dan akhirnya Yiwa bisa rasain masakan yang mirip banget sama buatan mama. " Yiwa terus melanjutkan makan dengan lahap dan tidak menyadari adanya perubahan pada raut wajah Mbahnya.
Mbah Sekar tertegun mendengar ucapan Yiwa barusan. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga sangat merindukan mendiang Wulandari. Tapi, kerinduan itu cukup terobati karena kehadiran Yiwa. Karena wajah Yiwa yang sangat mirip dengan Wulandari.
"Mbah kenapa liatin aku terus sih?"
"Tidak ada apa-apa, nduk. Makan yang banyak ya. Kamu agak kurusan loh dari terakhir kali mbah lihat."
Yiwa hampir saja tersedak nasinya saat mendengar ucapan Mbah Sekar. "Ya ampun, mbah. Kita terakhir ketemu itu pas aku masih kelas satu SMA. Daannn aku pun juga lagi diet. Waktu kuliah saking stresnya mikirin tugas, bukannya jadi kurus, aku malah makin gemuk gara-gara ngemil terus. Jadi akhir-akhir kuliah aku milih diet biar baju wisuda ku bagus di badan."
Mbah Sekar mengangguk. "tapi sekarang sudah selesai toh wisudanya. Jadi tidak apa-apa kalau kamu makan banyak. Tidak perlu diet lagi."
"Aku masih mau diet, Mbah." Bilangnya sih mau diet tapi dari tadi makannya nambah terus. Mbah Sekar hanya tersenyum melihatnya.
Yiwa menghentikan makannya sebentar, lalu minum. "Oh ya, Mbah. Kok disini nggak ada sinyal sih?"
"Disini memang sulit sinyalnya, nduk."
Yiwa mengerutkan keningnya, keheranan. "Terus Mbah kok bisa telfon aku?"
"Mbah telepon dari desa sebelah, nduk."
Yiwa melotot terkejut. "Jadi disini nggak ada sinyal sama sekali gitu, Mbah?"
Mbah Sekar menggelengkan kepalanya. Yiwa semakin murung melihatnya.
"Kalo gini sama aja kembali ke jaman purba dong." gumam Yiwa.
Mbah Sekar menyeruput kopinya. "Selesai makan nanti ikut Mbah ke balai desa ya , nduk."
Yiwa mendongak. "Mau ngapain?"
"Malam nanti ada acara penting desa. Semua warga harus ikut."
Yiwa terdiam sesaat. "Kalo aku gak ikut nggak papa kan, Mbah? Kan aku bukan warga sini. Aku juga lagi capek banget. "
Mbah Sekar menggelengkan kepalanya tanda menolak. "Harus ikut, nduk. Ini bukan acara sembarangan. Nanti kamu cukup duduk disamping Mbah. Yang terpenting kamu hadir di acara itu, supaya mereka mengenali kamu, nduk. "
Setelah menelan suapan terakhir dan meminum airnya hingga tandas, Yiwa baru menjawab. "Ya udah deh. Jam berapa?"
Mbah Sekar berdiri dan mulai membereskan meja makan. "Jam sembilan. selesai makan istirahat saja dulu. mau Mbah buatkan kopi? "
Yiwa juga ikut berdiri dan membawa piring kotornya ke wastafel. "Enggak usah, Mbah."
Setelah mencuci piring bekas makan malam tadi, Yiwa pergi ke kamarnya meninggalkan Mbah Sekar yang masih duduk di ruang tengah sembari menikmati segelas kopi hitam.
Suasana kamar terasa begitu hening. Hanya terdengar suara dengungan kipas angin. Dengungannya sangat halus, tapi kamar yang terlalu sepi membuat suara sehalus apapun menjadi begitu mengganggu.
Yiwa merebahkan tubuhnya dengan kasar. Matanya melirik sekilas ponselnya yang tergeletak di meja. Tidak ada sinyal. Masalah itu tidak ada dalam pikirannya sama sekali. Karena selama ini mbahnya selalu telpon, jadi ia berpikir pasti ada sinyal. Kalau soal AC, Yiwa masih mending, tapi ini Sinyal. Astaga membayangkan menghabiskan sisa hidup disini tanpa sinyal benar-benar membuatnya pusing.
