NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelaparan

"Hana!"

"Hana buka pintunya!"

"Na, bangun!"

Ketukan pintu dan namanya dipanggil membuat paginya berisik. Ia mengenali suara cempreng itu milik Salsa. Entah ada urusan apa sahabatnya itu kemari pagi-pagi sekali.

Hana dengan malas beranjak, ia melihat jam masih pukul 6 pagi. Ia membuka pintu dan melihat Salsa dengan penampilan menornya berdiri mengenakan gaun malam yang sexy.

"Ada apa, Sa?"

"Kau ikut aku sekarang." Salsa menarik tangan Hana dengan cepat. Hana menahan tubuhnya dan membuat Salsa menghentikan langkah.

"Ada apa? Kenapa harus ikut denganmu?"

"Temani aku minum, Na. Aku dapat pelanggan yang menyebalkan! Aarrghh, sialan!"

"Tidak! Aku masih mengantuk. Kau sendiri saja!"

Hana menutup pintu dan menguncinya, gedoran pintu terdengar mengganggu, namun menit berikutnya hening tak ada suara lagi. Ia yakin Salsa sudah pergi.

Ponselnya berdering nyaring, Hana segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur tipisnya.

Tertera nama "Ayah" menelepon, dengan malas Hana menjawab telepon itu.

"Halo?"

"Na, lunasi hutang di tempat Pak Reno. Ayah tadi pinjam uang ke rentenir 70juta."

"Apa?! Untuk apa uang sebanyak itu?"

"Adikmu perlu biaya sekolah, Na."

"Biaya sekolah apa sebanyak 70 juta?!"

"Pokoknya segera lunasi hutang di tempat Pak Reno, Ayah nggak mau tahu!."

"Ayah judi lagi kan? Nggak perlu bohong sama aku! Hana hidup di rantau dengan hemat, Yah. Hana sudah lelah jadi sapi perah, Hana juga mau hidup tanpa hutang!"

Hana menjerit frustasi, ia sudah tak peduli ucapannya didengar oleh tetangga kos.

"Ya sudah, rumah ibu, ayah jual saja untuk melunasi hutang."

"Silakan! Hana sudah lelah!" Hana menutup telepon dan melempar ponselnya ke kasur.

Ia menangis histeris. Hana hidup miskin di kota hanya untuk melunasi hutang ayahnya dan biaya sekolah adiknya. Hingga ia mengambil beberapa pekerjaan agar bisa cepat melunasi hutang.

Cukup lama ia menangis, Hana sadar waktu tetap berjalan. Ia segera mandi dan bersiap untuk berangkat.

Saat hendak membuka pintu, ia melihat tas yang semalam ia letakkan di dekat rak sepatu. Hatinya tergelitik untuk membuka tas tersebut.

Beberapa mainan yang sudah termutilasi ia keluarkan, lalu ia kembali merogoh tas tersebut dan mengangkatnya.

Sebuah gepokan uang merah dengan label sebuah bank bertuliskan uang 10juta rupiah. Hana terduduk dan menutup mulutnya.

Ia membalik gepokan tersebut dan sebuah kertas kecil terselip di dalamnya.

"Untuk Hana Jasmine" tertulis namanya dalam secarik kertas tersebut.

"Ini namaku? Apa ini untukku? Dari siapa ini?" Hana mencari nama pengirim atau informasi tentang siapa pengirimnya, namun tak ditemukan.

Ia menetralkan degub jantungnya, Hana masih tak mengerti mengapa bocah itu meminta uang padahal di dalam tas ini ada uang lebih banyak? Dan kenapa ada namanya di situ?

Ia kembali memasukkan mainan dan uang tersebut ke dalam tas dan menyimpannya di dalam lemari.

Ia berpikir nanti saja mengurus uang tersebut, sekarang ia harus segera pergi bekerja dari pada dirinya terlambat.

Hana mengatur napasnya dengan perlahan. Ia sudah berada di pintu masuk perusahaan dimana ia bekerja.

Hana setengah berlari menuju tempat ini karena waktunya yang tinggal sedikit.

"Beruntung masih sempat." Hana bernapas lega, ia melangkahkan kakinya ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerja lalu mulai mengerjakan tugasnya.

Saat Hana melewati meja resepsionis membawa alat kebersihannya, ia dihentikan oleh seorang karyawan.

"Hana!" Gadis itu menoleh dan menghentikan langkahnya

"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Hana dengan ramah.

"Ini barang pesanan Tuan Luca, tolong antarkan ke ruangan beliau, ya." Pria yang lebih tua beberapa tahun darinya memberikan sebuah barang ke tangannya.

"Eh, t-tapi.." Hana ingin menolak. Ia begitu menghindari ruangan dingin tersebut apalagi Tuan Luca menatapnya dengan tajam seperti ingin menelannya.

"Tolong, beliau sudah menunggu." Pria tersebut segera meninggalkan Hana yang terdiam.

"Ah, kenapa harus aku?" Keluhnya. Pekerjaannya adalah tukang kebersihan bukan pengantar barang.

Di perusahaan tersebut memang terendus kabar jika CEO di sana terkenal dingin dan kejam. Ia tak menyukai kesalahan sedikit pun.

Sekretaris pribadinya saja sudah berganti 6 orang dalam satu tahun, yang terakhir masih sanggup bertahan dalam waktu 4bulan.

