NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden ruang VVIP, menyinari wajah Aliya yang perlahan mulai mendapatkan kembali warnanya. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan.

Hal pertama yang ia tangkap adalah aroma antiseptik yang tajam dan langit-langit ruangan yang putih bersih. Namun, perhatiannya segera teralih pada sosok pria yang duduk tepat di samping ranjangnya.

Pria itu, Emirhan, sedang menatapnya dengan intensitas yang sulit dijelaskan—campuran antara rasa bersalah dan kekaguman.

"A-aku, di mana?" tanya Aliya. Suaranya terdengar sangat serak, nyaris menyerupai bisikan yang pecah.

Ingatannya samar-samar kembali pada kejadian di jalan raya; bunyi letusan senjata, rasa panas yang menghujam dada, dan aspal yang dingin.

Secara insting, Aliya berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya.

"Akh!" Aliya meringis kesakitan, tangannya refleks memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum saat ia mencoba bergerak.

"Jangan bergerak," suara Emirhan terdengar rendah namun penuh wibawa, menghentikan gerakan Aliya seketika.

Ia segera berdiri dan mendekat, memastikan Aliya tetap berbaring dengan tenang.

"Istirahatlah dulu. Lukamu masih sangat baru."

Emirhan kemudian meraih gelas berisi air putih di meja samping tempat tidur.

Ia membantu memosisikan bantal Aliya agar lebih tinggi dengan sangat hati-hati, sebuah perhatian yang terasa asing bagi pria sekaku dirinya.

"Aku ambilkan air," lanjutnya singkat sambil menyodorkan sedotan ke bibir Aliya yang kering.

Aliya meminum air itu sedikit demi sedikit, merasakan kesegaran yang perlahan membasahi tenggorokannya.

Sambil minum, matanya tetap menatap Emirhan, pria asing yang hidupnya ia selamatkan dengan taruhan nyawa.

Ada keheningan yang canggung namun dalam di antara mereka, sebelum akhirnya Aliya teringat sesuatu yang membuatnya panik.

"Jam berapa sekarang? Aku harus pulang," ucap Aliya dengan nada cemas, meski napasnya masih terasa berat.

Emirhan meletakkan kembali gelas itu ke meja, lalu menatap Aliya dengan tatapan yang seolah mengunci gerakan gadis itu.

"Kamu masih belum bisa pulang, Aliya. Lukamu masih basah dan dokter harus terus memantaumu," ucap Emirhan tegas.

Wajah Aliya yang pucat semakin terlihat panik. "Tapi, bagaimana dengan ibuku? Dia pasti akan sangat marah. Dia tidak suka aku pergi tanpa izin yang jelas, apalagi sampai tidak pulang."

Aliya mencoba menarik selimutnya, seolah-olah dengan begitu ia bisa segera lari dari sana.

Ketakutannya pada Maria seolah mengalahkan rasa sakit di dadanya.

Melihat kegelisahan gadis itu, Emirhan menghela napas panjang dan duduk kembali di kursi.

Ia mencondongkan tubuhnya agar suaranya terdengar lebih menenangkan.

"Tenanglah," ucap Emirhan lembut namun meyakinkan.

"Aku sudah meminta orang kepercayaanku, Kabir, untuk mengurus semuanya. Dia sudah mengirimkan pesan resmi ke ibumu, memberitahukan kalau kamu terpilih dalam sebuah acara workshop tari di luar sekolah selama beberapa hari."

Aliya tertegun. "Acara luar sekolah?"

"Ya. Dengan begitu, ibumu tidak akan curiga kenapa kamu tidak ada di rumah temanmu," lanjut Emirhan.

"Setidaknya itu memberimu waktu untuk pulih sedikit sebelum kamu menemuinya. Sekarang, fokuslah pada kesehatanmu. Jangan memikirkan hal lain."

Aliya terdiam, sedikit lega namun juga merasa aneh.

Pria di depannya ini baru saja berbohong demi melindunginya dari kemarahan Maria.