Ya benar sih, ini udah cocok buat slow living, tapi tetap saja sesekali ia harus menjelajahi internet dan media sosial. Jangan sampai ia ketinggalan update teman-temannya di kota. Bisa-bisa ia jadi manusia purba di sini.
Ini kalau sampai Malvin si mantan tersayangnya tahu kalau ia harus terjebak di desa tanpa sinyal begini, sudah pasti Yiwa akan di jemput sekarang juga. Soalnya, meskipun sudah jadi mantan pun tiap malam mereka masih sering melakukan panggilan video.
Hahhh, Rasanya Yiwa ingin menangis sekarang. Tapi tetap saja percuma. Apa dia balik ke kota aja ya? Tapi ia teringat mbahnya. Pasti Mbah Sekar sedih kalau sampai ia kembali ke kota. Apalagi sekarang Bulik-nya sudah pindah ke desa sebelah ikut suaminya. Kasihan dong kalau Mbah Sekar tinggal sendirian.
Hahhh, dari tadi Yiwa tidak berhenti menghela napas panjang. Mau gimana lagi.
Jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam sore. "ini gue bisa mati bosen anjir!"
Kriekkk srekk Krieeek
Yiwa terhenyak. "Suara apaan tuh?"
Ia menajamkan pendengarannya. Namun suara itu sudah tidak terdengar lagi.
"Paling cuma angin."
Yiwa kembali merebahkan tubuhnya. Badannya terasa lelah bukan main. Padahal dulu sewaktu di kota ia sering liburan bareng temen-temennya, naik motor lagi, tapi tidak sampai secapek ini. Ia pun mulai memejamkan matanya. Rasanya cuma ingin tiduran terus. Apalagi pundak, pinggang, bahkan kakinya rasanya berat banget.
Tok tok tok
Yiwa membuka matanya. Ia tidak berniat bergerak untuk mengecek ada apa sebenarnya diluar sana. Matanya hanya melirik sekilas jendela yang masih tertutup rapat. Badannya sungguhan capek, ia sudah tidak peduli sebenarnya ada apa diluar jendela kamarnya.
Brakkk
Jendela kamarnya terbuka dengan kasar. Namun tidak ada orang disana. Hanya kegelapan dan hening.
"Sialan!" Yiwa memejamkan matanya erat-erat. Menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan guna menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan karena kaget mendengar suara barusan.
Angin berhembus cukup kencang dari luar. Menerobos jendela yang saat ini terbuka lebar-lebar. Gorden biru transparan itu berkibar-kibar tak karuan seperti akan lepas dari pengaitnya.
Yiwa tidak tahan. Ia segera berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya. Sebelum menutup jendelanya, matanya melihat sekeliling sebentar.
Pandangannya terkunci pada satu titik. Tempat dimana ia bertemu bapak-bapak yang kemarin menipunya. Ia menyipitkan matanya agar fokusnya lebih jelas.
Disana, bapak-bapak itu masih berdiri, diam, dibawah lampu kuning yang remang. Tapi, Yiwa tahu betul kemana arah pandangan bapak-bapak itu. Tepat ke arah jendela kamarnya, tempat dimana dia berdiri sekarang.
"Lo pikir gue takut?! Dasar tukang tipu!"
Yiwa pun menutup jendela kamarnya dengan bunyi brakk yang cukup nyaring di tengah keheningan lalu menguncinya.
Baru saja ia mau duduk, terdengar suara ketukan dari dalam lemari pakaiannya. Sebenarnya lemari itu masih kosong karena barang-barang Yiwa masih didalam koper.
"Jangan-jangan ada tikusnya lagi?"
Yiwa segera berjalan ke arah lemari. Dan suara itu makin terdengar ribut. Tangannya sudah terangkat untuk membukanya.
"Nduk, ayo berangkat!" teriak Mbah Sekar dari luar kamar.
Ia melirik jam didinding.
"Hah? Udah jam setengah sembilan? cepet banget?"
Ia melihat lemari yang belum sempat ia buka itu. Suaranya sudah tidak terdengar, tapi ia tetap membukanya karena rasa penasaran yang tinggi.
Ia mengerutkan dahinya. Karena lemari itu dalam keadaan kosong, tidak ada apa-apa didalamnya.
"Apa tikusnya udah kabur ya?" gumamnya.
"Nduk, ayo!" panggil Mbah Sekar lagi.
"eh! Iya Mbah!"
...♡Bersambung♡...