Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aleta baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual mandinya, gadis itu melirik ke arah jam dinding yang terpasang di sebelah kanan kamarnya, dekat dengan lemari baju.
"Baru jam enam?" Ujarnya sedikit heran.
Semalam suntuk dia kesulitan untuk memejamkan mata, sulit sekali baginya menyesuaikan diri dengan tubuh barunya yang masih SMA. Dia yang jelas-jelas sudah lulus sekolah menengah atas, kini justru harus mengulang semuanya dari awal.
"Ck, kenapa juga aku harus masuk ke tubuh ini." Gerutu Aleta seraya berjalan menuju seragam sekolahnya yang tergantung di lemari baju. "Minimal masuk ke raga CEO atau nyonya besar gitu, biar hidupku tidak berputar-putar di bangku sekolah mulu."
Meski tak suka, tapi takdir tak mengizinkan dirinya untuk protes. Nyatanya sejak semalam dia memohon untuk di cabut saja nyawanya, Tuhan sama sekali tidak mengabulkan keinginannya.
Aleta mematut diri di depan cermin, dia masih saja takjub dengan wajahnya yang sekarang. Meski Aleta hanya gadis biasa dan bukan dari kalangan atas, namun kecantikannya patut di acungi jempol.
"Setidaknya wajah ini tidak begitu buruk," Aleta menyentuh pipinya yang tembam. "Pipiku gemuk sekali, apa aku hobi makan?"
Memilih membiarkan pertanyaannya menggantung, Aleta meraih ransel biru yang tergantung di kursi meja belajar. Dia mengecek sekali lagi isi di dalam ransel itu, memastikan bahwa semua benda yang dia perlukan di sekolah sudah lengkap.
Setelah semua aman, barulah Aleta melangkah menuju pintu kamar. Baru saja dia membukanya, aroma masakan sudah menguar ke udara.
"Wah, Kakek masak apa, ya?" Ujarnya berjalan menuju dapur di mana kakeknya sedang sibuk memasak.
"Pagi, Kek." Sapa Aleta ramah. "Kakek masak apa?"
Jacob yang sedang berdiri di depan kompor menoleh ketika mendengar suara langkah kaki cucunya. Pria paruh baya itu mengenakan celemek lusuh berwarna cokelat, tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan.
Senyum hangat langsung muncul di wajahnya.
"Pagi juga, Leta," jawabnya lembut.
Aroma harum telur goreng dan nasi hangat memenuhi dapur kecil itu. Dapur rumah mereka memang sederhana, hanya ada satu kompor, meja kayu kecil, dan beberapa peralatan masak yang terlihat sudah cukup lama digunakan.
Jacob mematikan kompor sebelum menoleh sepenuhnya pada cucunya.
"Kakek buat nasi goreng. Kau harus makan yang banyak, tubuhmu baru saja sembuh dari demam," katanya sambil mengambil piring.
Aleta bersandar sebentar di ambang pintu dapur. Tatapannya menyapu ruangan kecil itu, meja makan kayu dengan dua kursi di tambah lemari dapur yang sederhana. Jendela kecil yang menghadap ke jalan.
Entah kenapa... suasana itu terasa sangat asing baginya.
Selama hidup sebagai tentara bayaran, Aurelia terbiasa tinggal berpindah-pindah demi bertahan hidup, kadang dia tinggal di markas, apartemen sementara, atau tempat persembunyian di tengah hutan. Tidak pernah ada dapur hangat seperti ini.
Tidak pernah ada seseorang yang memasak untuknya, semua di lakukan seorang diri demi menghemat waktu.
Jacob meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja. "Ayo makan dulu," ujarnya.
Aleta tersadar dari lamunannya dan berjalan menghampiri meja. Dia duduk perlahan di kursi kayu itu.
Jacob ikut duduk di kursi seberangnya sambil menaruh segelas susu hangat di dekat piring cucunya.
"Makan yang banyak," katanya lagi.
Aleta mengambil sendok, namun sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya, dia sempat menatap nasi goreng itu beberapa detik.
Aneh. Perasaan hangat muncul di dadanya secara tiba-tiba, perasaan yang tidak pernah dia miliki selama ini.
"Kenapa aku jadi sentimental begini..." gumamnya pelan dalam hati.
Dia akhirnya menyuap satu sendok nasi goreng. Begitu makanan itu masuk ke mulutnya, alisnya sedikit terangkat.
"Enak," katanya spontan.
Jacob tersenyum bangga. "Tentu saja. Resep andalan Kakek."