"Terima kasih, Tuan?"

"Emirhan. Namaku Emirhan," potongnya singkat. Untuk sesaat, suasana di kamar itu terasa berbeda.

Ada rasa aman yang tiba-tiba menyelimuti Aliya, sesuatu yang jarang ia rasakan bahkan di rumahnya sendiri.

"Panggil aku Emirhan saja, jangan tuan," ucapnya dengan nada yang lebih santai, seolah ingin meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka.

Ia menatap Aliya lurus-lurus. "Omong-omong, terima kasih atas apa yang kamu lakukan untukku. Kamu sangat berani."

Aliya hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.

Pipinya sedikit bersemu merah, entah karena demam atau karena tatapan intens dari pria di hadapannya.

Keheningan di antara mereka terpecah ketika pintu kamar terbuka.

Dua orang perawat masuk dengan langkah yang teratur.

Perawat pertama segera mendekat ke sisi ranjang untuk memeriksa tanda-tanda vital dan mengganti balutan di dada Aliya—yang di dalam catatan medis rumah sakit terdaftar dengan nama samaran untuk keamanan—sementara perawat lainnya meletakkan nampan berisi semangkuk bubur hangat dan obat-obatan di atas meja nakas.

Emirhan berdiri, memberikan ruang bagi para petugas medis, namun matanya tidak sedetik pun beralih dari prosedur yang dilakukan.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Emirhan dengan nada protektif yang tak bisa ia sembunyikan.

Perawat yang sedang memeriksa tekanan darah Aliya menoleh dan tersenyum sopan.

"Kondisi Nona sudah jauh lebih stabil, Pak. Demamnya sudah turun. Sekarang yang terpenting adalah asupan nutrisinya agar proses penyembuhan jaringan di dadanya bisa lebih cepat."

Perawat itu kemudian menoleh pada Aliya. "Nona, buburnya harus dihabiskan ya, setelah itu baru minum obatnya."

Aliya melirik mangkuk bubur itu dengan ragu. Rasa nyeri di dadanya membuat nafsu makannya hilang seketika. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus kuat jika ingin segera pulang dan menghadapi ibunya.

Emirhan mendekat kembali setelah para perawat keluar. Ia menarik kursi lebih dekat ke ranjang, lalu meraih mangkuk bubur yang masih mengepul itu.

"Biar aku bantu. Kamu harus makan agar bisa segera sembuh."

Emirhan menyendokkan bubur itu dengan sangat hati-hati, memastikan suhunya tidak terlalu panas sebelum menyodorkannya ke bibir Aliya.

Gerakannya begitu cermat, sangat kontras dengan perawakan tubuhnya yang gagah dan tangannya yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai jutaan dolar.

"Kamu kelas berapa?" tanya Emirhan memecah keheningan, mencoba mengalihkan perhatian Aliya dari rasa sakit di dadanya.

Aliya menelan suapan pertamanya perlahan. "Kelas 3 SMA, sebentar lagi mau lulus," jawabnya dengan suara yang mulai terdengar lebih jelas.

Ia kemudian menatap Emirhan dengan rasa ingin tahu yang besar. "Kalau Anda?"

Emirhan tersenyum tipis, hampir tak kentara. "Aku bekerja di Emirhan Grup."

Aliya seketika membelalakkan matanya, nyaris tersedak bubur yang baru saja masuk ke mulutnya. Ia tentu tahu nama itu.

Emirhan Grup adalah raksasa bisnis di Turki yang menguasai berbagai sektor, mulai dari properti hingga teknologi.

Logonya terpampang di gedung-gedung pencakar langit paling megah di Istanbul.

"Emirhan Grup?" Aliya mengulangi dengan nada tak percaya.

Ia menatap pria di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Selama ini, ia hanya mendengar nama itu di berita atau melihatnya di papan iklan besar, namun ia tidak pernah benar-benar tahu siapa sosok di balik nama besar tersebut.