Hana menyimpan kembali peralatan yang ia bawa ke belakang, lalu menuju ruangan CEO dengan membawa barang pesanan Tuan Luca.

Hana menyandarkan tubuhnya di dinding lift sembari menunggu lantai tujuan.

Perutnya lapar, sejak kemarin ia belum makan, ia menguatkan dirinya untuk bertahan sebentar lagi.

Beberapa orang masuk ke dalam lift. Suara denting berbunyi

Hana keluar ketika lift terbuka. Ia menyeret kakinya yang terasa lemah dan enggan melangkah mendekati pintu ruangan CEO.

Perempuan itu mengetuk pintu dan mendengar suara perintah masuk dari dalam, Hana mengatur napas sebelum masuk ke ruangan.

Langkahnya menuju meja yang berada di tengah ruangan, yang di kelilingi oleh beberapa sofa. Hana meletakkan barang tersebut di sana.

"Ini barang pesanan anda Tuan."

"Bawa kemari." Hana sedikit terlonjak mendengar nada suara Luca.

Dengan patuh Hana membawanya ke hadapan Luca.

"Kau tahu isi di dalamnya?" Luca membolak-balikkan barang tersebut sembari menatap lekat Hana yang tertunduk. Gadis itu menggeleng pelan.

"Saya tidak tahu." Pria itu tersenyum kecil.

"Kau sudah menerima hadiahnya?" Hana berpikir sejenak, tentang hadiah yang dimaksud oleh bosnya.

"Uang 10juta di dalam tas lusuh." Ucap Luca dingin.

Kedua mata Hana membulat, ia menengadahkan kepalanya memberanikan diri menatap manik tajam tersebut.

"Apa maksudnya?" Tanya Hana pelan.

"Itu untukmu."

"Hana Jasmine."

Hatinya sedikit hangat, bosnya tahu namanya terlebih nama lengkapnya.

Selama ini, ia dipanggil kutu, dekil, gembel atau nama yang menghinakan. Hanya beberapa orang yang memanggilnya dengan benar.

"Untuk saya? Kenapa?" Hana bingung apa maksud bosnya ini.

"Kopi buatanmu sesuai dengan yang saya inginkan."

Hana tercengang mendengarnya.

Untuk apa bosnya ini memberikan uang melalui skenario begitu? Padahal akan lebih praktis jika langsung diberikan padanya tanpa perantara orang lain.

"Ah, itu.. Sudah tugas saya, Tuan."

Luca seperti tak mendengar ucapan Hana.

"Pakai uang itu untuk membeli parfum, kau bau sekali." Hana terkejut mendengar ucapan tajam bosnya itu, lantas ia segera mengendus seragamnya yang menurutnya tak bau.

"Lalu, kenapa wajahmu pucat? Kau sakit?"

Hana refleks memegang wajahnya.

"Eh, tidak Tuan. Saya baik-baik saja."

Luca mengangguk.

"Pergi." Nada dingin itu mengusir Hana yang terdiam.

Luca melirik Hana yang melamun.

"Kenapa masih di sini?"

Hana gelagapan dan pamit undur diri.

Namun, baru mencapai sofa yang berada di ruangan tengah, ia ambruk ke lantai tak sadarkan diri.

Luca mengangkat wajahnya ketika mendengar sesuatu jatuh ke lantai. Ia tak mendengar suara pintu tertutup, seketika dirinya bangkit dari kursi dan memeriksa bahwa dugaannya tak salah, namun pria itu harus menerima ketika melihat sosok gadis yang ia pikirkan jatuh tak sadarkan diri.

Aroma makanan yang membuatnya terpaksa membuka mata, Hana memegang kepalanya yang pening. Ia mengenali ruangan dimana ia berada.

Dirinya terbaring di sofa, dan di depan meja tersusun rapi makanan yang menggugah seleranya.

Hana mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok pria yang duduk dengan tegap layaknya dewa Adonis di balik meja kerja sedang fokus dengan beberapa berkas yang bertumpuk.

"Makanlah, jangan sampai mati kelaparan di kantorku, itu memalukan." Manik tajam itu hanya melirik sebentar ke arah Hana lalu kembali fokus pada berkas di depannya.

Hana malu dan terhina mendengarnya, ia ingin menangis namun bunyi perut membuatnya urung meneteskan air mata.

"Kuberikan secara gratis, makanlah." Dirinya dikasihani layaknya gelandangan.

Hana mengepalkan tangannya yang berada di atas paha.

"Perlu kusuapi?" Hana menggeleng cepat, ia segera menyantap makanan yang berada di meja dengan lahap.

Luca melihat hal itu tersenyum miring, ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.

Air mata tanpa seizin Hana menetes begitu lidahnya merasakan makanan yang belum pernah ia makan.

Rasanya sangat lezat dan banyak. Ia bahkan sangat kekenyangan tak sanggup menghabiskan semuanya.

Hana tanpa malu meminta izin pada Luca.

"Tuan, apakah sisanya boleh saya bawa pulang?"

Luca menatap lekat ke arahnya.

"Bawa semua yang tersisa, aku tidak makan sisa orang." Hana melipat bibirnya ke dalam mulut.

"Dan besok kau harus memakai parfum ketika bekerja. Kau menghinaku dengan bau tubuhmu itu."

Hana mengangguk.

"Baik, Tuan. Terima kasih atas semua makanan dan uangnya."

"Pergi." Hana segera membereskan semua makanan dan membawanya keluar ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!