Aleta kembali makan tanpa banyak bicara.
Namun Jacob memperhatikan cucunya dengan tatapan lembut.
"Leta."
Aleta mengangkat kepala. "Ya, Kek?"
"Kau yakin sudah cukup sehat untuk pergi ke sekolah hari ini?"
Aleta mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja."
Jacob tampak ragu. "Kau demam hampir empat hari. Kakek khawatir kalau tubuhmu belum benar-benar pulih."
Aleta menelan makanannya sebelum menjawab. "Aku tidak mau terlalu lama bolos. Nanti banyak pelajaran yang tertinggal."
Jawaban itu sebenarnya terdengar seperti jawaban siswi biasa. Padahal yang ada di balik tubuh itu adalah seseorang yang dulu bertarung di medan perang.
Jacob akhirnya menghela napas kecil. "Kalau begitu hati-hati di jalan."
Aleta mengangguk. Beberapa menit kemudian dia sudah menghabiskan sarapannya. Dia berdiri sambil meraih tas sekolahnya.
"Kakek berangkat kerja jam berapa?" tanyanya.
"Sebentar lagi." Jacob berdiri sambil membersihkan meja. "Kau pergi dulu saja. Nanti Kakek menyusul ke kedai, busnya sudah hampir tiba."
Aleta mengangguk lalu berjalan menuju pintu depan rumah. Sebelum keluar, dia sempat berhenti sebentar dan menoleh pada kakeknya.
"Kek."
Jacob menoleh. "Ya? Kau kehabisan uang jajan?"
Aleta terlihat sedikit canggung. "Bukan, hanya saja terima kasih... untuk sarapannya."
Jacob tersenyum lebar. "Tentu saja. Kau cucu Kakek dan kita keluarga, Sayang. Kau tak perlu berterima kasih pada Kakek."
Aleta mengangguk kecil sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar rumah. Udara pagi langsung menyambutnya. Langit masih sedikit pucat, tanda matahari baru saja mulai terbit.
Lingkungan sekitar rumah itu cukup ramai. Beberapa orang berjalan menuju tempat kerja, sementara anak-anak sekolah mulai terlihat di jalan. Aleta menyesuaikan tali tasnya di bahu. Kemudian dia mulai berjalan. Langkahnya tenang, tapi matanya terus mengamati sekitar.
Kebiasaan lama itu tak bisa hilang. Sebagai tentara bayaran, dia selalu mempelajari lingkungan di sekitarnya. Ada gang kecil di sisi kiri, toko kelontong di ujung jalan. Halte bus sekitar lima belas meter dari rumah.
Semua detail itu langsung tersimpan di kepalanya. Beberapa siswa yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya terlihat berjalan di depan.
SMA Vella. Nama sekolah yang kini harus dia datangi setiap hari.
"Ck." Aleta mendecakkan lidah kecil. "Hidup kedua sebagai anak SMA..."
Dia menatap langit sebentar. "Terdengar seperti lelucon."
Beberapa menit kemudian dia sampai di halte bus yang akan membawanya ke sekolah. Para siswa berjalan masuk ke dalam bus secara bergiliran.
Begitu Aleta melangkah masuk, beberapa bisikan langsung terdengar.
"Itu dia."
"Aleta."
"Gadis itu."
"Apa dia sudah sembuh?"
Tatapan orang-orang langsung mengarah padanya. Aleta sedikit mengernyit. Ingatan pemilik tubuh ini sama sekali tidak muncul, Aleta bersikap acuh dan melewati mereka untuk mencari tempat duduk. Namun tiba-tiba, seseorang menabraknya dari depan.
BRAK.
Tubuh Aleta sedikit terdorong mundur. Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang berdiri di depannya dengan ekspresi kesal. Di belakang gadis itu berdiri dua temannya.
"Eh, maaf ya," katanya dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal.
Tatapan gadis itu menyapu Aleta dari atas sampai bawah. "Oh, ternyata kau sudah sembuh."
Aleta menatapnya datar. Ingatan langsung memberitahunya siapa gadis itu. Clara.
Salah satu siswi populer di sekolah ini.
Dan orang yang sering membuat masalah dengan Aleta yang lama.
Clara menyilangkan tangan di depan dada.
"Kukira kau masih sekarat di rumah."
Temannya tertawa kecil di belakang, Clara kembali bertanya. "Apa demammu belum bisa membunuhmu juga, Leta?"
dtggu kelanjutan ny yx kak
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