Dan sekarang, pemilik dari kekaisaran bisnis itu sedang duduk di kursi rumah sakit yang sempit, memegang mangkuk bubur, dan menyuapinya dengan sabar.

"Jadi, namamu itu nama perusahaan itu?" tanya Aliya polos, masih dalam kondisi terkejut.

Emirhan terkekeh pelan, suara tawanya terdengar berat dan hangat.

"Ya. Ayahku yang membangunnya, dan sekarang aku yang menjalankannya. Jadi, sekarang kamu tahu siapa yang berhutang nyawa padamu, Aliya."

Aliya mendadak merasa sangat canggung. "Aku tidak tahu. Aku hanya melihat seseorang dalam bahaya kemarin. Aku tidak peduli siapa Anda."

"Justru itu yang membuatku terkesan," balas Emirhan dengan tatapan yang semakin dalam.

"Sekarang, habiskan buburmu. Seorang penari hebat tidak boleh kehilangan energinya, bukan?"

Aliya tersipu, menyadari bahwa Emirhan bahkan tahu tentang hobi menarinya.

Di dalam ruangan VVIP yang mewah itu, untuk pertama kalinya, Aliya merasa dunia kecilnya yang sederhana bersentuhan dengan dunia Emirhan yang begitu besar dan tak terjangkau.

Suasana di kamar VVIP mendadak tegang. Emirhan segera bangkit dari duduknya, memberikan isyarat kepada Aliya agar tetap tenang sementara ia melangkah sedikit menjauh untuk menerima panggilan telepon dari ayahnya.

"Kamu di mana? Kenapa dari kemarin tidak ada kabar? Ada masalah?" suara berat sang ayah terdengar penuh tuntutan dari seberang sana.

Emirhan memijat pangkal hidungnya, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikan kejadian besar ini dari ayahnya.

"Sebenarnya kemarin ada perampok yang menyerangku di jalan raya, Ayah. Dan, ada seorang gadis yang menyelamatkan aku."

"Apa?!" suara ayahnya meninggi, campuran antara terkejut dan marah.

"Perampok? Bagaimana bisa keamananmu sekendur itu?! Lalu bagaimana keadaan gadis itu? Ayah tidak mau jika wartawan sampai mengetahui masalah ini. Reputasi keluarga dan saham perusahaan bisa anjlok jika berita penyerangan CEO Emirhan Grup tersebar."

Emirhan menoleh sedikit, menatap Aliya yang masih memperhatikannya dengan mata bulat yang polos.

"Gadis itu, dia tertembak karena melindungiku, Ayah. Dia sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Aku sudah memastikan semuanya tertutup rapat. Wartawan tidak akan mencium hal ini."

"Bagus," jawab ayahnya dengan nada yang sedikit lebih tenang namun tetap dingin.

"Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik, bayar berapa pun yang dia minta agar dia tetap bungkam. Kita tidak boleh berutang budi terlalu lama pada orang asing, Emirhan. Segera selesaikan urusan ini."

Setelah panggilan berakhir, Emirhan menarik napas panjang.

Ia merasa sedikit terusik dengan cara ayahnya memandang Aliya hanya sebagai "urusan yang harus diselesaikan".

Baginya, Aliya bukan sekadar orang asing yang harus dibayar; Aliya adalah alasan mengapa ia masih bisa bernapas hari ini.

Emirhan kembali mendekati Aliya dan menyimpan ponselnya.

Ia berusaha menampilkan senyum tenang. "Ayahku, dia hanya sedikit khawatir. Jangan pikirkan kata-katanya."

Aliya menunduk kecil. "Ayahmu terdengar sangat tegas. Apa dia akan datang ke sini?"

"Mungkin tidak dalam waktu dekat," jawab Emirhan sambil duduk kembali.

"Tapi jangan khawatir. Selama kamu di sini, aku yang memegang kendali. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi, termasuk tekanan dari keluargaku."

Aliya terdiam, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sebuah badai besar sedang bersiap menerjang kehidupan sederhananya akibat bersinggungan dengan keluarga Emirhan.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!